Kasih Sayang Palsu !!

Kasih Sayang Palsu !!
Jualan


__ADS_3

BAB 21


Pov Author


******


"Kak Mutia dipanggil ayah ku." Ucap Cika dari kejauhan.


Mutia yang mendengar itu menoleh ke arah Chika.


"Ada apa chik?" Tanya Mutia.


"Katanya mau ngomong. Itu dibawah nungguin kakak." Chika menunjuk ke dua orang tuanya yang berada di bawah tangga.


"Aku ke asrama dulu ya ka, mau ambil baju kotor" chika berlari kecil menuju asrama.


"Na.. aku samperin orang itu dulu ya, sebentar" izin Mutia pada innyah.


"Yup" jawab innayah singkat.


Mutia berlalu menuju sepasang suami istri tersebut. Ia harus melepas sendalnya dulu karena harus melewati lorong Mading utama dan menuruni anak tangga. Bangunan gedung pesantren itu belum 100% jadi, dibawah kelas yang dekat mading utama dibuat untuk gudang penyimpanan lemari dan bangku bangku yang akan digunakan dikelas kelas baru setelah bngunan selesai dan berdiri megah.


"Bu, pak.. chika bilang saya di panggil?" Ucap Mutia dan menunjuk sepasang suami istri itu dengn jempol tangannya, untuk sedikit lebih sopan.


"Ouh iya, sini ikut saya ke mobil !" Ucapnya tanpa memberi kesempatan mutia untuk menjawab sang istri tersebut segera berlalu menuju mobilnya, dengan berat Mutia melangkah mengekor sang istri tersebut. Suaminya masih berdiri dibawah tangga, mungkin saja menunggu Chika.


"Ibu, maaf nama ibu sama bp nya siapa ya?" Tanya Mutia ragu ragu.


"Ouh nama saya Dewi nama bp knya chika Hartanto." Ucap ibu Dewi.


Sesampainya di mobil Mutia sedikit menjaga jarak agar tidak terlihat terlalu kepo. Tiba tiba ...


"Ini baju batik dari pekalongan, pegang." Ucapnya dan kembali mengambil baju baju di mobil nya.


Mutia yang menerimanya sedikit kebingungan. Lagi lagi ibu Dewi memberikan beberapa baju kepada Mutia.


"Kamu jualin ya, nanti keuntungannya bagi dua, kalau kamu mau nambahin harganya juga ga papa sih. Sebentar saya tulis dulu harga harganya." Ucapnya dengan sibuk membuat catatan nominal harga baju batik itu.


Mutia semakin dibuat bingung, jualin? Sedangkan dipondok pesantren saja tidak boleh berjualan.


"Tapi bu, disini gk boleh jualan." Ucap Mutia.


"Akh moso iyo, wong tadi chika bilang kamu jualan ko, kaya jualan gorengan gitu kan." Ucap ibu Dewi.

__ADS_1


"Hah.. Bukan bu itu sa ya.." ucap Mutia kemudian dipotong bicaranya oleh ibu Dewi.


"Udah ga papa, lagian kamu juga butuh uang kan? Ouh iya gini ya.. keuntungan dari ibu 5rb ya per baju." Ucap ibu Dewi. Namun Mutia hanya diam seribu bahasa, ia bingung harus bagaimana menjelaskannya.


Mmang beberapa hari yang lalu Mutia memang berjualan gorengan namun itu atas perintah dari bagian keputrian atau exstrakulikuler santriwati, hasilnya untuk dijadian kas pondok pesantren nya.


"Buruan bawa ke asrama, sebelum diliat ustd ustd kamu." Ucap nya masa bodo, bagi ibu Dewi yang paling utama uang.


"Kalau sama orang lain biasanya kalau ada yang ambil baju duluan, saya suruh Dp in dulu, karena kamu anak temen suami saya yaudah ga papa. Kan saya niatnya nolong." Ucap ibu Dewi.


Tanpa sepatah kata, Mutia meninggalkan ibu Dewi dan pergi ke asrama untuk menyimpn baju batik yang dibawa nya. Disebrang tangga Mading innayah yang melihat Mutia berjalan menujunya, innayah sengaja menunggu dengan keherananya. Sesampainya didekat Mading.


"Baju siapa mut?" Tanya innayah.


"Na masa aku disuruh jualan baju batik ini. Upah nya perbaju 5 ribu.!" Ucap Mutia sedikit kesal.


"Balikin Mut,!!" Ucap Innayah spontan


"Tapi na.. " mutia.


"Dek kita pamit ya, nitip chika ya"


ucap ibu Dewi dan Pak Hartono yang datang tiba tiba, kemudian pergi.


"Ngomong apa lagi tu orang?" Tany innayah penasaran.


"Itu namanya kamu di manfaatin !!" Ucap Innayah geram.


Mutia menyesali yang harusnya ia tolak dngan tegas tetapi dirinya seperti dihipnotis ucapan karena


"butuh uang" mau tidak mau ia meerima baju baju tersebut. Innayah sebagai sahabtnya sangat kesal karena sahabatnya dimanfaatkan oleh orang yang baru dikenal.


"Mut, na bikin mie yuk." Ajak Afni.


Mereka bertiga pergi menuju dapur untuk mengambil air panas dengan gayung dan membawanta ke kamar. Setelah mengambil air panas mereka menuangkan ke bungkus mie, mie instan atau mie goreng yang sudah di remas terlebih dahulu. Sisa air panas digayung yang masih ada untuk menyeduh susu kental manis coklat di ember kecil. Sisi keseruan di pondok pesantren yakni seperti itu, bahkan makan terkadang satu nampan untuk 10 santri.


Mereka bertiga makan dengan lahap sesekali bercerita sehingga membuat tertawa mereka menular ke teman teman yang lain.


"Ka mutia.. ka mut."


"Eh siapa ni?" Tanya Mutia, posisi mereka bertiga di dekat tempat lemari pojok yang berderetan sehingga jauh dari pintu dan dihalangi ranjang tempat tidur.


Chika mnyelonong dan menghampiri Mutia yang sedang makan bersama teman teman nya.

__ADS_1


"Eh chika, nanti lain kali salam dulu ya" ucap mutia.


"Kak.. bantuin aku ngerjain PR" ucap Chika manja.


"Kaka abi ini mau ada rapat dikantor, kamu cba sama temen temen kamu dulu aja." Ucap mutia, aga sedikit risih. Karena memang baru kenal.


"Tapi kata ibu, kalau ada PR biar kaka aja yang ngerjain." Ucap chika.


"Maaf ya chika, kaka gk bisa." Tolak Mutia.


"Ni aku ke jemuran dulu ya.. ngambil jemuran, ayo na." Mutia pergi meningglkan chika yang masih dikamarnya.


Setiba nya dijemuran, Mutia dan Innayah mengambil jmuran nya yang sudah kering dan dimasukan ke keranjang baju.


"Iss nyebelin banget adek mu na" ucap Mutia kesal.


"Yeee adek mu hahahaha" ucap innayah meledek.


"Adek mu lah, kan sama sama Bekasi" 


"Hahaha, manja banget lagi!"


Setelah selesai mengangkut jemuran inayah dan mutia menuju kamar kembali untuk bersiap siap pergi ke ruang Osis. Namun sangat tak terduga Chika masih menunggu Mutia di kamar. Mutia yang melihat chika duduk di ranjangnya segera menuju lemari untuk mengambil beberapa alat alat yang harus dibawa dan sama sekali tidak ingin menyapa Chika.


"Ka kasir kk masih keras ya,"


"Ka, ayo kerjain PR aku.. "


"Kak.. ka mutia."


Mutia yang mendengar Chika banya bicara menoleh.


"Maaf ya chika, kaka gk bisa, kamu sana kaka kelas yang lain aja." Ucap Mutia dan langsung pergi.


"Kak!!" Panggil chika kesal.


Rapat dimulai. Semua pengurus mnyimak info info yang harus dijalani semasa ulangan semester satu.


Hasil dari rapat pengurus akan disampaikan oleh bagian informasi atau pers.


******


Sore berganti malam, selesai *** malam semua santri diwajibkan tidur cepat, tidak boleh ada yang mencuci baju, atau menyetrika. Semuanya wajib mengambil air wudhu terlebih dahulu dan tadarus sebelum tidur. Karena besok pagi jam 2 pagi, diagendakan sholat tahajud dan semua santri wajib sholat di musholah aula gedung lantai 3.

__ADS_1


Suara mengaji saling bersautan.


Selesai mengaji semua santri wajib tidur, dan para pengurus berkeliling memeriksa setiap kamar.


__ADS_2