
BAB 12
Pov Agung
"Eh cuy gue denger denger ada anak kelas IPS A angkatan kita kabur semalem" Ucap Deni pemuda yang menjabat sebagai bendahara kelas.
Bla bla bla bla.. semua sedang asik bergosip ria. Seperti lebah yang berkerumun suaranya.
Saat teman teman sedang nimbrung bergosip ria, mengenai teman perempuan yang kabur dari pondok pesantren. Aku hanya ingin tidur sebentar sebelum ustad datang ke kelas. Rasanya ngantuk sekali. Bagiku masalah kabur sudah menjadi makananku hampir setiap hari aku juga sering kabur, waktu malam ketika santri santri tertidur lelap. Namun berita santriwati kabur cukup nekat juga ya. Bodohnya dia update status di facebook,, huft cari perkara saja. Kalau aku sih, gak permah ketahuan.
Tidak lama sosok wanita yang aku kagumi datang, eits knp dengan kepalanya.. Aku perhatikan wajahnya yang ayu, selalu terlihat sedih, matanya cekung hitam seperti kurang tidur, sebenarnya sedalam apa masalah dia.
Baru saja mau tidur, ustad datang. Palajaran pun dimulai.
Ustad kiki menjelaskan materi geografi, pelajaran ini asik jika sedang bekerja kelompok saja.. tapi kalau lagi ngebahas materi,, bosennyaaaa bikin ngantuk. Huft
pengaruh faktor lingkungan terhadap kehidupan manusia, serta bentuk-bentuk pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam.
Teeetthhhhh... bel istirahat berbunyi
Pr ya.. buka halaman 58 lengkapi faktor lingkungan dan sebutkan bentuk pemanfaatan nya..
Besok wajib dikumpulkan !! Perintah ustad kiki.
Tertulis di papan tulis.
"Hoooaammm... rasanya pengen tidur sehari aja,, aakkhh" agung sambil mngacak acak rambutnya.
Saat ingin menempelkan tangan di meja kursi, aku melihat bidadariku,, haha kuy lah bidadari hehe dia sperti tergesa gesa keluar entah menuju kemana. Yasudah lah aku tidur dulu.
Baru beberapa menit tertidur, ada pengurus senior datang.
"Disuruh kelapangan !!"
"Ya ampun naru mau tidur, pasti gara gara yng kabur nih!!" Geram ku.
"Kenapa ka?" Tanya afni.
"Di suruh mudir kelapangan" jelasny lagi.
__ADS_1
"Iya kenapa ka? Ko tiba tiba" tanya teman yang lain.
"Teman kalian ada yang kabur kan? Intinya itu disuruh kelapangn." Ucapnya
Dengan langkah gontai, kaki berat sekali aku langkahkan dengan berat hati menuju ke lapangan. Ternyata sudah ada kelas IPA yang berbaris, disusul IPS B. Dengan suara tanya sana tnya sini, seperti lebah yang berkerumunan.
Sudah 7 menit mudir berbicara, sudah kuduga pasti karna salah satu teman angkatan kabur.
"Ada yang sudah tau masalahnya apa?!" Tanya pimpinan pesantren
"Kalau tidak ada yang jujur, hukumannya akan saya tambahkan.!" Ucap mudir marah seperti harimau yang akan menerkam mangsanya.
Semuanya menjadi tegang, sebetulnya berita ini yang tau hanya kami santriwan, semalam saat jaga malam. Khalid melihat ada yang kabur melewati lorong gedung yang dijadikan gudang bangku bangku yang rusak. Mungkin berita ini sampai ketelinga pimpinan pesantren saat sedang m ngumpulkn hasil bulis atau jaga malam semalam.
"Loh loh ko mutia maju?!" Ucap salah seirang temanku, Sketika aku kaget dan reflek memanjangkan leher untuk melihat wanita pujaanku maju kedepan.
"Semalam saya memergoki Lia kapur Mudir" ucap mutia menunduk.
"Kamu ini! Kenapa tidak memberitahu pengurus yang lainnya?!" Mudir
"maaf mudir, saya diancam dan dipukul oleh Lia, saya tidak ada niatan untuk melindungi yang kabur dari pondok pesantren" jawab mutia sambil menunduk, dengn rasa takutnya berhadapan langsung dengn pimpinan pesntren.
Rasnya aku ingin membela wanita pujaan hatiku, seperti superhero pada umumnya tapi apalah dayaku yang ada akn menambah masalah.
Resiko jika ada yang kabur, satu angkatn yang terkena, jika ada yang melanggar entah itu terlat ke musholah, tidak kemusholah atau meroko, bawa handphone. Dan banyak juga hukumnnya.
Kami berbondong bondong ke asrama untuk mengganti baju. Selsai mengganti baju kami kembali kelapangan, mungkin hari ini hari apes mi juga mndapat hukuman pukul rotan. Setelah itu kami menuju dapur dengan jalan bebek.
Terdengar yang membicarakan mutia, rasanya ingin melempar mulutnya dengan batu.. huft.
"Gara gara Mutia nih, kita semua jadi kena.!!"
"Jangan nyalahin orang yang bukan pelakunya. Kalau ngomong jangan asal" afni yang menimpali membela mutia
Aku melihat mutia, pujaan hatiku hanya terdiam mematung ditemani dua sahabatnya temn temn yang lainnya ada yang mengobrol, bahkan smpat sempatnya ada yang menghafal hafaln al qur'an.
Hari semakin siang, 30 menit lagi jam makan siang, dan pergi ke musholah.
"Semuanya boleh kembali ke asrama. Setelh itu kembali ke kelas. Saya beri waktu 45 menit dri sekarang!! Mudir.
__ADS_1
Semua sudah bernafas lega karena hukuman telah berlalu, kecuali Mutia yang merasa cemas dan gelisah. Hingga lamunan nya buyar saat dua sahabatnya Afni dan Inayah memegang bahu mutia.
Aku berlari kencang agar bisa lebih dulu mandi dan segera makan siang. Aku terbilang kocak dan suka membuat onar hehe. Malu? Rasa malu aku tepis demi kemakmuranku, jika aku lembek yang ada aku akan selalu ditindas.
*******
Setelah dari musholah, aku segera pergi kekelas untuk melanjutkan tidur hehe, karena misiku nanti malam akan keluar dari pondok pesantren untuk membeli roko.
Saat aku membuka pintu kelas terdapat mutia dan afni sedang berbincang bincang entah apa yang mereka bicarakan.
Mutia terbangun saat mendengar aku membuka pintu kelas dan gadis itu segera meraih buku tulis itu dan mendekapnya.
Mata indah itu menatap ke arah ku dan mulai menjajakan langkah kakinya menujuku.
Sektika angin berhembus menggoyangkan hijb mutia yng hampir menutupi wajah ayunya.
Semakin mendekat langkahnya membuat jntungku berdebar hebat seperti dilanda sound sistem orang hajatan haha, langkahnya juga membuatku semakin mundur sampai sampai terpentok di bahu pintu.
"Aaww.." teriakku kecil
"Eh kmu kenapa?" Tanyanya, Mutia.
Baru kali ini aku mndengar suaranya yang halus saat bertanya padaku.. aseekk hehe sehingga aku tidak bisa menjawab sangkin jntungku berdebar tidak karuan.
"Euy gung, ngelamun bae.. awas itu mutia mau pke sepatu." Ucap Afni membuatku malu seketika.
Tiba di perbatasan pintu , gadis berjilbab ayu pujaan hatiku itu menundukkan tubuh, kedua tangannya meraih sepatu hitam itu dan memakaikannya di kakinya. Afni menatap wajah sahabatnya itu dengan lekat.
"Mut semangat ya, kalau bisa ajak Mudir buat hubungin budeh kamu." Ucap Afni.
"Aku selalu semangat ko ni, tpi sebelumnyaaku mau aja Isti, karena dia kan lebih ke saudranya." Mutia yng masih mengikat sepatunya.
"Dadah... Kalau ada apa apa panggil aku ya" afni melambaikan tangan.
Aku juga ikut melambaikan tangan sampai sampai afni mmergokiku. Haha.
"Eh gung, suka sama mutia ya?" Tanya afni meledek.
"Ah gk.. biasa aja" jawabku dan segera merebahkm tangan untuk tidur.
__ADS_1
********
Kira kira Mutia mau kemana ya???