
Selesai menonton film horor dibioskop. Siska dan citra kini melipir ke salah satu toko brand baju terkenal yang ada di mall itu.
Siska tadi sempat kesal pada citra karena memilih jendre film horor, padahal ia tidak suka menonton horor atau lebih tepatnya takut. Tapi citra memaksa ingin menonton film horor, kata citra jalan ceritanya seru tapi tidak untuk Siska. Selama film diputar Siska hanya menutup mata karena takut, ia tidak bisa menikmati alur ceritanya.
"Sis dress ini cocok gak untuk aku?" Tanya citra Ia mengambil salah satu dress selutut berwarna merah maron dengan lengan pendek lalu menunjukkannya kearah Siska yang saat ini sedang sibuk memilih jaket kulit wanita.
Citra hanya menoleh sekilas dan kembali fokus memilih jaket kulit yang ada didepannya "Hmm"
"Ihs kamu Jawab yang benar dong sis, aku tuh lagi butuh pendapat kamu. Aku bingung ini pilih dress mana yang cocok untuk aku"
Citra berdecak kesal dan berjalan menghampiri siska, ia tau sahabatnya nya itu sedang kesal karena dirinya yang mengajak nonton film horor dibioskop.
Citra mengambil tangan kiri Siska dan menggenggamnya erat, hingga membuat sahabatnya itu menoleh dan menatap dirinya.
"Aku tau kamu masih marah sama aku, tapi kan aku udah minta maaf tadi. Lagian kenapa sih kamu gak suka nonton film horor kan alur ceritanya seru tau"
"Iya seru buat kamu, tapi menyeramkan buat aku" Ucap Siska segera menarik tangannya dari genggaman citra dan memalingkan wajahnya
Siska sebenarnya sudah tidak marah dengan citra, tapi ia hanya ingin mengerjai sahabatnya itu. Ya anggap saja balas dendam pada citra. Gara-gara sahabatnya itu memaksa nya menonton film horor, ia masih terbayang-bayang dengan hantu yang ada difilm itu.
"Yaudah iya aku minta maaf, jangan marah lagi ya sama aku...pliis" Ucap citra dengan menyatukan telapak tangan didepan dada
"Yaya aku maafin tapi habis ini kamu harus traktir aku makan ramen sama beliin aku donat j.co gimana kamu setuju gak?"
"Ihs kok kamu gitu sih, kan tadi aku janji nya cuma mau traktir kamu makan ramen doang" Ucap citra dengan wajah cemberut
"Yaudah kalo kamu gak mau gapapa. Lgian aku minta kamu traktir aku makan ramen sama bellin aku donat j.co juga sebagai syarat agar aku maafin kamu, tapi kalo kamu gak mau ya berarti kita musuhan" Ucap cita kembali fokus memilih jaket kulit yang ada didepan nya
Ia berniat ingin membelikan jaket kulit untuk Saskia, ia tau kalo saudari kembarnya itu suka sekali dengan jaket kulit.
"Ck, pintar sekali kamu memanfaatkan situasi" Ucap citra memutar bola matanya malas
__ADS_1
"Ya dong jadi mau gak nih terima syarat nya?"
"Oke fine yaudah sekarang kamu cepetan pilih jaketnya aku mau langsung ke kasir, mau bayar ini dulu" Ucap citra sembari menunjukkan dress yang akan ia bayar kekasir dan hanya dibalas anggukan oleh Siska
****
Kini jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Saskia sudah siap akan pulang, ia sudah mengganti seragamnya dengan pakaian biasa.
Ia melangkahkan kaki keluar dari kafe, sebelumnya ia sudah pamitan terlebih dahulu pada teman-temannya. Para karyawan kafe sudah banyak yang tau kalo Saskia memiliki jam kerja yang berbeda dari mereka. Jika mereka harus pulang jam sembilan malam berbeda dengan Saskia ia akan pulang jam delapan karena akan mengemban tugas lain yaitu menjadi tutor belajar dari anak pemilik kafe.
Saat sudah berada diparkiran, langkahnya terhenti saat merasakan ponselnya bergetar dari dalam saku celananya. Ia merogoh sakunya untuk mengambil handphone dan mengecek siapa yang menelpon, setelah tau siapa yang menelepon. Saskia langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo" Ucap Siska dari sebrang telpon
"Hmm kenapa?"
"Kamu dimana?"
"Baru keluar dari kafe, ada apa?"
"Enggak gue harus kerumah Ansel dulu. Kemungkinan balik jam sebelas malam"
"Kamu mau ngapain kerumah ansel?" tanya Siska
Ya Siska memang belom tau jika Saskia menjadi mentor belajar ansel, karena saskia belom menceritakan apapun kepadanya.
"Gue diminta sama bokapnya Ansel buat jadi mentor belajar anaknya"
"Hah! kamu jadi mentor belajar ansel?" Saskia yang mendengar suara Siska sedikit berteriak itu sontak menjauhkan ponsel dari telinganya
"Ck! bisa gak ga usah teriak gitu, sakit tau telinga gue"
__ADS_1
"Sory abis nya aku kaget denger pernyataan kamu, tapi kamu serius kan ngomong gitu. gak lagi bercandain aku kan?"
"Terserah Lo mau percaya apa gak, intinya gue harus tutup telponnya. gue harus berangkat sekarang, gue gak mau ngecewain pak irwan. dia udah bayar gue, jadi anggap aja gue kerja sama dia"
"Udah gue tutup dulu telpon nya" lanjut Saskia. Ia ingin segera pergi dari kafe karena sekarang sudah hampir jam setengah sembilan malam, ia takut telat sampai dirumah Ansel.
"Yaudah kamu hati-hati ya"
"Hmm" Ucap Saskia
Ia ingin segera mematikan panggilan tersebut, namun ia urungkan saat mendengar saudarinya dari sebrang telpon. Saudarinya itu minta dibelikan martabak manis kesukaannya saat nanti dirinya pulang.
****
Siska yang baru saja selesai teleponan dengan saudarinya diteras rumah berniat ingin kembali ke kamarnya, namun ia tersentak kaget saat berbalik badan karena melihat bu dewi sudah berdiri tepat didepannya sekarang.
"Mama"
"Mama ngapain disini? bikin aku kaget aja" Ucap siska
"Mama yang harusnya nanya sama kamu. Kamu ngapain disini? trus itu kamu habis nelpon siapa?" tanya bu dewi dengan mata yang mengarah ke handphone Siska yang sedang dipegang oleh pemiliknya, membuat Siska ikut menunduk untuk melihat handphone yang sedang ia pegang.
Seakan mengerti dengan arti tatapan dari sang ibu, mau tidak mau Siska harus menjelaskan. Padahal tadinya dia tidak ingin jujur pada sang ibu jika dirinya habis menelpon Saskia.
"Aku habis telponan mah sama Saskia" Ucap Siska memilih jujur
"Kamu ngapain sih masih aja suka hubungin dia, mama gak suka tau gak kamu dekat-dekat dengan dia apalagi kalo kamu peduli sama dia rasanya mama pengen bunuh dia aja bia-"
"Mama" Ucap Saskia dengan suara yang meninggi
"Mama tuh apa-apaansih ngomong nya gitu banget, biar bagaimanapun Saskia juga putri mama. dia anak kandung mama mah, tapi kenapa sih mama tega banget sama dia. mama tau gak, mama itu orang tua jahat yang pernah aku temui" Ucap Siska masih dengan suara yang meninggi
__ADS_1
Ia tau mama nya benci dengan saudarinya itu karena kejadian di masa lalu, yang sebenarnya juga bukan kesalahan Saskia sepenuhnya itu semua hanyalah takdir. Tapi ia sama sekali tidak menyangka mama nya bisa berkata seperti itu, kata-kata itu seharusnya tidak pantas keluar dari mulut seorang ibu yang telah melahirkan anaknya.
Apakah sebegitu bencinya sang ibu pada Saudarinya? Apakah mamanya akan selalu membenci Saskia? Apakah mamanya tidak bisa memaafkan Saskia dan menyayangi Saskia sama seperti mamanya menyayangi dirinya? Pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan dibenaknya sekarang.