
BAB 23
"Alasan mengapa sangat menyakitkan untuk berpisah adalah karena jiwa kita terhubung." - Nicholas.
Merindukan seseorang adalah salah satu perasaan yang paling buruk dan tidak menyenangkan. Banyak alasan rindu bisa muncul, seperti LDR, berpisah sementara, atau ditinggalkan. Obat rindu paling mujarab adalah bertemu. Namun terkadang kondisi dan jarak tidak mendukung sehingga yang diperlukan adalah bersahabat dengan waktu.
Setiap orang pasti pernah merasakan yang namanya rindu. Entah itu rindu kepada keluarga, rindu kedua orang tua, ayah, ibu, saudara, rindu sahabat, teman, rindu kepada pasangan, istri, suami, rindu kekasih, rindu pacar dan ada juga yang rindu pada mantan. Perasaan rindu biasanya dirasakan ketika sudah lama tak bertemu atau berjumpa dengan seseorang yang jauh di sana.
Biasanya perasaan rindu hanya bisa diobati dengan bertemu secara langsung.
Kedatangan Mutia membuat Fadil senang dan bahagian. Kini mereka sling melepas rindu degn cerita cerita yang selama ini terbentuk akan kesendirian dan kemandirian masing masing.
Mutia dan Fadil memasuki rumah yang dulu kerap dengan berbagai kenangan bersama Ayah.
"Dil.. kamu sehat dil?" Tanya Mutia.
"Adil sehat mbak, alhamdulillah." Jawab Fadil.
"Ibu mana dil?" Tanya Mutia.
"Ibu ikut ayah mbak ke Bekasi." Jelas nya Fadil
Mendengar itu, jiwa Mutia begitu muak, menagapa tega meninggalkan seorang anak dirumah sendirian walaupun tidak terlalu besar rumah nya.
"Loh ko adil disini?"
"Iya kan adil harus sekolah mba."
"Adil.. punya uang gk?" Tanya Mutia.
"Uang adil... mmm tinggal 70 mba, kenapa mba? Besok pulang ya?"
"Gk dil, mba masih dua hari lagi disini." Ucap Mutia.
"Kalau mau pulang nanti adil bilang ibu, minta uang ke ibu. Soalnya ibu juga belum kasih adil uang mingguan." Jelas nya Fadil.
"Gk usah dil, mba ada ko. Ouh ya dil ini uang buat Fadil." Mutia
menyerahkan selembar uang warna biru." Mutia menyerahkan uang kepada fadil.
"Gk usah mba..adil kan nanti dapet dari ibu." Fadil menolak pemberian Mutia.
"Ih ga papa dil, mba ada ko. Nih buat adil." Mutia menyerahkan kembali ke Fadil
"Makasih mba. Mba dapet uang dari mana?"
"Mba jualan dil, panjang ceritanya." Ucap Mutia.
"Dil mba mau makan.. mba laper." Mutia.
"Ada mie instan mba. Adil buatin ya." Ucap Fadil dan segera membuatkan Mutia mie instan.
Setelah mie dihidangakan, mereka makan bersama dan berbincang bincang.
__ADS_1
*******
Sore hari.. Mutia yang tertidur di depan tv yang menyala di ruang tamu yang beralas kan tikar, di sore itu juga Ibu Ami datang bersama suami baru nya.
"Assalammu'alaikum." Ibu Ami dan Suami nya masuk kedalam dn mendapati Mutia yang sedang tertidur.
"Mutia? Ayo yah masuk dulu, istirahat." Ucap ibu Ami mengajam suaminya menuju ke kamar.
"Subhannallah udah asar ternyata." Ucap Mutia dan segera ke kamar mandi untuk mensucikan diri.
"Mbak.. mba ini ada Ibu." Teriak nya Fadil
"Makan dulu dil, ibu bawa nasi padang." Ucap ibu Ami.
"Nanti bu, nunggu mba. Lagian cuma bawa buat fadil doang kan."
Mutia keluar dari kamar mandi, dan menyalami ibunya, kemudin berlalu ke kamar untuk mengerjakan ibadah Asar.
"Gk sopan. Ini salim dulu sama Ayah mu.!!" Ucap ibu Ami.
"Tia abis wudhu, Nanti batal." Ucap Mutia berjalan melewati ibu nya.
Waktu berjalan begitu cepat, hingga tidak terasa adzan maghrib berkumandang, setelah keluarga kecil itu melaksanakan panggilan maghrib, Ibu Ami mengajak anak anak nya untuk makan malam.
Namun mutia lebih memilih pergi ke ruang tv untuk makan menjauh dari orang tua dan adik nya.
"Mba sini makan bareng bareng, biar tambah nikmat." Ucap ayah barunya yang bernama Hafid
Tiba tiba ibu Ami mendekati Mutia dan menonyor kepala Mutia.
"Yang sopan!!" Ibu Ami.
"Ibu sopan gk begini!!" Bentak Mutia. Hatinya sangat sakit sekali ia tidak pernah membentak ibu nya bahkan memukul pun tidak pernah.
Entah mengapa ibu Ami berubah semenjak kepergian suami nya.
"Cepet sini" ibu ami menarik Mutia ke meja makan.
"Lepasin!!" Ucap mutia menggerak gerakan tangannya agar terleas dari genggaman tangan ibu Ami.
"sini duduk!!" Perintah ibu Ami.
"ibu berubah, ibu berubah gara gara laki laki ini !!"
"DIAM!!"
Petak...... ibu ami melempar centong nasi ke arah kepala Mutia.
"mbak.. ibu.. !!" Ucap Fadil dan segera memeluk mutia.
"Udah bu, udah.. mutia gk salah." Ucap suami nya.
"Ayah.. mba di timpuk ibu yah, ibu berubah banget.. hiks hiks" bisik hati kecil Mutia.
__ADS_1
"Mba.. yang sabar ya mba" ucap fadil dan mengusap usap rambut Mutia.
"Ibu jahat dil, ibu berubah." Ucap Mutia dengan isak nya.
Makan malam yang begitu mencengkam sehingga mereka masuk ke kamar masing masing.
********
Keesokan harinya panggilan adzan kembali membangun kan umat manusia.
Mutia bangun dari tidur nya, entah mengapa pagi subuh ini diri nya tiba tiba merasa sangat haus sekali. Ia pun melangkah menuju dapur dan membuka pintu kulkas untuk mengambil minuman dingin yang tersedia di kulkas.
Disaat Mutia sedang minum, seorang dengan pakaian kemeja berwarna putih menghampirinya.
"Mba" panggil Fadil membuat Mutia terkejut dan langsung menyemburkan air dari dalam mulutnya.
Huuuuftt
"Uhuk! Uhuk!" Mutia terbatuk.
"Astaghfirullah adil, ngapain bikin kaget sih.!?" tanya nya Mutia dengan mata yang melotot menatap pada Fadil dari atas hingga ke bawah.
Bagaimana tidak kaget? Mutia sedang tidak memakai hijab nya.
Walaupun hanya seorang adik, namun sudah terbiasa di pondo pesantren menggunakan hijab. Dan lebih parahnya lagi, Mutia hanya memakai celana pendek sepanjang paha Mutia membuat paha mulus dan putih milik Mutia terlihat jelas di mata Fadil.
"Yaelah mba, kaya liat siapa aja." Ucap Fadil
"Adik mau kemana?" Tanya Mutia.
"Mau keluar mba. Mau ikut gk?" ajak Fadil
"Yaudah ikut, bentar ya ganti baju dulu. " ucap mutia dan segera berlalu.
Saat Fadil sedang menunggu mutia di teras ibu Ami datang.
"Mau kemana dil?" Tanya ibu Ami.
"Mau keluar bu." ucap fadil
"Nih uang, di awet awet dua minggu ya kalau bisa." Ibu ami memberikan beberapa lembar merah kepada Fadil.
"Iya makasih bu. Tapi minggu depan adil mau ikut study tour bu dari sekolah."
"Gk usah ikut dulu deh ya.. lain kali aja." Ucap Ami.
"Ikut aja dil, nanti mba yang bayar" ucap Mutia yang datang tiba tiba dan mengagetkan ibu Ami. Ibu Ami yang medengar itu pun wajahnya berubah masam.
"So punya duit, duit dari mana kamu!!" Ucap ibu Ami.
"Ayo dil, jalan." Ajak Mutia.
"Heh ditanya malah pergi, gk punya kuping kamu hah?!!!" Teriak ibu Ami.
__ADS_1