
Saat ini Natasha tengah sibuk di dapur bersama Yasmine. Ia memang meminta Natasha hari ini untuk ke rumah dan menghabiskan waktu bersamanya, anggap saja hal itu Yasmine lakukan untuk dapat lebih mengenal calon menantunya.
Pasalnya dulu Yasmine hanya dekat dengan Natasha saat ia masih berusia sangat kecil.
"Ini udah mau mateng, Tan. Tante udah belum?" tanya Natasha.
Yasmine berdecak. "Kan Mami udah bilang, panggil Mami aja, lagian kamu juga bakal jadi menantu Mami. Gimana, sih?" ujar Yasmine yang membuat Natasha mengulas senyumnya.
"Belum biasa aja, Mi. Oke, menu kedua udah selesai. Mami mau aku bantuin nggak?" tawar Natasha.
"Oh boleh, Mami mau-"
Perkataan Yasmine tersela sesaat terdengar bel rumahnya berbunyi, ia mencuci tangannya di wastafel lalu mengalihkan pandangannya sejenak ke Natasha.
"Bentar ya, Nat. Mami buka pintunya dulu. Bibi lagi ke pasar, Leon kayanya di taman belakang," ucap Yasmine.
"Iya, Mi."
Yasmine bergegas membuka pintu, ia seketika tertegun saat melihat siapa yang berkunjung ke mari sekarang, jantungnya bergemuruh, mendadak dirinya merasa gelisah, bahkan kegugupan begitu ketara jelas di wajahnya.
"Carry?"
Carry tersenyum cerah, giginya terlihat rapi dan wajahnya tampak manis. "Good morning, Tante. Apa kabar?" sapa Carry.
"Tante baik kok. Kamu tumben ke sini?" tanya Yasmine sedikit tergagap.
"Ya nggak papa sih, Tan. Carry cuma kangen sama Tante dan pastinya Leon. Eum oh ya, aku nggak disuruh masuk?"
Seketika Yasmine bingung harus bagaimana. Ia takut jika Carry bertemu Natasha, entah apa yang akan terjadi. "Tante, are you okay?"
"Ah ya ayo masuk!" ujar Yasmine, sesaat wanita itu masuk, sebisa mungkin Yasmine berusaha mengalihkan perhatian Carry agar tidak mengarah ke dapur.
"Tan, Tante baik-baik aja, kan? Kok Tante kaya panik gitu dari tadi?" tnya Carry saat merasakan gelagat aneh dari Yasmine.
"Tante baik-baik saja, Carry. Mungkin perasaan kamu aja kali," jawab Yasmine seadanya.
"Oh ya, Leon di mana? Apa dia-"
"Mami, Natasha udah selesai bel-" Tiba-tiba Leon dari pintu belakang dengan suara yang cukup kencang membuat Carry pasti mendengarnya. Spontan Leon menghentikan perkataannya ketika mendapati ada perempuan itu di rumahnya.
"Leon? Hai, sayang!"" sapa Carry sembari menghampiri Leon yang berhenti di samping tangga.
Saat Carry ingin memegang tangan Leon, Leon segera menghindar. "Lo ngapain sih di sini? Buat sakit mata aja!" cibir Leon.
Namun, Carry tetaplah Carry yang selalu tak mudah menyerah dan keras kepala, ia akhirnya berhasil melingkarkan tangannya ke lengan kekar Leon bahkan kepalanya ia sandarkan di sana.
"Aku kangen sama kamu sayang."
"Ck, dasar ******! Jijik gue sama panggilan Lo. Lepasin gue!" sentak Leon tetapi, Carry tetap tak mau menjauh sedikitpun.
"Kamu kok galak banget sih sama aku? Oh ya tadi aku denger kamu nyebut Natasha itu siapa?" tanya Carry ketika mengingat ucapan Leon tadi.
__ADS_1
"Mami, semuanya udah selesai, apa ada tamu?" Natasha yang tiba-tiba datang dari arah dapur seketika mendadak berhenti dengan tubuh yang menegang sesaat kedua netranya melihat Leon sedang digandeng oleh perempuan lain.
Sontak semuanya menoleh ke arah Natasha. Leon terkejut bahkan terlihat panik, ia takut Natasha salah paham dan Yasmine memijit pangkal hidungnya pusing, ia yakin Natasha akan berpikiran buruk setelah melihat ini.
Sedangkan Carry mengernyitkan dahinya bingung. Namun, sedetik kemudian ia yakin itu perempuan yang membuat Leon tidak mau lagi dengannya.
Dengan cepat Leon menghempaskan cekalan Carry secara kasar, ketika ia ingin menghampiri Natasha, perempuan itu justru lebih dulu mengambil tasnya berniat untuk pergi.
"Mami, semuanya udah siap di meja makan. Aku masih ada urusan, Natasha pamit, ya? Assalamu'alaikum!" Natasha bergegas pergi dengan langkah cepat dan terkesan buru-buru meninggalkan rumah itu.
"Natasha tunggu dulu sayang!" cegah Yasmine tetapi, teriakan itu tak diindahkan sama sekali oleh Natasha.
"Vanya, tunggu!" panggil Leon.
"Aduh cepet kejar Natasha, Leon!" pinta Yasmine lalu kemudian Leon mengambil jaketnya beserta kunci motor. Namun, baru saja ingin membuka pintu, tangannya dicegah oleh Carry.
"Kamu-"
"LO BISA DIEM GAK SIH?!" bentak Leon yang sudah kepalang kesal dengan wanita gila satu itu. Sontak Carry bungkam, ia memang sering melihat Leon kesal dan marah. Namun, ia tak pernah melihat Leon semarah dan semengerikan ini.
Leon bergegas keluar rumah dan mengejar Natasha. "Carry, sebaiknya kamu pulang!" ucap Yasmine dengan nada dingin, jujur ia juga kesal karena kedatangan Carry membuat Natasha salah paham.
"Tapi Tante, siapa perempuan itu dan ada hubungan apa perempuan kampungan itu sama Leon?"
Sontak Yasmine menatap tajam Carry saat mendengar dia dengan beraninya menghina Natasha, calon menantunya.
"Cukup, Carry! Nggak pantes kamu nyebut Natasha itu kampungan. Lebih baik kamu pulang!" tegas Yasmine yang akhirnya berlalu dari sana, membiarkan Carry berdiri seorang diri, biarlah dia pergi dengan sendirinya.
...****************...
Di sisi lain, Natasha berjalan di sepanjang trotoar mencari taksi. Namun, tak ada satupun yang melintas. Ingin sekali ia menangis, ya memang mungkin menurut kalian ini terlalu berlebihan. Namun, melihat seseorang yang begitu kita cintai tengah bersama perempuan lain, rasanya menyakitkan.
"Ih ... kok ngeselin sih. Ya Allah, kenapa jadi gini? Apa Leon selama ini cuma main-main?" gumam Natasha dengan sudut mata yang mulai terlihat basah dan berkaca-kaca.
Ia duduk di halte untuk menenangkan dirinya sejenak seraya terus beristigfar. Dan di sisi lain Leon tengah khawatir dengan Natasha, ia takut jika Natasha marah lalu membatalkan untuk menikah dengannya.
Leon menggeleng kuat.
"Arghh! Semua ini gara-gara cewek gila itu. Kalau bunuh orang itu nggak dosa, udah gue bunuh dari dulu itu orang!" kesal Leon. Ketika ia tak sengaja mengalihkan pandangannya ke arah seberang, matanya menangkap seseorang yang sedari tadi ia cari.
"Vanya," gumam Leon. Seolah tak ingin membuang waktu, Leon segera menghampiri Natasha yang tengah duduk.
Natasha melihat motor begitu familiar di matanya tengah berhenti di depannya, menyadari jika itu Leon, ia bersiap-siap untuk pergi tetapi, dengan gesit Leon mencekal pergelangan tangan Natasha yang membuat perempuan itu tersentak.
"Apaan sih Leon kamu, lepasin!" sentak Natasha. Sontak Leon melepaskan cekalan nya ketika mengingat Natasha tak suka disentuh.
"Sorry, Van. Tapi, please kamu dengerin aku dulu," ucap Leon. Natasha menoleh menatap laki-laki itu, ada gurat kekhawatiran di sana. Natasha memejamkan matanya sejenak berusaha mengontrol emosinya sendiri.
Akhirnya ia duduk lalu disusul oleh leton. "Aku yakin kamu salah paham, jadi perempuan itu yang sempet nolongin aku dari perjodohan Mami dulu," kata Leon.
"Maksud kamu?" tanya Natasha.
__ADS_1
Leon pun menjelaskan semuanya dari awal agar tak ada lagi yang dirahasiakan dari Natasha. "Jadi dia mantan kamu?" perjelas Natasha saat Leon telah selesai bercerita.
Leon mengangguk pelan. "Tapi kamu tenang aja, aku sama sekali nggak ada rasa sedikit pun sama si ****** itu."
"Jangan sembarangan gitu, Leon. Kamu nggak boleh nyebut dia sampai segitunya. Bagaimana pun juga dia pernah nolongin kamu, ya walau berujung dia yang malah nunjukin aslinya gimana," ucap Natasha.
"Iya-iya, tapi sekarang kamu udah nggak marah kan?" tanya Leon memastikan seraya tersenyum.
"Senyum aja terus!" lontar Natasha yang berniat ingin pergi tetapi, pergerakannya ditahan oleh Leon.
"Eh mau ke mana?"
Natasya berbalik badan menghadap Leon. "Mau pulang."
"Lho? Kok pulang? Kan baru sebentar di rumahku, lagian
Mama sama Papa kamu ngizinin sampe sore kok. Balik ke rumah, ya? Mami pasti nungguin," bujuk Leon.
Natasha menghela napas pasrah. "Ya udah iya, kamu duluan aja, aku pesen taksi dulu atau aku jalan kaki," jawab Natasha lalu merogoh tasnya untuk mencari handphone.
Namun, ketika Natasha baru saja akan membuka benda itu, Leon sudah lebih dulu merebutnya.
"Eh!" kaget Natasha.
"Leon balikin!"
"Nggaj ada taksi-taksian!"
"Kenapa?
"Taksinya udah aku cancel semua!"
"Kapan?"
"Tadi."
"Kenapa?"
"Karna aku nggak rela calon istri aku pulang bareng orang lain padahal di sini ada calon suaminya."
Deg
Mendadak Natasha tersipu malu, darahnya berdesir, detak jantungnya seakan bekerja lebih cepat dari biasanya. Astaga, ia benar-benar salah tingkah bahkan tak bisa mengatakan apapun sekarang.
"Malah bengong, udah ayo!" Leon yang berjalan ke arah motornya, menunggu Natasha agar cepat naik.
"Nggak bisa, Leon. Kalau pakai motor aku sama kamu pasti bersentuhan dan-"
Belum juga menyelesaikan perkataannya, Leon sudah berbalik badan dan merebut tas Natasha beserta helmnya lalu ia taruh di tengah-tengah sebagai sekat.
"Nah dah siap! Kita gak akan bersentuhan sekarang. Aku nggak bakal ngebut!"
__ADS_1
Natasha tersenyum simpul, Leon selalu mengerti apa yang Natasha inginkan, ia lantas sedikit menaikan bawahan gamisnya agar tak menghalanginya naik. Setelah nyaman, Leon melajukan motornya menggunakan kecepatan sedang, memastikan wanitanya merasa aman.