Karna Iman Dan Cinta

Karna Iman Dan Cinta
Bab. Tiga belas


__ADS_3

Jum'at 27 Oktober


"Masya Allah anak Mama cantik banget, sih."


Natasha berbalik badan, ia mendekat ke arah wanita itu kemudian memeluknya. Entah mengapa ia ingin sekali menangis, rasanya bercampur aduk hingga buliran bening itu berhasil lolos. Riana yang merasakan punggung putrinya bergetar, langsung melepaskan pelukan tersebut, menangkup kedua pipi Natasha.


"Kok nangis sih? Kenapa? Ini hari bahagia kamu lho kok sedih, kamu nggak seneng?" tanya Riana.


"Enggak gitu, Ma. Natasha justru bahagia banget hari ini akan menikah bahkan dengan pilihan Natasha sendiri," jedanya.


"Tapi, setelah ini aku akan meninggalkan Mama sama Papa, aku akan datang ke rumah sebagai tamu, aku bakal nggak bisa menghabiskan banyak waktu sama kalian, siapa yang akan jaga kalian setelah ini?"


Terlihat Riana yang tersenyum dengan mata hampir menangis, ia lalu membawa putrinya itu duduk.


"Kamu tau sayang, Mama sama papa itu sayang banget sama kamu, bahkan saking sayangnya kami nggak ngerasa kamu sudah tumbuh dewasa dan akhirnya akan dimiliki oleh orang lain, yaitu suamimu yang akan selalu ada buatmu, yang akan menjadi tempatmu bersandar dan menjalani kehidupan."


"Mama rasanya kaya baru aja kemarin gendong Natasha kecil yang nangis merengek-rengek minta dibeliin es krim, Mama sama Papa kaya baru kemarin memarahi kamu karena hujan-hujanan sama Leon sampai sakit. Tapi, saat kami sadar, waktu begitu cepat berjalan hingga kini kamu sudah mau menikah dan kami akan lepas tanggung jawab sepenuhnya."


"Harapan Mama semoga pernikahan kamu samawa, Mama yakin Leon sangat mencintai kamu, dia lelaki yang baik dan in Syaa Allah bisa membimbing kamu ke jalan yang baik pula, kalian bisa saling membimbing pernikahan hingga ke surga-Nya kelak. Sayang, ingat pesan Mama baik-baik ya."


"Setiap hubungan itu pasti ada aja ujiannya, entah itu rumit atau tidak tergantung kemampuan. Tetaplah selalu bersama, selesaikan masalah itu dengan baik, jangan mudah melibatkan emosi, jangan terus-menerus mengikuti hawa nafsu, tapi ikuti kata hati. Bangunlah kepercayaan di hati dan dirimu untuk suami mu, jadilah istri yang baik, sabar, taat, lakukan semua itu untuk ibadah kepada Tuhan."


"Ma, kalau udah nikah Natasha masih boleh main ke rumah Mama sama Papa, kan?" tanya Natasha dengan ekspresi polosnya.

__ADS_1


Sontak Riana terkekeh. "Ya boleh dong, sayang. Kamu kan masih anak Mama sama Papa, pintu rumah kami akan sangat terbuka lebar untuk kalian," jawab Riana.


Kemudian terdengar lantunan ayat suci Al-Qur'an surah yusuf yang dibawakan oleh Leon di bawah sana membuat Natasha dan Riana tersenyum sekaligus tegang kala Leon hampir menyelesaikan hafalan bacaannya.


Setelah beberapa menit merampungkan bacaannya, di bawah sana Leon mulai menjabat tangan Riyan sebagai tanda ijab qobul akan segera dimulai.


"Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka binti Muhammad Riyan Zein alal mahri uang tunai 100 juta dan seperangkat alat sholat hallan!"


"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi,wallahu waliyu taufiq."


Natasha menitikan air matanya hingga menjatuhi tangannya, ia memeluk Riana menahan rasa haru yang menjalar di hatinya.


"Selamat ya, sayang. Penantian mu berakhir sudah, kini kamu sudah resmi menjadi istri Leon, pangeran kecilmu."


"Ya udah yuk ke bawah, Leon pasti udah nggak sabar lihat kamu yang cantik begini," goda Riana.


"Apaan sih, Mam."


Mereka akhirnya memutuskan untuk turun ke bawah ke ruangan dilaksanakannya ijab qobul. Namun, baru saja pintu terbuka, Natasha dikejutkan oleh kehadiran Leon di hadapannya.


Keduanya sama-sama tertegun, tampak takjub dengan penampilan masing-masing. Bahkan Leon sempat pangling dengan Natasha yang tidak seperti biasanya. Merasa wajahnya mulai panas sebab terlalu malu dipandangi sangat lama oleh Leon, Natasha akhirnya menunduk, gerakan salah tingkahnya dapat dilihat jelas oleh Leon.


Mengapa istrinya sangat menggemaskan seperti ini? Pikir Leon.

__ADS_1


Riana berdehem. "Udah dijemput aja rupanya sama pangeran. Ya udah sayang Mama tunggu di bawah, ya. Inget jangan macem-macem dulu kasian noh tamunya pada nungguin ya," goda Riana lalu pergi.


Setelah kepergian Riana, Natasha semakin tertunduk dalam dan gugup, bahkan jari jemarinya kini nakal meremas gaunnya. Beda dengan Leon yang sedari tadi tak bisa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Natasha.


Perlahan Leon menarik tangan Natasha lembut, ia menggenggamnya, menciptakan aliran hangat yang menjalar ke tangan dingin Natasha. "Nggak usah malu-malu. Aku ini sekarang," jeda Leon yang kemudian mendekat pada telinga Natasha.


"Suamimu," lanjutnya dengan suara yang ah sangat membuat seluruh tubuh Natasha lemas.


"Leon eum ... apa nggak lebih baik kita ke bawah sekarang aja," ujar Natasha untuk mengalihkan perhatian Leon, ia yakin dirinya pasti akan jatuh pingsan jika terus-menerus di posisi ini.


Leon terkekeh dan semakin mempererat genggaman mereka kemudian membawa Natasha ke bawah untuk pemasangan cincin beserta tanda tangan buku pernikahan.


...****************...


Yuhu ... yeay! Sudah sah juga ya akhirnya mereka.


Oh ya Author mau kondangan lho, kalian nggak mau kondangan gitu? Wkwk ... lumayan lah cari makan gratis hehe.


Gimana sama part ini?


Kesannya gimana?


Boleh komen dan like sebagai bentuk dukung atau apresiasi kalian, thank you guys!

__ADS_1


__ADS_2