
Di luar sana, hujan mulai turun ke bumi. Marry pun bergegas, membawa buku harian dan baju yang Laura minta sebelumnya. Ia memasukkan kembali beberapa barang dan kotak ke dalam peti, berharap benda-benda aneh yang mengikutinya sampai ke Arsk takkan kedinginan.
Dia berjalan menuju perpustakaan, sambil sesekali melihat jendela dan terkejut dengan kilatan cahaya di luar sana. Marry lantas menjumpai Laura yang tengah duduk di atas meja dengan beberapa buku terbuka, bahkan beberapa buku tebal berserakan di lantai.
“Apa kau sedang mencari sesuatu? Ada apa dengan semua kekacauan ini?” Marry tak menyangka bahwa perpustakaan yang kemarin tampak rapih, bisa berubah seperti bekas jajahan bajak laut.
“Bagaimana keadaan, Ayahmu?” santainya sembari sibuk membolak-balikkan lembaran kertas.
“Oh, dia baik-baik saja. Sepertinya kau memberikan sesuatu yang bisa membuat ayahku tertidur?” Marry menghampiri meja berwarna hitam arang.
“Hanya obat tidur." Laura meletakkan buku dan menatap Marry tajam.
“Kenapa?"
"Agar ayahmu tertidur tentunya."
"Bukan itu. Kenapa kau menatapku begitu?" Laura hanya tersenyum, lalu turun dari meja.
"Tidak apa-apa. Apa aku dilarang untuk menatapmu?" Marry menggeleng dan menatap Laura serius.
"Kuberi obat tidur agar ayahmu tidak menganggu kita, tidak pernah melihat keponakanmu selama bertahun-tahun pasti menggelikan, bukan? Itu karena aku tidak mau mereka mencurigaimu sebagai Dahlia."
“Aku tidak tanya apapun." Marry terkikik. "Oh ya, kau berjanji akan bercerita tentang Dahlia kepadaku?”
“Aku tidak berjanji apa-apa, dan apa itu?" Laura memberi pertanyaan yang sudah jelas ia ketahui jawabannya. "Bukankah itu buku harian ibumu?" Lanjutnya mengatur beberapa buku dan memasukkannya ke dalam rak besar.
“Kau tahu benda ini?”
“Yah, dia menulisnya bahkan sebelum Susan masuk ke rumahmu dulu, di Stanome."
“Stanome, apa kau juga pernah ke sana? Tiba-tiba aku merindukannya." Marry menunduk dan melangkah menuju kursi rotan berbantal empuk.
"Kau mengingat tempat itu, Marry?"
"Tidak begitu jelas. Aku hanya mengingat tentang beberapa anak yang sering bernyanyi, tidak lebih."
"Itu nyanyian peri. Semasa Padma dan nenekmu hidup. Kau bisa mendengar nanyian peri di sana," jelas Laura berjalan duduk ke kursi rotan dekat tempat Marry duduk.
"Benarkah? Alena, apa kau bisa bernyanyi?" Marry sangat antusias menatap Alena.
"Aku peri rumah, bukan peri penghibur. Jangan berharap lebih!" Alena terbang menuju meja hitam, menjauhi kedua perempuan yang sudah menatapnya.
"Oh, ayolah. Kau bisa bernyanyi, aku tahu itu. Benarkan, Bi?" Marry memaksa.
"Aku tidak tinggal di Stanome, jadi aku tidak menyanyi," seru Alena mengerucutkan mulutnya.
__ADS_1
“Baiklah. Apa yang kau temukan, Dahlia?" Laura mencoba mengalihkan pembahasan tentang Stanome dan nyanyian peri.
“Oh--"
Marry menatap Laura. Laura pun mengernyitkan alis mata.
"Apa kau--"
"Apa ibu dan ayahku murid di Brockleheart sky? Tempat apa itu? Apa dia seperti sekolah biasa aku membaca kata vampir, serigala, penyihir, Adamas, Gallarias dan sebagainya, aku tidak mengerti apa yang dia tulis." Marry mengucap dalam satu tarikan napas.
“Pasti sulit untuk dimengerti. Saat tiba di Brockleheart, kau akan mengerti semuanya."
“Kenapa aku harus kesana?" Pertanyaan Marry membuat Laura tertawa.
“Untuk menuntut ilmu dan mengendalikannya. Kau sekarang tidak akan mengerti. Tapi, kau akan segera paham saat ayahmu kembali sehat dan menceritakan semuanya."
"Kenapa tidak kau saja yang menceritakannya kepadaku?"
Laura duduk di lantai mengambil beberapa potongan kertas yang sobek. Mengabaikan pertanyaan Marry. Perlahan jemarinya bermain di atas karpet bulu yang tampak mahal. Marry memperhatikannya dan menemukan sesuatu yang menarik.
"Bisa kulihat gelangmu?" Laura menoleh saat mendengar permintaan Marry dan segera menunjukkan tangannya. “Kau melakukan sihir di hutan dengan benda ini?”
“Hah! Itu, bukan sihir. Tapi, sebuah pengendalian, aku pengendali tumbuhan. Sama sepertimu."
Laura mengembus napas panjang. Sepertinya anak di hadapannya memang terlalu banyak bicara. Laura tersenyum kecut, mencoba menenangkan dirinya dari pertanyaan Marry.
Kupikir memintanya datang ke perpustakaan adalah masalah baru, batinnya menyesal.
“Nenekmu seorang pengendali api, dia salah satu guru di Brockleheart Sky. Sejak lahir dia ditakdirkan sebagai Dahlia. Tapi, dia baru menyadarinya saat secara tidak sengaja membantu ibumu yang terjebak di dalam tanah. Sedangkan Ibumu adalah murid nakal di Brockleheart, dulu kami menyebut sekolah itu 'BS'. Apa itu cukup?" Laura menjelaskan panjang lebar. Tanpa menatap Marry sedikitpun dan sibuk mondar mandir menyimpan buku.
"Tidak!"
"Baiklah, kenapa aku punya tato Air? Karena kami memiliki perhiasan yang sama. Di Brockleheart, siapa pun, pengendali apa pun kau, dan di asrama manapun. Kau akan punya tato Air, jika kau memiliki gelang Adamas."
"Kupikir kau Gallarias," sela Alena tertawa.
"Menarik." Suara Marry tampak terkesan. "Apa ibu Susan juga dari sana? Ibuku menyebutnya dalam catatan ini," lanjutnya.
“Susan? Kau bertanya tentangnya? Kurasa dia adalah pengaruh buruk bagi Padma."
“Kau bahkan tidak ada di sana, jangan bicara buruk tentang ibuku."
“Ibumu? Susan? Kau pasti sangat menyayanginya, tapi apa dia menyayangimu? Tentu saja, dia menginginkan darah sucimu."
“Kumohon, berhentilah membuatku bingung, kenapa perkataan orang dewasa selalu berputar-putar. Kau hanya perlu memberitahukan jawabannya."
__ADS_1
“Jawabannya ada di matamu. Bukankah matamu terkadang berubah menjadi biru metalik?"
“Bagaimana kau tahu?" Marry semakin bingung. Bagaimana pelatihnya ini mengetahui tentang hal pribadi yang hanya bisa Marry jumpai saat bercermin. Aneh. Marry semakin penasaran, tentang semua dongeng nyata ini.
“Oh ya, Marry apa kau selalu banyak bertanya?" Marry menggeleng. "Baiklah, aku mengerti. Sebaiknya kau segera dikirim ke sana, untuk menghindari Black Shadow, dan untuk menjawab semua pertanyaan jeniusmu itu." Laura kembali menuju kursinya dan duduk di depan beberapa buku yang sudah ditemukannya.
"Marry pakai bajunya," pintanya menunjuk baju yang diletakkan Marry di atas meja kaca dekat meja besar.
“Baju busuk ini?" ringisnya seolah menolak.
"Cchah! Kau benar, itu pasti mempunyai aroma yang tak sedap, benda itu sudah berada dalam peti sekitar 17 atau 20 tahun setelah ibumu berhenti sekolah," tawanya renyah.
“Dan, aku harus memakainya?
“Tentu saja." Laura meliriknya, tawanya pun memudar.
"Kenapa ini berwarna biru-hitam?”
“Karena ibumu berasal dari asrama Lavendrake, itu adalah warna identitas mereka."
“Kau di asrama apa?" Marry masih tak bosan bertanya. Dilepaskannya pakaian dan terus menyerang Laura dengan tatapan harap agar pertanyaannya segera dijawab.
"Aku? Di asrama Blackean."
“Kau seasrama dengan ayahku?"
“Tentu saja! Kami kakak beradik, bagaimana menurutmu?”
“Apa kau bisa mengendalikan pikiran? Aku tidak pernah melihat ayah melakukannya,” Marry terdiam sejenak, “aah, selama di hutan kurasa dia beberapa kali mencoba untuk fokus. Tapi, aku mengganggunya karena terus bicara."
“Sekarang kau juga sedang menggangguku."
Marry memasang wajah cemberut, bibirnya perlahan mengerucut dan Marry pun selesai berpakaian.
Sementara itu, Laura sibuk menyibak lembaran demi lembaran kertas dalam buku-buku besar yang sedang dibacanya. Buku berwarna hijau lumut, yang akhirnya mampu membuatnya bernapas lega.
Marry memanggilnya untuk memperlihatkan, betapa pas dan cocoknya baju itu di badannya. Laura tersenyum.
Seharusnya kau memakainya sedari tadi, oh ayolah. Kau terlalu banya bicara. Batinnya merengek.
***
Bersambung
Aduh, Marry jadi cerewet banget ya ... hehehe silakan tinggalkan komentar dan like-nya. Terima kasih.
__ADS_1