Journey To The Brockleheart Sky

Journey To The Brockleheart Sky
Chapter 2: Surrogate Mother


__ADS_3

Langit kelabu, wajah mereka yang hadir terlalu sendu. Kehilangan terbesar sepanjang sejarah Obeliqia.


Julia Glories, dibaluti kain putih di sekujur tubuh kakunya. Pengendali 5 elemen ini membeku, meninggal tanpa sebab. Bahkan pahlawan Obeliqia ini berhasil meredam Dark War sebelumnya. Namun, dia kalah akan takdir yang telah digariskan Sang Maha Pencipta. Sebelumnya, dia pernah dinyatakan meninggal dalam peperangan melawan sosok tirani yang menjengkelkan. Bahkan dia kehilangan banyak darah saat momen itu terjadi. Tapi, dia baik-baik saja saat itu.


Di sebuah kota di bawah Brockleheart Sky, seluruh negeri berkabung. Padma Glories, tersedu di sudut mimbar tempat tubuh kurus itu diletakkan.


Semua menunduk, bingung akan ramalan Yovanka yang menjadi nyata. Apakah ramalan lainnya juga akan terjadi? Apakah Dark War kedua akan menyerang Arsk dan Okrey, bahkan menjalar ke seluruh negeri berpelangi senja ini?


Gadis kecil bertudung merah menyeringai, "Semua belum berakhir," bisiknya pada Padma. Herms tak suka melihat penyihir itu.


Para penyihir Brockleheart menembakkan tongkat ke angkasa, cahaya kekuningan memenuhi langit. Para pengendali air mendekat, membuat buaian dari embun di bawah tubuh Julia Glories.


Pengendali tanah, mengetuk-ngetuk bumi dengan tongkat hitam dan menghentak kaki, hingga terbelah lah tanah di sekitar tubuh Dahlia yang terangkat itu.


Pengendali udara mengambil alih, tiupan dari beberapa gadis yang mengenakan rok sutera mendorong tubuh Glories ke atas liang yang tercipta.


Padma berdiri dan menghampiri jenazah ibunya. Sesuai tradisi bangsa Flore, hanya anggota keluarga yang berhak melakukan proses 'pembenaman jenazah'.


Padma meletakkan tangan kiri di atas perut Dahlia itu, mendorong ke bawah hingga menyentuh dasar lubang. Pengendali tumbuhan segera membanjiri lubang dengan bunga-bunga yang indah dan semerbak.


Pemakaman selesai. Tetapi, duka Padma tak usai.


***


Hari ini Herms mengadakan seleksi untuk mencari ibu pengganti bagi Marry. Setelah pemakaman kemarin, Padma masih belum bersedia menyentuh puterinya sendiri. Dengan ide dari Laura, Herms memutuskan untuk mencari ibu pengganti saja.


Memiliki nama besar di kota ini membuat Herms mudah mendapatkan apa yang diinginkannya.


***


Begitu banyak Ibu yang berdiri di depan rumahnya, beberapa tampak membawa bayi mereka. Kau gila jika tidak tergoda dengan 10 keping emas per-hari, kau bodoh jika tidak bersedia tinggal di tempat ini secara gratis.


Dari sekian banyak perempuan yang datang, Herms melihat seseorang yang dikenalnya, sedang berdiri di antara kerumunan banyak orang.


Herms pun memutuskan untuk keluar dan mendekati orang itu.


"Sue?"


"Herms!" panggilnya tiba-tiba memeluk Herms. Orang-orang yang melihat tampak berbisik.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu? Apa yang kau lakukan di sini?" lanjut Herms melepas pelukannya.


"Aku mendengar kabar tentang kau yang sedang mencari ibu pengganti, jadi aku menuju ke sini," ungkap perempuan berambut merah darah itu.


"Apa maksudmu?" Herms kebingungan, bagaimana bisa teman lamanya itu berada di sini?


"Aku ingin membantumu, karena sejujurnya aku dan anakku juga membutuhkan tempat tinggal."


"Bagaimana keadaan Oliver?"


"Dia sudah meningal! Sayangnya," ucapnya tertunduk, menggandeng gadis kecil di sisinya.


"Ayo, masuk! Kita bicara saja di dalam." Melihat wanita itu, seleksi pun dibatalkan karena pertemuan Herms dengannya justru berakhir pada pergunjingan dari orang-orang yang datang.


Percakapan mereka di ruang tamu itu tampak sangat serius.


"Apa yang terjadi kepadamu Susan? Bukankah enam bulan yang lalu kau pergi ke Rusia untuk mengobati Oliver?"


"Tidak Herms, aku terlambat. Oliver sudah meninggal."


"Lalu, bagaimana kabarmu? Dan anak-anakmu?"


"Aku turut berduka, Sue!" ujar Herms pada wanita bertato di lengannya itu.


"Lupakan saja, itu sudah jadi resiko yang harus kuhadapi. Bagaimana keadaanmu dan Padma? Kenapa kau harus mencari ibu pengganti?" ungkapnya.


"Cerita yang sangat panjang Sue. Aku penasaran, apa kematian Oliver karena luka yang kuberikan?" Herms memerhatikan.


"Ya, tapi dia pantas untuk mendapatkannya. Dia sudah mengkhianatimu, mengkhianati Brockleheart!" Susan menggenggam erat sapu tangan berwarna ungu muda.


"Maaf, sudah membuatmu menjadi seorang yang tak memiliki suami. Aku tidak menyangka itu semua akan membunuhnya!"


"Sudahlah Herms, mana bayimu? Aku ingin melihatnya!" sela Susan berdiri.


"Ikuti aku, akan kutunjukkan bayi cantikku "


Sebelum menuju kamar Marry, Herms mengantar Susan ke kamar Padma terlebih dahulu. Melihat keadaan itu, Susan hanya bisa diam, ada sesuatu di matanya. Susan menghampiri Padma yang terlihat sedikit kurus.


"Padma! Ini aku Sue, Susan Smith. Teman sekamarmu di Brockleheart Sky, kau ingat?" tanya Susan menyentuh wajah Padma yang dingin, Padma hanya mengangguk ringan dan melanjutkan tatapan kosongnya. "Herms apa yang terjadi padanya?" lanjut Susan menghampiri Herms.

__ADS_1


"Akan kuceritakan sambil menuju ke kamar Marry! Ayo Jennifer!" ucap Herms menggenggam anak kecil berambut cokelat itu.


***


Setelah menceritakan semua yang terjadi, Herms terlihat tak bisa menahan kesedihannya. Susan menyentuh pundak lebar sang pengendali pikiran itu, dia tersenyum menatap mata Herms. Tatapan dan senyuman yang menenangkan. Siapapun bisa jatuh hati bila melihat senyuman maut itu, terlampau manis untuk dihadapi.


Herms memperlihatkan Marry kepada Susan, pertemuan mereka seperti takdir. Teman lama yang akhirnya dipertemukan karena nasib. Susan yang kehilangan bayi dan Marry adalah bayi yang tak begitu diharapkan oleh sang ibu.


"Waah ... dia cantik sekali. Kalau saja puteraku masih hidup, akan aku jodohkan mereka berdua," celotehan itu membuat Herms tertawa ringan, sejenak dia lupa apa yang sedang terjadi.


"Ibu ... ibu aku mau pulang!" rengek gadis kecil itu.


"Jennifer?" panggil Herms menyentuh Jennifer kecil, Jennifer menolak dan memeluk erat ibunya yang sedang duduk di kursi memangku Marry.


"Sayang, kita akan tinggal di sini! Bersama paman Herms dan bibi Padma, kau akan punya adik! Jadi, diamlah dan jangan merengek!" terang Susan menyentuh rambut Jennifer, membuatnya diam.


Kedatangan Susan di tempat ini, seperti anugerah bagi Herms. Selain menjadi ibu pengganti, Susan mendonorkan ASI-nya untuk Marry. Sebuah bentuk pengorbanan yang berkesan bagi Herms.


***


Tiga bulan sudah berlalu.


Selama itu pula, Susan Smith telah menjadi ibu pengganti Marry. Sedangkan Padma, kini mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan yang signifikan atas sakit yang menimpanya.


Semenjak kelahiran Marry, selain shock dengan kejadian yang menimpa ibunya, Padma juga terserang penyakit karena rasa bersalahnya. Sebuah penyakit bangsa Flore yang datang dari rasa sedih yang berlebihan, penyakit itu menggerogoti hati dan jiwanya.


Beberapa hari lalu.


Pada pagi yang tiba-tiba hening, sehabis tangisan Marry mereda. Herms terkejut menjumpai Padma ada di sana, meninabobokan sang puteri penuh dengan tatapan cinta.


Sekarang keadaannya semakin membaik, bahkan sesekali Padma mulai menyusui Marry.


Bukan hanya itu, Jennifer pun semakin akrab dengan Padma. Padma tak keberatan dengan keberadaan Susan dalam rumahnya dan perannya sebagai Ibu pengganti.


Kedekatan Jennifer dan Padma pun dijadikan boomerang oleh Susan, untuk melancarkan rencana rahasianya.


Susan semakin dekat dengan Marry, sedangkan Jennifer semakin dekat pada Herms dan Padma. Rencana besar, sedang menari di kepalanya. Rencana luar biasa yang hanya bisa dilakukannya jika terus melekat dan menjadi benalu dalam rumah tangga ini.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2