
BAB 22
Waktu terus berjalan, menyisahkan sesuatu yang telah terangkai menjadi kenangan. Sayang nya tidak semua kenangan bisa teringat dengan mudahnya, hanya orang orang yang membuat kenangan menjadi terkesan hingga tak pernah melupakannya.
Hari hari telah dilewati Mutia. Usai ujian semester satu 5 hari lamanya. Semua pengurus mengadakan perizinan pulang masal, seluruh santri di beri jatah 2 hari dirumah dimulai dari kelas yang terendah.
Mutia berkeliling ke setiap kamar menawarkan baju baju batik yang ia jual.
"Batik nya dek, asli pekalongan ko. Bagus bagus.. diliat dulu aja ga papa." Ucap Mutia yang masuk ke kamar santriwati kelas 2, mereka berhamburan membuat lingkaran mengrlilingi Mutia. Adapun santri yang meliat dari ranjang atas.
"Ka aku yang ini ya."
"yang ini berapa ka?"
"Ih bagus banget yang ini loh."
"Ka aku ini."
"ini uangnya ka"
"Alhamdulillah, maasya Allah banyak yang minat." Bisik hati kecil Mutia.
"Yah udah abis.. baru mu liat." Ucap salah seorang sntri dari kamar sebelah yang mndengar sedikit ricuh dikamar ini.
"Tinggal couple aja nih dek warna biru" ucap Mutia sambil mmebereskan plastik plastik yang berceceran.
"Nanti aja ka, kalau ada lagi." Ucap nya.
"Ok dek ... ouh ya makasih ya adek adek udah ngelarisin.
Assalammu'alaikum." Mutia pergi dan menuju ke kamar nya.
Sesampainya di kamar, Mutia menghitung uang hasil dagganganya barusan. Ia mndapatkan 3,2 juta. Berhubung hari ini ada perizinan pulang. Mutia akan menyerahkan uang itu kepada ibu Dewi saat mnemput Chika nanti.
"Door...!!" Afni dan Innayah mengagetkan Mutia.
"Astaghfirullah.. huft" Ucap mutia menepuk nepuk dada nya.
"Yuk ke ruang Osis. Ngedata santri." Ucap Afni.
******
Semua pengurus berkumpul diruang Osis dan mendata santri santri yang akan dipulangkan pada hari itu juga.
Para santri mengantri guna mendapatkan tanda tangan para pengurus untuk bukti kepulangan dan tanggung jawab pengurus.
"Kalau aku pulang, terus aku pulangnya kemana ya." Bisik hati kecil Mutia.
"Ka.. di cari ibu" ucap chika yang membuyarkan lamunan Mutia.
__ADS_1
Sebetulnya Mutia amat sungkan berurusan dengan chika dan orangtuanya. Karena batin nya mengalahkan sifat tegas nya dan Mutia membutuhkan suntikan dana, mau tidak mau Mutia harus melakukan itu semua, demi mendapatkan uang karena ibu Ami tidak kunjung datang untuk sekedar menjenguk Mutia. Beberapa titipan yang diberikan oleh Syahidah sudah Mutia gunakan untuk membeli buku paket pelajaranya.
"Eh Mutia.. " ucap ibu Dewi dengan melebarkan bibir sunyum manisnya.
"Laku gk?" Tanya nya.
"Alhamdulillah bu, sebentar." Ucap Mutia dan merogoh saku rok nya.
"Ini bu." Mutia memberikan uang pada ibu Dewi.
Ibu Dewi menerima catatan dan uangnya, lalu mengihitung uang tersebut dengan sesekali membasahi jarinya dengan ludah nya. Jangan jiji ya guys hehe.
"Wah mantep ini, sisa 2 berarti ya. Ini namanya setoran. Makasih ya." Ucap bu Dewi sumringah.
"Ada apa bu?" Tanya pak Hartono.
"Ini yah, jago banget Mutia jualannya." Ucap bu Dewi yang masih berbunga bengua ketiban uang segepok haha.
"Jangan lupa kasih hak nya bu." Ucap pak hartono menginatkn
Setelah sedikit berbincang, ibu Dewi dan pak Hartono mengajak Mutia untuk bergabung makan bersama disaung, mereka berbincang bincang obrolan kosong. Selesai makan bersama.
"Ini ya uang buat kamu, nih ibu tambahin 5 rb ya" ibu Dewi menyerahkan uang kepada Mutia.
Mutia menerima uang itu.
"Terimakasih bu. Mari..." ucap mutia dan ingin segera pergi.
"Eh sebentar, ini loh bajunya. Jualin lagi!" Ucapnya dan mengambil tas besar yng berisi baju batik.
"Ah gpp bawa aja, sempit di mobil. Belum barangnya chika." Ibu Dewi mmberikan tas tersebut dan langsung meninggalkan Mutia.
"Tapi bu.. "
"Uda ga papa. Jangan lupa setoran ya." Ucap nya
"Ya Allah, kenapa kesannya kaya maksa gini ya. Nanti kalau gk laku gimana ya." Ucap Mutia dan berjalan membawa tas tersebut.
********
Dua hari berlalu, kini bergilir perizinan pulang tiba diangkatan Mutia. Ciri khas santriwati cipika cipiki saling berpamitan. Beberapa yang berng Mutia menuju terminal dengan tujuan kp Rambutan.
Saat melewati gerbang pondok pesntren. Agung memanggil manggil Mutia.
"Mutia.. mutia.." panggil agung berlarian menuju Mutia.
Mutia yang merasa terpanggil namanya menoleh.
"Cie cie.." semoat sempatnya innayah meledek nya.
"Hah.. hah.. capek.. eh mut bentar" ucap Agung, mengambil tas kecil dan menyerahkan ke mutia.
__ADS_1
"Terima ya. Hati hati dijalan." Ucap Agung dan berlalu cepat.
"Eh ini apaan?" Teriak Mutia.
"terima aja ga papa" teriak Agung.
Mutia dan teman temannya menaiki angkot menuju terminal.
Pukul 10.22 tiba di Terminal Serang.
Berbagai macam Bus terlihat mengantri memasuki area dalam teminal. Mutia dan teman teman nya menuju kedalam terminal.
"Alhamdulillah ya udah lama gk pulang." Ucap Elva
"eh mut, kamu pulang ke cilandak? Tanya isti.
"Iya ti. Kita pisa jurusan ya. Hati hati ya" ucap Mutia melambikan tangan.
Rambutan rambutan rambutan
Teriak kernet bus mengundang para konsumen untuk menaiki bus dengan jurusan Rambutan. Mutia menaiki bus, berhubung bus nya masih sepi Mutia mengambil bangku dua.
"Maasya Allah, akhirnya aku pulang lagi, gk sabar ketemu Fadil. Biasanya kalau aku pulang Ayah selalu stanbye dideket tangga penyebrangan buat jemput aku." Mutia bergumam, matanya berkaca kaca. Teringan akan dulu ayahnya setia menunggu Mutia saat pulang.
Akhirnya bus terpenuhi oleh konsumen.
Pukul 11.05 WIB. Bus berjalan di iringi dengan lagu lagu d'masiv dan lainnya. Sehingga membuat beberapa konsumen tertidur.
Perjalanan demi perjalanan terelewati dengan suasana sendu. Memori berbutar seakan kenangn muncul dan membuat Mutia kembali merenungi kehidupannya.
2,5 jam perjalanan tak berasa sampai ketujuan nya yakni Kp Rambutan yang dikenal akan sarag preman.
Setelah turun dari Bus. Mutia melanjutkan perjalanannya menuju cilandak dengan bus metromini 509. Bus pun melaju dengan sempurna membelah kemacetan jakarta yang tidak ada habisnya.
Setengah jam berlalu, kini Mutia telah sampai di tempat biasa yang bersebrang Mall town Square. Memori berputar kembali, dimana sang ayah dulu sering sekali memejengkan motornya di bahu trotoar.
"Hanya kenangan" ucap Mutia sedih.
Karena tidak ada hanphone dan bingung harus menelphon siapa. Dan jarang sekali ojek mangkal diarea tersbut mau tidak mau Mutia harus berjalan kaki lagi untuk sampai rumah nya kurang lebih 45 menit jalan kaki yang Mutia harus tempuh,
Sesampainya dirumah.
Ting tong
ting tong
Assalammu'alikum..
"Sebentar" ucap suara laki laki dan berlari untuk membukakan pintu.
Krek... kriit..
__ADS_1
"Mba mutia.. " ucap Fadil dan mereka saling berpelukan.
******