Karna Iman Dan Cinta

Karna Iman Dan Cinta
Bab. Delapan


__ADS_3

Tepat pukul 10.30 Natasha sudah diantar pulang oleh Leon. Pasalnya nanti siang Ana akan main ke rumahnya entah hanya sekedar curhat atau mengobrol biasa. Natasha yakin antara dua hal tersebut, apalagi yang akan gadis cerewet itu lakukan jika tidak seperti biasanya?


"Eum ... makasih ya, Leon. Nggak mampir dulu?" tawar Natasha.


"Ya jelas mampir dong. Ayok!" jawab Leon semangat membuat Natasha terkikik geli.


Keduanya pun masuk dan sudah mendapati Riana dan Riyan yang duduk mesra di ruang tamu. "Pacaran nggak di ruang tamu juga kali!" sindir Natasha.


Sontak Riana dan Riyan langsung mengubah posisi mereka setelah menyadari kehadiran Natasya dan Leon. "Natasha! Dateng-dateng kok nggak salam malah ngagetin aja," kesal Riana.


"Ya tadi aku baru aja mau salam, eh lihat pemandangan gini. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumu'sallam, gitu dong."


"Ini Leon? Masya Allah gantengnya kaya Om dulu pas masih muda," celetuk Riyan.


"Masa sih? Emang Om Riyan seganteng Leon Tante dulu?" tanya Leon pada Riana setengah menggoda.


Riana tersenyum bangga. "Ya Allah Leon, suami Tante mah ganteng banget mirip Salman Khan dulu,"


"Kalau dilihat pake sedotan dari arab maksudnya, hehe ..." lanjut Riana.


Sontak Riyan yang tadi tersenyum bangga seketika langsung mendelik kesal pada istrinya itu. "Jahat banget jadi istri, oh ya Leon, kamu selama ini ke mana aja? Nggak ada kabar, nih anak kesayangan Om sampai frustasi mikirin kamu," celetuk Riyan yang membuat Natasha terbelalak kaget.


"Awhh!" ringis Riyan kesakitan saat lengannya mendapatkan pukulan dari Natasha.


"Papa nggak usah berlebihan deh!"


Leon hanya terkekeh dan beralih menatap Natasha yang juga menatapnya. "Apa?" tanya Natasha heran karena Leon menatapnya sembari melemparkan senyum tidak jelas.


"Nggak papa. Cuma seneng aja dipikirin sama kamu, makasih ya."


"Ish, apaan sih. Jangan percaya Papa!"


"Eum ... jadi Leon mampir cuma mau bilang kalau hari Jum'at besok Leon sama keluarga mau silaturahmi ke rumah, bertujuan untuk melamar putri Om Natasha," jelas Leon dengan tampang serius.


Tampak Riyan yang tersenyum dan menepuk bahu Leon.


"Iya, tadi Tante Riana istri Om juga udah bilang. Tapi apa kamu yakin melamar Natasha secepat ini? Lagipula dia belum lulus masih tiga bulan lagi," terang Riyan.


"Lebih cepat lebih baik, Om. Daripada lama-lama entar malah keburu diembat orang kan." Riyan dan Leon sontak terkekeh.


"Ya sudah, dari Om setuju aja selagi Natasha nya juga setuju dan siap," putus Riyan.


...****************...

__ADS_1


Tepat pukul 03.00 dini hari Natasha terbangun untuk melaksanakan sholat tahajud. Ya, selama SMA ia mulai merutinkan sholat tahajud hingga saat ini. Di sepertiga malam itulah ia mengadukan semuanya pada sang Khaliq, ia menangis, merenungi, dan berusaha lebih dekat pada sang maha pencipta alam semesta ini.


Setelah selesai ia membuka mushaf Al-Qur'an kemudian membacanya sekaligus mengulang kembali hafalannya sembari menunggu adzan subuh dikumandangkan.


--


Saat ini Natasha telah siap dengan seragam sekolahnya dan hendak menuruni tangga. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti saat ia melihat seseorang yang sedang mengobrol santai dengan Riana.


"Leon?"


Leon yang sedari mengobrol santai dengan Riana pun mendongak dan memperhatikan Natasha yang sedang menuruni tangga. "Pagi, Vanya. Udah siap kan? Yuk!"


"Hah? Ke mana?"


"Mulai sekarang aku yang antar kamu sekolah, ya. Tapi kalau pulang aku nggak bisa janji, soalnya aku pulangnya sore."


"Eh nggak perlu, Leon. Aku bisa bawa mobil sendiri. Lagian kan kamu harus ngampus."


"Ternyata kampus aku sama sekolah kamu itu searah jadi nggak masalah, kan? Udah ah ayo. Tante Leon pamit, ya. Assalamu'alaikum!"


Selama di mobil Natasha tak henti-hentinya tertawa karena candaan Leon. Sungguh, Natasha sangat bahagia atas kehadiran Leon kembali di hidupnya. Semuanya terasa seperti dulu di masa kecilnya.


Yang ada hanya kebahagiaan.


"Eum, Vanya. Kalau kita nikah habis kamu lulus sekolah gimana?" tanya Leon tiba-tiba bahkan wajahnya kini berubah serius.


Leon menghela napas. "Aku serius, Van. Aku cuma nggak mau kehilangan kamu lagi. Aku juga takut kamu nantinya berpaling dari aku," ujar Leon.


Natasha tersenyum, ia tak pernah menyangka Leon juga sangat mencintainya. Ternyata dirinya dan Leon saling mencintai sejak kecil.


"Kenapa kamu diam? Kamu nggak mau?"


"Kenapa nggak mau? Leon, selagi itu baik, lalu alasan apa yang membuat aku menolak itu? Nggak ada," jawab Natasha.


"Artinya kamu mau?" Natasha tersenyum dan mengangguk.


"Makasih ya, Van. Setelah ini kamu nggak boleh deket sama cowok manapun dan siapapun, walau itu guru kamu. Pokoknya nggak boleh!" peringat Leon.


"Dasar posesif! Kaya kamu nggak aja."


"Lho emang aku enggak kok. Aku nggak pernah tuh deketin cewek-cewek gitu," bela Leon. Dan baru saja Natasha ingin menjawab, mereka telah sampai tepat di depan gerbang yang menjulang tinggi itu.


"Ya udah makasih, ya. Kamu udah nganterin aku. Eum, entar aku pulang sama Ana aja. Dia sahabat aku," ujar Natasha.


"Bener lho, ya? Awas aja kalau sama cowok lain," tegas Leon.

__ADS_1


"Ck, terserah kamu lah, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumusallam."


Setelah Leon pergi, Natasha berbalik berniat segera masuk ke dalam. Namun, saat ia balik badan, ia terlonjak kaget karena tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di belakangnya.


"Levin, kamu ngapain di sini?!"


"Sama siapa tadi?" tanya Levin dengan raut tak suka. Pasalnya tadi ia sempat melihat wajah Leon ketika kaca mobil itu belum tertutup dan sedang tersenyum kearah Natasha.


Natasha menghembuskan napasnya. "Urusan kamu apa?" tanya balik Natasha.


"Orang nanya itu dijawab yang bener kek, lagian perasaan baru kemarin Lo lembut bener pas ngobatin luka gue. Eh ini kok malah judes lagi kenapa? Lo lagi marah sama gue?" tanya Levin denga wajah tertekuk.


"Levin kemarin itu aku cuma ngobatin kamu biasa dan menurutku sikap aku juga nggak berlebihan."


"Oke, lupakan itu. Dia tadi siapa? Yang nganter kamu, pacar?"


Natasha mengerutkan dahinya tak mengerti mengapa Levin bersikap seperti bocah. "Kamu kenapa sih, Vin? Kamu nanya apa nuduh? Aku itu nggak pernah pacaran dan tentang siapa dia tadi emang urusan kamu apa? Kamu nggak perlu tau!" terang Natasha kesal lalu ingin pergi tetapi, langkahnya dihentikan oleh Levin.


"Levin minggir!"


"Nggak!"


"Levin, please, ini masih pagi jangan buat mood aku jelek dong!"


"Bilang cowok tadi siapa?"


"Ck, urusan kamu apa, sih? Lagian mau aku bilang pun kamu juga nggak akan kenal!"


"Aku nggak mau tau! Yang penting kamu bilang cowok tadi siapa?"


"Tau ah, minggir Levin aku mau masuk!"


"Nggak!"


"LEVIN! MAU KAMU ITU AP-"


"GUE NGGAK SUKA LO DEKET SAMA COWO MANAPUN!"


Deg!


Seketika Natasha terdiam, ia menatap mata tajam Levin yang menyiratkan kemarahan. Ia tak tahu ada apa dengan Levin, sikap Levin belakangan ini memang aneh kepadanya.


"Kamu ngomong apa sih, Vin? Aku nggak ngerti!" Natasha sedikit mendorong bahu Levin agar menyingkir, ia lantas beranjak pergi dengan perasaan kesalnya.

__ADS_1


Gue nggak akan biarin cowok manapun dapetin Natasha kecuali gue. Batinnya.


__ADS_2