
"Assalamualaikum" Ucap saskia saat memasuki pintu utama rumah keluarga Adhitama. Bu dewi, Siska, dan bi iyam yang masih duduk diruang tamu pun menoleh kearah Saskia yang sedang berjalan masuk dengan ekspresi wajah datar tanpa menoleh kearah mereka bertiga yang sedang duduk disofa.
"Saskia kamu abis dari mana? Kenapa enggak dateng kerumah sakit? kan aku udah chat kamu lewat whastsapp, kalo mama hari ini udah dibolehin pulang" Ucapan siska barusan membuat saskia menghentikan langkahnya dan menoleh kearah dirinya dengan tatapan datar
"Sory hp gue mati" Ucap Saskia yang sempat melirik sekilas kearah bu dewi yang duduk disebelah Siska, setelah mengatakan itu ia kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya yang berada dilantai dua
"Kamu liat kan sayang, itu tuh saudari kembar kamu yang selama ini kamu belain. Enggak ada rasa peduli nya sama mama, udah tau mamanya baru pulang dari rumah sakit bukannya ditanya keadaannya ini malah dicuekin" Ucap bu dewi dengan wajah kesal
"Udahlah mah gak usah diperpanjang, Saskia tadi kan juga udah jelasin kalo hp dia mati" Ucap Siska dengan tenang, sementara bu dewi ia sedang menahan rasa kesalnya melihat sikap cuek Saskia
"Kamu masih belain dia?" Tanya bu dewi dengan wajah cemberut
"Aku gak belain siapa-siapa mah, cuma aku rasa masalah ini gak ada yang perlu dibesar-besarkan. Lagian mama juga udah pulang dengan selamat kan, jadi lebih baik mama sekarang istirahat aja dikamar" Ucap Siska mencoba memberikan pengertian kepada sang mama, namun bu dewi malah melengos pergi tanpa berbicara apapun. Membuat Siska hanya bisa menghela nafasnya, sembari menatap punggung sang mama yang berjalan masuk ke kamarnya yang berada dilantai satu.
"Sabar ya non" Ucap bi iyam dengan senyuman yang menghiasi wajah wanita paruh baya itu
"Iya bi gapapa, yaudah aku mau kekamar dulu ya" Ucap Siska yang langsung berlalu pergi dari sana menuju kamarnya yang ada dilantai dua
****
"Jadi mulai besok kamu sudah bekerja lagi?" Tanya bu agnes yang sedang duduk disofa ruang keluarga bersama dengan pak irwan dan Irsan
"Iya mah, besok aku udah bisa langsung kerja dirumah sakit punya temanku" Ucap Irsan sembari menyuruput kopi yang sudah dibuatkan oleh bi asih
"Bagus itu...emang rumah sakitnya dimana?" Tanya pak irwan yang sedari tadi sedang membaca koran
"Dijalan cempaka pah, gak jauh kok dari kafe papa"
Jawab Irsan yang langsung diangguki oleh pak irwan
"Kalo dekat dari kantor papa kamu enak dong, setiap jam istirahat kamu bisa mampir kesana" Ucap bu agnes
"Itu dia mah enaknya, jadi kalo aku laper tinggal ke kafe papa aja gak perlu bayar. Iya kan pah?" Ucap Irsan sembari menaik turunkan alisnya menggoda sang papa yang saat ini sedang melirik dirinya
"Iya jangan setiap hari aja, bisa bangkrut papa" Ucap pak irwan dengan memutar bola matanya malas
"Hahaha enggak pah, aku cuma bercanda. Oh iya Ansel kemana pah, mah kayanya dari tadi aku belom liat dia?" Ucap Irsan yang baru menyadari jika dia sama sekali belum melihat keberadaan adiknya sedari bangun tidur tadi
"Kamu kaya gak tau kebiasaan adik kamu aja san, paling juga dia jam segini masih tidur dikamarnya ini kan hari minggu" Ucap bu agnes yang hafal dengan kebiasaan putranya yang satu itu
"Oh iya aku lupa mah, Ansel kan kalo hari Minggu pasti bangun siang ya"
__ADS_1
"Yaudah papa mau berangkat ke kafe sekarang, mama bantu papa siap-siap ya" Ucap pak Irwan sembari berdiri dari duduknya dan melangkahkan kaki keluar dari ruang keluarga.
"Yaudah mama ke kamar dulu ya san, mau bantu papa kamu siapin baju kerjanya" Ucap bu agnes yang langsung berdiri dan menyusul suaminya
"Ck enak banget sih jadi papa mau berangkat kerja aja ada yang bantu siapin segala kebutuhannya, trus mau makan ada yang masakin. Lah gue mau berangkat kerja aja, harus gue sendiri yang siapin semuanya" gumamnya dengan mulut yang manyun
Irsan dengan langkah gontai berjalan ke karpet bulu yang ada diruang itu untuk menonton tv, Ia segera meraih remote tv yang ada dimeja dan mulai menyalakan tv sebelum merebahkan tubuhnya di karpet sembari menonton tayangan kesukaan nya.
Ya diruangan itu memang ada sofa yang diletakkan disudut sebelah kiri ruangan itu, sedangkan disudut sebelah kanan diletakkan karpet bulu dan ada meja televisi didepan karpet itu. Pak irwan memang sengaja mendesain ruangan itu secara khusus, agar semua anggota keluarga bisa sering berkumpul dan bercengkrama diruangan itu sembari menonton acara ditelevisi.
Namun saat sedang asik menonton, ia mendengar suara deheman seseorang yang berbarengan dengan suara pintu yang dibuka dan ditutup kembali, karena penasaran Irsan menoleh kearah pintu melihat siapa yang datang. Irsan hanya mencebikan bibirnya saat tau siapa yang datang sambil memicingkan matanya menatap orang yang baru saja duduk disebelahnya dengan wajah yang terlihat baru bangun tidur.
"Ngapain lo kesini? Lagian tumben banget jam segini udah bangun" Ucapnya sembari menatap jam tangan yang melingkar ditangannya dan menunjukkan pukul sembilan pagi, sedangkan yang ditanya hanya menguap sambari menutup mulutnya.
"Ck bawel lo ah...gue bangun lebih pagi salah, bangun siang juga salah. Mau Lo apa sih?" tanya Ansel sembari melemparkan bantal yang ada disampingnya kearah Irsan, tapi dengan sigap bantal itu langsung ditangkap oleh Irsan sehingga tidak mengenai kepalanya
"Pagi darimana? lo liat jam makanya, udah jam sembilan juga masih dibilang pagi?" Ejek Irsan
"Jam sembilan itu masih dibilang pagi lohh bang, kalo siang itu dimulai dari jam dua belas" Ucap Ansel sembari mengambil remote tv yang ada disamping tubuh irsan dan memindahkan siaran tv yang sedang ditonton oleh irsan ke channel lain, tanpa melihat abangnya yang sedang menatap tajam kearahnya
Irsan yang kesal karena siaran tv nya diganti oleh Ansel akhirnya bangun dari rebahannya dan memukul bahu Ansel, membuat Ansel meringis dan menatap abangnya dengan wajah kesal.
"Apaansih lo bang, Sakit tau gak?" Ucap Ansel
"Sini gak remote nya balikin ke gue" ucapnya sembari merebut remote tv dari tangan ansel, tapi Ansel juga tidak mau kalah dan mempertahankan remote yang masih berada ditangannya dengan menyembunyikan remote tv itu dibelakang punggungnya yang saat ini posisinya sudah berbaring. Alhasil posisi mereka sekarang saling tindih-tindihan untuk memperebutkan remote yang disembunyikan dibawah punggung Ansel.
Pak Irwan dan bu agnes yang kembali masuk ke ruang keluarga pun tersentak diam, saat melihat tingkah laku kedua putranya yang terlihat seperti anak kecil yang sedang memperebutkan mainan.
"Kalian Ini lagi ngapain sih, aneh banget" Ucap bu agnes sembari berjalan mendekati karpet dan berdiri disamping kedua anaknya
Irsan dan Ansel yang mendengar suara sang mama langsung tersentak dan seketika mata keduanya membelalak sempurna saat menyadari posisi mereka yang terlalu intim saat ini, namun walaupun sudah sadar dengan posisi mereka saat ini Irsan atau Ansel tidak ada yang berniat bangun untuk merubah posisi mereka karena terpaku.
Bu agnes yang kesal melihat kedua putranya yang bertingkah seperti anak kecil akhirnya kembali bersuara, sampai pada akhirnya mereka kembali tersadar dari keterpakuan saat mendengar suara bu agnes lagi. Irsan yang berada diatas tubuh sang adik langsung bangkit dan duduk tegak kembali, dengan Ansel yang ikut mendorong bahu abangnya itu dan ikut mendudukan dirinya kembali disamping Irsan.
Pak Irwan yang melihat tingkah kekanakan dari kedua putranya hanya bisa menggelengkan kepala, sejujurnya ia sangat lelah melihat kedua putranya yang setiap saat selalu bertengkar padahal kedua putranya sudah dewasa tapi tingkahnya sama sekali tidak bisa dibilang dewasa.
"Kalian ini ngapain sih kaya anak kecil aja?" tanya bu agnes yang ikut mendudukkan diri dikarpet samping kedua putranya
Ansel hanya mendengus kesal saat melihat sang mama menatap dirinya dengan tatapan tajam "Ini nih mah bang Irsan yang salah. masa aku bangun pagi dikomen, bangun siang juga dikomen kan gak jelas"
"Apaansih lo kok jadi gue yang disalahin. Bukan mah Ini nih anselnya yang rese masa aku lagi nonton FTV diganti channel nya ama dia" Ucap Irsan membela diri
__ADS_1
"Biarin aja lagian tontonan lo gak jelas, masa pagi pagi nontonnya cinta-cintaan. Mending juga nonton berita"
"Ya suka-suka gue lah, kan gue yang nonton duluan"
"Ya tap-"
"Aduh...udah-udah kalian ini udah pada dewasa kapan sih otaknya benar. berantem terus kalo setiap ketemu, pusing mama dengarnya tau gak?" Ucap bu Agnes yang sudah mulai jengah mendengar kedua putranya bertengkar terus
"Irsan kamu juga udah dewasa bukannya ngalah sama adiknya, ini malah bertengkar cuma ngerebutin yang gak penting" Ucap bu agnes menatap tajam kearah Irsan yang saat ini tertunduk
"Ya gak mau lah mah, orang adiknya aja gak tau diri kaya gini. Ngapain aku ngalah sama dia" Ucap Irsan sembari melirik Ansel yang saat ini juga sedang menatap dirinya dengan tatapan tajam
"DIEM KAMU" bentak bu agnes yang membuat Irsan seketika diam
Bu Agnes menarik nafasnya dalam dan menghembuskan nya perlahan sebelum beralih menatap Ansel yang saat ini sudah tertunduk takut " kamu juga ansel biasanya juga kalo hari weekend kamu tidurnya sampe siang, ini kenapa tumben banget jam segini udah bangun?"
"Ya aku gak tau mah, orang tiba-tiba aja kebangun tadi" Ucap Ansel dengan wajah yang masih tertunduk takut menatap wajah sang mama yang saat ini sedang marah, sedangkan papa nya saat ini malah berjalan santai kearah sofa dan duduk tenang disana tanpa mempedulikan keributan yang terjadi antara kedua putranya
"Pokoknya mulai sekarang mama gak mau tau ya ansel, setiap hari weekend kamu harus bisa bangun pagi" Ucap bu agnes
Ansel yang mendengar ucapan mamanya barusan spontan menatap tajam mamanya "Mama apaansih aku gak mau ah"
"Mama gak mau tau ansel, pokoknya mulai Minggu besok setiap hari weekend kamu harus bangun pagi" Ucap bu agnes tegas tanpa mau dibantah
"Udahlah Ansel ikutin aja kemauan mama kamu, papa juga setuju kok sama usul mama kamu biar kamu juga bisa disiplin sama waktu" Ucap pak Irwan yang sedari tadi hanya diam sembari fokus menatap ponselnya
"Ihs papa kok jadi dukung mama sih" Ucap Ansel dengan raut wajah kesal
"Ya karena itu juga buat kebaikan kamu ansel" Ucap pak Irwan santai tanpa menoleh kearah Ansel dan masih fokus menatap layar ponselnya
"Pokoknya aku gak mau mah,pah" Ucap ansel
Ia bangkit dari duduknya dan berniat pergi dari ruangan itu karena kesal dengan keputusan mama dan papanya, namun langkah nya terhenti saat mendengar ucapan mamanya.
"Yaudah gampang aja kalo kamu gak mau, mama bisa kok motong uang jajan kamu dah tarik semua fasilitas yang udah dikasih sama papa kamu" Ucap tegas bu Agnes yang berhasil membuat semua orang yang ada disana langsung menoleh kearahnya kecuali pak irwan yang masih santai duduk disofa dengan pandangan yang tak lepas dari ponselnya
"Gak bisa gitu dong mah, yang ngasih aku fasilitas kan papa jadi mama gak bisa asal ambil fasilitas aku gitu aja" Ucap Ansel tak terima
"Kata siapa mama gak bisa? Tanya aja sama papa kamu, papa kamu itu setuju gak sama usul mama" Ucap bu agnes santai dan mengambil alih remote tv yang ada didepan Irsan dan memindahkan channel ke tayangan sinetron
Irsan dan Ansel reflek menoleh kearah sang papa menunggu jawaban, namun sang papa malah fokus dengan ponselnya.
__ADS_1
"Iya Ansel papa setuju sama usul mama kamu, papa juga pengen hari ini kamu ikut papa ke kafe dan bantu-bantu karyawan yang ada disana" Ucap pak irwan dengan santai sedangkan bu agnes, Irsan dan Ansel sudah menatap nya dengan tatapan tidak percaya