
Natasha bagaikan patung hidup sekarang, perlahan seseorang yang keluar dari mobil itu berjalan ke arah Natasha dengan pandangan sama sekali tak berubah, tetap lurus ke depan menatap lekat Natasha, seolah jika sebentar saja ia berkedip, wanita di hadapannya itu akan hilang.
Saat sudah berada tepat di depan Natasha. Sungguh hatinya merasa tak karuan. Rasa bahagia karena telah bertemu dan rasa rindu yang sangat membuncah, menyatu menjadi satu.
"Kamu siap-"
Belum saja Natasha memastikan pria yang di depannya ini siapa, orang tersebut sudah lebih dulu memeluk Natasha begitu erat.
Jantung Natasha berdetak lebih cepat dari biasanya. Namun, ia sangat nyaman dengan pelukan pertama ini. Tapi, bagaimanapun juga mereka bukan mahram.
Natasha sontak mendorong pelan badan lelaki itu membuatnya memasang wajah bingung. "Kamu siapa?" tanya Natasha lagi memastikan walau hatinya sudah sangat yakin jika di hadapannya adalah orang yang selama ini ia nantikan.
"Aku Leon, Vanya."
Pengakuan sederhana itu seketika berhasil meloloskan air mata Natasha.
"Leon?" ulang Natasha dengan suara bergetar. Kemudian ia membekap mulutnya tak percaya, air matanya mulai keluar lebih banyak.
"Leon, ini kamu?" ulang Natasha lagi.
Leon tersenyum, tampak sudut matanya yang juga berair.
"Iya, ini aku pangeran kecilmu. Aku kangen, aku mencari kamu, Vanya," ucap Leon yang hampir ingin menyentuh pipi Natasha tetapi, gadis itu dengan cepat menghindar.
"Kamu kenapa, vaynya? Kenapa kamu nggak mau aku sentuh?" tanya Leon.
"Maaf, Leon. Aku memang sekarang seperti ini. Aku menjaga kehormatan ku sebagai perempuan. Dan kita memang tidak seharusnya bersentuhan, karna kita bukan mahram."
Leon tersenyum. Penampilan dan sosok Natasha baru di hadapannya ini semakin membuatnya kagum.
"Aku semakin kagum sama kamu, Vanya. Tapi apa kita masih sahabat? Atau bahkan bisa lebih?"
Dahi Natasha mengernyit bingung. "Lebih? Maksud kamu?"
"Kamu mau tau jawabannya? Ya udah ayo, Mami udah nunggu di Kafe."
"Tap-"
"Udah deh nggak usah ngeyel." Natasha mendengus kesal sembari memasang wajah tertekuk lalu kemudian masuk ke dalam mobil.
"Bertahun-tahun tidak bertemu. Kamu semakin cantik dan tampak sempurna di mataku, Van. Aku janji aku akan perjuangin kamu kali ini." Kalimat itu mendadak membuat tubuh Natasha panas dingin bahkan ia ingin pingsan saat itu juga kalau mampu.
...****************...
Sesampainya keduanya di Kafe. Mereka turun dan bergegas masuk. Namun, sedari tadi Natasha merasa kesal dan risih sebab Leon tak berhenti memandanginya. Ya walau ia juga ingin sekali memandangi wajah Leon yang semakin terlihat tampan.
__ADS_1
"Leon, mata kamu belum pernah kemasukan pisau, ya?" sungut Natasha.
Sontak Leon terkekeh, ingin sekali ia mencubit pipi perempuan cantik yang berada disampingnya ini.
"Galak banget sih!"
"Bodo!"
"Siapa?"
"Nggak ada!"
"Terus ngapain bilang bodo!"
"Ya nggak papa"
"Kenapa nggak papa?"
"Leon ... please ..." rengek Natasha yang merasa sangat kesal.
Perubahan yang Natasha rasakan pada Leon sekarang adalah, pria ini begitu menyebalkan dari segi apapun.
Akhirnya keduanya pun sampai di tempat di mana di sana sudah terdapat Yasmine.
"Astaga, Vanya. Ini kamu, sayang? Oh ya Tuhan kamu cantik banget sekarang," puji Yasmine heboh sembari memutar balikkan badan Natasha membuat sang empunya terkikil geli.
Natasha pun duduk yang disusul oleh Yasmine. "Punya anak satu cemburuan!"
"Oh ya sayang gimana menurut kamu Leon yang sekarang setelah sekian lama nggak ketemu?"
"Tambah ganteng dong," sela Leon mendahului.
Sontak Yasmine mendelik kesal ke arah anak satu-satunya itu.
"Mama bicara sama Natasha ya, Mas. Jadi Mas jangan ikut campur deh!" omel Yasmine.
Natasha hanya terkekeh melihat pertengkaran antara Ibu dan anak itu. "Eum ... Leon jadi nyebelin aja dan cerewet, Tante."
Dan jawaban itu sontak membuat Yasmine menatap Natasha tak percaya, pasalnya selama ini Leon sangat bersikap dingin dan ketus dengan siapapun kecuali keluarga terdekatnya.
"Serius kamu, Nat? Biasanya Leon dingin banget lho. Kok sama kamu enggak ya," goda Yasmine.
"Ya kan Vanya perempuan spesial Leon. Gimana sih, Mi?" sela Leon lagi.
Entah kenapa Natasha jadi tersipu malu mendengar itu. Leon yang menyadari akan merahnya pipi Natasha membuatnya tersenyum dan kembali terus memandanginya menahan rasa gemas.
__ADS_1
"Oke-oke lupakan itu ya. Eum ... Tante udah pesen sih tinggal tunggu aja. Jadi sembari menunggu, Tante mau ngomong sesuatu sama kamu."
"Ngomong apa, Tante?"
"Jadi, kamu pasti udah dikasih tau Mama kamu kalau Leon itu Tante jodohin sama perempuan lain, kan?" Natasha mengangguk disertai rasa sesak yang menjalar di dadanya.
"Setelah dipikir-pikir Leon itu selalu aja nolak dan Tante tanya alasannya apa. Ternyata alasannya karna kamu. Leon mencintai kamu, sayang."
Deg!
Pandangan Natasha terkunci pada Yasmine, menunggu kelanjutan kalimatnya.
"Jadi, setelah Tante sama Om Jordan pikirkan, kami batalkan perjodohan itu dan beralih menjodohkan Leon sama kamu."
"A-apa? Sama aku?" ulang Natasha.
"Iya, Nat. Tante udah ngomong sama Mama kamu tapi belum sama Papa kamu. Mungkin kalau kamu menerima, semua ini akan diperbincangkan secara resmi bersama keluarga kamu."
"Jadi, apa kamu bersedia?"
Natasha tak tahu harus menjawab apa. Jika ditanya apakah ia masih mencintai Leon? Jawabannya iya. Dia masih sangat mencintai Leon. Namun, satu hal yang membuatnya bingung untuk menjawab adalah.
Ia malu.
Ia malu jika harus menjawab iya di depan Leon.
"Nat, gimana?" tanya Yasmine karena Natasha tak kunjung menjawab.
"Eum ... anu ... sebenarnya, anu ... maaf-"
"Yailah ... anu siapa kamu, sih? Seneng bener nyebut namanya."
Natasha mendengus sebal dan kembali menatap Yasmine yang sangat begitu penasaran menunggu jawabannya. Tapi sungguh, ia begitu malu untuk menjawabnya.
"Nat, Tante mohon kamu jawab. Leon butuh jawaban kamu," mohon Yasmine.
Natasha mengatur napasnya dan memejamkan matanya sejenak mengumpulkan keberanian.
Tuhan, semoga ini keputusan yang terbaik. Batinnya.
Natasha kembali membuka matanya, dengan niat yang bulat ia akhirnya membuka suara.
"Bismillah aku bersedia!" jawab Natasha dengan arah pandangan ke bawah, menatap jari-jemarinya.
Leon yang sedari tadi tegang akhirnya bisa bernapas dengan lega bahkan tersenyum penuh kebahagiaan. Sama halnya dengan Yasmine, ia senang karena bisa melihat Leon sebahagia ini.
__ADS_1
Senyum itu membuat Mami yakin kalau Natasha adalah perempuan yang sangat tepat untuk kamu, Leon. Batin Yasmine.