
Karena kesal mendengar perkataan dari Saskia yang seakan menyalahkan Siska Secara tidak langsung, membuat bu dewi bertambah marah sampai kehilangan kendali dan menampar pipi saskia.
Keributan barusan tentunya membuat perhatian semua orang yang ada disana teralihkan untuk menatap bu dewi yang saat ini masih memarahi Saskia, namun dari sekian banyak orang disana tidak ada satupun yang berani untuk melarai keributan itu. sampai pada akhirnya keributan itu berakhir karena ada seorang satpam yang mendekat kearah bu dewi untuk memberikan peringatan.
"Permisi bu, dimohon untuk tidak membuat keributan disini karena bisa mengganggu pasien yang lain" ucap sang satpam
"Iya pak, saya minta maaf. bapak bisa kembali bekerja, saya tidak akan membuat keributan lagi" Ucap bu dewi
"Baik bu, terimakasih atas pengertiannya" Ucap satpam itu dan kembali pergi meninggalkan semua orang yang masih menatap sinis kearah bu dewi.
"Kamu tungguin Siska disini, saya akan menelfon papa kalian" Ucap bu dewi Kepada Saskia sebelum pergi dari sana
"Iya mah" Ucap Saskia yang saat ini matanya terlihat sembab
Bu dewi kemudian berjalan beberapa meter dari jarak tempat Saskia berdiri sekarang, agar anak itu tidak mendengar apa yang akan ia bicarakan kepada suaminya tercinta.
"Halo mas" Ucap bu dewi saat panggilan terhubung
"Iya sayang kenapa, aku lagi dijalan ini udah mau sampe rumah" Ucap sang suami dari sebrang telpon.
"Mas refan sekarang balik arah aja kerumah sakit Medika indah, Siska udah ditemuin dan sekarang dia ada dirumah sakit, dia kecelakaan mas" Ucap bu dewi yang kini suaranya terdengar bergetar kerena menahan tangis
"Apa? Siska kecelakaan, bagaimana dia bisa kecelakaan? trus kondisi Putri kita gimana? Dia baik-baik aja kan? Gak ada luka yang serius kan sayang?" Ucap suami bu dewi yang ternyata bernama Refan, yang langsung memberondong bu dewi dengan berbagai pertanyaan.
"P-putri kita mengalami kerusakan pada kornea matanya, dan menyebabkan anak kita menjadi buta saat ini. Kata dokter Siska harus segera melakukan transplantasi kornea mata agar bisa melihat lagi, tapi saat ini rumah sakit sedang kesulitan mencari pendonor yang mau mendonorkan kornea matanya untuk putri kita" Ucap bu dewi yang kini sudah menangis sesenggukan
"A-apa putri kita mengalami kebutaan?" Terdengar pertanyaan Refan dari sebrang telpon dengan suara yang bergetar, sepertinya Refan sedang menahan tangisnya agar tidak terdengar oleh sang istri
"Iya mas, kamu kesini cepetan ya. Aku butuh kamu disini" Ucap bu dewi yang kini sudah mereda tangisnya
"Iya sayang...aku akan kesana, aku juga pengen segera donorin kornea mataku untuk putri kita Siska" Ucap Refan
"Mas...kamu ngomong apasih aku gak suka ya dengar kamu ngomong gitu lagi" Ucap bu dewi dengan suara yang sedikit meninggi, ia tidak suka mendengar suaminya berbicara seperti itu.
"Yaudah aku matiin dulu ya telponnya" Ucap Refan
__ADS_1
"Iya mas, kamu hati-hati ya"
"Iya...aku sayang sama kamu dan putri-putri kita, aku sayang sama kalian. Aku rela melakukan apapun demi kalian, kalo nanti aku gak ada tolong jaga Siska dan Saskia untuk aku ya" Ucap Refan lirih namun masih bisa didengar oleh bu dewi
"Kamu ngomong apasih mas, gak usah aneh-aneh ya. Mending sekarang kamu langsung kesini dan hati-hati dijalan, aku gak mau kamu kenapa-napa" Ucap bu dewi dengan nada yang terdengar khawatir
Namun tidak ada sahutan dari sebrang telpon yang ada Refan malah mematikan panggilan secara sepihak, dan itu membuat bu dewi menjadi sangat khawatir. Ia sudah cukup khawatir dengan kondisi Siska dan sekarang malah harus mendengar perkataan suaminya yang menurutnya cukup aneh, dan itu cukup membuat dia semakin khawatir.
Ia kembali menoleh kebelakang menatap Saskia yang terlihat sedang berdiri didepan pintu ruang UGD, sebenarnya ada rasa bersalah dihatinya karena telah menampar putri nya itu. Tapi saat ini ia tidak ingin memikirkan hal itu dulu, ia ingin fokus memikirkan cara mencari pendonor kornea untuk Siska.
Saat sedang fokus memperhatikan Saskia dari jauh, terlihat pintu ruang UGD yang terbuka dari dalam dan keluar dua suster dari ruangan itu dengan mendorong brangkar yang terdapat Siska diatasnya yang terbaring lemah dengan mata yang masih terpejam.
"Sus...anak saya mau dibawa kemana?" Ucap bu dewi sembari berjalan mendekat kearah brangkar yang sedang didorong oleh suster
"Kami ingin memindahkan pasien kekamar perawatan bu, yang tadi sebelumya sudah dipilih oleh salah satu keluarga ibu saat mengantar pasien kemari" Ucap salah satu suster
Bu dewi tentu tau siapa yang dimaksud keluarga oleh suster itu, sudah bisa dipastikan orang yang dianggap keluarganya adalah pria tua yang telah mengantar putrinya kerumah sakit dan dia juga yang sudah memesan kamar perawatan untuk Siska putrinya.
"Permisi ya bu, kami harus segera memindahkan pasien keruang perawatan nya sekarang. Agar pasien bisa beristirahat" Ucap sang suster
Bu dewi dan Saskia mengikuti suster yang sedang mendorong brangkar siska ke salah satu kamar perawatan yang sudah dipilih oleh pria tua itu, dan ternyata kamar perawatan yang dipilih pria tua itu adalah kamar perawatan VIP.
Sungguh baik pria itu sampe memilihkan kamar VIP untuk Siska tempatin, padahal sebelumnya mereka tidak saling kenal. Dan hal itu membuat bu dewi kembali merasa bersalah karena telah menuduh pria itu yang ingin memerasnya, padahal dengan baik hati pria itu memilih kamar perawatan VIP hanya untuk kenyamanan putrinya. Bahkan untuk mengucapkan kata terimakasih saja bu dewi lupa, karena sudah larut dalam kesedihan saat mengetahui kabar bahwa salah satu putrinya kecelakaan.
"Sus saya boleh melihat keadaan putri saya didalam?" Ucap bu dewi saat melihat dua suster tadi telah keluar dari ruang perawatan Siska
"Silahkan bu, kami permisi" Ucap salah satu suster dan setelahnya kedua suster itu pergi meninggalkan bu dewi dan saskia yang masih berdiam diri didepan pintu ruang rawat Siska
Bu dewi hanya melirik sekilas kearah Saskia yang ternyata juga sedang menatap dirinya, dan melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang rawat Siska tanpa mengatakan sepatah katapun kepada Saskia yang masih berdiri diluar.
"Sayang...ini mama sayang tolong cepat sadar ya, mama kangen liat wajah ceria kamu" Ucap bu dewi yang sudah duduk dikursi samping ranjang sambil mencium punggung tangan Siska yang terpasang infus
Saskia yang baru masuk kedalam ruang rawat saudarinya pun tak mampu melanjutkan langkahnya karena tak kuat melihat Saudarinya yang saat ini terbaring lemah diatas ranjang dengan infus yang terpasang ditangannya dan terlihat wajah pucat dari Siska membuat Saskia sampai meneteskan air matanya.
Ia benar-benar tak sanggup melihat kondisi saudarinya yang seperti ini, biasanya saudarinya itu selalu tersenyum ceria dan selalu tidak bisa diem. jika dirumah pasti akan selalu ada saja tingkah Siska yang ia lakukan untuk membuat orang lain yang ada disekitarnya tertawa, namun sekarang saudarinya itu terlihat berbeda dari biasanya siska terlihat lemah jika seperti ini.
__ADS_1
"Saskia kamu tunggu saudari kamu disini, saya mau keluar sebentar" Ucap bu dewi yang ternyata sudah ada dihadapan Saskia entah sejak kapan tapi Saskia sama sekali tidak melihat ibunya berjalan kearahnya mungkin efek melamun ia jadi tidak sadar jika sekarang ibunya sedang berdiri dihadapannya
"I-iya mah" Ucap Saskia saat melihat bu dewi sudah membuka pintu dan pergi keluar
Saskia kembali menoleh kearah ranjang tempat Saskia berbaring sejenak sebelum kembali menutup pintu yang tadi tidak ditutup bu dewi saat ibunya pergi keluar, setelah menutup pintu ruangan itu ia berjalan perlahan kearah ranjang dan duduk dikursi samping ranjang dengan mengela nafas panjang.
"Hallo siska, aku ada disini nemenin kamu. Cepat sembuh ya bial kita bisa main lagi" Ucap Saskia dengan air mata yang sudah mulai turun membasahi pipinya
****
Bu dewi saat ini sedang ada dilobby menunggu sang suami datang untuk memberitahukan kondisi Siska saat ini, ia juga dapat melihat beberapa perawat sedang mendorong brangkar dan terdapat pasien yang tadi baru diturunkan dari mobil ambulance. Terlihat jika pasien itu adalah korban kecelakaan karena terdapat banyak darah yang mengalir dibeberapa bagian tubuhnya.
Namun tubuh bu dewi menegang seketika saat melihat beberapa orang perawat menurunkan pasien kedua dari dalam ambulance yang baru datang, sepertinya korban tersebut juga mengalami kecelakaan karena terlihat kondisi pasien ini lebih parah dibandingkan pasien sebelumnya yang juga baru diturunkan dari ambulance.
Tapi yang membuat tubuh bu dewi menjadi kaku bukan karena hal itu, namun pasien kedua yang baru diturunkan ini seperti orang yang familiar menurutnya orang yang sangat ia kenal. Terjawab lah sudah ketakutan bu dewi saat brangkar itu didorong melewati dirinya yang sedang berdiri menatap pasien yang ada dibrankar itu.
Deg!!
Orang yang saat ini terbaring diatas brangkar itu adalah suaminya sendiri Refan Adhitama
"Sus tunggu" Ucap bu dewi sembari berlari menuju brangkar yang kini terlihat sudah berhenti dan para perawat yang tadi mendorong brangkar suaminya itu hanya saling pandang dengan dahi yang mengernyit
"Ada apa ya bu?" Tanya salah satu perawat
"S-sus...apa yang terjadi dengan suami saya? suami saya kenapa sus? tanya bu dewi dengan nada panik bahkan air matanya sudah mulai membasahi pipi mulusnya
"Ini suami ibu?" Tanya suster lainnya yang kini kembali mendorong brangkar itu menuju ruang UGD
"Iya sus, dia suami saya. Apa yang terjadi dengannya sus?" Ucap bu dewi
"Pasien ini mengalami kecelakaan dijalan mawar yang mengarah kerumah sakit ini, pasien bertabrakan dengan mobil pengendara lain hingga membuat mobil pasien ini berguling dijalanan" Ucap suster menjelaskan situasi yang ia dapat dari warga setempat yang sebelumnya ada di TKP.
"Bagaimana ini bisa terjadi sus? Kami tadi baru saja selesai melakukan panggilan telepon untuk membicarakan kondisi putri kami. Tapi kenapa sekarang suami saya sudah terbaring lemah seperti ini dan dengan kondisi yang..." Ucap bu dewi yang tidak mampu melanjutkan perkataannya, ia merasa terpukul saat melihat kondisi suaminya seperti ini bahkan putrinya saja masih terbaring lemah dikamar perawatan nya dan sekarang dia harus melihat suaminya dengan kondisi yang menyedihkan seperti ini.
Semua perawat yang ada disana hanya bisa menatap iba pada bu dewi yang saat ini terlihat hancur dan terpukul dengan keadaan yang tidak adil ini.
__ADS_1
"Bu maaf...suami ibu harus segera dibawa ke ruang UGD agar segera mendapatkan penanganan secepatnya" Ucap salah satu perawat yang ada di sana dan segera kembali mendorong brangkar meninggalkan bu dewi yang masih menangis dan terus-terusan memanggil nama sang suami