
Bab 1
~ Ayah, aku rindu masa kecilku dulu. Disaat kau membimbingku, aku rindukan itu, Ayah. Apakah masa itu bisa aku rasakan lagi ? Aku rindu masa itu Ayah. ~
"Mba ! turun mba ! makan dulu, nanti sakit." Panggil lirih Ami sembari menaiki tangga menuju kamar sang anak.
Sementara gadis itu hanya terdiam, saat beberapa hari yang lalu ia sangat terpukul fakta bahwa ayahnya telah tiada, mental Mutia terguncang namun kewarasanya masih ada saat ia mengingat harus kembali ke pondok pesantrenya karna mutia telah dilantik menjadi pengurus di ma'hadnya.
"Sayang ibu mohon, jika bukan untuk dirimu setidaknya lakukan demi adikmu. Ayah pasti akan sedih saat tau kamu seperti ini!" ujarnya lagi berusaha membujuk Mutia.
Kalian anak-anak ibu, ibu janji tidak akan meninggalkan kalian !
Air mata berjatuhan kembali, mereka saling berpelukan dan menguatkan hati menerima fakta bahwa ayahnya telah pergi dan tidak akan kembali.
Flasback.
"Fadil.. tolong isikan air buat ayah le" Pinta ayah.
"Ck.. mba aja napa yah..Adil mulu yang isi air" setengah melirik kk nya mutia yang sedang asik menonton tv.
"ye...kamu aja sono yang ambil !! Disuruh ko malah nyuruh balik ! Sinis mutia
"udah tidak usah ! Disuruh ambil air malah ribut, nanti menyesal baru kerasa. ! Ayah berbicara sambil memegang dada yang amat sakit dan sesak.
Akhirnya mutia mengalah, membawa tekonya kedapur untuk mengambil air.
★☆☆☆☆
Malam menyapa,
Sepulang dari ma'had. Tia mempunya kenalan baru, kk kelasnya yang bernama Reza. Mereka menjalin hubungan secara diam diam, namun ternyata Reza berkhianat. Dan dimalam dimana sang ayah sedang mendengarkan murotal, tia dan reza adu cekcok di sms.
"Mba ! Pulsanya jangan di habisin. Takut nanti ada tamu. Pinta Ami yang sedang menidurkan adiknya mutia.
Ko firasat ibu tidak enak ya, burung didepan berisik banget..." jelasnya Ami.
Yah diluar burung sangat berisik, entah ada apa..mutiapun tidak mengerti, ditambah murotal yang ayah sedang dengarkan. Suaranya beradu sehingga memecah keheningan tengah malam.
Mutia hanya mengabaikan, terus dan terus membalas SMS Reza. Hatinya begitu sakit setelah tau Reza berkhianat dibelakanganya
Waktu menunjukan pukul 00.21 wib
Uhuk...
Uhuk...
Uhuk...
Bu..bu...!!
Hueekkkk.... !!
__ADS_1
Tersentak, kaget mendengar teriakan sang ayah begitupun ponsel yang terpental dari tangn ayah. Mutia langsung berlari menuju ayahnya yang tertidur diruang depan.
Ayah !!!!!! Teriaknya Mutia melihat darah banyak berceceran di bantal dan lantai.
Bu..ibu,, ayah bu !! Bengong, mutia sangat syok melihat begitu banyak darah dilantai.
Disusul ibu yang berlari munuju ayah.
Ibu menangis histeris dengan posisi ayah terlentang dipangkuan ibu. Fadil juga menangis histeris sambil memegang kaki ayah. Hanya Mutia yg bengong karena syok mendapati ayahnya mulai memucat, membrontak,napas terpengal penggal, seakan malaikat maut sedang menarik nyawa dri kaki ayah.
"Ayah !!" Mutia menangis.
"Bu..ayah kenapa bu??! Tanya Fadil histeris.
"Bu titip adil, tia...Asyhadu'ala illa Ha illallah wa asyhadu...!!!! Ayah terbata, sambil memancal mancal kaki dua hentakkan dan tidak ada lanjutan akhir syahadat, hanya suara mengorok yang terdengar keras.
"Adil, tia.. cepet minta Pakde Roto kesini ! Pinta ibu..
" i..i..iya bu,," jawab mutia, berlalu bersama fadil meningalkan ibu yang sedang menangis memeluk ayah.
" ayah bobo ya,, ibu temenin disini. " oceh ibu, sambil menangis..
Didepan..
Sesampainya di depan..gerbang di gembok, sehingga mutia dan adil kesusahan untuk keluar, mereka mencari cari kunci selama 7 menit.
Setelah ketemu kuncinya.. tak sadar gerbang dibuka lebar.
Jalanan gelap di tengah malam terus dilewati. Namun terasa sangat jauh sekali jarak tempuhnya.
"Mba..ko gak nyampe nyampe mba?" Tanya fadil sambil menangis.
"Iya ya dek.. yaudah dek kita bismillah aja biar cepet sampai" mutia berusaha menenangkan sang adik.
Teringat sang ayah yg mereka tinggal bersama ibunya, Fadil dan mutia memberanikan diri melangkah dan terus melangkah.
Sesampainya dirumah pakde Roto.
"PAKDE, PAKDE ROTO, !!" Teriak mutia dan fadil.
"Tolong ayah pakde !! PAKDE !!" mutia.
Tidak ada sautan, bukan berarti mutia dan fadil menyerah memanggil pakde roto.
" pakde,, ini mutia pakde..pakde tolong ayah" teriknya mutia sambil menangis sesegukan.
Tak lama, pakde roto menghampiri dan membuka gerbang kontrakanya.
" loh Adil, tia..ada apa toh ? Tanya pakde bingung.
" pakde tolong ayah, pakde !" Ayah muntah dar*h." jelas Mutia.
__ADS_1
Tanpa menjawab, pakde masuk kedalam, selang beberapa menit membawa motornya keluar. Diboncengnya mutia dan fadil menuju ke rumah. Rumah Mutia berada di komplek namun tidak terlalu besar. Tak sadar mereka melewati post satpam yg ramai. Entah bagaimana mereka sampai lupa, tidak ingat dengan satpam komplek.
Sesampainya dirumah, mereka berbondong bondong menuju kamar.
" ssttt !!! jangan berisik, ayah lagi tidur " jelas sang ibu, mata sembab namun tidak mengeluarkan air mata, sambil membelai rambut ayah.
Pakde mendekat, mengechek denyut nadi tangan ayah. Setelah itu pakde keluar, entah kemana perginya.
" bu, ayah bobo ya bu ?" Tanya fadil.
" yah..jangan sakit yah, katanya mau pulang kampung mba gk jadi balik ke pondok dulu, kemaren ayah minta mba buat izin biar bisa pulang kampung bersama ?" Mutia bermonolog.
Tap
Tap
Tap
Pakde dan satpam komplek berdatangan..
" mba ami, mas sidik saya bawa ke Rumah sakit ya mba !?" Pinta pakde dengan menggerakan tangannya memberi syarat kepada satpam untuk mengakat ayah.
Ibu hanya mengangguk, kemudian menangis kembali,
"Saya ada uang, tapi buat byar spp nya mutia mas" khawatir ibu.
" gpp mba, nanti ada rezeky nya. Percaya sama saya " jawab pakde.
Lekas ibu mengambil uang kemudian ikut ke rumah sakit, fadil dan mutia bingung, apa yang harus mereka lakukan.??
" mba sama adil dirumah aja ya. Ibu gk lama, cuma sebentar ko, jagain adil ya mba, jangan kasih keluar rumah !"
Perintah sang Ibu, kemudian berlalu meninggalkan fadil dan mutia dirumah.
Tanpa sadar mutia memasukan baju ibu dan adiknya kedalam tas besar, dalam pikiranya hanya tertuju pulang kampung setelah ibu dan ayahnya pulang dari rumah sakit.
Fadil memperhatikan tingkah aneh sang kk, yang semangat beberes memasukan baju baju, dan membereskan bekas dar*h ayah.
"Mba kita sholat yuk, doain ayah biar ayah baik baik aja !" Fadil mengingatkan.
Seusai sholat, telpon berdering berkali kali menandakan telpon masuk.
Terpampang no Bulek, adik sang ayah menelpon.
"Tia..yang sabar ya, harus legowo, ikhlas" jelas bulek yang tiba tiba berbicara dan terdengar isak tangisnya.
"Maksud bulek apa ya? Kan ayah lagi dirumah sakit lek" mutia kebingungan dengan melirik sang adik yang sedang membaca juz ama. Kemudian berhenti karna melihat kk nya kebingungan.
"Oh ndapapa tia, bulek salah ngomong, yowes ya ati ati dirumah yo." Bulek mematikan telpon.
Tut.. tut... tut..
__ADS_1