Karna Iman Dan Cinta

Karna Iman Dan Cinta
Bab. Enam


__ADS_3

Setelah pulang sekolah tadi, ia langsung mampir ke rumah sakit untuk menjenguk Oma nya yang sedang dirawat. Kini Natasha berjalan melewati lorong dengan buah-buahan yang berada di tangannya.


Namun, saat ia menunduk memandangi handphonenya, ia tak menyadari ada seseorang yang juga berjalan berlawan arah dengannya, sialnya keduanya sama-sama menunduk.


Kenyataan yang sangat disayangkan adalah, Natasha tidak tahu jika itu Leon, dan begitupun sebaliknya.


...****************...


Dua cangkir kopi panas tersaji menemani Natasha dan Riana yang tengah berbincang di teras rumah. Malam ini Jakarta sedang diguyur hujan cukup lebat, membuat hawa di sekitarnya menjadi begitu dingin.


"Nat."


"Ya, Ma?"


"Eum ... tadi ...." Riana menggantungkan kalimatnya, mendadak lidahnya terasa berat.


Tak ada lanjutan dari Riana, hal itu membuat Natasha menoleh dan mendapati Mamanya yang tampak gelisah seperti ada sesuatu yang tengah disembunyikan.


"Kenapa, Ma?" tanya Natasha karena Riana tak kunjung bicara.


"Enggak kok nggak papa."


"Apaan sih, Ma. Nggak lucu tau, ada apa sih? Kok Mama kaya mau ngomong sesuatu tapi ragu gitu. Ada sesuatu?" desak Natasha.


"Beneran, nggak ada apa-apa," elak Riana.


"Ma, aku itu bukan orang asing buat Mama, aku juga enggak baru kenal Mama kemarin sore. Jadi, Mama nggak bisa bohong sama aku, aku pasti tau itu. Dan sekarang Mama bilang ada apa? Jangan kebiasaan buat anak orang kepo deh!"  omel Natasha.


"Sejak kapan anak Mama jadi bawel gini, hm?"


Natasha memutar bola matanya malas. "Nggak usah ngalihin deh, Ma."


"Iya-iya, jadi tadi itu kan Mama sempet ke supermarket, terus Mama ketemu sama ..."


"Yasmine."


Deg!

__ADS_1


Natasha yang baru saja ingin menyeruput kopinya berhasil ia urungkan setelah mendengar satu nama yang sangat familiar di telinganya itu, Natasha kemudian menoleh.


"Maksud Mama Tante Yasmine?" perjelas Natasha dan Riana mengangguk.


"Terus gimana?"


"Ya Mama sempet berbincang sedikit sama Yasmine. Tapi satu hal, Leon udah dijodohin sama perempuan lain."


Natasha tertegun, tubuhnya membeku, jantungnya seakan hampir saja berhenti mendengar lontaran itu.


"Dijodohin? Kenapa, Ma?" Riana menggeleng tak mengerti.


"Tante Yasmine kangen sama kamu. Dia juga Mama kasih nomor kamu, katanya kapan-kapan pengen ketemu," ujar Riana. Namun, Natasha hanya diam saja sibuk memikirkan pasal perjodohan tadi.


Kenapa Leon dijodohin? Apa Leon nerima perjodohan itu dan melupakan janjinya? Batin Natasha.


"Sayang, kamu nggak papa?" tanya Riana yang menyadari perubahan raut wajah putrinya.


Sontak lamunan Natasha buyar. "Ah enggak kok, Ma. Nggak papa. Ya udah aku ke atas dulu, good night, Mom."


...****************...


Di kamar ia terus menerka-nerka apakah Leon masih mengingatnya? Atau sudah melupakannya bahkan menerima perjodohan itu? Sungguh, Natasha mungkin akan sangat sakit hati jika Leon sampai benar menerimanya.


Natasha tau, semua ini salah. Tak seharusnya ia menaruh rasa yang lebih pada Leon sahabatnya sendiri. Bahkan sangat tidak pantas ia menuduh Leon mengingkari janjinya sebab janji itu diucapkan ketika mereka masih sangat kecil, belum memahami segalanya.


Ting!


Suara notifikasi tersebut merusak lamunan Natasha. Awalnya ia ingin bersikap acuh karena ia menganggap pasti pesan itu tidaklah penting.


Namun, lagi-lagi notifikasi tersebut kembali terdengar hingga tiga kali sampai membuat Natasha berdecak sebal dan mau tak mau harus membuka handphonenya.


"Nomor siapa ini?" gumam Natasha disertai kerutan di dahinya.


Ia membukanya, detak jantungnya kembali berdegup kencang saat mengetahui isi pesan yang menyatakan si pengirim adalah Yasmine, Mama Leon. Jarinya mendadak lemas, bahkan ia sampai berniat tak mau membalasnya.


"Ayolah, Natasha. Ini kamu bukan bales chat nya Presiden, nggak perlu gemetar gini. Lebay banget!" gumamnya entah pada siapa.

__ADS_1


Ia pun mulai menggerakkan jari-jemarinya di atas papan klip itu untuk membalas pesan Yasmine. Jangan lupakan jantungnya yang terus berirama tak tentu.


...****************...


Tepat pukul delapan pagi Natasha telah siap dengan gamis maroon dilengkapi kerudung bewarna senada membuatnya terlihat begitu anggun. Polesan make up yang natural menambah kesan ayu pada wajahnya.


"Masya Allah, anak Mama cantik sekali."


"Apa sih, Ma. Biasanya juga aku dandan gini mulu. Lagian Mama kenapa senyum cerah gitu tumben banget? Pasti ada apa-apanya!" lontar Natasha sembari memicingkan matanya curiga.


"Su'udzon mulu sama Mama sendiri. Entar juga tau, ya udah Mama mau siap-siap dulu sama Papa kamu mau ke Gym."


"Ke Gym? Tumben amat, sama papa lagi. Kenapa?"


"Kamu itu ya, orang tuanya mau sehat aja masih nanya kenapa? Jadi Mama sama Papa itu mau diet biar kita ideal gitu," terang Riana.


Spontan Natasha menutup bibirnya berusaha menahan tawa. Namun, ketika melihat segala persiapan Mamanya, ia langsung meledakkan tawanya.


"Eh eh kok malah ngetawain. Kamu nggak seneng gitu punya orang tua yang sehat terus awet muda kaya kita ini, hm? Bukannya seneng malah ngetawain," cibir Riana.


Natasha terkekeh. "Iyatiya Mamaku sayang, selamat bersenang-senang sama Papa. Selamat pacaran," ledek Natasha.


Di tengah tawanya, keduanya mendengar suara klakson mobil yang mulai memasuki pekarangan rumah, senyum Riana mengembang.


"Kayanya Tante Yasmine udah dateng tuh. Ya udah aku pamit, ya? Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsallam, selamat berbahagia, sayang."


"Apaan sih Mama, aneh-aneh aja. Orang cuma ketemu Tante Yasmine."


Saat akan membuka pintu. Natasha hanya diam sejenak lalu melangkah mendekati mobil tersebut. Dan tiba-tiba langkahnya terhenti kala melihat pintu mobil tersebut terbuka lebih dulu secara perlahan.


Deg!


Pasokan udara di sekitar Natasha seakan mendadak hilang, lututnya lemas hampir tak bisa menopang tubuhnya sendiri dengan baik, Natasha hanya diam membeku dengan perasaan yang bercampur aduk.


Ya Tuhan, apa ini mimpi?

__ADS_1


__ADS_2