Karna Iman Dan Cinta

Karna Iman Dan Cinta
Bab. Dua belas


__ADS_3

Inilah waktu yang sangat dinantikan. Entah kenapa sesuatu hal terasa sangat lama bila ditunggu, terutama bagi dua insan tak lain dan tak bukan Leon serta Natasha. Dengan menunggu waktu itu keduanya harus menghadapi berbagai ujian. Mulai dari Carry, hingga Levin yang pada akhirnya tahu jika Natasha telah dilamar dan akan segera menikah bersama Leon setelah beberapa hari setelah wisuda.Ya, Levin tahu hal tersebut dari undangan pernikahan dari Natasha.


Seperti saat ini, Natasha harus dibuat pusing dua laki-laki Leon serta Levin yang berdiri di hadapannya tengah sama-sama memberikannya sebuket bunga sebagai tanda ucapan selamat.


"Nih, Nat. Terima ya bunganya. Disimpan jangan dibuang, happy graduation!" ucap Levin tak lupa cengiran khasnya yang membuat wajahnya terlihat sangat tampan.


"Enak aja Lo ngasih bunga sama calon gue. Udah buang aja bunga bangkai Lo itu. Nih, Vanya. Terima bunga dari aku aja, ya?" ujar Leon tak mau kalah.


Merasa jengkel, Levin sontak menyenggol bunga Leon hingga terjatuh, membuat Leon benar-benar kesal kali ini. Sementara Levin hanya tersenyum penuh ejekan.


"Lo kurang ajar banget sih!" sentak Leon.


Leon tak tinggal diam, ia kemudian membalas dengan merebut bunga Levin dan juga menjatuhkannya.


"Berani ya Lo sama gue! Nantang Lo?" kesal Levin tak terima.


"Iya, kenapa gue harus takut sama Lo?!"


"Kurang ajar Lo!" Baru taja Levin ingin melayangkan pukulannya pada Leon, Natasha lebih dulu berdiri di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


"Stop dong! Kalian ini kaya bocah aja deh. Udah aku nggak nerima bunga dari siapapun, berhenti buat aku malu!" sungut Natasha yang kemudian memilih untuk pergi sebelum ia benar-benar dibuat marah di antara kedua pria tidak jelas itu.


"Eh Vanya, tunggu!"


"Eh Natasha, tunggu!"


Leon mendorong bahu levin. "Ngikut aja Lo! Heh gue peringatin ya sama Lo bocah ingusan. Jangan pernah deketin Vanya lagi, dia itu bakal nikah sama gue. Sono cari cewek lain, jangan cewek orang Lo embat!" tegas Leon.


Levin terkekeh. "Mau Lo nikah sama Natasha pun. Gue nggak akan pernah mundur!" jawab Levin lalu pergi meninggalkan Leon yang mengepalkan kedua tangannya ketika emosi itu berhasil naik ke ubun-ubun kepalanya.


"GILA LO YA!" teriak Leon.


Ia lantas ikut pergi dari tempat itu untuk mencari Natasha, tidak akan ia biarkan Levin lebih dulu menemukan Natasha.


Sore ini Natasha akhirnya bisa merebahkan tubuhnya setelah seharian tadi beraktivitas. Seusai acara wisuda dirinya, Riana, dan Yasmine pergi ke butik untuk fitting baju pengantin, sama halnya Leon yang didampingi oleh para pihak lelaki.


Setelah fitting baju pengantin, mereka ke sebuah hotel milik keluarga Leon untuk melihat persiapan resepsinya beserta acara akadnya yang memang akan diadakan di sana.


Di sela-sela matanya yang hampir saja tertutup akibat rasa kantuk nan lelah, terdengar suara pintu terbuka dan menampilkan sosok wanita berumur tiga puluhan tahun yang tengah membawa segelas susu di atas nampan, ia tersenyum ke arah Natasha.

__ADS_1


"Mbak Hanna? Lho kapan ke sini?" tanya Natasha yang bangun dari posisi tidurnya menjadi duduk, wajahnya berubah ceria kala melihat Hanna berada di rumahnya.


"Barusan aja, ngomong-ngomong ceria banget lihat kakaknya dateng," kekeh Hanna yang kemudian menaruh susu di atas meja kamar lalu duduk di kasur Natasha.


"Ya aku seneng aja gitu, kan jadi ada temen curhat, temen tidur, terus nggak sepi lagi," jawab Natasha disertai kekehan kecil.


"Eits, temen tidur? Hmm ... kayanya sih malam ini nggak bisa deh, Nat."


"Lho, kenapa? Biasanya juga kalau Mbak Hanna ke sini mesti tidur sama aku." Wajah Natasha mulai tertekuk.


"Karena Mas Bagas juga ikut ke sini," jawab Hanna.


"Oalah ... Mas bagas juga ikut?" Hanna mengangguk.


"Iyalah, masa sepupunya mbak mau nikah kita nggak ke sini. Eum ... ngomong-ngomong Jum'at besoknya siap, kan?" goda Hanna.


Tampak Natasha mengulas senyum manisnya, ia mendadak tersipu malu dengan kedua pipi yang memerah.


"In syaa Allah siap kok, Mbak. Doain ya," jawabnya.

__ADS_1


"Itu pasti, Nat. Ya udah gih mandi terus sholat. Mbak mau ke bawah dulu," ujar Hanna.


"Iya, Mbak. Nanti aku nyusul ke bawah."


__ADS_2