Journey To The Brockleheart Sky

Journey To The Brockleheart Sky
Chapter 19: look


__ADS_3

Pagi itu kabut tampak menyelimuti kemah mereka. Susan keluar dari tenda kecil dan melihat para pengikut Back Shadow masih tertidur dalam lelap di dekat perapian. Beberapa memilih masih berwujud kelelawar dan tampak berjaga di atas pepohonan, sebagian tidur, sebagian terjaga.


Lilin masih berpendar di tenda yang terasa beku. Dari luar sini bayangannya tampak menyeramkan. Sosok dalam tenda, bahkan tak mengeluarkan suara napas. Susan sesekali menegak liurnya sendiri dan meyakinkan diri untuk mendekat.


“Kau belum tidur?” Suara berat itu menghentikan langkahnya. “Masuklah.” Perlahan bayang di dalam sana tampak mengecil dan menyusut. Dia tahu jelas, bahwa Susan sedari tadi berdiri di depan tenda.


Susan menyibakkan tepi pintu tenda dan masuk menuju tempat peristirahatan sosok tirani itu. Black Shadow duduk di kursi kayu, menatap pintu kedatangannya dengan wajah datar.


“Kau sepertinya tidak tertidur, Prof—” Terhenti dengan ucapannya, dan menyentuh telinga kanan. Susan melanjutkan, “Tuan.”


“Menurutmu aku bisa tidur? Atas apa yang sudah puterimu lakukan?"


"Aku--"


"Kita tidak akan bisa menemukan pintu keluar tanpa puterimu, Sue.”


“Maafkan aku.”


“Puterimu yang harus meminta maaf kepadaku. Dia bersikap licik sama seperti yang dilakukan ayahnya. Entah itu Oliver maupun Herms.”


“Sampai kapan kau akan membenci Oliver?”


“Bila Jennifer mampu membayar hutang ayahnya kepadaku? Mungkin akan kupertimbangkan untuk memaafkan kalian semua.”


“Kenapa Jenny yang harus melakukannya? Aku adalah ibunya, istri oliver. Akulah yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi di masa lalu."


“Apa menurutmu tak memalukan, saat aku dikalahkan oleh seorang wanita yang sedang mengandung? Bahkan masih dalam kandungan, anak itu sudah berani memberikan kekuatan kepada ibunya."


“Siapa yang kau maksud?”


“Siapa lagi jika bukan Nona Quirkell. Dahlia yang kau asuh selama bertahun-tahun." Ia berdiri dan menghampiri Susan.


“Aku seorang ibu, Tuan. Aku ibu bagi Jennifer, dan Marry sudah menjadi puteriku juga. Kau tidak pantas untuk menghina puteriku." Susan tampak memberanikan diri.


“Aku mengerti. Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu."


"Yang kubutuhkan hanya pintu ini terbuka, menemukan puteriku dan membunuh Herms."


"Kau tidak ingin membunuh Marry?"


"Akan kupikirkan setelah ayahnya tiada!"


"Tapi, berapa kali kau datang padaku dengan mambawa darah Marry, hanya untuk sekadar meyakinkanku, bahwa gadis yang kau asuh adalah seoarang Dahlia. Pengendali tertinggi."

__ADS_1


“Aku hanya ingin kau melindungiku dan membalaskan dendam pada Herms dan seluruh keluarganya."


“Termasuk, Marry?” Susan mengangguk. “Lalu, apa yang kau lakukan dulu kasih sayang atau sebuah keserakahan?”


“Aku serakah. Tapi, aku lebih mengingingkan puteriku, dibanding Marry."


“Baiklah, buka pintu hutan ini dan akan kutemukan puterimu. Setelah itu, patuhi semua keinginanku dan jangan membangkang seperti terakhir kali."


“Aku mengerti."


“Jika saja kau menyerahkan Marry lebih cepat dan bukan menyembunyikannya di Okrey. Aku pasti sudah menyingkirkan Herms untukmu."


Susan terdiam dan tak tahu harus bicara apa. Hatinya bergejolak. Apa keputusannya selama ini salah atau terlambat? Mematuhi Black Shadow adalah jalan yang dipilihnya. Tapi, kepada Marry beberapa tahun lalu. Apa itu rasa benci atau rasa kasihan? Susan tak tahu.


***


Setelah menikahi Herms Quirkell, Susan didatangi makhluk yang tak pernah diduga sebelumnya. Sosok yang datang menagih janji dan sumpahnya.


Beberapa orang berjubah hitam ada di bawah jendela, menambah kesuraman. Stanome malam itu, bahkan lebih menyeramkan dibanding malam kelahiran Marry.


Black Shadow melompat ke balkon kamar itu. Lonceng jam tua yang hendak berbunyi, dirusaknya hanya dengan jentikan jari. Hari itu, Herms tidak berada di rumah. Kesempatan yang bagus untuk menemui Jennifer dan Marry yang tertidur lelap di kamarnya.


Kedatangan Black Shadow, tentu membuat Susan mulai panik setengah mati. Dia tidak menyangka bahwa Black Shadow akan datang secepat ini. Bahkan mayat Padma belum ditemukan.


“Untuk bertemu muridku yang paling setia, tentunya,” jawabnya berjalan santai menuju ranjang. "Kehidupan yang menyenangkan. Kau menikmatinya?" lanjutnya menyentuh Jennifer yang tertidur lelap, diliriknya anak berambut merah yang juga sedang tertidur. Perlahan jemari itu berpindah dari Jennifer menuju Marry. Ujung jarinya menyentuh simbol keabadian itu.


“Apa yang kau lakukan?”


“Mengambil hartaku,” tegasnya.


“Siapa?” Susan mencoba tenang. Mencari cara agar simbol kegelapan itu menjauhi harta bendanya.


“Puteri Dahliamu,” ucapnya menyentuh kepala Marry.


Drrrrtt...


Sengatan listrik mengalir menembus tangan rapuhnya. Teriakan Black Shadow berhasil membangunkan Jennifer, anak yang kaget itu bergegas menuju ibu dan meninggalkan Marry di ranjang.


“Dia Dahlia? Tapi, ini terasa berbeda, Sue.”


“Apa maksudmu? Pergilah sebelum Herms datang, kekuatanmu belum sempurna untuk mengalahkannya. Mantera cintaku belum berhasil sepenuhnya, sihir hippno pun masih sering menghilang. Dan Marry, belum bisa dipastikan bahwa Marry adalah Dahlia. Kau harus bersembunyi hingga benar-benar pulih."


“Kau benar. Tapi, apa kau pikir aku tidak bisa mengalahkan murid gilaku itu. Herms melemah setelah kematian Padma. Bahkan tanpa sihir hippno pun dia hanya seonggok daging tak bertulang."

__ADS_1


“Professor." Susan masih membujuk sosok itu untuk meninggalkan mereka.


“Bukankah Jenny semakin cantik? Biarkan aku menyentuhnya." Black Shadow mengulurkan tangan, mencoba menyentuh Jenny yang bersembunyi di balik tubuh Susan.


“Jangan sentuh anak-anakku."


“Apa kau sedang mencoba mengingkari janji?” tanyanya memandang Jenny dengan tatapan menjijikkan, “bawa Dahlia padaku!!!” teriaknya kencang mengalihkan pandangan sesaat kepada Marry.


Tubuh gadis kecil di belakang Susan terangkat, dan sampai di hadapan Black Shadow. Jennifer berteriak histeris. Kakinya dilemparkan ke segala arah mencoba seimbang. Susan mulai menangis. Permintaan dan rengekan untuk melepaskan puterinya terabaikan begitu saja.


Black shadow, sang tuan kegelapan sepertinya menikmati penampakan Susan yang penuh kekesalan itu.


Happ.


Kini Jennifer ada di genggaman tangannya. Berkali-kali berteriak, Jennifer menangis ketakutan.


“Berikan Dahlia kepadaku, atau puterimu yang cantik ini, selamanya akan menjadi pengikut kegelapan."


“Baiklah. Akan kubawakan kembali darahnya untuk memastikan bahwa dia memang Dahlia. Tapi, kumohon, biarkan aku dan kedua puteriku hidup bersama."


“Baiklah,” ucapnya melempar Jennifer ke ranjang. Membuat Marry terbangun dan mulai menangis.


Black shadow berjalan ringan menuju Susan. Dibisikkannya ancaman yang selalu ditakutkan vampir itu.


"Jangan pernah menghianatiku, jika tak ingin Jenny menjadi vampir hitam. Sekali lagi kau mencoba melindungi Dahlia. Kau takkan pernah berhasil balas dendam dan nyawa yang kuberikan padamu. Akan kembali kepadaku. Mengerti?" Hilangnya dalam kabut.


Susan tersungkur dan mulai menangis. Dia tersadar dan bergerak menuju ranjang. Menenangkan Marry dan Jenny yang sama-sama menangis kencang.


"Apa yang harus kulakukan?" Susan menatap Marry yang mulai tertidur. Piyama kuning di badan Marry tampak seperti mudah kotor, beberapa kali Susan menyentuh dan menyekanya, padahal tak ada noda apapun di sana.


***


Susan menyayangi Marry, sama seperti Jenny. Siapa yang bisa menolak pesona anak manis itu. Tapi, sumpahnya untuk membalaskan dendam mantan suami, Oliver Goldstein. Membuat Susan sampai pada keputusan membunuh Herms, lalu lari bersama kedua puterinya.


Tapi, hati dan tindakannya berubah. Semakin hari, Herms semakin manis. Keluarga bahagia yang pernah diimpikannya, kini mulai tertata lagi. Naluri wanitanya hidup, memaksanya membuang sejenak niatan jahat. Susan meminta untuk meninggalkan Stanome dan pindah ke Okrey.


Menyembunyikan Marry dari Black Shadow, melindungi Jenny dari ancaman sihir hitam, menyusun kembali rencana agar semua kembali pada jalurnya. Hingga hari itu datang, di mana untuk pertama kalinya Marry terluka.


Susan menyerahkan darah Marry kepada Black Shadow dan mengetahui bahwa Marry adalah Dahlia. Darahnya, sama seperti milik neneknya. Darah yang bisa menciptakan keabadian.


Ketamakan pun menyerang Susan. Mengorbankan nyawa anak tirinya, sepertinya bukan masalah berat, demi mencapai tujuan bersama.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2