
BAB 25
Pov Mutia
Usai berpamitan aku diantar oleh ayah baruku menuju terminal kampung rambutan. Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam, canggung mnyelimuti bahkn gengsi masing masing untuk memulai topik pembicaraan sampai ditujuan hanya ucapan "hati hati mba, kalau ada apa apa telp ke rumah aja" aku menanggapi ucapan ayah baruku hanya dengan anggukan kecil dn senyum.
Sekilas terlintas kenangan yang menyerupai alm ayah ku saat aku menaiki bus dan duduk di dekat jendela bus, ayah melmbaikan tangan bahkan sedikit mengejar bus hanya untuk melambaikan tangan.
Lagi lagi itu hanya sebuah kenangan yang tak sengaja ayah baruku juga mempraktekan tersebut.
"Ayah.. kini aku menemukan sosok ayah baru, namun kami masih canggung dalam menyapa."
Aku menikmati perjalanan menuju serang kota . Tak terasa hampir sampai ketujuan dan sebelum menuju ke ma'had tidak lupa aku membeli jajanan untuk cemilan nanti malam.
Aku berjalan kaki menuju ma'had dan banyak santri santri yang tidak lain sntri kelas 1 dan temn angatanku kami berjalan bersama menuju ma'had.
********
Malam ***, setelah sholat isya semua santri makan malam, arena ibu mmbawakanku nasi padang dan kue kue yang lain jadi aku tidak ikut makan malam bersama santri santri yang lain. Aku memutuskan pergi kekelas lebih cepat dan karena bingung tidak ada yang harusku kerjakan, aku menuju perpustakaan bersama Afni dan innayah. Kami berbincang bincang dijalan dngan topik keseruan berlibur 2 hari dirumah.
Tak sengaja aku berpas pasan dengan Agung, kami sama sama measuki ruang perpustakaan. Setelah menemukan buku yang akn aku baca tiba tiba ia menghampiriku. Afni dan innayah saling menyikut tanganku.
"Agung apa kabar?" Tanya ku tiba tiba reflek
Tanpa menjawab pertanyaan ku, dia langsung pergi dan meninggalkan perpustakaan.
Aku mendapati selembar kertas yang di taruh di mejaku oleh Agung
Ketika aku membuka kertas itu dan ingin membacanya tiba tiba bel pun berbunyi.
Aku pun membawa kertas itu pergi dari perpustakaan dan seperti biasa membantu pengurus yang lainnya memeriksa kelas agar tertib, dan kelas pun di mulai dengan penuh khidmat.
Malam ini hanya *** biasa. Selesai memeriksa kelas, aku dan Afni kembali ke kelas ku. Suasana umum setelah libur 2 hari kelas dipenuhi dngnsling bercerita, namun ada juga yang muroja'ah ataupun belajar.
"Kmu gimna dirumah mut? Tadi kan baru aku yng cerita" afni memulai obrolan
"Alhamdulillah gk gimana gimna ni, ouh ya aku bawa nasi padang ni, ada orek juga buat berapa hari kedepan.. ada kentang mustofa, ibuku banyak bawin makanan."
"Aku juga bawa sambel mut. Btw sikut kamu sama kepala kenpa?" Tanya Afni
__ADS_1
"Ouh ini aku jatoh hehe malem malem pas mau cari makan. Aku sampe diledekin rosa jatoh rosa jatoh hahaha"
"hahaha ada ada aja, inayah bawa apa ya.?"
kami berbicang bincang bertuka cerita, hanya innayah yng beda kelas jadi terpisah sendiri deh.
Ketika kelas berakhir aku pun teringat dengan kertas yang di berikan oleh Agung
"Ouh ya.. tadi kan agung ngasih kertas."
dan aku membukanya.
kedua bola mataku tercengang entah apa yang ada di dalam benak anak itu sampai sampau dia menuliskan kata kata seromantis itu.
Aku berdiri melewati bangku bangu didepanku dan menghampiri Agung yang sedang membaca buku, kali ini aku harus tegas tidak ada rasa takut dalam hatiku kepada nya. Akan aku kembalikan kertas itu kepada nya.
"Ini aku balikin". Ucap ku dan langsung berlari kecil pergi karena waktu menit sebentar lagi bel berbunyi
Bel tanda pulang *** pun berbunyi
Para santri berhamburan pergi meninggalkan kelas dan menuju ke asrama.
Berbeda dengan ku, Afni yang harus ke ruang osis untuk menyetorkan data santri yang sudah datang. sepertinya aku akan jalan kaki lagi.
"Eh mut si Agung lagi nungguin siapa dah?". Ucap Afni
"Nungguin kamu kali !! wkwkwk ya kali nunggu cewek yang judes kek aku" ucap ku
Tak lama terdengar suara innayah dari kejauhan memanggil manggil namaku dan Afni.
"mut, afni ayo!!" Teriak innayah
Tanpa basa basi Agung masuk ke kelas dan langsung menarik buntut hijabku, sontak para sahabatku afni dan innayah hanya tercengang melihat pemandangan itu.
"Bentar mut, ada yg mau saya omongin". Ucap Agung
"Ih apaan sih gk sopan banget!!" Ucapku kesal merasa terganggu aku langsung menarik hijabku, tanpa mengiyakan atau juga menolak aku meninggalkan nya.
"Mut, saya akan terus menunggu kamu!!"
__ADS_1
Mendengar itu aku kembali menghampiri agung.
"maaf ya gung, aku gk mau ada hubungan, aku punya prinsip, aku mau fokus belajar. Tolong ngertiin aku. Aku yatim aku gk mau bikin kecewa alm ayahku." Ucapku
"Ouh ya satu lagi, please jagan kaya tadi, narik narik hijab. Kalau ada ustad yang liat gimana. Aku gk mau dihukum dan paling anti kena hukuman!! Paham?!"
Ucapku dan segera pergi meninggalkannya. Agung hanya terdiam namun sesekali ia tersenyum tidak jelas, aku muak melihatnya dan aku kesal kenapa harus menarik hijabku.
Afni yang super kepo berlari kecil mengejar ku, aku melihat innayah yang masih mematung dibawah kelas aku tarik tangannya untuk segera pergi.
Iih tungguin woy.. mutia inna!!" Teriak afni yang ternyata masih tertinggal.
"Si agung ngapa dah itu". Ucap innayah
"Gk tau gaje!" Jawabku singkat.
"Kalian berdua Deket ya, atau emng ada hubungan?". Tanya innayah
"Gk ada!!, ni jelasi ni sama innayah. Aku gk ada hubungan apa apa!!" Ucapku dan memilih untuk berjalan lebih cepat dan emosiku naik turun.
"Cuma nanya mut"
Kami bertiga berjalan menuju ruang osis,
Aku menyerahkan data teman teman angkatan dan ternyata masih ada 5 orang yang belum pulang. Dengan kesepaktan awal jika ada yang terlambat pulang ke ma'haf hukuman akan diberikan.
Sesampainya di asrama dan setelah mengganti baju kami makan bersama bertukar lauk pauk sesekali jika ada yang lewat depan kami kami tawarkan untuk makan bersama. Seseru dan sesenang itu kehidupan di pondok pesantren. Hidup jauh dari orang tua mengajarkan segala kemandirian dan lebih banyak untuk belajar bersyukur dan tolong menolong.
Setelah selesai makan bersama, tiba tiba Chika datang membawa kue.
"Ka ini ada kue buat kakak" ucap chika dan menyodorkan kue kepadaku
"Aduh kakak kenyang chik" tolak ku.
"Kakak" panggil syahidah yang menuju ku ia juga membawa bingkisan.
"Kak ini dari papah, kata papah mkasih udah ngerawat aku" ucap syahidah dan tersenyum.
Chika yang melihatku bersama syahidah seperti tidak suka.
__ADS_1
"Sini chik.. biar kak ina cicip kue nya." Ucap innayah mengalihkan pembicaraan.
Tanpa sepatah kata chika pergi dengan raut wajahnya yang terlihat masam.