Journey To The Brockleheart Sky

Journey To The Brockleheart Sky
Chapter 24: Apple Potion


__ADS_3

Suara tangisan yang menyedihkan, mengalihkan perhatian Herms. Tampak Marry sedang tersudut dengan sosok besar di hadapannya. Herms semakin geram, hal memilukan macam apa ini?


Kapan hal buruk seperti ini terjadi di dalam rumahku sendiri?


Sesaat kemudian, cahaya kebiruan menyilaukan mata Herms. Semua yang ada di tempat itu pun terlempar, terkecuali Black Shadow. Tangan kanan Marry tiba-tiba terangkat, hujan semakin deras dan hanya membasahi Black shadow, tubuhnya pun dipenuhi tumbuhan merambat. Tangan kiri Marry tampak memegang kalungnya.


Black Shadow tertawa puas, walau sepertinya rasa sakit yang diberikan semakin mencengkeram tubuhnya. Susan bergegas keluar rumah, Jenny yang menangis di dalam rumah melarikan diri dari para penjaga. Berhambur menuju Marry.


"Marry, kau tidak apa-apa? Ini aku," tanya Jenny kalut.


"Iya." Suara lembut Marry keluar begitu saja.


"Kau bicara?" kaget Jenny tertahan. Tangan Jenny diletakkan ke mulut Marry. Dikecilkan suaranya dan memeluk Marry erat-erat. "Diamlah, jangan bicara dulu," bisiknya.


Herms beralih melihat gerak-gerik Susan dan Black Shadow. Beberapa kali diayunkan, tongkat sihir Susan masih belum bisa melepaskan kekuatan Marry yang menjerat tubuh Black shadow.


"Zjjari!" Susan berteriak sambil mengayunkan tongkat sihirnya. Percikan api biru kehijauan tampak seperti dijentikkan dari ujung tongkatnya.


"Kau akan membakarku!" seru Black Shadow terjebak.


"Kau tidak bisa terbakar, aku tahu itu!"


"Obliviate!" perintah Black shadow tiba-tiba.


"Apa harus kulakukan?" Susan meragu.


"Apa kau ingin dia mengadu kepada Herms? Lakukan saja!"


Susan berbalik, menarik napas sekuat tenaga. Wajahnya memerah, dia merapatkan bibir, urat di leher dan keningnya tampak menyeramkan.


Melihat Jenny, Susan pun memberi mantera pelempar ke tubuh Jenny yang tengah memeluk Marry, hingga Jenny terempas jauh.


"Marry, larilah!" teriak Jenny.


Susan pun melayangkan tongkat ke arah Marry dan cahaya putih menyilaukan mata bercampur dengan teriakan mantera pelupa.


"Aaaahkkh!!!"


***


"Marry!" Herms tersadar, dan Marry jatuh pingsan.


Kini Herms tersengal, disela napasnya Herms mengungkapkan kepada Laura, bahwa Marry di Obliviate. Sebuah mantera pelupa, yang cukup kuat dan hanya bisa dibuka oleh sihir.


Itulah sebabnya Marry tidak mengingat hari itu. Tapi, entah apa yang terjadi. Marry berhasil mengingatnya pada alam bawah sadar. Dan membuatnya kehilangan suara.

__ADS_1


Selain hal buruk yang menimpa Marry setidaknya ada hal baik yang menimpa Herms, kekuatannya sebagai pengendali pikiran telah pulih. Menandai sihir gelap dan ramuan pemberian Susan telah sepenuhnya menghilang. Kini fokus Laura terbagi, bukan hanya membuat ramuan penyembuh untuk kakaknya, kini Laura pun harus membuat ramuan baru untuk Marry.


Laura yakin, jika hilangnya suara Marry kali ini dikarenakan ingatan yang hadir dalam mimpinya itu. Jika itu benar, maka jus apel emas bisa membantu membuat Marry berbicara kembali. Itu keputusan yang tepat untuk meminta Alena mencari apel emas. Setidaknya ia telah mencoba.


***


Setelah malam mendebarkan itu, sehari pun telah berlalu, Marry menolak latihan bahkan makan. Dia benar-benar terpuruk. Herms dan Laura pun tak tega memberitahukan, bahwa mimpinya adalah sebuah kenyataan. Betapa menyakitkan bagi gadis muda ini harus melihat hal yang menyeramkan itu.


Akhirnya, Alena tiba. Dia membawakan apel emas seperti permintaan Laura. Karena tidak ada di Arsk, Alena mengambil buah langka ini di taman istana peri.


"Artinya kau mencuri," ujar Herms membuat peri kecil itu murka.


"Sudah kubilang, aku hanya mengambilnya. Aku tidak mencuri!" Alena bersikukuh pada jawabannya.


Marry tersenyum melihat ayahnya menggodai peri nakal itu.


Kau harus memarahinya ayah, dia peri yang nakal. Ujar Marry dalam hati. Lalu menoleh pada bibinya yang sibuk membuat ramuan sambil tersenyum ringan.


Apel emas itu dipotong memanjang, bahkan bijinya yang berwarna emas dimasukkan ke kuali kecil berwarna perak. Dididihkan dengan api sedang. Di sebelah kuali kecil, terdapat kuali emas tempat di mana ramuan untuk Herms dibuat.


Letupan panas dari kuali kecil menghilang saat daun mint dan Cymbopogon citratus dimasukkan. Bersama beberapa sendok madu liar yang diambil dari hutan permintaan.


Marry mendekat dan berbicara menggunakan bahasa isyarat.


Ada yang bisa kubantu?


"Sepertinya percakapan tidak berguna antara ayahmu dan Alena telah berhasil membuatmu tersenyum?" tanya laura.


Marry mengangguk, dan menyentil Alena yang tiba-tiba sudah ada di atas pundaknya.


"Kau ini!" geramnya melaju menuju bibir Marry, lalu mencubit ringan bibir kecil Marry. "Aku merindukan suaramu!" lanjutnya. Marry tersenyum singkat.


***


Sore ini, seekor burung merpati menembus jendela rumah Laura. Herms yang menemukannya, membaca sebuah surat.


"Laura, ini untukmu!"


"Berikan padaku." Laura bergegas membuka amplop berwarna hijau dengan pita kuning di tengahnya dan lelehan lilin merah berlambang BS. Dengan wangi jasmine yang menghipnotis.


*


**Untuk Laura.


Senang mendengar kabarmu. Aku terkejut melihat visual sang Dahlia. Tentang hal yang ingin kau tanyakan. Ya, memang benar. Mereka sudah keluar dari hutan permintaan. Mereka terjebak di sana, itu sebabnya belum menemukan kalian. Kita hanya punya waktu dua hari untuk melewati jalur hutan. Apa Dahlia aman? Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya.

__ADS_1


Lavender Davis.


*


"Apa itu dari BS kan?" Herms mendekatkan wajahnya ke arah tangan yang dekat dengan dada Laura, tempat kertas kekuningan itu berada.


Laura mengangguk, lalu berkata dengan cepat, "hmm, Lavender."


"Lavender? Lavender Davis? Apa dia masih menjadi kepala asrama di sana?"


"Lavender adalah kepalah sekolah, sekarang."


"Oh ...."


"Kau bahkan tidak tahu hal itu?"


"Maaf! Akkh!" Herms meringis kesakitan.


"Bagaimana lukamu? Aku membuat ramuan ini tadi, minumlah bersama Marry." Keduanya memperhatikan Marry yang tampak tersenyum geli saat ia melihat Alena di hadapannya.


"Setidaknya kami selamat." Herms terlihat lega, menatap Marry penuh kasih sayang.


"Minumlah! Marry, ini obatmu." Marry bergegas dan segera meneguk obat itu. Keinginannya untuk bisa bicara membuat Marry menegak obat tanpa meragukan rasa dari ramuan yang baru pertama kali menyentuh indera perasanya.


"Jika dia bisa segera berbicara karena ramuanmu, seharusnya sudah kubawa Marry kepadamu sejak dulu."


"Jika itu kau lakukan, mungkin aku sudah menemukan fakta bahwa kau terkena ramuan cinta. Kau terlihat sangat mencintai Susan, hingga bersedia memutuskan hubungan denganku dan keluarga Padma."


"Aku rasa begitu, aku sangat percaya padanya. Aku jugaa sangat menyesali apa yang terjadi pada Oliver."


"Itu bukan kesalahanmu, kita semua yang menyingkirkan Oliver. Kau, aku dan Padma, juga Lavender."


"Kau harus segera menikah!"


"Tiba-tiba?" Mata Laura membelalak. "Aku sudah terlalu tua untuk menikah, Herms. Lagipula, siapa yang mau menikahi penjaga Fluffy sepertiku," lanjutnya tertawa.


Marry memperhatikan ayah dan bibinya. Ramuan ini terasa terlalu manis, hingga rasanya telinga Marry berdengung tajam.


"Itu tidak bisa langsung berfungsi, Nak. Kau butuh 3 sampai 5 kali meminumnya. Mungkin dua hari lagi suaramu akan kembali normal. Penyebab kau tidak bisa bicara, bukan karena sihir Susan semata. Melainkan karena dirimu sendiri. Kau mengerti?" ungkap Laura yang disambut anggukan penuh dari Marry dan Alena.


"Bersiaplah, malam ini kita akan memulai perjalanan ke Brockleheart. Dan, kau akan kembali latihan."


Marry tersenyum, kini dia merasa lebih baik. Walau langit sore ini terasa cukup menakutkan, karena ada gumpalan awan putih tebal dari arah selatan.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2