
Pagi ini Siska terlihat sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Ia berjalan keluar kamar berniat turun kelantai bawah untuk sarapan sebelum berangkat kesekolah, namun langkahnya terhenti saat sampai didepan pintu kamar saudarinya yang masih tertutup.
Ia melihat kearah pintu kamar saskia dengan wajah sedih. Mengingat pembicaraan mereka semalam, membuat Siska kembali merasa bersalah. Ia sudah berfikiran yang tidak-tidak terhadap saudarinya tanpa tau kebenaran nya terlebih dulu.
Siska menghela nafas panjang dan terus menatap pintu kamar saudarinya yang tertutup, entah kenapa ada rasa tidak suka dalam dirinya saat mengetahui kalo Saskia menjadi mentor belajar ansel.
Saat sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba pintu kamar saskia terbuka dari dalam dan suara pintu terbuka itu berhasil membuat Siska kembali tersadar dari lamunannya. Sedangkan Saskia ia tersentak kaget saat melihat saudarinya tengah berdiri didepan pintu kamarnya.
Melihat tatapan bingung dari saudarinya, Siska buru-buru mengembalikan eskpresi wajahnya menjadi, tersenyum "H-hai Saskia, kamu sudah bangun?" Tanya Siska gugup
Mendengar pertanyaan aneh saudarinya membuat Saskia mengerutkan dahinya. Bagaimana bisa Siska bertanya seperti itu, apakah ia tidak melihat jam? Sekarang saja sudah hampir setengah tujuh dan mereka memang seharusnya sudah bergegas berangkat kesekolah apalagi mengingat hari ini hari Senin dan akan dilaksanakan upacara disekolah.
"Hmm, lo ngapain berdiri didepan pintu kamar gue?"
"A-aku itu lagi-" Ucap Siska terbata sambil menggaruk tengkuknya
"Lagi?"
"Hmm A-aku, aku mau ngajak kamu turun kebawah buat sarapan bareng. Iya yuk kebawah kita sarapan" Ucap Siska gugup kemudian berlalu pergi meninggalkan Saskia yang masih menatap kepergiannya dengan tatapan bingung.
"Aneh banget" Ucap Saskia kemudian ikut turun kelantai bawah untuk sarapan
"Selamat pagi non Siska, non Saskia" Ucap bi iyam tersenyum dengan tangan yang sedang menyapu lantai ruang tengah
"Pagi juga bi" Ucap Siska ramah sembari menarik kursi dan duduk disana kemudian tangannya terulur untuk mengambil selai strawberry yang akan ia oleskan ke roti untuk sarapan nya pagi ini.
Sedangkan Saskia memilih diam tidak membalas sapaan bi iyam karena masih memikirkan sikap aneh saudarinya tadi. ia menarik kursi yang ada dihadapan saudarinya dan mulai mengambil nasi goreng serta telur mata sapi sebagai menu sarapannya pagi ini.
__ADS_1
"Bi mama mana?" Tanya Saskia saat menyadari bu dewi tidak terlihat sejak tadi.
Bi iyam yang sedang sibuk dengan kegiatan menyapunya jadi menghentikan aktivitasnya dan menoleh kearah Saskia yang sedang memakan nasi goreng. Begitu juga dengan Siska ia menghentikan aktivitas makannya dan ikut menoleh kearah saudarinya, baru tersadar jika tidak ada mamanya disana.
"Bu dewi sudah pergi pagi-pagi sekali kekantor tuan Refan non" Ucapan bi iyam barusan membuat kedua gadis itu sontak menatap bi iyam dengan tatapan heran
Pasalnya semenjak kematian Refan, perusahaan suaminya itu diambil alih oleh Bu dewi. Namun bu dewi memang jarang datang kekantor dan menyerahkan semua tanggung jawab perusahaan pada sekretaris dan asisten pribadi kepercayaan Refan dulu, sedangkan bu dewi ia akan datang kekantor jika keadaan mendesak. Jika tidak, ia akan mengerjakan tugas kantor dari rumah melalui email yang telah dikirim oleh sekretarisnya Refan.
Bu dewi mempunyai usaha butik sendiri. Ia merintis usaha butiknya dari awal pernikahannya dengan Refan, dan karena alasan itulah ia tidak bisa setiap hari datang kekantor. Namun entah kenapa sekarang Bu dewi mau datang kekantor secara tiba-tiba, apa sesuatu telah terjadi di perusahaan sehingga mau tidak mau bu dewi harus datang kekantor?
"Lho mama tumben kekantor papa? Biasanya juga kerjaan kantor dikerjain dari rumah" Ucap Siska menatap Saskia dengan raut wajah bingung
Sedangkan Saskia sekarang sedang berfikir apa yang telah terjadi di perusahaan sampai mamanya yang biasanya jarang pergi kekantor, hari ini justru berangkat pagi-pagi sekali kekantor.
"Udah non enggak usah dipikirin, kalo emang dikantor tuan Refan lagi ada masalah pasti nyonya dewi bisa selesaikan masalah itu" Ucap bi iyam yang melihat raut kekhawatiran dari wajah kedua anak majikannya.
"Iya non, bibi suka lupa. Lagian bibi heran sama bu dewi masa bibi panggil nyonya gak mau, padahal kan bu dewi memang majikan bibi non" Ucap bi iyam
"Ya berarti mama itu udah nganggep bibi kaya keluarga kita sendiri, makanya mama gak mau dipanggil pake sebutan nyonya" Ucap Siska kini gadis itu meneguk susu yang sudah dibuatkan oleh bi iyam
"Gitu ya non?"
"Iya do-" Ucapan siska terpotong saat mendengar suara saskia berpamitan. Gadis itu sudah beranjak dari duduknya, dan sekarang sedang menyampirkan tasnya dibahu bersiap untuk berangkat ke sekolah.
"Kamu udah selesai sarapannya?"
"Hmm"
__ADS_1
Gadis itu berjalan menuju pintu, namun suara dari siska membuat langkahnya terhenti dan menoleh kebelakang melihat siska yang kini berjalan kearahnya dengan tas yang sudah ia sampirkan di pundaknya.
"Aku boleh berangkat kesekolah bareng kamu gak?"
"Lo mau berangkat bareng gue?"
Siska menganggukkan kepalanya cepat, membuat Saskia menghela nafasnya. Bukannya tidak mau berangkat kesekolah bersama saudarinya, tapi ia tidak mau bertengkar dengan sang mama karena hal yang sama.
Terakhir ia bertengkar dengan bu dewi juga karena hal yang sama, yaitu pulang sekolah bersama dengan siska lalu mampir ke makam sang papa terlebih dulu. Dan saat mereka pulang bu dewi marah besar kepadanya dan berakhir keningnya terluka.
Tapi jika ia menolak permintaan siska, saudarinya ini pasti akan sedih dan ia tidak mau melihat siska bersedih. Saskia saat ini benar-benar bingung antara memenuhi permintaan Siska atau menolaknya.
Saskia tersadar dari lamunannya saat mendengar suara Siska yang terus memanggil namanya, dengan tangan yang digerakkan didepan wajahnya untuk menyadarkan dirinya dari lamunannya saat ini.
"Saskia kok malah ngelamun sih, gimana aku boleh gak berangkat kesekolah nya bareng sama kamu?" Ucap Siska
Tidak ada jawaban dari Saskia. Ia hanya menatap saudarinya dengan tatapan datarnya seperti biasa.
"Kok kamu malah diem sih, aku gak boleh ya berangkat bareng sama kamu? Ucapnya lirih dan menundukkan kepalanya, namun beberapa detik kemudian ia kembali mendongak melihat wajah saudarinya yang saat ini juga sedang menatap dirinya "Oh aku tau kenapa kamu diem aja. Kamu pasti takut ya bertengkar sama mama lagi, kalo dekat-dekat sama aku iya kan?"
Lagi-lagi tidak ada jawaban dari saskia, ia hanya memandang wajah cantik saudarinya.
"Yaudah gapapa kalo kamu gak mau berangkat bareng sama aku, aku ngerti kok. Biar nanti aku naik mob-"
"Ayo" Ucap saskia sembari menarik pelan tangan Siska, namun Siska yang terkejut dengan sikap Saskia yang tiba-tiba hanya diam mematung ditempatnya. Dan itu membuat Saskia yang sudah berbalik badan hendak berjalan jadi kembali menoleh kebelakang, dengan tangan Saskia yang masih menggenggam tangan saudarinya.
"Ayo kita udah hampir telat" Ucap saskia kembali menarik pelan tangan Siska agar berjalan mengikutinya. Walupun sempat bingung dengan sikap Saskia yang tiba-tiba, namun ia tidak bisa membohongi perasaannya saat ini. Ia senang karena saskia mau berangkat kesekolah bersamanya, tanpa saskia ketahui Siska diam-diam tersenyum memandang tangannya yang sedang digenggam oleh Saskia.
__ADS_1