Kasih Sayang Palsu !!

Kasih Sayang Palsu !!
Ternyata Pahit 2


__ADS_3

BAB 2


Tut.. tut.. tut...


Telpon diputus sepihak.


Mutia begitu bingung, bahkan tidak bisa berakata kata untuk memastikan benar atau tidaknya. Telpon yang digengamnya berdering kembali. Ternyata saudara saudara ibu bahkan sahabat sahabat ayah sudah mengetahui bahwa ayah mutia telah tiada.


☆☆☆☆☆


Perpisahan adalah kata yang berat untuk diterima atau pun sebaliknya,Memang berat dan terasa susah, pasti walaupun ada rasa gelisah dan berat meninggalkan, tapi itu sudah terjadi mau bagimana lagi, cobalah untuk Mengiklaskan semua itu. 


Perpisahan tidak hanya tentang pisah dengan teman sekolah namun perpisahan bisa dalam bentuk apapun seperti berpisah dengan orang tua untuk selama-lamanya, berpisah untuk merantau, ataupun juga bisa berpisah dengan pasangan. 


 Maka kita tidak bisa menolak jika sudah terjadi sebab ini semua adalah takdir yang maha kuasa, kita tidak bisa memaksakan dan tidak bisa menolak apa yang sudah terjadi.


Mutia merenung lama tatkala mendengar mobil berdatangan, ternyata kakak kakak ibu datang disusul suara sirine Ambulance yang sedang melaju pelan memecah Tengah malam sembari membawa jenazah ayah diantarkan dengan menggunakan ambulance, waktu itu suasana jalan sangat sepi hanya suara sirine Ambulance yang fokus terdengar. Mengingat jamnya kita manusia terlelap, namun tidak untuk kami dan keluarga saat itu, sehingga ambulnce itu semakin mendekat terlihat oleh pandangan mata, mutia dan fadil yang sudah menunggu diruang tamu bersama kerabat dan beberapa tetangganya.


Sautan isak tangis keluargapun saling beradu juga memecah keheningan tengah malam ini.


"Yang sabar ya tia, ayah sudah tenang, ayah orang baik " ucap budeh, teman sebaya ibu dan sambil mendekap mutia.


******


Ayah mutia meninggal di hari jum'at, pukul 00.32 Wib di rumah sakit Prikasih Pd Labu. Yah ayah mutia terkena penyakit pneoumonia atau radang paru paru, sistem imun melemah, karena bakteri yang menggerogoti paru paru sehingga paru parunya bolong saat di rogsen.


Berawal dari salah seorang pasien yang berkunjung ke ruang dokter tidak memakai masker kemudian batuk. Saat itu ayah mutia sedang bertugas sebagai asisten dokter dan pada saat itu juga ayah tertular sangt cepat. Hampir 1 bulan bisa 5 kali dirawat dirumah sakit.


*******


Fadil menangis, dunianya hancur kehilangan superhero yang selama ini mandampingi kesana kemari bahkan ketika mutia di ma'had, ayah selalu menghibur fadil yng kesepian.


Selama empat belas tahun hidup di dunia, agaknya Mutia tidak pernah merasa sehancur ini sebelumnya. Bahkan saat ia harus kehilangan sosok sang ayah di kala remaja, Mutia masih bisa mengendalikan dirinya.

__ADS_1


Namun, melihat Fadil adiknya yang kini tengah menangis sembari memeluk tubuh kaku ayahnya.


Mutia merasa jika dunianya telah runtuh saat itu juga.


Dengan langkah pelan, Mutia yang sebelumnya hanya termangu di depan pintu kini mulai melangkah maju. Gadis remaja itu menghela napas dalam, menetralkan degub jantungnya yang berdetak tidak karuan sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada salah seorang yang berada di dekat ambulance terpakir di garasi rumahnya.


" i.. itu ayah? Tanya mutia pada salah satu seorang. 


Untuk melihatnya saja tidak sanggup, bibirnya bahkan bergetar hanya untuk mengucapkan beberapa kata saja.


Tangis pecah mutia membuat orang orang yang berkumpul iba dan mendekati mutia untuk menenangkan mutia..


"Jangan menangis mba,adil,biasanya kalian kuat dan ini kenapa kalian menangis. Hey adik kakak yang hebat,jangan menangis,ibu gk suka kalian menangis, sudah, sudah ya."ucap ibu menahan tangis.


"Mba ami, ini mau dibawa ke kampung sekarang ?!" Tanya pakde Roto, karena ayah sudah memberi amanat bahwa kelak ia meninggal ingin dikebumikan di kampung halamanya.


"Iya sebentar, kami siap siap dulu, mas." Ucap ibu kepada pakde roto.


"Bu.. ibu.. tadi mba nyiapin baju, dimasukin ke tas gede !" Ucap fadil.


Waktu begitu cepat, usai sholat subuh disusul sholat mayit. Kini jenazah ayah berangkat menuju kampung halamanya yaitu kota Tegal. Semua sudah dikabarkan baik keluarga ibu yang diPemalang dbegitupun keluarga ayah di tegal. Pagi itu, masih terlihat meredup mengiringi perjalanan Mutia kekampung halamanya menuju  kepemakaman ayah nya, terlihat awan putih seperti kapas yang membingkai tipis dilangit langit , begitupun terlihat burung burung terbang, tak percuma seraya berkicau tanda salam menyapa pagi hari .


Mutia dan Fadil bersama ibunya masih terdiam dalam hanyut menikmati kesedihan, ratap hati kemana untuk mengadu selalu terasa melukai hati seakan di sayat pisau ,mengalir lah tanpa tertahan air mata membasahi pipi,sungguh rasa itu tak bisa terbendungnya.


Perjalanan menuju kampung halaman memakan waktu kurang lebih 3 jam, begitu cepat, karna jalanan sangat lancar, tibalah rombongan keluarga duka yang mengiring jenazah ayah dikediaman milik orang tua sang ayah. Banyak sekali orang orang melayat, berbela sungkawan, bhkn keluarga ibupun sudah tibaterlebih dahulu.


Disambut isak tangis yang saling bersautan.


"Mi, beng ! Sabar yo, sing kuat !" Ucap simbah putri menguatkan ibu. Mereka saling berpelukan.


Karena jenazah sudah disucikan sebelumnya dirumh sakit oleh kawan dan sahabat sahabatnya ayah, kini jenazah akan segera dikebumikan. Mutia, fadil dan ibunya, mendapat perintah untuk melewati kolong keranda mayit, tujunnya agar tidak berlarut larut bersedih. Mengingat sang ayah meninggalkan anak anaknya yang masih belum bisa mengais rezeky masing masing. Begitulah adatnya.


Laillalah Ha illallah...

__ADS_1


Laillalah Ha illallah...


Laillalah Ha illallah...


Laillalah Ha illallah...


“Kalimat Laa Ilaaha Illallaah adalah kunci surga. Rasulullah bersabda Barang siapa yang mati, dan ia mengetahui sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah, maka ia masuk surga”, demikian kutipan ceramah agama, Ust. Syaeful Hilal.


Suara tauhid saling bersautan mengiringi langkah demi langkah mengantar jenazah ayah ke makam.


terlihat yang melayat sampai di lokasi pemakaman dan berjalan lancar bersama ibu Ami sang istri, bayangan diri nya Mutia dn Fadil sesekali meredupkan pemakaman yang dilalui nya , langkah rapuh memaksa kuat untuk menghadapi kekuatan hati dan teman semasa hidup nya ,yang tak lain ayah tercinta nya, ingin segera sampai di depan makam nya untuk mengadu mengutarakan isi hati nya meski tau itu tak membuat keadaan berubah tetapi itu meyakinkan dirinya untuk mengadu kepada ayah nya.


Kini tanah sudah menutup liang kubur sang ayah.


" bu, mba mau disini dulu " ucap mutia.


" pulang mba udah mau sore !" Ajak ibu.


"Sebentar aja bu, mba mau disini dulu " pinta mutia.


Karna tidak tega meninggalkan sang anak, ibu dan saudara ibu ami menemani dari jarak jauh.


Dalam kesedihan Mutia tertunduk diam tak berkata ,hanya tangisan kesedihan sambil memegang batu nisan ayah nya, sesekali ia mengusap batu nisan ayahnya dengan sesegukan tak kuasa menahan sedih menjalani hari hari nya, kini Mutia menyadari kehilangan sosok ayah yang sesungguhnya, yang selalu berkirim surat menyemangati dikala ujian bahkan sosok seorang ayah yg selalu suport apapun itu ketika mutia berada di ma'had.


Terdengar kicauan burung terbang dari pohon ke pohon lain menghiasi sore yang cerah itu,


 langit mulai redup mega semakin memerah ,matahari memantul memancarkan cahaya keatas terhalang lapisan awan,indah langit tak seindah hati Mutia, digenggamnya bunga yang telah berubah warna didepan nya sambil lirih berkata memanggil nama ayah nya.


"Mba.. ayo pulang" ajak fadil yang berada dibelakang mutia.


"Ayah, mba pamit ya, besok mba kesini lagi." Pamit mutia.


Ketika mutia melangkah.

__ADS_1


Pluk !!


kerikil mengenai lengan mutia........


__ADS_2