
BAB 6
Pov Mutia.
Kehidupan dalam lembaga pondok pesantren yang begitu khas akan ciri khas suara merdunya yakni lantunan ayat ayat suci Al-Qur'an di pagi hari nan sejuk yang membuat hati menjadi tentram dan damai. Seorang santri yang begitu semangat berjuang tidak mengenal akan lelah, penat, dan pedihnya menuntut ilmu di pondok pesantren demi untuk menggapai cita cita masa depan yang cerah.
Hari ini adalah hari dimana aku piket kelas, dan seperti biasa aku membawa buku paketnya untuk menempati kursi belajar. Ouh ya, ruangan kelas di ma'had seperti ruang kelas universitas, tidak ada meja namun kursi yang didesign seperti kursi anak anak kuliahan. Aku menaruh buku dibagian barisan tengah, biar ngantuk tidak begitu terlihat hehe. Selesai piket kelas, aku bergegas menuju asrama untuk bersiap siap memakai seragam dan thobur (mengantri) makan pagi.
Teetttt tttttt .....
Bel berbunyi dijam *** pagi. Seperti biasa semua santri berlarian menuju kelas agar tidak terkena hukuman.
Sebelum ke kelas, aku dan temanku Afni bagian bahasa mengechek satu persatu kelas untuk bertadarus terlebih dahulu sebelum para wali kelas masuk untuk mengabsen murid muridnya.
Afni qism atau pengurus bahasa ternyata satu kelas denganku.
Sesampainya dikelas, ketika aku duduk dan mengmbil buku, ada sepucuk lembar kertas dan tulisannya sama persis yang aku terima kemarin.
"Jangan lupa SENYUM, semongko !!"
"Ni.. ni.. tau tulisan ini gk?" Tanyaku pada Afni.
"Gk mut, eh siapa ya, Kaya pernah liat. Cie cie penggemar misterius, haha nanti deh aku cocokin sama buku buku yang ada dilemari." Afni.
"Hmm siapa ya, iseng banget. Tar kalau ketauan bisa bisa aku disidang !" Batinku.
Sepanjang pelajaran ada yang seseringkali mata memandang, tapi aku tidak peduli. Sekarang tujuanku sebisa mungkin aku bisa unggul dikelas ini.
Seiring berjalannya waktu, karena banyaknya aktifitas membuatku tumbang, baru kali ini aku izin tidak masuk kelas karna sakit, disaat seperti ini aku sangat merindukan ayah, biasanya jika aku sakit tanpa memberi kabarpun ayah selalu sigap menelphon kantor ma'had bahkan mengunjungiku secara tiba tiba. Mungkin itu yang dikatakan ikatan batin seorang ayah kepada anak gadisnya. Dan kini hanya tinggal kenangan.
Setelah subuh selesai, aku dan santri santri yang sakit dipindahkan ke ruang sakit, aku beruntung skali memiliki teman teman seperjuangan yang sling rangkul merangkul.
Banyak yang menjenguk, menghiburku agar lekas pulih.
Saat *** malam selesai, waktunya santri santri beristirahat, sahabatku Innayah sengaja tidur menemaniku di ruang sakit termasuk Afni juga. Ketika kami sedang bercanda gurau.
"Assalammu'aaikum, ada yang namanya ka Mutia katana qism Pers.!" Tanya salah seorang santri baru kelas 1.
"Wa'alikumsalam" jawab kami dan beberapa santri yang sakit.
"Saya, ada apa dik?" Tanyaku.
__ADS_1
"Ini kak, ada titipan. Katanya buat ka Mutia" jelasnya
"Wah dari siapa ini ?" Tanyaku
"Gk tau ka, katanya kasihkan aja untuk ka Mutia."
"Syukron dik" jawabku tak mau bosa basi.
Setelah adik santri itu pergi, aku segera membuka plastik yang berlogo indomart. Terdapat roti tawar, selai strawberi dan 5 bearbrand.
"Maasya Allah" ucapku bingung namun terharu.
"Penggemar misterius lagi nih pasti haha" goda Afni.
"Ck, kamu nih ngeledek mulu ni."
"Eh bentar deh, ini ada suratnya" ucap innayah.
Aku langsung merebut surat itu, malu, akh ya malu sekali. Apalagi ada teman dan santri yang sedang sakit.
"Syafakillah, jangan lupa senyum"
"Tulisan yang sama ini mut" terang Afni.
"Ck, biarin deh, nih makan aja roti tawarnya, aku gk bisa makan roti, nanti lambungku sakit lagi." Jelasku agar mereka tak meledekku lagi.
Maslahah cinta atau jodoh, aku tidak terlalu memikirkannya. Bagiku ilmu yang paling utama, ilmu harus dicari sedangkan jodoh pasti akan datang sendiri.
Jodohmu cerminanmu! Itu yang selaluku ingat.
Allah Maha baik, sangat baik! Ditengah kesibukanku dan banyaknya aktivitas dalam menuntut ilmu ditambah adanya santri baru, Allah masih memberi rasa yang begitu indah dikelilingi banyak teman teman yang baik.
Menjatuhkan hati, pada seorang hamba yang begitu dekat dengan Rabnya, yang harus dirayu bukan nafsunya lagi! Melainkan Rabnya, pemilik raga dan jiwanya.
Akan kujaga rasa ini tetap suci, karena rasa cinta itu sebuah anugrah yang begitu indah Harus selalu terjaga kesuciannya.
Kadang rasa cinta juga bisa membuat kita jatuh ke dalam jurang kehancuran, maka dari itu, kita harus menempatkan Allah diposisi permata dalam hatimu, agar hatimu tidak mudah layu.
Esok hari aku masih izin untuk tidak ikut ***, arena lmbungku masih belum pulih. Alhamdulillah teman temanku banyak yang menjenguk dan memberi semangat. Semenjak mereka tau ayahku telah pergi, mereka teman temanku lebih care dan perhatian.
"Semangat ya mut, jangan makan yng pedes pedes dulu, semenjak kamu sakit, smua pngurus jadi gk smangat nih. Hehe" ucap salah satu temanku Elva.
__ADS_1
"Cepet sembuh ya, pikirnnya dilossin aja." Teman temnku yang lain.
********
Malam itu aku terbangun ingin ke kamar mandi, sengaja aku minta ditemani oleh Afni, yang masih bangun sedang baca buku novel. Malam ini sangat berbeda, tumben sekali hening, sunyi, seperti tidak ada kehidupan. Biasanya jam 12.30 malam masih banyak santri sntr yang mengobrol, nyuci dan menyetrika baju. Namun ini tidak.
" ni anterin kamar mandi ni." Pintaku.
Aku berjalan dituntun Afni, karna perutku masihskit dan alanpun tidak bisa tegak. Tidak lama lampu asrama mati dann....
aakkhhh..... tolong. !!!!
"Ni..ada apa ni?, ayo buruan keatas !!" Pintaku.
"Mut..mut..pelan pelan mut, masih akit kamu
Terdapat teriakan dilantai dua kamar pojok. Saat aku melangkah keluar kamar mandi, ada seorang santri berjalan menuju kekamar mandi tergesa gesa menggunakan hijab warna merah maroon. Sekilas aku bertatapan matanya aneh, namun aku abaikan karna mendengar suara seorang santri yang sedang berteriak teriak di kamarnya.
Dengan sekuat tenaga aku menahan sakit dan akupun berlari ke kamar lantai dua pojok dekat tangga dan melihat dia sedang ketakutan.
Santri dikamar ini sudah berkumpul dipintu karna dua temannya yang sedang ketakutan.
Akupun bertanya kepadanya
"ada apa? ".
Dan dia menjawab" Ada orang di bawah ranjang ku, trus ke arah kasur dea, aku pikir hanya candaan kak "aku yang penasaran pun melihat ke bawah ranjangnya.
"Gk ada apa apa kok.!! Jawabku.
"Tadi kancing bajuku dibuka ka, aku takut ka!! Santri itu sambil menangis.
"Ciri cirinya bagaimana?" Tanyaku paksa.
"Dya tinggi tapi pake krudung merah. Begitu aku bngun dan triak dya lari kak." Jelasnya
"Hah..jangan jangan yang tadi ni!!"
Aku yang terkejut pun langsung berlari keluar menuju kamar mandi disusul Afni. Hingga aku menyadari bahwa krudung merah tadi sudah lama menghilang. Hanya menyisakan kerudung merah di daun pintu yang sudah terbuka setengah.
"Aakkkhhh tolong !!!....
__ADS_1
Lampu tiba tiba mati kembali.