Journey To The Brockleheart Sky

Journey To The Brockleheart Sky
Chapter 26: Yovanka The Oracle


__ADS_3

Susan memang telah berhasil membuka pintu hutan permintaan. Wajahnya pun masih dipenuhi kekalutan. Namun, ancaman Black Shadow terus masih menyudutkan batinnya.


Susan kini berjalan sendirian, tanpa ditemani pengawal Black Shadow. Mereka harus memulai perjalanan dari Okrey, karena pintu hutan permintaan yang terbuka justru membawa mereka kembali ke Okrey. Susan pun memilih pergi ke Stanome dan Black Shadow pergi menuju Arsk.


***


Setelah perjalanan cukup panjang, melewati pinggiran sungai yang di sisinya ada hutan beranjau bekas perang. Ia pun keluar dari pinggiran hutan.


Susan pun kini telah tiba di stasiun kereta terdekat dan akan segera memulai pencariannya yang entah untuk siapa? Dugaan mereka adalah Brockleheart Sky di langit Stanome dan kediaman keluarga Quirkell di Arsk.


***


Pepohonan berpita biru berjejer di kiri jalan, sementara pita merah mengikat kanan jalan. Segala pemandangan ini pasti akan tampak terbalik jika dilihat dari arah sebuah rumah berpagar rendah, dengan aroma Mahoni yang kuat dan kayunya tampak rapuh.


Dari luar sini, tampak cerobong asapnya mengeluarkan kepulan awan putih yang sangat tebal. Semacam pabrik mesin di ujung kota Okrey.


Wangi rempah mulai tercium, menutupi aroma pepohonan ketika semakin dekat ke arah rumah.


Jennifer tersadar saat dirinya ada di seberang rumah. Duduk di rerumputan dan bersandar di sebuah pohon. Halaman rumah itu tak ada sinar matahari, begitu pula tempat Jennifer terbangun. Semuanya tampak basah dan lembab. Seolah-olah akan keluar ribuan cacing, ulat dan serangga lainnya dari semak-semak yang mengeliling rumah dan pohon.


"Di mana aku?" Suaranya serak, bertanya asal kepada sosok yang berdiri tegak di hadapan Jennifer.


"Apa kau pernah berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya?" tanya wanita bertudung hitam. Mengabaikan ucapan Jennifer, Jennifer pun menggeleng. "Dia tidak mengajarimu, rupanya." Dia lantas menengok sedikit dan mengangkat ujung bibir, tersenyum sinis.


"Kau orang yang tadi 'kan?" Jennifer memperhatikan punggung wanita itu.


"Yah, aku Flore Dimitri."


"Kau membuatku pingsan, Nyonya. Apa tujuanmu? Siapa kau?"


"Sulit menjelaskannya kepadamu. Kita tunggu sampai asap di sana menghilang." Flore Dimitri menunjuk cerobong asap.


"Rumah siapa itu?"


"Yovanka sang Penyihir!"


"Bukankah kau juga seorang penyihir?"


"Aku seorang pengendali. Kelebihanku, sihir!" jawabnya terkesan angkuh. Jennifer mengembus napas kesal. Lalu kemudian, bangun dari duduk dan mencoba untuk mendekati Flore Dimitri.


"Apa kau membawaku ke sini seorang diri?" tanya Jennifer berjalan mengamati pepohonan di sekelilingnya.


"Tentu saja!"


"Bagaimana caranya?"


"Kau benar-benar tidak tahu dasarnya, ya?" hardiknya menahan tawa. "Disappear Spell!"


"Dissapi apa?"


"Disappear Spell!"


Bukankah itu mantra yang menggema malam itu? Malam di mana Ayah dan Marry menghilang. Batin Jenny.

__ADS_1


"Mantra itu? Apakah kau mengenal Ayahku?"


"Tentu saja, Oliver Goldstein. Si pemarah. Penggerutu! Kurang ajar, pembawa pesan buruk ...." Dia terhenti. "Pengkhianat!" lanjutnya berbalik menatap Jennifer dengan mata yang penuh kebencian.


"Aku tidak mengenalnya. Aku sedang bertanya tentang Herms Quirkell. Ayah tiriku!"


"Quirkell. Ya, aku mengenalnya. Sangat mengenalnya."


"Apa kau tahu di mana Ayah dan Adikku berada? Aku sangat mencemaskan mereka."


"Aku tidak akan memberitahukannya kepadamu, Nona. Jangan terlalu memikirkan mereka. Kau membuat Black Shadow semakin mudah menemukan Herms dan Marry."


"Tapi, aku--"


"Asapnya sudah berhenti, ayo masuk." Flore Dimitri menggandeng Jennifer, langkah kaki Jenny tentunya sangat berat. Dia beberapa kali mengembuskan napas gugup.


Mereka berdua tiba di depan pintu rumah. Jennifer mendadak ingin muntah, di depan pintu bawah terdapat kepala rubah dan rusa.


Bagaimana bisa aku terjebak di sini? Apa akhirnya aku benar-benar akan menghilang, seperti permintaanku di dalam hutan permintaan?


"Jangan melamun! Masuklah." Flore Dimitri membuka pintu dan melangkah melewati kepala hewan-hewan yang dibalsem. Jennifer mengikuti di belakang.


"Bukankah kau harus membuang bangkai itu, petugas sosial bisa menghukummu!" ujarnya begitu melihat sosok yang sedang duduk di depan perapian.


"Flore!" Suaranya terdengar runcing khas anak-anak yang baru beranjak dewasa.


"Aku tahu kau tinggal di hutan, tetapi jangan bersikap seolah-olah kau berasal dari 70 tahun lalu!" Jennifer terkejut mendengar angka yang disebutkan Flore Dimitri.


"Kau pasti Jennifer?" ucapnya tampak elegan dengan kuku-kuku yang panjang. Bahkan kuku kedua ibu jarinya menggelung ke dalam.


"Kau mengenalku?"


"Apa kau tidak mendengarku?" sela Flore Dimitri kesal.


"Nanti dulu Flore! Aku sedang bicara dengan anak yang kuramal dulu. Kau sudah besar."


"Siapa? Aku?"


"Jennifer Goldstein. Putri dari Oliver Goldstein dan Susan Smith. Putri para pengkhianat. Black Shadow mendatangimu bukan karena ibumu memiliki hutang nyawa. Itu karena, kau adalah penunjuk jalan."


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti!"


"Kemarilah!" Gadis kecil itu menggandeng Jennifer. Di depan pintu Flore Dimitri tampak kesal dengan mata yang memutar beberapa kali.


Mereka tiba di depan perapian. Rumah ini benar-benar unik. Di sebelah perapian ada tv keluaran terbaru, ada sebuah plang angka bertulisan 1962. Tahun ini, yang merupakan tahun di mana kebangkitan modern dimulai, merupakan tahun di mana negara-negara lain terbebas dari penjajahan. Tetapi, anak ini justru terjebak di rumah kayu, dengan 70% barang tua, membuat Jenny tak habis pikir.


"Apa kau ingin kuramal?" tanya gadis bertubuh sebesar Marry itu. Jenny menggeleng.


"Berapa usiamu?" tanya Jennifer penasaran.


"Secara teknis, usianya 185 tahun." Flore menyela.


"Kau salah! 183 tahun," ujarnya tersenyum dan memasukkan sebuah kayu berukuran kepalan tangan ke dalam perapian.

__ADS_1


"Hah?" Jennifer hanya bisa menganga. Bagaimana bisa dia bertemu orang ini? Apa mungkin di dunia ini ada orang-orang yang tidak menua sama sekali?


"Aku lahir pada tahun 1879, saat aku lahir kami sudah mencicipi lampu pijar. Para orang tua penyihir, menyalakan pijar hanya dengan beberapa mantra. Para pengendeli cahaya sangat mudah menyalakan lampu pada masa itu. Saat ini aku masih berusia tiga belas tahun. Lebih tepatnya terjebak di tubuh ini," jelasnya menatap Jennifer yang masih membeku.


"Kau ... lebih tua 100 tahun, dari nenek temanku yang tinggal Okrey."


"Apa kau terkejut?"


"Aku rasa dia sangat terkejut. Boleh kita lanjutkan pembicaraan tentang kita yang tertunda. Lavender membutuhkan jawabanmu!" Flore Dimitri berjongkok di depan perapian dan memasukkan beberapa potong kayu. Lalu, menatap Yovanku dengan kedua bola mata berwarna perak.


Yovanka berjalan menuju pot kaktus dan mengambilnya. Pandangannya diluruskan keluar jendela. Jennifer memperhatikannya sungguh-sungguh.


Setelah berdiri beberapa detik, kini Yovanka berjalan menuju Flore dan memberikan pot kaktus kepadanya.


"Marry harus menjadi kaktus, dengan begitu dia bisa melindungi Herms."


"Apa Herms dalam bahaya?"


"Kurasa begitu, aku melihat dia berjalan menuju hutan permintaan." Pandangan Yovanka berubah, dia terus menatap api yang membara dari perapian.


"Apa yang dia--"


"Diam!" Flore mendekatkan jari telunjuk ke bibir Jennifer. "Dia sedang bekerja," lanjutnya.


"Herms akan menemui dewa kematian, saat Marry terlambat menjadi kaktus. Jiwa Marry akan dipenuhi kebencian. Anak emas pun akan jadi sasarannya. Black Shadow akan bahagia dan meraih kemenangan. Namun, sang Vampir akan berduka untuk selamanya."


"Apa lagi yang kau lihat?"


"Brockleheart akan runtuh, jika bayangan telah menyatu dengan emas. Katakan pada kepala, bahwa kaki butuh tubuh."


"Aku tidak mengerti!" Jennifer mendekati Yovanka.


"Kau! Kau harus bersembunyi, jiwa sedihnya akan menghancurkanmu! Jangan di sini, jangan menapak. Kau harus terbang."


"Apa?" Jennifer mundur beberapa langkah menjauhi Yovanka yang sedang tak sadarkan diri.


"Masih ada lagi?" Flore sangat penasaran.


"Kebangkitan. Kau dan kebangkitan."


"Aku tidak minta diramal!" seru Flore membuat api di perapian tiba-tiba padam. Yovanka menarik napas dengan lembut.


"Beritahu Lavender, dia harus bergegas. Sebelum semua ramalan terjadi. Jika dia bisa menghentikan satu ramalan. Maka ramalan lainnya akan berubah. Cepatlah kirimkan pesannya."


"Aku tidak bisa mengirimkannya sekarang, kurasa Lavender sudah dalam perjalanan menuju perbatasan Arsk. Kami mendapat firasat bahwa Black Shadow akan datang lebih cepat." Suara Flore terdengar hendak menangis. Bahkan kain penutup bibirnya beberapa kali tertarik ke dalam bibir karena tarikan napas yang sesak.


"Aku yakin, Herms Quirkell dalam bahaya. Ramalanku dulu, kini sudah dimulai kembali!" ungkap Yovanka menatap Jennifer yang terdiam dan penuh kebingungan.


Ayah? Apa ini? Di mana aku? Batin Jennifer mulai menangis.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2