
BAB 17
Pov Mutia
"Mut, panggilan. Ada apa ya?" Ucap Afni.
"Panggilan?" Ucapku bingung.
Aku dan Afni bergegas menuju ke kantor. Semua pengurus sudah berbaris rapih. Kami yang baru datang ikut dibarisan belakang.
"Kasus kemarin, mohon semua pengurus berpencar ke asrama santriwati. Pengurus santriwati dibantu beberapa santriwan bagian keamanan. Pengurus santriwan tolong periksa ke rumah warga dan sebagian ke bangunan gudang pondok." Perintah ustad Bangkit.
"Semuanya bubar barisan!!"
Aku dan afni ditugaskan untuk memeriksa kamar mandi. Sesampai nya di pondok pesantren, saat aku membuka gerbang asrama. Tiba tiba..
"Tolong.. aakkh tolong.. tolong..... "
"Eh eh tolong tolong tolong.... cepat akhi.. arah dikamar mandi." Ucap ku panik karena mendengar suara tersebut.
Semua yang didepan berlarian menuju kamar mandi, 2 orang yang masih di depan segera menuju kebelakang pintu kamar mandi santriwati dari arah lapangan bola.
******
Pov Author
Di kamar mandi lantai dua, saat Dea selesai mengganti pembalut dan seera keluar membuka pintu kamar mandi yang diposisi belakang no 3, tiba tiba hamba Allah mendorong Dea masuk ke kamar mandi.
Dengan sekuat tenaga Dea manahan pintu kamar mandi agar Hamba Allah tidak masuk ke dalam.
"Tolong.. aakkh tolong.. tolong..... "
Hamba Allah dan Dea saling mendorong. Namun tenaga Dea kalah dengan tenaga Hamba Allah yang akhirnya masuk dan membekap Dea.
Mata Dea tiba tiba terpejam kuat dan merasakan sakit di dalam tubuhnya, teriakan yang tadi terdengar sampai ke bawah.
"Diam ssttt!!" Ucap hamba Allah.
"Aghk" ringis pelan Dea, tubuhnya terhimpit oleh hamba Allah.
Seketika baju seragam Dea dibuka dengan kasar.
"Ampun mang, ampun.." ucap Dea ketakutan.
__ADS_1
Kak Agus kepala keamanan dan ustad Bangkit saling bertatapan terkejut dengan cepat Kak Agus mendobrak pintu namun tertahan karena posisi Dea dan Hamba Allah yang dilantai. Ustad Bangkit naik ke atas tembok untuk memberhentikan aksi bejat hamba Allah atau mamang tukang bangunan.
Ustad Bangkit memukul nya, untungnya Dea tidak sampai ternodai. Dea dikeluarkan dengan paksa, kak Agus menangkap Hamba Allah yang di dorong oleh ustad Bangkit. Dea berlari kecil karena masih gemetaran.
Afni dan Mutia yang melihat Dea hampir jatuh segera menangkap Dea dan membawanya keluar Asrama santriwati.
********
Pov Mutia.
"Tolong ukh, bantu Dea bawa k kantor" ucapku menyerahkan Dea, aku dan Afni harus memeriksa kembali untuk memposisikan bahwa asrama sudah aman.
Aku melihat hamba Allah itu yang sudah babak belur, mungkin sudah dibuat ustad Bangkit atau kak Agus menjadi seperti itu.
"Ko bisa ya, kecolongan kaya gini lagi." Tanya Afni.
Aku hanya diam, karena aku sendiri pun juga syok. Siapa yang tidak takut jika terjadi kembali.
Aku dan Afni berkekeliling memeriksa kunci kunci beberpa pintu. Pintu dibelakang kamar mandi rusak karena didobrak kasar oleh Hamba Allah.
*******
Pov Author
"Dea, tahan dikit yah sebentar lagi kita sampe kekantor nanti segera ditangani sama bagian kesehatan" innayah mengusap kepala Dea.
Saat melewati perjalanan menuju kantor dan para santri yang lain pun mendengar suara bising. Kepo, yups pastinya kepo.. mereka yang dilantai satu mengintip di jendela yang di lantai dua ramai dibalkon.
Tiba tiba Dea jatuh tersungkur lemas, dan semua pengurus santriwati mengangkatnya hingga ke kantor.
"Ada apa dengan nya?!" Tanya salah seorang ustadzah yang bernama ust Nisa.
"Afwan minggr dulu ust Nisa, berat" ucap salah seorang santriwati yang mengangkat Dea.
Dea diberikan minyak kayu putih dihidungnya bajunya yang sudah acak acakan ditutup dengn kain, kakinya dipijat agar segera lekas bangun dri pingsan nya.
Tidak lama seorang santriwan datang memberi info bahwa hamba Allah berhail kabur kembali.
Semua yang mendengarnya takut dan was was.
Dea pun terbangun dan menangis, orang tua Dea sudah di tlp agar cepat datang ke pondok pesantren. Dea akan diliburkan dulu sampai mentalnya kembali membaik.
"Dihimbau untuk seluruh santriwati setelah mengambil air wudhu diasrama segera ke musholah.. tidak ada yang berdiam di asrama. Syukron."
__ADS_1
Teettttt....
Bel istirahat pulang sekolah siang berbunyi, semua santri berhamburan menuju ke asrama.
3 orang pengurus santriwati menunggu Dea siuman dan mereka juga menunggu kedatangan ustad bangkit dan kak Agus yang masih mengejar hamba Allah ,
tak lama kemudian mutia dan Afni datang membawa dokter untuk memeriksa Dea yang masih belum siuman.
Dokter itu memeriksa keadaan serta mengecek luka yang ada di tubuh Dea. Luka Dea mengeluarkan darah mungkin rasa sakitnya tidak dirasa karena paniknya tadi ia diserang saat di kamar mandi, dan tiba tiba ia tersadar dari pingsan namun di sambut oleh rasa sakit.
"Dok bisa saya bantu" ucap Mae pada Dokter yang sudah siap membawa alat luka, innayah menyingkir agar dokter dan Mae ini bisa mengobati luka Dea.
"Dik, bantu adik ini untuk duduk agar saya bisa memeriksa luka dibagian yang lain nya" ucap Dokter.
Mae pun segera melakukan apa yang di perintahkan oleh Dokter saat ini ia akan lakukan apapun agar Dea tertutup luka nya.
Mae perlahan mengangkat punggung Dea agar bisa duduk, walaupun Dea masih dalam keadaan setengah sadar. Mae menyandarkan kepala dan tubuh Dea ke dada nya agar Dokter tersebut cepat melakukan tindakan pengobatan.
Dokter dan Mae membersihkan darah dan memperban dengan hati-hati namun tetap saja Dea terusik merasakan sakit bahkan sampai mengeluarkan air mata.
"Tahan sedikit yah" Ucap Mae
"Dok ini obatnya" ucap Mae, Dokter itu mengambil obat botol dan bubuk lalu memberikan pada Dea. Dokter membuka tutup obat botol dan meneteskan ke kapas sebagai pembersihan terakhir dan di usapkan ke area luka.
Setelah itu Dokter membuka obat bubuk dan di taburkan ke luka membuat Liana kembali meringis.
"Bisa pelan tidak?!!" bentak Dea.
Sangat disayangkan atas etitude Dea.
"Ini memang efek nya, luka nya basah jadi rasa sakit dan perih itu wajar ya dik" Mae tak pernah merasakan sakit hati atau kesal atas bentakan para santri, baginya ini sudah lalapan setiap dekat mengurus santri santri yang sakit.
Selesai menabur obat, Dokter pun menutup luka Dea menggunakan kain perban yang di lilit. Tapi Dea masih saja meringis merasakan sakit dan perih yang luar biasa di perutnya. Yah perutnya tersayat pisau, siku tangan kiri nya terbentur tembok keras.
"Dok! Dea masih kesakitan!!" Ucap Mae
"Itu hanya sementara hanya membutuhkan waktu beberapa menit, setelah itu rasa sakitnya akan hilang dan luka nya akan kering." ucap Dokter, ia mengambil suntikan yang di isi obat cair dan menyuntikan ke selang infus.
"Tidur kan lagi pelan-pelan..." ucp dokter pada mae
Mae menidurkan kembali tubuh Dea secara perlahan agar tak ada rasa sakit yang menambah, mae menyingkirkan hijab yang menghalang wajah dan mengusap pipi lembut Dea.
"Terimakasih ya ka Mae". Ucap Dea.
__ADS_1
Mae membalasnya hanya dengan senyuman.