
Ceklek
Pintu terbuka membuat Saskia dan ansel tersentak kaget melihat pemandangan yang ada dihadapannya saat ini
Mereka melihat siska yang tengah terbaring diatas ranjang dengan mata terpejam dan disebelahnya ada lelaki dewasa yang tadi sempat mengelus pipi Siska.
Lelaki dewasa itu juga terlihat panik sekaligus marah saat melihat orang asing yang masuk secara tiba-tiba dan mengganggu kesenangannya
"Kurang ajar. lepasin saudari gue"
"Apa yang lo lakuin sama saudari gue Bangs*t?" Teriak Saskia sembari berlari kedekat ranjang
Gadis itu menarik kasar kerah kemeja lelaki itu, lalu melayangkan pukulan tepat diwajahnya membuat lelaki itu meringis kesakitan saat pukulan saskia tepat mengenai rahangnya.
Lelaki itu menatap tajam kearah Saskia sembari menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya, namun Saskia tidak takut sama sekali dengan tatapan tajam dari pria itu. Saskia benar-benar sudah emosi sekarang bahkan yang ada dipikirannya saat ini hanya ingin menghabisi nyawa lelaki ini.
Saat ingin melayangkan pukulan untuk yang kedua kalinya tiba-tiba tangan nya ada yang menahan dari samping dan saat ia menoleh, ia melihat ansel yang sedang menahan tangannya.
Ansel terlihat menggelengkan kepalanya sebagai isyarat agar Saskia tidak lagi memukul pria itu "Tahan emosi lo, tujuan kita dateng ketempat ini bukan untuk hal ini tapi untuk nyelametin saudari lo" Ucapan ansel barusan membuat Saskia teringat akan tujuan awal mereka datang ketempat ini
Gadis itu menoleh kearah Siska yang saat ini masih setia memejamkan matanya diatas ranjang. Hatinya terasa sakit melihat keadaan saudarinya sekarang, ia merasa gagal dalam menjaga saudarinya.
Ia memejamkan matanya sesaat sembari menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan mencoba untuk menetralkan emosinya.
Saskia menoleh menatap wajah ansel yang ada disampingnya saat ini dengan tangannya yang masih digenggam oleh pria itu.
"Terus gimana sama cowo ini? Kita gak bisa ngelepasin dia gitu aja kan, setelah apa yang ingin dia lakukan sama saudari gue"
"Lo tenang aja, cowo ini biar jadi urusan gue" Ucap ansel membuat saskia mengangguk setuju
"Mending sekarang Lo bawa pergi adik Lo keluar dari tempat ini" lanjut ansel
"Terus gimana dengan Lo?"
"Jangan pikirin gue, keadaan saudari lo jauh lebih penting sekarang"
__ADS_1
"Oh iya Lo nanti pulangnya naik taksi aja ya, kasian Siska kalo naik motor"
Saskia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Sebelum pergi gadis itu menatap lelaki dewasa yang ada dihadapannya sekarang, ia maju selangkah mengikis jarak antara dirinya dengan lelaki itu dan membisikkan sesuatu ditelinganya "Gue pasiin hidup lo setelah ini hancur atas apa yang ingin Lo lakuin ke saudari gue"
Setelah mengatakan itu saskia melangkahkan kakinya menuju kedekat ranjang. Gadis itu menatap saudarinya yang tertidur diatas ranjang, tanpa terasa setetes air mata luruh begitu saja membasahi pipi mulus gadis itu.
Hatinya begitu sakit melihat keadaan saudarinya sekarang, ia merasa gagal dalam menjaga saudarinya.
Untungnya Saskia dan ansel datang tepat waktu sehingga dapat menggagalkan niat buruk lelaki itu yang ingin melecehkan Siska, jika sedikit saja saskia dan ansel telat datang ketempat itu entah apa yang akan terjadi dengan Siska sekarang. Kemungkinan jika hal buruk itu benar terjadi, saskia tidak akan pernah bisa memaafkan diri nya sendiri yang telah gagal dalam menjaga saudari kembarnya.
Saskia mengeluarkan ponselnya untuk memesan taksi online, setelahnya gadis itu langsung memapah Siska dan membawanya keluar. Sesampainya diluar, ternyata mobil taksi yang tadi ia pesan sudah sampai.
Saskia mendekati mobil taksi dan mengetuk kaca mobil samping pengemudi, membuat sang supir menurunkan kaca mobil nya.
"Mbak Saskia ya?" Tanya sang supir
"Iya pak, bisa minta tolong untuk dibukakan pintu mobilnya"
Supir itu melirik kearah Siska yang sedang dipapah oleh Saskia, kemudian menganggukkan kepalanya sebagai jawaban
Supir itu keluar dari dalam mobil dan membuka pintu belakang mobil untuk kedua penumpang nya.
"Pak tolong anterin saya ke rumah sakit permata bunda ya" Ucap Saskia lalu masuk kedalam mobil, dengan sang supir yang segera duduk dikursi pengemudi dan menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.
Selama diperjalanan Saskia trus memandangi wajah cantik saudarinya, ia membawa kepala Siska keatas pangkuannya lalu mengelus kepala saudarinya itu
"Kenapa lo gak mau nurutin kata-kata gue, gue udah minta sama lo untuk gak nurutin kemauan Lia tapi kenapa lo masih dateng ketempat itu" Ucap Saskia lirih namun masih bisa didengar oleh sang supir hingga membuat sang supir melirik Saskia dari kaca spion dalam mobil.
"Mba temen nya itu kenapa? Pingsan ya?" Tanya sang supir yang penasaran
"Dia saudari kembar saya pak" Ucap Saskia dengan mata yang masih menunduk menatap wajah cantik saudarinya.
"M-maaf mbak saya gak tau, me-"
"Mending bapak fokus aja ke jalan, gak usah banyak tanya. Saya pengen cepet-cepet sampai dirumah sakit" Ucap Saskia tegas membuat nyali sang supir ciut seketika.
__ADS_1
Niat hati pengen ramah kepenumpang, eh malah dapet respon kurang enak dari sang penumpang.
****
Sesampainya di rumah sakit Siska langsung ditangani oleh sang dokter, sementara Saskia sendiri sedang menghubungi Ansel untuk menanyakan perkembangan dari Ansel mengenai lelaki yang hampir saja melecehkan saudarinya.
Sudah dua kali ia menghubungi Ansel, namun lelaki itu tak kunjung mengangkat panggilan nya dan itu membuat dirinya khawatir. Saskia kembali menghubungi nomor ansel untuk yang ketiga kalinya namun tetap saja panggilan tersebut tidak diangkat oleh Ansel dan hal itu membuat Saskia mendecak kesal.
"Ck, nih anak kemana sih bikin gue khawatir aja"
Gadis itu melihat jam diponselnya yang sudah menunjukkan pukul satu dini hari, ia baru ingat jika belum mengabari orang rumah. Ia yakin pasti ibunya sekarang tengah mengkhawatirkan keadaan mereka, saskia ingin menelfon sang ibu dan memberitahu semua detail kejadiannya tapi ia takut bu dewi akan marah padanya.
Setelah berfikir beberapa saat akhirnya Saskia memutuskan untuk menghubungi bi iyam saja, berharap bu dewi bisa mengetahui kejadian ini melalui bi iyam.
Karena sejujurnya saskia tidak punya cukup keberanian untuk mengatakan secara langsung pada sang ibu tentang kejadian buruk yang hampir saja terjadi pada saudarinya, namun saat ingin menelfon nomor bi iyam Saskia mendengar suara pintu terbuka dan itu membuatnya reflek menoleh kebelakang. Gadis itu melihat satu dokter yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan Siska.
Saskia yang melihat dokter keluar dari ruang pemeriksaan Siska pun buru-buru memasukkan hpnya kedalam kantong celana jeans dan menghampiri sang dokter.
"Dok keadaan saudari saya didalam bagaimana?" Tanya saskia dengan raut wajah khawatir
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, saudari kamu sepertinya terlalu banyak mengonsumsi obat tidur sehingga sampai saat ini pasien masih belum bangun dari tidur nya" penjelasan sang dokter membuat Saskia mengerutkan dahinya
Obat tidur?
"Jadi saudari saya itu tidur bukan pingsan dok?"
"Iya benar, tapi untuk apa ya saudari kamu mengonsumsi obat tidur dengan dosis yang tinggi? Itu bisa berbahaya kalo terlalu sering dikonsumsi apalagi dengan dosis tinggi"
"Hmm maaf dok tapi saya juga gak tau kapan saudari saya mengkonsumsi obat tidur itu, tapi tadi saudari Saya sempat diculik dan saat saya datang dia sudah dalam keadaan seperti itu"
"Diculik?"
Saskia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban membuat sang dokter mengerti dengan apa yang baru terjadi pada pasien nya.
"Yasudah kamu tenang saja ya, saudari kamu baik-baik saja kok. Pasien sebentar lagi juga akan dipindahkan keruang perawatan agar istirahat nya lebih nyaman" Ucap sang dokter sembari mengelus bahu Saskia
__ADS_1
"Terimakasih dok"
"Sama-sama kalau begitu saya permisi ya" Pamit sang dokter yang hanya diangguki oleh Saskia