
Dapat. Lembaran berwarna kekuningan itu menampakkan beberapa tinta cokelat tua yang menghuni tiap barisnya. Laura akhirnya menemukan cara untuk mengirimkan pesan ke Brockleheart.
Sedari tadi membuat ruang ini berantakan, rupanya tak sia-sia. Setelah sekian lama tidak mendatangi akademi kekuatan itu, Laura melupakan beberapa hal tentang Brockleheart, termasuk mengirim pesan langsung ke BS, kekuatan pelindungnya pun melemah. Mengirim pesan ke BS ada berbagai macam cara dan Laura hanya butuh satu cara paling aman dan rahasia.
Kotak Pemicu Memori, benda ini diwajibkan harus hadir dalam ritual berkirim pesan. Usai mengetahui hal ini dari buku yang dibacanya, Laura pun bergegas menuju laci bawah di lemari sudut ruangan. Mengabaikan Marry yang sedang rusuh dengan gaun Brockleheart-nya.
Kotak Pemicu Memori. Hanya dimiliki oleh 5 penjaga hutan permintaan, kelima penjaga hutan saling terhubung dengan benda ini.
Penjaga hutan permintaan, terpilih setiap 20 tahun sekali. Mantan penjaga hutan permintaan juga memliki kotak ini, namun kotaknya memiliki nama, warna dan ukuran yang berbeda saat berada di tangan mantan penjaga.
Bagi penjaga hutan, kotak ini berwarna putih dengan kilau hijau dan bernama Kotak Rallivana. Sedangkan bagi para mantan penjaga, kotak ini akan berwarna ungu tua dengan kilau merah dan bernama Kotak Dellivana.
Dibawanya benda putih itu ke meja dan menatap Marry yang telah selesai berpakaian lengkap. Rambut Marry tergerai ke belakang, membuat Laura sedikit terkejut sesaat, karena mengingatkannya kepada mendiang Padma.
Laura pun memanggil dan meminta Marry untuk mendekat. Marry tampak tidak nyaman, sesekali memegang pinggangnya.
“Ini baju zaman Victoria?” kelakarnya membuat Laura tak bisa menahan senyum.
“Akhir-akhir ini bicaramu menjadi sangat lancar, aku jarang mendengar kau gagap selain saat terkejut,” ucapnya memberi isyarat pada Marry agar berpindah menuju sebelah kanan meja.
“Apa yang sebenarnya akan kau lakukan?” abai Marry penasaran.
"Ikuti saja perintahku!" Laura menggenggam tangan Marry, menatapnya penuh. Seolah memindai gadis di hadapan menggunakan mata gelasnya.
“Sudah selesai.”
“Apa?” Marry terkejut. Bagaimana bisa sudah selesai? Seharusnya dia melakukan hal lebih kepadaku. Aneh. Batinnya mengomel.
“Sekarang, lepaskan pakaian itu,” pinta Laura tanpa rasa dosa, Marry hanya bisa menatapnya kesal. Semenjak menjadi pelatihnya, seharian ini Laura terus bersikap menyebalkan.
Tanpa banyak bicara, Marry pun menyetujui perintah itu dan bergegas melepaskan pakaian yang menurutnya tak nyaman sama sekali.
“Lavender? Ini aku Laura, Dahlia ada padaku. Siapkan tempat untuknya di Brockleheart Sky. Akademi akan kedatangan pengendali tertinggi." Laura tampak serius, Marry pun memperhatikannya dengan seksama. "Aku dan Herms Quirkell akan mengantarkannya melalu jalur Hutan, aku butuh mantra perlindungan,” ungkapnya dengan mata terutup rapat.
“Bibi? Pelatih?”
Tangan Laura tampak menggengam kotak berukuran sangat kecil yang terbuka, kotak berukuran 5x6 sentimeter.
“Ini penggambarannya,” lanjutnya membuka mata perlahan. Diangkatnya kepala dan meluruskan pandangan kepada Marry.
Perlahan, Laura berlinangan air mata, ada sesak di dadanya yang entah kenapa merong-rong begitu saja.
"Aku harus fokus," ujarnya sembarangan.
“Laura?” Marry mendekat dan menggenggam tangannya.
__ADS_1
“Hhhah!” Laura terkejut dan menepis ringan tangan hangat gadis di hadapannya itu.
“Apa yang sedang kau lakukan?”
“Aku mengirimkan pesan kepada temanku. Dia seseorang di BS.”
“Apa aku begitu spesial?” tanya Marry tiba-tiba. Laura menutup kotak itu tanpa merasakan sesuatu yang signifikan.
"Kenapa kau bertanya begitu?"
"Aku hanya penasaran. Ibu, ayah, Jenny, kau dan bahkan si Black Shadow itu, terus saja mencoba untuk melakukan sesuatu kepadaku. Bahkan aku harus mengenal tempat asing bernama Brockleheart Sky. Aku hanya ... kebingungan."
“Tentu saja sayangku. Kau sangat spesial. Luar biasa, kau adalah sebuah kekuatan yang belum terukur kedalamannya dan belum tersentuh keindahannya.” Laura tersenyum dan kembali menggenggam tangan Marry. Marry menyambutnya dengan senyum hangat. “Beristirahatlah, kita tidak bisa berlama-lama di sini. Kekuatanku dan Herms, tidak bisa melindungi dirimu dari Black shadow. Kau harus segera menuju Brockleheart.”
"Kenapa harus Brockleheart? Bahkan namanya tidak indah."
Laura kebingungan, entah harus memulai darimana untuk menjelaskan kepada Marry. Penjelasan tentang dunia mereka harusnya dilakukan Herms. Tapi, dia bahkan terlalu lemah untuk makan.
"Bibi?"
"Selain sekolah sihir dan pengendali, ada banyak orang yang bisa melatih dan melindungimu di sana." Laura mencoba menjelaskan sesederhana mungkin.
“Aku mengerti.”
Marry harus bersiap, di tengah keadaan yang tak diketahui. Bersiap menerima sesuatu yang sesungguhnya masih tak dimengerti. Kenapa dan ada apa?
Namun, karena dirinya spesial. Marry merasa hidup barunya akan dimulai. Hidup di mana tak ada orang yang mengejeknya sebagai anak aneh yang menyeramkan.
***
Okrey, musim dingin tahun lalu 1961.
Sekelompok anak gadis berkumpul di halaman rumah keluarga Quirkell. Mereka mendapatkan undangan ulang tahun dari Susan Smith. Kue-kue cantik menghiasi meja panjang dengan lilin yang memenuhi segala tempat.
Sue melakukannya semata-mata untuk menguji praduga tentang status Marrietta sebagai Dahlia.
Di sudut taman, Jennifer tampak kesal. Bagaimana bisa ibunya mengundang teman sekolahnya ke rumah. Hanya untuk menguji Marry.
Herms sedang berada di luar Okrey, dirinya pergi bekerja bersama rekan manusia. Tuan Robbinson, seorang pengusaha kayu. Herms benar-benar menikmati kehidupan sebagai manusia biasa.
Tetapi, Susan akan begitu menikmati permainan Black Shadow malam ini.
Salju tiba-tiba turun. Para gadis yang ada di halaman mencoba berteduh menuju rumah. Susan tersenyum dan memerintahkan Dravis dan Jenny untuk menutup semua pintu.
"Aarrhghggg!
__ADS_1
"Buka!"
"Tolong! Aaah!" Teriakan para gadis yang meminta pintu rumah dibuka mengisi halaman rumah. Ya, mereka harus masuk melalu rumah agar bisa keluar dari sini.
Terlambat, tetes demi tetes salju yang turun mulai terasa hangat. Seorang gadis menyeka tetesan yang berbau aneh itu di wajahnya.
Cairan pekat berwarna merah tua melumuri jemari. Salju telah berubah menjadi tetesan darah. Suara raungan mencekam memenuhi tempat ini. Dari dalam rumah, musik klasik terlontar dari beberapa koleksi gramofon keluarga Quirkell. Sehingga teriakan para gadis tersapu suara musik pesta ulang tahun.
Black Shadow menarik gadis berpakaian coral. Mendekatkan bibirnya pada bibir gadis itu. Sesuatu yang hitam pekat keluar dari mulut gadis berbaju coral. Kulit kencangnya menyusut, perlahan menjadi tua, lalu hilang menjadi debu setelah sebelumnya untuk beberapa saat dirinya menjadi tulang belulang.
Jiwa dan raganya dimangsa oleh Black Shadow. Marry melihat semuanya. Dia terdiam, tertegun melihat kekacauan ini.
Black shadow terus berpindah dari gadis satu ke gadis lainnya. Dua belas tamu gadis, akan lenyap dalam semalam. Pembantaian yang menyenangkan. Black Shadow tiba pada gadis keriting di hadapan Marry, dipatahkannya leher gadis itu, lalu dengan kesetanan mengigiti lehernya.
Bukan hanya jiwa, Black Shadow juga menyukai darah manusia.
Marry mulai menangis, dia berlari menuju jendela besar. Bibirnya bergerak meminta tolong, suaranya tak bisa keluar. Dipukulinya kaca itu, sambil berurai air mata.
Ibu, tolong! Batinnya berseru, sembari tak berhenti menggedor pintu.
Jennifer yang melihat hanya terduduk berlinang air mata dan bermandi keringat. Sama takutnya dengan Marry, Jenny tak bisa berbuat apa-apa.
Sebuah tangan menyentuh pundak Marry, embusan napas menjijikkan terdengar.
Marry meronta dan mulai berteriak.
***
"Aaahhh!!!" Marry terbangun, dadanya sakit, napasnya sesak dan berat. Tak kuasa pula menahan air matanya.
Apa itu tadi? Pikirnya bingung.
"Marry?" Laura mendobrak pintu kamar dan berhambur memeluk Marry. "Ada apa? Kau bermimpi buruk?" tanyanya yang disambut Marry dengan anggukan. "Aku mendengar teriakanmu."
"Aku bermimpi buruk, aku tidak tahu apa itu." Marry menatap Laura.
"Apa yang kau katakan?" Laura kebingungan melihat Marry yang tak bersuara.
Marry menyentuh lehernya, merasakan sesuatu yang aneh. Kakinya bergoyang acak, panik. Suara Marry menghilang. Semua yang dikatakannya hanya tertahan dalam pikiran. Marry tak bisa berbicara lagi.
Kemana suaraku? Batin Marry sambil melirik kotak Rallivana yang sudah ada di meja dengan posisi terbuka.
***
Bersambung
__ADS_1