
Jumat 18 Oktober
Hari ini adalah hari yang sangat ditunggu. Hari yang istimewa dan terbaik untuk menuju satu langkah ke dalam sebuah hubungan yang penuh keberkahan. Malam ini dua keluarga akan melangsungkan lamaran antara Leon dan Natasha.
Kini Leon tengah bersiap untuk ke rumah Natasha atas niatnya melamar gadis itu secara resmi di hadapan keluarga terdekat.
"Jas udah, celana udah, dasi eumm ... nggak perlu, deh. Jam tangan udah, muka? Ck, jangan tanya pastinya udah nyaingi Justin Bieber dong. Apa ya yang kurang?" gumam Leon dengan dirinya sendiri dan tampak pandangan fokus pada cermin besar di hadapannya.
"Oh astaga! Hal terpenting bisa gue lupain malahan. Bentar-bentar," ucap Leon setelah menyadari sesuatu, ia lantas mengambil sisir dan kembali berkaca.
"Aduh ... nih jambul khatulistiwa gue nggak boleh lepek nih. Oke nice! Ck, ganteng banget sih Lo, Leon. Pantes Vanya nerima lo," tutur Leon yang semakin tidak jelas.
Dor
Dor
Dor
"LEON CEPAT KEBURU KEMALEMAN!" teriak Yasmine dari bawah.
Leon akhirnya untuk ke sekian kalinya memperhatikan dirinya di kaca sebelum benar-benar melangkah keluar kamar.
"Sabar kali, Mi. Orang juga Leon lagi siap-siap!"
"Kurang sabar gimana? Nih Mami sampai kering nungguin kamu!" omel Yasmine.
"Ya udah basahin aja lagi. Gitu aja repot, udah yuk, Mi. Nanti kemaleman nunggu Mami lama!" ucap Leon santai sembari melangkah duluan meninggalkan Yasmine yang hanya mampu menahan kesalnya.
"Itu anak ya ... arghh! Untung itu anak aku, kalau bukan udah ku buang ke laut!" kesal Yasmine yang akhirnya bergegas menyusul Leon.
...****************...
Kini Leon dan kedua orang tuanya sudah hampir mendekati komplek perumahan Natasha. Dan itu semakin membuat Leon gugup, ia bahkan terus membenahi penampilannya agar tidak ada kerusakan apapun.
Jordan Papi Leon yang merasa jengkel dengan aktivitas putranya itu akhirnya berdecak kesal.
"Ck, Leon! Bisa nggak kamu nggak usah rempong mulu dari tadi? Papi capek lihatnya. Lagian Natasha juga nggak akan nilai kamu sampai segitunya," protes Jordan merasa muak sebab Leon sedari tadi tidak bisa diam.
"Iya, Leon. Kamu itu udah kaya anak cewe aja, repot mulu benerin dandanan. Perasaan Natasha nggak gitu-gitu amat. Lagian kan biasanya kamu cuek aja sama penampilan," timpal Yasmine.
Leon hanya memutar bola matanya malas. "Papi sama Mami kompak banget ngomelin Leon! Lagian nih ya apa salahnya mau kelihatan ganteng di depan calon, nothing is wrong. So, Kalau kalian capek lihatin Leon, ya udah nggak usah di lihatin. Orang yang salah matanya yang disalahin sini," sungutnya.
Keduanya hanya menghela napas pasrah. Mereka baru tahu seperti ini sikap anaknya jika benar-benar sedang jatuh cinta. Selama ini mereka belum tau? Ya, benar sekali.
Mereka baru tahu sikap Leon seperti ini, pasalnya setelah berpisah dengan Natasha Leon tak pernah jatuh cinta dengan perempuan lain. Hingga rasa itu tumbuh kembali dan menghampiri hatinya disaat ia kembali bertemu Natasha.
...****************...
Di lain sisi Natasha tengah duduk di kamar bersama Hanna yang merupakan sepupunya. Usia Hanna tiga tahun di atas Natasha.
Natasha telah siap dengan dress gold nya, hijab segiempat dengan warna senada, tak lupa polesan make up natural menambah kesan ayu pada wajah manisnya.
__ADS_1
"Kamu kok kaya gugup gitu, Nat? Tenang aja, kan baru lamaran belum nikahan," kekeh Hanna.
"Ih Mba Hanna, namanya aja baru ngerasain kaya gini. Emang Mba Hanna dulu nggak gugup apa?"
"Gugup sih hehe ...."
"Tuh kan."
Di tengah obrolan mereka, keduanya mendengar suara mobil yang memasuki halaman rumah Natasha, baru saja Hanna ingin mengatakan sesuatu, pintu kamar tersebut sudah lebih dulu dibuka oleh Riana.
"Yuk keluar, Leon sama keluarganya udah dateng," ucap Riana.
"Iya, Ma."
Mereka pun lantas turun ke ruang tamu, sesaat berada di anak tangga ke empat, Leon yang tengah duduk dengan posisi menghadap tangga seketika memperhatikan kedatangan Natasha dari bawah hingga ke atas, sungguh ia terpukau oleh Natasha, malam ini ia sangat cantik dan anggun.
"Awh!" ringis Leon ketika sebuah cubitan kecil mendarat mulus di lengannya.
"Apa sih, Mi?"
"Jaga matanya!" Leon mendengus kesal, tangan satunya masih setia mengusap-usap lengannya yang terasa perih akibat cubitan Yasmine.
Natasha pun duduk di samping Riyan sang Papa dengan arah pandangan mata ke bawah, menatap sepasang kakinya.
Suasana tegang dapat dirasakan di antara dua keluarga yakni pihak Riyan dan Jordan. Hingga ketika Riyan sudah memberikan tanda dimulai dengan cara mengangguk kepalanya, Leon berdehem bermaksud meminta perhatian dari semua orang yang berada di sana.
"Jadi, maksud saya beserta keluarga saya kemari karena perihal suatu alasan, pertama-pertama saya mengucapkan terima kasih kepada Om Riyan dan keluarga karena telah menyambut serta menerima kami ke dengan baik. Kedua, tujuan saya kemari," jeda Leon.
"Saya tau saya memang belum terlalu dewasa dan mungkin untuk menjaga serta membimbing putri Om saya belum bisa sebaik Om yang menuntun sekaligus merawat Vanya sejak kecil hingga kini telah beranjak dewasa. Karena tidak ada didikan, bimbingan serta pengajaran terbaik anak selain dari orang tuanya sendiri. Saya hanya lelaki baru, yang berusaha untuk menjaga, membimbing, lalu menuntun putri Om dengan sebaik mungkin."
"Setelah mendengar ini, saya yakin tidak salah pilih kamu Leon. Om memang belum mengenal kamu lebih jauh karena terakhir kali Om melihat kamu itu sedang asik bermain dengan Natasha sebagai bocah kecil yang saling menyayangi," tutur Riyan diselingi kekehan.
"Kamu tau mengingat masa itu selalu membuat Om tertawa. Melihat Natasha kecil yang sedang asik bermain di bawah hujan dengan pangeran kecilnya yang tak lain adalah kamu sendiri, kini justru berani datang melamar. Kamu tau kalau Om sangat menyayangi Natasha, kan? Memang sangat berat bagi seorang Ayah yang sudah lebih dulu menjadi pelindung bahkan pereda tangis putrinya, lalu sekarang akan diserahkan kepada lelaki lain untuk menggantikan tugasnya. Om percaya sama kamu, maka dari itu jaga Natasha, jaga anak Om dengan baik, jangan sakiti dia. Dan satu pesan Om," jedanya.
"Saat wanita menangis, jangan bentak dan marahi dia. Namun, peluklah dia, rengkuh hatinya dan katakan sesuatu yang indah. Kamu harus tau hal ini, perempuan itu hatinya sensitif, jangan sedikit pun kamu membentak dia. Namun, jika dia salah, maka nasihati lah dengan lembut dan baik, sebab perempuan akan kembali luluh dengan sikap lembut suaminya," terang Riyan.
"Iya, Om. In Syaa Allah saya akan selalu ingat pesan Om ini. Jadi, apakah pinangan saya beserta keluarga diterima?"
Seketika Riyan terkekeh. "Ya kalau Om sih terima-terima saja. Toh Om juga udah mengenal baik Papa kamu dan Om yakin jika orang tuanya saja baik, ya pasti anaknya juga baik. Tapikan yang bakal menikah sama kamu bukan Om tapi, Natasha. Tanya dong sama orangnya," goda Riyan yang membuat Leon tertunduk malu.
Leon berdehem sebentar menormalkan detak jantungnya setelah itu mengalihkan pandangannya kepada Natasha.
"Vanya, kamu sudah dengar semuanya. Ya emang mungkin aku belum bisa menjadi lelaki yang kamu inginkan, aku belum bisa menjadi lelaki sholeh yang kamu harapkan, tapi itu belum bukan tidak. Seenggaknya aku bisa menjadi imam kamu dan maukah kamu menjadi istri ku, menjadi pendamping hidupku di dunia maupun di akhirat kelak, menjalani kehidupan susah maupun duka bersama, melewati ujian serta berbagai masalah apapun bersama?"
Tampak Natasha yang meremas ujung jilbabnya karena sangat malu dan gerogi, padahal dia hanya harus menjawab iya. Namun, entahlah mengapa hal itu sangat sulit bagi Natasha sekarang.
"Nat, jawab sayang," bisik Riana.
Natasha mengatur napasnya lalu mengucap bismillah dalam hati.
"Aku ..."
__ADS_1
"Aku ..."
"Aku bersedia."
Terdengar helaan napas lega dan pengucapan hamdalah dari mereka semua terutama Leon, hatinya terasa penuh dengan taman bunga sekarang. Ia semakin tidak sabar menantikan hari itu tiba, di mana gadis menggemaskan di hadapannya ini akan menjadi miliknya seutuhnya.
...****************...
Pagi ini Natasha tampak tersenyum cerah setelah momen indah semalam. Hari ini libur tetapi, Natasha sudah rapi dengan dress abu-abunya yang dipadukan dengan warna pink muda.
"Masya Allah anak Mama mau ke mana nih pagi-pagi udah cantik gini?" goda Riana.
Natasya tersenyum malu. "Apaan sih, Ma. Udah deh nggak usah sok nggak tau!" ujar Natasha.
"Langsung nikah aja kenapa sih, Nat. Biar nggak jadi fitnah juga. Masalah sekolah mah gampang," sahut Riyan yang sedang menikmati sarapannya.
"Nggak bisa gitu dong, Pa. Pendidikan kan juga penting. Entar juga setelah nikah aku sama Leon juga bakal tetap kuliah," jawab Natasha.
"Udah deh, Mas. Bilangin anak jaman sekarang mah susah," timpal Riana.
Di tengah perbincangan mereka, terdengar ketukan di pintu membuat ketiganya mengalihkan perhatian. Natasha melangkah berniat membuka pintu tersebut untuk melihat siapa tamu yang datang sepagi ini.
Jantung Natasha langsung berdetak lebih cepat. Leon tersenyum tampan, keduanya saling menatap satu sama lain seperti ada daya tarik magnet yang tak bisa mereka hindari, seakan tersadar, Natasha memutus kontak mata mereka dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Leon? M-maaf, ayo silahkan masuk!" Natasha tergagap seraya berbalik berjalan lebih dulu meninggalkan Leon yang terkekeh melihat Natasha salah tingkah.
"Ma, Pa, ada Leon."
"Eh calon menantu Tante udah dateng rupanya," celetuk Riana.
"Assalamu'alaikum Tante, Om,"
"Wa'alaikumsallam, duduk, Leon. Sarapan dulu," tutur Riyan.
"Ah nggak usah, Om. Lagian Leon tadi udah sarapan," jawab Leon.
"Maaf ya, Leon. Jadi nyusahin kamu pake jemput Natasha segala. Kan Natasha bisa bawa mobil sendiri ke rumah kamu," kata Riana menimpali.
"Nggak papa kok, Tan. Direpotin sama calon mah nggak masalah," kekeh Leon.
"Awh!" Leon mengaduh sakit ketika lengannya tiba-tiba saja dipukul menggunakan tas oleh Natasha.
"Nggak lucu, Leon!" bisik Natasha yang merasa malu di depan orang tuanya.
"Lho emang nggak lucu kan, lagian kan bener kamu calon aku," goda Leon lagi.
Natasha berusaha menahan senyumnya. "Leon, diem ah!" bisik Natasha.
"Ya udah ya, Ma, Pa, Natasha sama Leon pamit dulu. Assalamu'alaikum," sela Natasha yang kemudian menyalami kedua orang tuanya lalu berjalan lebih dulu dari Leon.
"Eh Vanya tunggu! Ya udah Tan, Om, Leon pamit ya assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumusallam."