Kasih Sayang Palsu !!

Kasih Sayang Palsu !!
Teman Cerita


__ADS_3

BAB 10


"Haha" Afni dan Innayah terawa karena menmanggil mutia kompak


Mutia yang sedang merapikan hijabnya pun reflek menoleh pada Afni . Afni menatap wajah Mutia yang sendu, mata indahnya yang mmbesar karena menangis  dengan lamat, ia sangat mengagumi wajah cantik milik Mutia tetapi alasan ia mengagumi Mutia bukan karena wajahnya saja tetapi sifat Mutia yang pantang menyerah dan selalu menutupi kesedihannya dengan senyuman, namun kali ini Mutia terlihat lgi akan kesedihannya. Afni dan Innayah akan selalu menemani Mutia.


******* 


Mutia mulai mnceritakan tentang masalah sesuai fakta yang harus ia terima dalam hidupnya saat ini. Kenytaan pahit harus di terima oleh mutia. Innayah dan Afni mnyimak apa yng mutia ceritakan. Mutia bercerita sedetail mungkin tanpa mngurangi apapun.


"Sttt, jangan gitu Mut. Mau kaya gimanapun ibu kamu tetep orangtua kamu yang lahirin kamu." Innayah


"Kita akan selalu ada buat kamu" Afni


"Makasih ya, kalian udah baik bnget ke aku" jawab haru Mutia. Mereka pun berpelukan.


Tiga orang itu menikmati suasana Ruang Osis yang tenang, sesekali mereka bertiga bertawa Ria bersama. Tanpa mereka menyadari sepasang mata sedang menatap mereka dengan tatapan tajam. 


Hari semakin sore, semua santri harus melanjutkn aktifitas *** nya, setelah menunaikan kewajiban sholat.


*******


Jam sudah menunjukan pukul 02.33 malam mnjelng pagi  Mutia terbangun dari tidurnya, karena ia merasa tenggorokannya kering, saat menoleh botol minumnya kosong. Mutia pun pergi ke lantai satu untuk mngisi botolnya yng kosong, galon itu dekat gerbang asrama. Ouh iya tempat galon galon berada untuk mengambil minum. Saat Mutia menuruni anak tangga tiba tiba saja semua lampu mati.


"Kenapa lampunya mati lagi, apakah ada aliran listrik? Atau pondok lupa bayar iuran listrik?" gumam Mutia sambil mempercepat jalanannya untuk mengambul air minum.


Prang ...!!!


Tiba-tiba saja ada suara benda pecah, yang berasal dari luar asrama, suaranya terdengar dekat seperti erada di tangga darurat yang tersambung langsung lantai dua. Atau dekat ruang sakit.


"Suara apa itu? Jangan jangan ada maling lagi apa hamba Allah lagi., ini gak bisa dibiarin!" gumam Mutia menggambil sapu yang ada didekatnya, mutia pun berjalan kearah luar Asrama dengan pintu gerbang yang mungkin secra tiba tiba atau kebetulan tidak tertutup rapat, sehingga Mutia mudah kluar tanpa membuat suara.


Saat Mutia sudah sampai di depan gerbang asrama, mutia segera menyalakan saklar pusat listrik asrama santriwati dan segera berjagadibawah tangga darurat. Selintas ia melihat ada bayangan hitam yang bergerak, bayangan hitam itu mengendap endap seperti menyingkirkn brang brang yang ada ditangga dengn peln pelan. Mutia tidak bisa melihat dengan jelas bayangan itu karena ditangga drurat itu tidak ada pnerangan namun tidak terlalu gelap karna dibantu cahaya lmpu dari teras gerbang asrama.


"lni mah beneran hamba Allah lagi, sebaiknya aku beri pelajaran!" ucap mutia pelan sambil mengikuti bayangan hitam itu dan melangkahkan kakinya ke tangga dengan sangat pelan.


Buk, buk, buk...!!

__ADS_1


Mutia memukul orang itu dengan sapu.


"Rasakan ini!" Ujar mutia yang masih setia memukul.


"Arghh ...! berhenti! Apa yang kau lakukan arghh ,..." ucap orang itu.


"Se sepertinya suaranya aku kenal," ucap mutia dan mulai berhenti memukuli orang itu.


"Hah.. lia!" ujar mutia kaget, karena orang yang ia pukul adalah Lia. Lia adalah anak sahabat dari ayah mutia, dulu mutia dijuluki tiga serangkai karena masuk pondok bersama Lia, mutia dan isti. Semakin naik kelas dan beda kelas mereka kini jarang berkumpul atau sekedar mengobrol. Hubungan mutia dengan lia juga tidak bagus, karena sikap iri Lia yang membuat dirinya membenci mutia.


"Mutia ! " ucap Lia sinis, kesal.


"Maafkan aku lia, aku pikir lia adalah maling atau hamba Allah !


Lagian kamu kenapa Lia berjalan mengendap endap seperti maling, akukan jadi curiga." cibir Mutia.


"Bukan urusan lu, gua mau ngapain kek. Kenpa sih gua harus ketemu sama lu, lagi lgi gua harus apes ketemu sama lu!! " sewot Lia kepada Mutia.


"Maaf! Hmm kalo gitu saya pergi dulu dadah!" Mutia sambil berlari masuk ke asrama, akan tetapi Lia mencengkeram keras tangan mutia.


"Jangan melarikan diri, lu harus gua kasih hukuman! Karna lu udah gebukin gua pake sapu.!" ucap Mutia sambil mendorong tubuh Mutia dengan kencang.


"Arggh ....!"


Brakkk!!


Lia menutup gerbang kasar, lalu Lia pun mengambil pengki yang terbuat dari kaleng. Dan perlahan lahan Lia berjalan kearah Mutia yang sedang tersungkur arena didorong oleh Lia tadi.


"A ampun Lia, aku minta maaf!" ucap mutia sambil mengesot mundur sehingga terpentok pembatas rak sepatu sntriwati . Lia pun mendekatkan wajahnya kewajah Mutia. Mmegang muka mutia.


"Gua benci sama lu!" Lia memukulkan pengki seng itu tiga kali ke kepala Mutia sehingga mengeluarkan sedikit darah.


"aarrgh Lia. Cukup Li." Mutia mmohon, meringis kesakitan.


"Mamp**s lu!!, gua pergi bye!" Lia pergi dengan membawa tas tasnya untuk kabur dari pondok pesantren.


Mutia melongo selepas kepergian Lia. Ingin rasanya mutia mengejar dan berteriak namun jiwnya menciut, luka dikepaanya cukup terasa nyeri.

__ADS_1


"Sebaiknya besok aku ngomong sama isti. Biar isti aja yang bilang sama budeh" Ucap mutia sendiri, mutia pun berlalu ke kamar dan segera mengobati lukanya dan menutupnya dengn plester hansaplas.


*******


Keesokan harinya ...


Mutia izin tidak pergi ke musholah karena mutia belum bisa tertidur selepas Lia memukul kepala mutia.


Waktu singkat kegiatan selepas subuh, mutia gunakan untuk beraktivitas mencuci baju dan mandi. Selepas itu mutia pergi ke Dapur umum untuk membantu memasak karena pagi ini kedapatab jadwal mutia membantu memasak sarapan pagi dibntu oleh Afni.


Sesampainya didapur mutia danAfni segera mengerjakan apa pun itu yang sudah disiapkan oleh kak Agus alumni santriwan yang mngabdi di pondok pesntren untuk bantu membantu didapur, selain perbntuan didapur kak Agus juga mengajar matematika MTS kelas satu.


Setelah usai memasak tahu tempe dan sambel goreng, dengan telatennya mutia menata semuanya di bakul dibagi dengan sangat adil juga tnpa mengurangi jatah santriwan, santriwati dan akan dibawa ke dapur santriwati oleh santriwan yang sedng piket pagi.


Didapur santriwati...


Semua santri berbaris rapih, terdapat dua barisan, dua jendela yang dibuka untuk mengantri pembagian sarapan pagi.


"Mut, jidatmu kenapa? Kemaren gk bgtu." Tanya Afni 


"Nanti aku cerita ya ni" jawab mutia.


"Sekarang aja ceritanya. Nnti mah gk cerita" Bujuk Afni.


"Aku pasti cerita ko, kan kamu temen cerita aku." Goda mutia.


Selesai para santri mengantri, kini giliran Mutia dan Afni juga menikmati makan bersama, tidak lupa mereka berdua mngmbil sisa makanan untuk di santap saat istirahat.


Tiba tiba Isti datang dengan khawatirnya.


"Mutia.. kamu liat Lia gk?" Isti


Mutia dan afni sling menoleh.


*******


Kira kira mutia akn cerita gk ya????

__ADS_1


__ADS_2