
BAB 7
Pov Author
"Aakkkhhh tolong !!!....
Lampu tiba tiba mati kembali. Terdengar kembali teriakan santri di jemuran yang berada di lantai 4.
Untungnya Mutia membawa senter kecil yang selalu dikalungkan dilehernya untuk berjaga jaga jika terjadi di situasi seperti ini.
"Mut, mut ada yang teriak lagi mut!!" Afni.
"Mut, afni.. dibawah kah? Elva qism atau pengurus keamanan.
"Va, tolong periksa jemuran, aku mau ke kantor!" Teriak Mutia.
"Aku temenin ya!" Pinta Afni khawatir terhadap Mutia yang sedari tadi meringis menahan rasa sakit dilambungnya.
"Gk usah ni, insya Allah aku bisa." Mutia
"Wah gk bener ini, ni!! Aku harus panggil ustad." Bisik hati kecil Mutia.
"Ni, cepat kumpulkan semua santri di teras lantai satu dan bangunkan semua pengurus tanpa terkecuali, yang sakit juga suruh ikut kumpul, jangan lupa pakai baju rapih.!" Perintah Mutia.
"Semua santriwati berkumpul di lantai satu.!!
Hayaa ukhty kum kumna.. kumna tajama'uu jamiian fi altaabiq al'awal!! ( ayo ukhti bangun.. bangun.. semua berkumpul di lantai satu.!!)
Mutia bergegas menuju keluar asrama untuk menaikan saklar lampu, dan menuju kekantor untuk memanggil ustad yang sedang berjaga.
Selang 2 menit Mutia telah sampai dikantor, tak sengaja Mutia bertatap mata bertemu salah seorang temannya yang suka curi curi pandang dikelas, namun Mutia masih belum menyadari bahwa ialah yang suka berkirim sepucuk lembar tulisan yah dia, dia adalah Agung, kebetulan sekali ustad Bangkit sedang berjaga malam ini ditemani 3 orang santriwan salah satunya teman sekelas Agung, yang bahkan Mutia belum kenal namanya dan kebetulan sedang berjaga juga atau bulish malam.
"Assalammu'alaikum ustad." Mutia
"astaghfirullah !! Sontak kaget ustad dan 3 santriwan
"kenapa muka anti pucat sekali?" Tanya ustad Bangkit.
Mutia menjelaskan semua kejadian demi kejadian, ustad bangkit mengganguk memahami cerita Mutia, dan segera memerintahkan 2 santriwan untuk memberitahu kepada pengurus keamanan santriwan untuk memperketat kemanan santriwati dan berjaga dibelakang asrama santriwati,
__ADS_1
"Beritahu kepala keamanan, temui saya di asrama santriwati.!" Perintah ustad
"baik ustad" 2 orang santriwan dan segera berlalu.
"Agung, tolong jaga disini ya.! Pinta ustad Bangkit
Kemudian Mutia dan ustad Bangkit menuju ke asrama santriwati. Sesampainya di asrama Mutia meminta izin terlebih dahulu untuk memastikan santriwati sudah berkumpul dan memakai baju rapih yang menutup aurat.
"Assaammu'alaikum" salam Mutia, terdengar suara berkerumunan seperti lebah saat masuk asrama seketika hening dan semua pengurus sudah berkumpul didepan pintu gerbang begitupun semua santriwati sudah berbaris dengan rapih sesuai kelas.
"Mut? Are u okey ??" Tanya Afni.
Mutia mengangguk, sambil memegang perut dan mengatur nafas.
"Mut kamu istirahat aja, biar ditemenin inayah dan zulvia, muka kamu pucet banget." Elva.
"Aku gpp ko, va didepan ada ustad Bangkit. Tolong temuin,
sepertinya beliau ingin menyampaikan sesuatu." Jelasnya Mutia.
"Ok ok, tapi kamu istirahat ya." Elva dan anggota pengurus yang lain keluar menemui ustad bngkit, Mutia ditemani Innayah dan Zulvia untuk keruang sakit.
Diluar asrama, Elva berbincang bincang menjelaskan kejadian kedua yang berada dilantai 4 jemuran santriwati yakni ada seorang Hamba Allah memakai kain penutup berupa sarung, menutup kepalanya seperti ninja dan sedang mengambil beberapa pakaian dalam santriwati terutama Cd, kepergok santriwati yang ingin menyetrika saat itu dan Hamba Allah itu langsung berlari namun cepat sekali hilangnya. Begitupun tibalah juga 10 santriwan datang ditugaskan berjaga di sekitar luar asrama santriwati sampai dengan jemuran lantai 4 yang terbuka.
Bisa dipahami semuanya?!! Suara Elva dengan lantang menginfokan.
"SIAP DIPAHAMI" seluruh santriwati
"Untuk semua pengurus, besok berkumpul di kantor Osis." Elva.
*********
Di tempat lain. Ustad Bangkit sedang berjalan mengelilingi pondok pesantren bersama kepala pengurus keamanan, sambil membawa senter sebagai penerangannya. Namun senter yang ustad Bangkit bawa tiba tiba terjatuh hingga pecah. Ustad Bangkit kaget, begitupun kepala keamanan berlari mengejar seseorang yang memakai penutup kepala berupa sarung. Larinya begtu cepat, bahkan bisa melompat tinggi seperti ninja.
Ustad Bangkit mengambil butiran senter dengan kaca yang berpencaran itu, khawatir ia pun terdiam dan memikirkan apa yang telah terjadi sehingga ada penyusup. Bergegas ustad Bangkit menyusul mengejar kepala keamanan.
__ADS_1
Sempat hamba Allah itu berada di dekat makam keluarga besar pemilik pondok pesantren ini, dan tak lama
menghilang, mengingat baru mpat hari meninggalnya putri dari salah seorang anak pimpinan pesntren yng dikuburkan dimakam keluarga. Ustad Bangkit bersholawat kepada nabi Muhammad Saw, untuk meluapkan isi hatinya. Beberapa saat kemudian, akhirnya ustad Bangkt dan kepala keamanan pulang ke area pesantren kembali dan menugaskan 4 orang santri berjaga dimakam.
********
Rintikan hujan deras mulai berjatuhan membasahi bumi menghembaskan debu debu yang berada di dedaunan dengan diiringi awan yang sudah berganti menjadi warna abu abu. Cuaca pagi ini sangat tidak begitu bersemangat menyambut pagi yang cerah, semua santri ada beberapa memilih untuk kembali tidur dari pada melakukan aktivitas, adapula yang memasak mie instan dengan gayung, adapula yang menmpung air untuk mandi, ada juga yang memilih pergi cepat ke kelas tanpa sarapan terlebih dahulu dan banyak berbagai macam aktifivitas yang santri santri lakukan.
Manik mata hitam kecoklatan milik Mutia dihiasi bulu mata lentiknya terus menatap rintikan hujan melalui jendela kelasnya. Ia bersenandung kecil sembari memeluk kedua lututnya.
"Mut,.. kamu gk makan?" Tanya afni tiba menhampiri Mutia.
"Aku shoum." Mutia
"Aih kmu baru sembuh, tar sakit lagi, makan dulu yuk. Kalau gk makan nanti aku gk mau nmenin kmu lagi." Afni.
"Ck,, tega banget" cicit mutia.
"Udh udh ayo kedapur, innayah udah ngmbilin tuh." Afni sembari menarik tangan afni.
Berlalulah Afni dan Mutia beralas pastik untuk menutupi bagian kepal agar tidak terkena hujan, sesekali mereka berteduh. Sesampainya didapur, Mutia berpapasan dengan seorang Mamang tukang bangunan, yang bertugas membangun jemuran santriwati sebelah utara.
"Kaya pernah liat mata itu... tapi dimana ya" bisik hati kecil mutia.
Innayah melambaikan tangan kepada Afni dan Mutia. Mereka bertiga selalu kompak walupun innayah beda kelas, bahkan selalu bergantian bagi membagi tugas seperti mengambil makan, dan kerjasama lainnya.
Merasa terpanggil oleh lambaian tangan Innayah , Mutia dan Afni langsung menoleh menatap meja makan.
"Pasti enak ini," ucap Mutia. Tangan jahilnya mulai mengambil sedikit makanan untuk ia cicip.
Plakk
Afni memukul tangan Mutia.
"Ck.. Katanya shoum!!" Ledek afni.
"Hehe.. laper juga ni, walaupjn menunya tahu dan sambal kecap." Ucap Mutia.
"Akh udah ayo makan jangan bercanda ih, abis ini kita keliling, disuruh pak ketua." Innayah.
__ADS_1
Menit waktu sudah berlalu. Kini bunyi suara rintikan hujan mulai reda, terlihat beberapa santri berjalan kaki mulai menjajahkan kakinya menuju kelas masing masing..
Kira kira siapa ya Hamba Allah itu?????