Journey To The Brockleheart Sky

Journey To The Brockleheart Sky
Chapter 16: Jennifer The Key


__ADS_3

Peti besar itu tampak berat. Susan dan Dravis menurunkannya di tengah hutan. Dalam malam gelap, melalui perjalanan selama dua hari menuju pinggiran hutan di Okrey. Mereka akhirnya membuka penutup peti dan mengeluarkan tubuh kaku yang tak sadarkan diri.


Tubuh pucat bergaris merah keunguan itu tampak menyedihkan. Jennifer kini tampak seperti mayat hidup dengan mantera Fereizing dan sihir Hippno itu.


Dravis mendudukkan Jennifer pada tumpukan jerami. Wajahnya yang berurat kasar, mendadak membuat Susan sedih. Ibu mana yang tega melihat puterinya tampak seperti ini, namun tangisannya tertahan akan dendam dan kebencian.


"Berikan aku darah Dravis, kita harus membuatnya terbangun, agar memudahkanku membuatnya mengingat Marry. Lepaskan freeizing-nya."


Dravis mengangguk dan tangan kirinya menyentuh wajah kecil Jennifer. Tangan besarnya hampir memenuhi kepala Jennifer, beberapa mantera diucapkan membuat jemari tangan dan kaki Jennifer bergetar hebat.


Erangannya kini mulai terdengar, napas yang tersengal terdengar menyakitkan bagi Susan. Digoresnya tangan kanan Susan, hingga darah kehitaman keluar. Tangan berdarah itu diarahkan ke bibir kering Jennifer, diteteskan lah darah manusia-vampire itu.


Setelah ritual singkat, Susan menggenggam tangan Jennifer. Jemari berkuku panjang yang tadinya bergetar pelan kini berhenti bergerak. Sepertinya menyadari tangan siapa yang sedang memegangnya. Napas Jennifer perlahan beratur.


"Jenny?" panggil Susan menatap tajam wajah Jennifer yang masih ditutupi tangan Dravis.


"Kau baik-baik saja 'kan?"


Hening, hanya erangan kacau yang mulai terdengar dari mulutnya.


"Errhggh ... akkhhfrr ...." Suara Jennifer bahkan terdengar mengerikan.


"Nyonya, kau harus bergegas! Jika terlalu lama dalam kondisi ini, dia akan menjadi vampir hitam selamanya."


"Jenny, tolong berikan ingatan tentang Marry padaku. Tolong biarkan ibu menangkapnya. Kau puteriku 'kan? Lepaskan ingatan Marry, mari kita gunakan untuk menemukan adikmu."


"Marr ... hgg ... Mar-ry ...."


"Benar, Marry," ucapnya mengisyaratkan Dravis untuk melepaskan tangannya dari wajah Jennifer.


Jennifer jauh lebih tenang, tatapannya kosong. Tak ada reaksi berlebihan, dia diam dalam lemas. Perlahan bibir bawahnya bergerak, dan mulai memanggil nama Marry. Susan tersenyum tipis, menyentuh rambut pirang itu dan mengumpulkannya ke belakang.


Kemudian menyentuh pipi Jennifer dan memeluknya erat. "Bagus! Kau berhasil mengendalikan dirimu, Nak?"


"Marry?" panggilnya datar tanpa ekspresi.


"Berikan kotaknya Dravis, dia sudah mengingat Marry."


Dravis mengeluarkan kotak kecil berukuran 5x7 sentimeter. Kotak yang disebut 'Pemicu Memori'. Susan membuat Jennifer memegang benda itu. Malam ini pencarian Marry akan berlanjut, Susan yakin akan hal itu. Jennifer bisa menjadi kunci menuju pintu hutan permintaan, persis seperti apa yang dikatakan Black Shadow.


"Kau bertemu Marry, bukan sebagai vampire. Tapi, sebagai Jennifer kecil, kau memegang tangan dan kemudian memeluknya. Apa kau melihatnya?" Susan memulai hipnotisnya dengan pertanyaan dan pernyataan yang dalam.


Jennifer mengalihkan pandangan kepada sang Ibu. Beberapa detik menatap Susan dengan tatapan kosong, pupil matanya bergerak tiba-tiba, bereaksi akan sesuatu. Jennifer perlahan mengadah ke atas dan menatap bulan di atas kepala mereka.


"Aku melihatnya. Marry ...." Suaranya serak,nyaris hilang.

__ADS_1


"Di mana?" Telinga Susan semakin mendekati wajah Jennifer.


"Hutan. Ayah ... terluka. Aku harus menolongnya. Aku harus membawanya. Ayah terluka, aku ...," ucapnya berkedip beberapa kali, sudut matanya berair. "Dia." Napas beratnya terhenti.


"Kau kenapa?" Susan mengguncangkan tubuh yang terdiam sejenak itu.


"Aku melihat Marry."


"Benarkah? Di mana?"


"Aku berada di hutan, ayah terluka, aku," matanya kembali berkedip, "aku, apa yang sedang kau lakukan Bu?" ucap Jennifer tiba-tiba, suaranya mendadak stabil. Erangan dan napas berat tak terdengar lagi.


"Jenny?" Susan kaget mendengar pertanyaannya.


"Apa ini?" serunya terkejut melihat kondisi jemarinya.


"Apa yang terjadi padaku?"


"Jenny, kau sudah sadar? Tapi bagaimana bisa?" kata Susan menyentuh wajah Jennifer. Jennifer panik melihat tangan dan kakinya yang berurat kasar.


"Itu karena darahmu, kurasa." Dravis menjawab dengan penuh ketenangan.


"Apa yang sudah kau lakukan? Kenapa aku begini? Kenapa aku seperti monster? Apa ini?" tanya Jennifer mengerang saat menyentuh gigi taringnya sendiri.


"Jenny dengarkan aku."


Ssshhyuuu ....


Suara angin bertiup kencang, pepohonan di depan mereka bergetar hebat. Perlahan, cahaya malam tertelan kegelapan, awan menutupi rembulan yang sedang menatap mereka. Giliran hutan yang bercahaya, pintu gerbang terbentuk dengan sendirinya.


Wish Forest terbuka untuk Jennifer. Mata mereka bertiga tertuju pada ranting-ranting yang bergesekan mesra. Dari belakang, suara tepukan tangan terdengar. Jennifer berbalik dan menemukan sosok yang tak asing.


"Black Shadow," ujarnya sedikit kesulitan.


"Lihat, sudah kukatakan ini akan berhasil Sue. Kau sangat jenius Jennifer," ucapnya berjalan menghampiri Jennifer dan mengambil kotak yang masih digenggamnya.


"Aku penasaran di sisi hutan sebelah mana mereka," lanjutnya membuka kotak itu dan menyentuhnya dengan jemari. 


Jennifer terdiam. Kondisinya sangat membingungkan untuk mengerti situasi saat ini.


"Ibu?" panggilnya nanar.


"Yah ... tentu saja ...," racau Black Shadow sembari menutup mata, saat menyaksikan memori Jennifer yang telah menemukan keberadaan Herms.


Karena sesuatu hal yang mengikat keduanya sejak kecil, ingatan Jennifer dapat terhubung dengan Padma dan Marry. Namun, setelah Padma menghilang, ingatannya hanya terhubung dengan Marry. Mungkin ini kekuatan lain yang dimiliki Jennifer, atau mungkin kekuatan kotak pemicu memori benar-benar bisa diandalkan.

__ADS_1


"Kembalikan puteriku," ucap Susan tiba-tiba.


"Tentu saja, pintunya sudah terbuka," jawab Black Shadow merangkul tubuh kecil Jennifer.


"Pasukanku, masuklah ... dia sudah menemukan pintu hutan permintaan, sama seperti yang dilakukannya saat kecil dulu. Apa kau ingat Jenny?"


"Aku?"


"Hentikan, Professor." Susan berteriak lepas.


"Jenny, dulu kau—"


"Kubilang berhenti!"


"Ibu apa yang sudah aku lakukan?" Jennifer mulai menangis.


"Kau—"


"Baiklah! Aku akan segera menemukan Marry untukmu. Jangan katakan apa pun pada Jennifer." Jennifer yang mendengar itu menatap Susan penuh pertanyaan. "Aku akan ceritakan semuanya saat kau kembali normal, berikan darahnya kumohon."


"Memberikan darah kepada vampire yang tidak pernah minum darah selama 20 tahun hidupnya, menurutmu apa yang akan terjadi? Oh benar, aku bisa mencium aroma darah manusia kotor di tubuhnya. Itu pasti pemberianmu 'kan?"


"Professor? Kumohon? Jangan biarkan dia menjadi sepertiku."


"Berikan dia darah sucinya Dravis, darah neneknya Marry yang masih kusimpan selama bertahun-tahun. Darah yang lezat."


"Tidak." Jennifer ketakutan melihat botol kaca di tangan Dravis.


"Jennifer minumlah, kau akan kembali normal," pinta susan.


"Aku tidak akan meminum darah, tidak!" tolaknya tanpa sadar sudah meminum darah Susan.


"Jennifer!" teriak Black Shadow membuat tubuh Jennifer membeku dan tak bisa bergerak, mulutnya pun terbuka.


Dengan mudahnya, Dravis meneteskan beberapa cairan kental merah yang tak lagi terlihat segar ke dalam mulutnya. "Bawa dia, sebelum pintu itu menutup." Black Shadow berjalan lebih dulu danmengembalikan tubuh Jennifer yang perlahan mulai berubah menjadi normal.


Kuku tajamnya menghilang, gigi taringnya kembali normal. Hanya batuk-batuk dan berkeringat yang dia rasakan. Susan menarik lengannya. Jennifer pun menepis, menatap penuh kebencian ke arah wanita yang dipanggilnya Ibu.


"Kau berhutang banyak penjelasan kepadaku Ibu. Tentang yang terjadi hari ini mau pun di masa lalu. Aku akan membantu kalian, tapi satu keinginanku. Jangan sakiti Ayah dan Marry."


"Setuju," teriak Black Shadow.


Jenifer berjalan memasuki hutan, Susan mengikuti di belakang. Langkahnya gontai, hanya untuk dendam pantaskah dia melakukan hal yang buruk kepada puterinya sendiri?


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2