
Lia menyeringai mendengar jawaban dari Siska.
"Ternyata sangat mudah membodohi nih cewe, jadi gue gak perlu pake kekerasan dan dia mau ngikutin rencana gue dengan suka rela. Dasar cewe bodoh" batinnya dalam hati
Lia merasa sebentar lagi rencananya akan berhasil, namun ia salah jika berfikir seperti itu. Karena Siska tentu mempunyai saudari kembar yang tidak akan tinggal diam saja jika dirinya terluka.
"Yaudah lo ikut gue" Ucap Lia menarik pergelangan tangan Siska
"Kamu mau bawa aku kemana?" Ucap Siska sedikit berteriak karena suasana disini cukup ramai dengan alunan musik yang diputar cukup keras
"Kelantai atas, adek gue ada disalah satu kamar disana" Ucap Lia masih menarik tangan Siska sementara gadis yang sedang ia tarik hanya mengikuti langkah nya, sesekali gadis itu melemparkan pandangannya kearah keramaian orang yang sedang asik berjoget mengikuti alunan musik
****
Disebuah kamar yang cukup luas dengan nuansa biru langit terlihat seorang gadis yang sedang mondar-mandir didalam kamar, raut wajahnya terlihat cemas.
"Aduh aku kok tiba-tiba keinget sama Siska ya. Apa dia benar-benar akan pergi ketempat yang diminta lia?" Gumam Citra
Ya gadis itu adalah Citra, sahabat terbaik Siska. Gadis itu sedari tadi mengkhawatirkan sahabatnya, perasaannya jadi tidak enak saat memikirkan sahabatnya itu.
Citra sedari tadi sudah mencoba menghubungi nomor Siska, namun panggilannya selalu ditolak oleh sahabatnya dan hal itu membuat dirinya semakin khawatir saja. Ia tidak tau apa yang harus ia perbuat untuk menolong sahabatnya, mau menyusul sahabatnya pun ia tidak tau dimana tempatnya karena siska memang tidak memberitahunya
Saat sedang berfikir tiba-tiba terlintas satu ide diotaknya, gadis itu tersenyum lalu mengambil handphonenya dan mengetikkan sesuatu disana.
Dua menit kemudian terdengar notif pesan masuk di handphone gadis itu, awalnya citra terlihat sedih saat melihat notif pertama yang dikirim oleh temannya. Tapi gadis itu pantang menyerah dan kembali mengetikkan sesuatu dihandphonenya, cukup lama gadis itu menunggu akhirnya ia mendapatkan notif kembali dan kali ini gadis itu tersenyum saat melihat notif pesan yang baru saja dikirim oleh temannya.
Gadis itu sedang berusaha mendapatkan nomor saskia melalui temen lamanya yang sekarang sekelas dengan saskia.
Awalnya Dea—teman lamanya itu mengatakan kalau dia tidak memiliki nomor saskia, gadis itu ternyata cukup sulit untuk didekati bahkan teman sekelasnya pun tidak memiliki nomor gadis itu.
Namun citra mengatakan pada Dea untuk tanyakan pada teman sekelas Saskia yang lain, kali aja diantara mereka ada yang memiliki nomor gadis itu. Dan akhirnya citra mendapatkan nomor Saskia dari dea, gadis itu mengatakan kalau dia mendapatkan nomor saskia dari grup kelas 12 IPA 2.
Tanpa berlama-lama, gadis itu langsung menghubungi nomor yang sudah ia dapat dari dea. Awalnya panggilan pertama tidak diangkat oleh sang pemilik nomor, namun disaat panggilan kedua barulah panggilan tersebut terhubung dan terdengar suara gadis yang ia kenal dari sebrang telepon.
"Halo Saskia"
"Ini aku Citra, maaf kalo aku telepon kamu malam-malam. Aku telepon kamu karena ada yang ingin aku bicarakan sama kamu"
"Sory citra mana ya? gue gak pernah punya teman yang namanya citra" Nada bicara Saskia terdengar dingin dan datar ditelinga citra, membuat nyali gadis itu ciut seketika.
Jujur saja citra merasa tidak nyaman saat mendengar nada bicara Saskia barusan, tapi ia tidak boleh menyerah ini semua ia lakukan untuk sahabatnya.
"Ini citra sahabatnya Siska, kamu inget aku kan?" Tanya citra hati-hati
"Oh lo...lo tau nomor gue darimana?"
"A-anu aku dapet nomor kamu dari dea anak kelas 12 IPA 2, dia dapetin nomor kamu dari grup kelas"
"Ada urusan apa, sampe lo berusaha dapetin nomor gue. Katakan aja gue gak punya banyak waktu, gue lagi sibuk"
"M-maaf kalo aku ganggu waktu kamu, tapi aku cuma mau mastiin sesuatu sama kamu"
__ADS_1
Tanpa citra ketahui diposisi Saskia sekarang, gadis itu sudah mengerutkan dahinya bingung dengan arah pembicaraan dari sahabat saudarinya ini. Hingga membuat laki-laki yang ada dihadapan gadis itu ikut mengerutkan dahinya, ikut kepo dengan pembicaraan gadis yang ada dihadapannya ini.
Sekarang saskia sedang berada dirumah Ansel, melaksanakan tugasnya sebagai tutor belajar lelaki itu. Namun saat sedang fokus mengajari ansel, suara bising dari dering handphone nya membuat dirinya terganggu.
Saskia mengambil handphone yang ia letakkan didalam tasnya dan saat melihat nomor tidak dikenal menghubungi dirinya membuat gadis itu mengerutkan dahinya bingung lalu memilih mengabaikan panggilan tersebut, ia meletakkan handphone diatas meja dan kembali fokus ke materi yang sedang ia ajarkan kepada ansel.
Namun konsentrasi dalam mengajarkan ansel seketika Buyar, saat mendengar kembali dering handphonenya.
"Ck! Angkat aja sih dari pada ganggu, berisik tau gak" Ucap ansel yang langsung mendapat tatapan tajam dari Saskia
Gadis itu mengambil handphone yang ia letakkan diatas meja. Lagi-lagi dahi gadis itu berkerut bingung karena merasa tidak pernah memberikan nomor nya ke sembarang orang, tapi satu sisi ia juga penasaran pada nomor yang saat ini terpampang dilayar handphonenya.
Gadis itu menoleh pada lelaki yang ada dihadapannya sekarang, untuk memberi isyarat agar lelaki itu diam. sebelum ia mengangkat panggilan tersebut.
"Mastiin apa?"
"K-kamu lagi dirumah kan? Aku mau ngomong sama Siska cuma dari tadi aku telepon nomornya gak diangkat sama dia, aku khawatir. Kalo dia ada dirumah tolong sampein ke dia suruh angkat telepon aku" Ucapan citra barusan membuat Saskia gelisah
Ia baru ingat jika malam ini, Lia menyuruh saudarinya untuk datang kesuatu tempat. Pikirannya kembali mengingat percakapan tadi siang bersama saudarinya
sebelum dirinya berangkat kerja.
Saskia sebelum berangkat sudah berpesan pada saudarinya untuk tidak menuruti kemauan Lia, tapi saudarinya itu hanya menjawab 'kalau dirinya akan baik-baik saja'. Hal itu membuat saskia menjadi khawatir sekarang, bagaimana kalau Siska mengabaikan perkataan nya dan tetap pergi ketempat itu.
"Gue gak ada dirumah sekarang, gue lagi ada diluar" Ucap Saskia terdengar tenang namun tidak dengan hatinya, ia benar-benar khawatir dengan keadaan saudarinya sekarang
"Oh gitu ya, aduh gimana ya aku jadi khawatir sama Siska. Aku takut dia benar-benar menemui Lia" Ucap Citra dari nada bicaranya terdengar kalau gadis itu sedang khawatir
"S-saskia aku boleh minta tolong gak sama kamu? Aku minta tolong ya cariin Siska, aku khawatir sama dia. Aku yakin Lia pasti udah punya rencana jahat untuk Siska" Ucapnya dengan takut-takut
"M-maaf aku gak maksud ngeraguin kamu. Aku minta maaf sekali lagi, yaudah aku tutup dulu ya telponnya" Ucap Citra dan segera mengakhiri panggilan itu
****
"Siapa?" Ucap ansel yang sedari tadi sudah kepo dengan percakapan antara Saskia dengan seseorang disebrang telepon tadi
"Citra anak 12 IPA 1"
Ansel mengerutkan dahinya bingung, ada urusan apa antara Saskia dengan citra yang Setau dirinya citra itu adalah sahabat siska"
"Ada urusan apa lo sama dia? Kayanya gue gak pernah liat kalian dekat deh selama disekolah"
"Kepo lo. Ini bukan urusan Lo" Ucap saskia jutek
"Jutek amat mba, kan saya cuma nanya. Kalo emang mba nya gak mau jawab yaudah gak usah pake jutek segala, gak dapet jodoh baru tau rasa" Ucap Ansel dengan memelankan nada bicaranya diakhir kalimat
"Eh lo ngomong apa barusan? Gue dengar ya" Ucap Saskia menatap tajam kearah ansel yang sedang mencomot cemilan yang sudah disediakan oleh bi asih lalu memakannya
"Bagus deh kalo denger, itu artinya telinga mba nya gak bermasalah" Ucap Ansel dan kembali memakan cemilannya
Saskia mendecak kesal. Percuma ia meladeni lelaki gak waras yang ada dihadapannya sekarang. itu hanya akan membuang waktunya saja.
__ADS_1
Saskia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan nya secara perlahan, lalu menatap serius kearah ansel yang sedang sibuk memakan cemilannya "Gue rasa pembelajaran hari ini cukup, Lo bisa pelajari ulang materi yang gue ajarkan barusan"
Ucapan Saskia yang tiba-tiba membuat ansel sontak menoleh kearah nya dengan tatapan bingung.
"Maksud lo apa? Lo mau udahin pembelajaran hari ini?" Tanya Ansel yang kini sudah memandang Saskia dengan raut wajah serius
"Hmm...Gue mau izin pulang sekarang"
"Emangnya Lo mau kemana?" Ucap Ansel dengan memandang wajah cantik gadis yang ada dihadapannya sekarang
"Perlu banget gue jawab pertanyaan Lo?"
"Harus karena gue pengen tau lo mau pergi kemana setelah dari sini"
"Itu jelas bukan urusan lo" Ucap Saskia membuat ansel terdiam untuk beberapa saat
"Tapi gue pengen tau gimana dong?" Ledek ansel
"Itu bukan urusan gue yang jelas gue harus pergi sekarang" Ucap saskia segera beranjak dari duduknya dan berbalik badan berniat ingin pergi.
"Apa semua ini ada kaitannya dengan Siska?" Ucap ansel tiba-tiba membuat Saskia menghentikan langkahnya dan menoleh kearah ansel
"Jangan pernah ikut campur dengan urusan pribadi gue" Ucap Saskia tak suka
Ansel tersenyum kecil dan beranjak dari duduknya lalu menghampiri saskia yang sedang menatap tajam kearah dirinya.
Ansel mendekatkan wajahnya kearah telinga saskia dan membisikkan sesuatu ditelinga gadis itu "Gue tau dimana Siska berada Sekarang" Ucapan ansel barusan membuat Saskia tersentak tidak percaya dengan apa yang diucapkan ansel barusan.
"Jadi lo bersekongkol dengan lia untuk nyulik saudari gue?" Ucap saskia
"Bukan...tadi gue gak sengaja dengar percakapan Lia dengan temannya saat dikelas. Mereka pengen menjebak siska, dengan membawa saudari lo pergi ke club malam" Ucap ansel tenang namun ucapan Ansel barusan membuat Saskia membulatkan matanya tak percaya dengan ucapan ansel barusan
Saskia tidak menyangka lia akan membawa saudarinya ke tempat seperti itu, sungguh ia tidak terfikirkan sampe sana. Saskia saat ini benar-benar khawatir dengan keadaan saudarinya.
"Lo mau kesana kan buat nyelametin saudari lo?" Ucap Ansel yang hanya diangguki oleh gadis itu
"Oke gue ikut Lo kesana" Ucap ansel tiba-tiba
"Enggak perlu, ini urusan gue biar gue yang kesana sendiri"
"Lo yakin mau kesana sendirian? Lo lupa kalo yang tau tempatnya itu gue?" Ucap ansel
"Bukannya lebih bagus kalo kesana nya bareng sama gue, kita bakal lebih cepat sampai disana. Tapi kalo Lo tetep kekeuh pengen kesana sendiri it's oke gak masalah, paling lo sampai sana lebih lama karena harus mencari dimana clubnya trus mungkin saudari lo udah-" lanjut ansel
"Oke fine kita kesana sekarang" Ucap Saskia pada akhirnya mengalah, lagian benar yang dikatakan oleh Ansel jika mereka kesana bersama pasti akan lebih cepat sampai dan bisa menolong siska tepat waktu
Ansel tersenyum mendengar itu "Yaudah lo tunggu sini bentar, gue mau keatas ngambil kunci motor sekalian pamit sama nyokap"
"Enggak usah pake motor gue aja"
"Oke...Gue keatas bentar mau ambil jaket sekalian pamitan" Ucap ansel dan berlalu pergi
__ADS_1
"Cepet" Ucap Saskia sembari menatap punggung ansel yang sudah menaiki anak tangga dengan sedikit berlari
"Iya"