Journey To The Brockleheart Sky

Journey To The Brockleheart Sky
Chapter 25: Preparation


__ADS_3

Jari jemarinya kaku, mata pun berat. Rasa sakit menyergap seluruh tubuh. Pandangan pun semakin lama semakin jelas, saat dirinya mencoba membuka mata bermanik hijau emerald.


Gadis itu mencoba bangun dari meja panjang. Dia duduk dan memperhatikan tempat dirinya berada kini. Sebuah tanah luas penuh ilalang, memenuhi pandangan di seberang sana. Di sisi kiri sebuah rumah normal, tampak cerah dengan cat putih-cokelat.


"Di mana aku?" tanyanya mencoba duduk dengan benar, menurunkan kaki ke tanah. Bagian belakang kepalanya seperti terisi air, bagian depan kepala pun sakit seolah habis dipukul, matanya juga terasa sangat pening.


"Kau sudah bangun?" tanya perempuan bertudung, yang menutupi bagian bawah wajahnya.


"Siapa kau?" Wanita bertudung itu hanya diam.


"Di mana aku?"


"Stanome," jawabnya mengadah ke atas. Gadis itu pun ikut melihat ke atas. Bergumpal-gumpal awan tebal memenuhi langit, seolah-olah akan runtuh. Namun, tetap kokoh menggantung di sana.


"Siapa namamu, Nona Vampir?"


"Jennifer! Jennifer Goldstein." Manik mata si penanya berputar beberapa kali. Terkejut. Tentu saja.


"Kau?" Gadis yang merupakan Jennifer Goldstein meliriknya penuh tanya.


"Aku? Flore Dimitri!"


"Bagaimana aku bisa sampai ke sini?" Jenny kembali bertanya masih dalam posisi duduk.


"Bukan aku yang menemukanmu. Tapi, Professor Davis."


"Siapa lagi itu?"


"Dia juga orang yang menemukanku empat belas tahun yang lalu."


"Apa?" Jennifer semakin kebingungan. Sebuah kilat menyilaukan matanya, suara petir pun mengikuti dari arah padang ilalang.


"Kau tidak aman di bawah sini, kau harus ikut denganku. Ke suatu tempat," ucapnya menutup sebuah peti kecil dan berjalan menghampiri Jenny.


"Untuk apa aku ikut denganmu? Aku tidak mengenalmu!" Jenny menolak.


"Jangan bersikap bodoh seperti Ibumu, Nona Goldstein. Itu tidak akan membantu!" bisiknya.


"Kau mengenal ibuku? Di mana aku?"


"Sebaiknya kau tidur saja lagi!'


"Apa? Kenapa? Jawab dulu pertanyaanku, hey!"


"Huuh!" Flore Dimitri mengembuskan napasnya kesal, lalu melemparkan cahaya dari ujung tongkatnya. Jennifer pun terlelap.


Menjaga Jennifer seharian membuatnya kesal. Seharusnya Flore Dimitri membunuhnya saja. Jika bukan dikarenakan perintan Professor Davis. Enggan rasanya menyelamatkan anak pengkhianat itu.


Sekarang dia harus membawa Jennifer kepada penyihir yang menyebalkan. Yovanka, sang penyihir yang tak pernah menua.


***


Langit sore ini semakin menakutkan, gumpalan awan putih tebal dari arah selatan, kini berubah gelap. Senyuman Marry menghilang. Dia menghampiri jendela yang terbuka lebar.


"Ayah!" Bibir Marry mengucap Ayah beberapa kali, tanpa suara. Lalu, menoleh ke arah Ayah dan Bibinya.


"Ada apa Marry?" tanya Herms tiba-tiba. Laura pun kaget.


"Apa maksudmu, Herms? Marry hanya diam saja sedari tadi!"


"Aku rasa dia baru saja memanggilku, atau itu hanya pikiranku?" Herms berdiri, mendekati Marry. "Marry?" Menyentuh pundak putri semata wayangnya.

__ADS_1


Kau lihat langit di sana! Aku merasa tidak enak!


Herms tiba-tiba mendengar suara Marry. Dia segera menatap Marry.


"Aku mendengar suaramu?


"Apa?" Laura mendekat.


"Aku bisa mendengar suara hatimu?" Herms terkejut.


"Kekuatanmu sudah kembali sepenuhnya! Kau berhasil bertahan dengan baik." Laura tersenyum bahagia


"Hah, seharusnya kulakukan sedari dulu." Herms memeluk Marry. Tapi, Marry melepaskan pelukan Ayahnya dan menunjuk ke arah langit yang semakin pekat.


"Ada apa, Marry?" Herms melihat ke arah yang ditunjuk Marry.


"Oh, tidak!" Laura menyadari sesuatu setelah melihat langit. "Bukan kah Lavender berkata bahwa mereka terjebak di hutan permintaan dan sudah keluar dari sana? Kurasa mereka menemukan Marry lebih cepat."


"Apa karena aromanya?"


"Kurasa begitu! Kita harus bergegas Herms. Kita tidak punya banyak waktu."


"Kau benar! Lavender salah menghitung hari. Mereka akan sampai kurang dari dua hari." Herms bergegas ke kamar. Membawa beberapa peti dan koper. "Beri aku kunci mobilmu!"


"Itu--"


"Apa?"


"Aku sudah cukup lama tidak menggunakannya, jadi, ada di garasi tua."


Marry menatap Laura kesal. Apa? Dia punya mobil? Lalu, untuk apa kami berjalan sangat jauh hari itu?


Herms tersenyum singkat, saat mendengar ocehan hati Marry.


"Aku akan memperbaikinya, berikan kunci mobilnya."


"Alena!"


"Ya?"


"Berikan kunci mobilku kepada Herms. Aku harus mengemasi ramuan dan mempersiapkan makan untuk Fluffy dan Tuan Moo." Laura berjalan cepat menuju dapur. Alena pun bergegas menuju perpustakaan. Melemparkan beberapa benda dari laci, sedangkan Marry berdiri kebingungan di depan jendela menyaksikan kekacauan ini.


"Tunjukkan padaku di mana garasi tuanya? Aku tidak ingat ada garasi di rumah ini." Herms berjalan mengikuti Alena yang menunjukkan tempat di mana garasi berada.


Mereka keluar rumah dan menyeberang ke rumah tua di seberang sana. Marry terus memperhatikan dari jendela berharap tidak ada yang terjadi.


"Marry, bisa bantu aku menyiapkan makanan ini!" Laura memanggil.


Marry berdiri di sisi Laura, beberapa jenis tumbuhan hijau ada di hadapannya. Ada keranjang buah yang ditutupi serbet berwarna hitam membuat Marry penasaran.


Di dalamnya ada ulat besar, cacing, jangkrik dan cicak berwarna cokelat dengan ekor lepas yang bergerak asal.


"Awh!" Marry meringis.


"Itu memang menjijikkan, kau haru menahannya. Masukan, daun dan tumbuhan itu ke dalam keranjang." Laura memberikan perintah yang membuat Marry enggan melakukannya.


"Apa kau ingin tertangkap di sini? Aku tidak bisa pergi begitu saja dan meninggalkan makhluk-makhluk itu."


Makhluk apa?


"Apa Bibimu tidak cerita bahwa dia penjaga hutan permintaan dan bertanggung jawab atas hewan-hewan di sana?" Herms menyela.

__ADS_1


Kau benar bisa mendengar suaraku?


"Ya!" Herms mengangguk sambil memegangi luka di bahunya. Tersenyum ramah.


Dia tidak cerita apa pun. Selama perjalanan menuju hutan di perbatasan hari itu, dia hanya mengoceh tentang hubungan kakak adik kalian. Itu saja.


"Benarkah? Laura memang seperti itu."


"Apa kalian sedang membicarakanku? Ini bukan waktunya bersantai. Ayo, bersiap Marry! Di mana Agni?" Laura berjalan menuju ruang penyimpanan di samping tangga menuju lantai atas. Marry tertawa melihatnya.


***


Setelah bersiap-siap. Laura dan Herms memasukkan barang-barang ke dalam mobil yang tidak disihir. Itu hanya mobil manusia biasa. Mereka tidak bisa menggunakan sihir, karena Black Shadow bisa saja menemukan mereka dalam perjalanan melewati jalur hutan.


Mereka harus pergi ke hutan permintaan agar bisa menuju Brockleheart Sky. Jalur hutan menjadi jalur yang aman bagi penjaga hutan seperti Laura.


Marry terhenti, ia melihat ada darah di lengan Herms.


Kau terluka!


"Siapa? Aku?" sahut Herms menoleh. Lalu, melihat bahu yang terluka.


"Apa yang terjadi?" tanya Laura mendudukkan Herms di kap depan mobil. Memeriksa luka yang sudah berhari-hari tidak bisa sembuh.


"Apa aku memasukkan terlalu banyak tumbuhan ke obatmu? Luka ini terjadi karena pisau perak dan racun tumbuhan!"


"Aku baik-baik saja. Obatmu sangat membantu!"


"Tidak Herms! Kau terlalu memaksakan diri, ini berbahaya. Kau harus beristirahat!"


"Aku baik-baik saja, percayalah!"


"Langit sudah gelap. Kita berangkat besok pagi!" tegas Laura mengajak Herms ke dalam rumah.


Segala persiapan terhenti sejenak. Membawa Herms dengan kondisi seperti itu akan memperparah keadaannya. Setidaknya dengan berada di rumah, mereka tetap hangat dan luka Herms takkan semakin parah.


***


Marry haus. Dia meminum ramuan yang diberikan Laura. Tapi, hausanya tetap tidak hilang. Marry pergi ke dapur dan melewati kamar Ayahnya.


Marru masuk ke kamar Herma, karena melihat pintu kamar yang terbuka. Kosong tidak ada siapa pun di sana, selain secarik kertas.


*


*Laura, aku akan menemui Black Shadow atau Susan. Kurasa mereka pasti sedang bersama dalam mencariku. Siapa pun yang akan kujumpai nantinya, mereka pasti akan berpikir bahwa aku bersama Marry. Saat pagi tiba, bergegas lah menuju hutan permintaan, tolong selamatkan putriku! Aku sudah menghubungi Lavender.


Katakan pada Marry aku meminjam Agni.


Maafkan aku. Aku harus meluruskan semuanya dengan Susan*.


*


Marry terduduk lemas setelah membaca surat itu. Apa yang Ayah pikirkan? Kalimat itu membayangi kepalanya.


Marry perlahan berjalan menuju kamar Laura mengetuk lemas tak bertenaga.


***


*Bersambung


***

__ADS_1


Jangan lupa vote, rating dan komennya ya. Oh ya, kamu bisa gabung group chat aku. Nanti bisa saling promo dan bagi-bagi poin jugam Terima kasih*.


__ADS_2