
Alena akhirnya datang keesokan paginya, tubuh kecil itu memasuki kamar yang diberikan Laura untuk Marry. Marry tampak tertidur pulas, bibir kecilnya menganga tanpa malu. Alena menyentuh hidung Marry, dia hanya diam tak bergerak. Alena pun pindah menuju jendela dan menyibak tirai, meloloskan cahaya sang surya menembus pori-pori Marry.
Silau, Marry menggerakkan badan. Berbalik ke arah berlawanan dari cahaya sang lentera alam. Alena yang kesal, menarik hidungnya dengan kasar.
"Bangun Marry!!!"
"Kau." Suara Marry tampak kelelahan.
"Aku bawakan apa yang kau minta. Marry?" panggilnya menyentuh telinga Marry.
"Apel? Kau ba-wakan aku apel?" Rambut merahnya kini bergerombolan bak bulu domba. Ada serat halus di sisi bibir yang disekanya dengan cepat.
"Tentu," ucapnya meletakkan debu berwarna merah di atas selimut Marry.
"Apa ini?" remeh Marry mendadak bermuka masam.
"Apel," jawabnya polos. Menyembunyikan kedua lengannya ke belakang tubuh kecil berkilau itu.
"Baiklah, ak-u mengerti. Bagai-mana, kau ya kau... hhh," ucap Marry kesal.
"Jangan meremehkan kekuatan peri rumah," jawabnya mengeluarkan jemari kecil dari kantong yang kasat mata bagi Marry. "Apple... Apple... Applebum!" ucapnya membuat gerakan memutari debu.
Perlahan debu-debu berkumpul dan membentuk kawanan satu sama lain. Marry mengucek matanya dan memerhatikan keajaiban yang ada di depan mata. Tak berselang beberapa detik, apel merah dengan wangi yang menggoda menyentuh lambung Marry.
"Kini kau tersenyum?" godanya memecah kebekuan Marry. Marry tetap diam untuk beberapa detik dan menyentuh apel ajaib itu. "Apa kau tidak bisa berbicara lagi, Marry?" lanjut Alena.
Marry menggeleng dan bergegas menggigit sisi apel, mengunyahnya bersemangat. Alena berhenti terbang dan duduk di atas selimutnya.
"Hmm, ini enak sekali!!!" serunya girang, mengempas selimut bergegas keluar.
"Hey," teriak Alena terbang mengikuti.
Marry berlari menuju kamar ayahnya dan menemukan Laura yang tertidur pulas di kursi. Wajahnya sendu, tenggelam dalam mimpi. Marry mengangkat ujung piyama di kakinya dan berjalan berjinjit menuju ranjang Herms.
"Ayah?" Herms bergerak dan menatap Marry. "Apel, untukmu, ini manis sekali," ucapnya mendekatkan apel ke mulut Herms.
"Tidak Marry," ujar Laura tiba-tiba.
"Hh?"
"Ayahmu tidak akan makan apel, pear dan buah sejenis itu."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Racun yang Sue berikan adalah racun tumbuhan, yang melukai ayahmu bukan sekedar pisau emas. Ada racun di bilah pisaunya. Akan bertambah parah jika mengkonsumsi buah yang seperti apel," jelasnya mendekati Marry.
"Astaga! Apa itu sebabnya ayah tidak sembuh selama berada di hutan? Karena ka-mi hanya makan buah?" Laura mengangguk mendengarnya.
"Bersiaplah, kau harus ikut denganku. Apel itu untukmu saja, nona itu sudah susah payah mencarinya seperti peri gila," ujarnya menunjuk Alena yang sedari tadi duduk di gagang pintu.
"Ke mana? Kita akan pergi ke mana?" tanya Marry.
"Menghilangkan bau badanmu."
"Kita akan mandi?" Laura tersenyum dan memeriksa luka Herms.
"Marry berhenti bicara, ikuti saja bibimu," sela Herms.
"Aku akan segera membawakannya untukmu, dan tentang suratmu aku sudah mengerti Herms, kau tenang saja. Kalian akan aman di sini."
"Apa di Arsk ada air terjun dan sungai, seperti di hutan permintaan? Aku terus mencium bau air saat bibi berkata kita akan mandi," celotehnya terdengar bahagia.
Laura hanya tersenyum dan menyentuh pipi Marry yang kemerahan. Ia yakin tatapan bahagia itu akan menjadi tatapan penuh kesedihan suatu saat nanti, jika Marry gagal memenuhi tugasnya.
Marry hanya mengangguk dan bergegas meninggalkan Laura. Dia bersiap mengikuti bibi yangbaru ditemuinya semalam, untuk pergi menuju ke tempat yang baru.
***
Letih perjalanan Marry, terbayar dengan pemandangan pagi hingga sore, yang tak lepas dari keindahan kota Arsk, dan semakin jauh ditelusuri tampak semakin elegan.
***
Mereka berdua sudah pergi selama berjam-jam, meninggalkan Herms di rumah sendirian. Beberapa kali menaiki mobil keluaran terbaru pada tahun 1962. Selain mobil, Arsk hanya memiliki kereta kuda manual dan sepeda. Tempat ini hanya memiliki satu stasiun kereta api, dengan tujuan Mavis-Arsk. Tak ada stasiun kereta lainnya, yang memungkinkan warga Arsk mengelilingi kota dengan kereta.
Setelah turun dari kereta kuda, mereka berhenti di ujung kota. Semakin dalam berjalan, mereka semakin memasuki hutan yang lebat, meninggalkan hiruk-pikuk kota dan pedesaan. Marry pun mulai tak tenang, sebelumnya dia tidak pernah meninggalkan Herms sejauh ini.
Mereka tiba di sebuah tempat dengan banyak ranting dan bunga berwarna-warni. Laura mengambil beberapa ranting dan bunga, lalu memasukkannya ke dalam keranjang kayu yang dipegang Marry.
"Jangan khawatir, Alena pasti akan menjaga ayahmu dengan baik. Percayalah padanya," ucap Laura saat merasakan kegelisahan Marry, yang sedari tadi sesekali menengok ke belakang. Mencoba mengurangi kegelisahannya. "Apa kau ingin pergi ke toko baju Marry?"
"Kenapa?" tanya Marry menatap pakaiannya.
"Kenapa kau merasa nyaman memakai baju lamaku? Kita bisa belikan baju baru untukmu, anak remaja sangat menyukai mode sekarang. Ini tahun 1962, bukan 1862 Marry. Berhenti lah terlihat kolot."
__ADS_1
"Baiklah, belikan aku pakaian Bibi."
"Kau suka warna apa?"
"Bibi Laura?"
"Ada apa?" jawabnya berbalik dan memberikan potongan ranting kepada Marry.
"Sebenarnya ke mana kita akan pergi? Kita sudah berhenti di sini, sedari tadi," tanyanya mengambil ranting yang memiliki lubang di tengahnya itu. "Hh? Ini berisi air?" lanjutnya memperhatikan tanaman yang baru dilihatnya.
"Minumlah, itu akan menghilangkan bau badanmu."
"Bau badan? Apa maksudmu? Kupikir kita akan mandi di sungai?" tanyanya terdengar polos. Laura pun tertawa.
"Apa bau badan seperti itu yang sedang kau pikirkan? Sepertinya kau harus dikirim ke Brockleheart, agar bisa mengenali duniamu sendiri, Marry."
"Lalu bau badan macam apa? Brockleheart? Apa itu?" tanya Marry mulai panik. Karena terus-terusan mendengark kata 'Brockleheart' selama masa pelariannya.
"Ckk, kau sangat berisik, aku harap bertemu denganmu sebelum ini. Tapi, kita tidak akan bisa akrab kalau kau anak pendiam, aku lebih suka kau yang seperti seperti ini." Laura mengambil keranjang kayu dan meletakkannya di tanah.
"Bibi, kau harus jawab pertanyaanku." Laura tertawa dan hanya menatapnya. "Laura ...," rengek Marry terdengar serius.
Laura menatap bola mata metaliknya, biru matanya menghipnotis Laura. Laura terdiam sesaat.
"Benar, kau harus memanggilku seperti itu," ucapnya menatap marry.
Mendadak suasana terasa haru, Laura meletakkan pisau perlahan ke tanah dan bersujud tepat di hadapan Marry. Mengadah menatap wajah kecil itu.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Marry terkejut melihat kelakuan Laura.
"Dahlia, aku sudah menantikan untuk menjadi pelatihmu," tandasnya tiba-tiba.
"Pelatih?"
"Ya. Pelatihmu. Di dalam surat ayahmu malam itu, dia memberitahu bahwa kau sudah menunjukkan tanda-tanda Dahlia. Dia mengatakan, kau harus segera dilatih dan Herms telah memilihku sebagai pelatih pertama. Jadi, minumlah itu." Laura menunjuk ranting di tangan Marry.
"Berdirilah, setelah itu aku akan meminumnya. Dan tolonglah untuk bersikap biasa saja Bibi...," ujar Marry yang diikuti langkah berdiri tegap dari Laura.
Marry menggenggam ranting seukuran dua jari kecilnya, mengangkat menggunakan dua tangan dan tanpa ragu segera meminum air yang tak memiliki rasa. Setiap tegukan dinikmati dengan pelan, hingga tetes terakhir Marry tetap memaksa meminum air itu.
***
__ADS_1
Bersambung