Kasih Sayang Palsu !!

Kasih Sayang Palsu !!
Perasaan Aneh


__ADS_3

BAB 19


Pov Mutia


Hari hari dilewati dengan beban pikiran, dipaksa oleh keadaan yang begitu singkat. Kehidupan yang begitu singkat setelah kematian sang Ayahku. Menghancurkan mental, namun aku dan Fadil adikku bertahan karena pesan yang pernah di ucapkan Oleh ayah.


"Tetap maju walaupun sangat menantang ".


Dunia ini terasa berhenti, ketika aku harus siap menerima kenyataan pahit, ditinggal seorang ayah dengan keadaan ibu tidak peduli kepada anak anaknya. Ku ingin ayah ku kembali, tapi tidak akan pernah kembali dan itu sangat mustahil hanya mimpi, ingin memiliki seorang ayah, seperti ayahnya semua orang. Seorang ayah yang dapat mendengar harapanku dan kekhawatiranku.


******


"Biasanya seseorang kesal dengan kehidupan yang dihadapi karena merasa kecewa atau usaha yang dijalani selama ini berujung sia sia. Rasa kekecewaan ini dapat semakin meningkat ketika orang orang di sekelilingmu tidak memberikan support atau justru melontarkan komentar komentar negatif yang menjatuhkanmu.


Yaps, memang kehidupan nggak selamanya bikin senang. Terkadang kita harus belajar mengenai arti kecewa. Perasaan sedih dan kecewa juga penting untuk kehidupan kita, hal tersebut dapat memberikan pelajaran tentang pandangan orang lain dan juga rasa ikhlas menerima hasil. Karena tidak semua hasil yang kita terima akan sesuai dengan yang kita bayangkan.


Meski begitu, jangan sampai kita atau kamu merasa jadi orang satu satunya yang paling menderita tinggal di bumi ini. Kamu tidak sendirian, banyak orang yang juga merasakan hal tidak adil dalam hidup. Kamu boleh untuk merasa sedih, kecewa, bahkan menangis kok.


Mengungkapkan perasaan dapat meredakan rasa stres dan juga meminimalisir risiko depresi. Coba ceritakan permasalahanmu pada teman, psikolog, atau seseorang yang kamu percaya dapat memberikan energi positif."


Tertanda, Mutia 30 Agustus 2014


Aku menulis hanya untuk menumpahkan sedikit rasa yang tertahan di hati.


Malam *** ini sangat begitu hampa, seperti hatiku yang hampa ini hehe.. saat ingin keluar kelas untuk sedikit menghirup udara, langkah ku tertahan karena suara yang tidak asing datang ke kelas.


"Lagi pada ngapain ini?"  Ustad Bngkit.


"Belajar ustad.." jawab teman temanku.


"Mau kemana mut?" Tanya ustad Bngkit padaku.


Akhirnya aku mengurungkan niatku untuk keluar, aku kembali duduk.


Kenapa ya ko tiba tiba hati aku gk karuan.


Ustad bangkit menyuruh kami untuk menyobek kertas dan menyiapkan pensil atau pulpen, kmi diperintahkan untuk menggambar hewan kucing. Entahlah maksudnya apa. Namun ustd Bngkit ini memang suka sekali random membuat para santri nyaman dibuatnya entah itu saat belajar atau sedang konsultasi. Untuk fisiknya biasa biasa saja. Tidak tampan tidak pula jelek.

__ADS_1


Setelah menggambar kucing satu persatu diperiksa olehnya. Saat giliranku.


"Kamu ini baik, dramatis, gampang kepikiran." Ucap ustad Bangkit.


"Hah??" Ucapku tidak percaya.


Begitu juga semua teman temanku dibaca gambar kucing nya olehnya.


"Harus kuat ya jalanin kehidupan ya mutia." Ucap ia lagi.


Entah perasaan aneh apa ini, kenapa rasanya jantung ingin copot.


Teeettt....


Bel jam *** malam selesai. Teringat cucianku banyak, aku buru buru mebereskan buku dn alat tulisku.


Saat ingin melangkah..


Buggh !!


"Aduuh.. sakit sekali kakiku"  ucapku lirih.


Kesandung??" Tanya ustad Bangkit, beberapa teman teman mnertawakanku. Malunyeee....


"Ga papa tad, .. permisi" ucapku dan berlalu.


"Mut.. tunggu, bareng napa" Afni mengejarku.


"Aku mau nyuci ni, biasa kan harus rebutan keran." Ucapku dan setengah berlari.


"Badaqi na'am ( setelah kamu ya )" ucap Afni dari kejauhan.


aku membuat lingkaran ok seperti telunjuk bertemu jempol tangan.


"Ck.. mutia muati, hadehh sumpah malu banget si aku, kenapa pake acara nabrak kursi segala sih"


Disepanjang jalan menuju ke asrama, aku tak henti hentinya berbicara sendiri betapa malunya aku tadi, kenapa harus segala nabrak kursi ada ustad Bangkit pula.

__ADS_1


Santri santri melihat ku yang sepnjang jalan bicara sendiri..mereka mungkin liat aku ngomng kaya gini pasti dikira aku lagi stress..haha.. Lagian kenapa aku tadi bisa segerogi itu ya didepan ustad bangkit, aneh banget nih perasaan. Huft tenang, aku harus tenang.


Sesampainya di asrama, kebetulan juga aku yang pegang kunci gerbang, sehingga membuatku mudah menerobos ke kamar mandi untuk menempati kran air.


Aku taruh ember yang sudah ku beri nama, agar santri yang mau menyelak bisa liat dulu namaku. Semua peralatan aku beri nama sebesar mungkin, agar tidak terjadi gosop menggosop, atau istilah mengambil tanpa izin. Bisa disebut mencuri juga.


Di pondok pesantren siapa cepat dia dapat. Karena keran kamar mandi tidak banyak, dan terjadilah saling rebutan, mengantri, bahkan pernah sampai berantem gara gara rebutan kamar mandi atau keran.


"Awwww..." Ucapku saat tiba-tiba ada yang menarik tanganku dengan cukup keras dan membuatku mundur 3 langkah.


"Aku duluan disini!!" Ucap Mia meninggikan suara. Mia teman angkatanku si murid baru.


Disitulah aku nampak jelas siapa yang menarik tanganku. Aku bukan orang yang lemah akan gertakan. Dan gertakannya tidak membuatku takut. Disini kami ribut, sehingga beberapa santri menoleh ke kami.


"Limadza ukhti? ( kenapa ukhty ? )" Tanya Afni yang muncul di pintu utama kamar mandi dan menghampiri ku.


"Ana awalan huna afni, hadha alrajul yuthir dajatan!! ( aku duluan disini afni, ini orang ngajak ribut!! ) ucapku kesal.


"Afwan ya Mia, Mutia awalan. Labasa anti tobur ba'di." ( maaf ya Mia, Mutia duluan, ga papa ya kamu ngantri setelah saya.) Ucap Afni tenang.


Mia menghentakan kakinya, kesal kemudian ia pergi entah kemana. Mungkin pergi ke mars.. huft


Jujur, aku tidak tahu apa yang menyebabkan Mia membenci ku, dan ini bukan untuk pertama kalinya aku diperlakukan seperti ini, bahkan beberapa hari yang lalu ranjangku dibuat basah olehnya.


Aku menyuruh afni untuk memanggil inayah, agar membantuku mencuci baju, kami bertiga mempunyai bagian masing masing, seperti mencuci baju akudn inayah, menyetrika hanya Afni, karena Afni kuat begadang. Namun kadang kami kerjakan bersama sama.


Hampir aku lupa dengn baju baju Syahidah. Aku juga ikutsertakan baju baju syahidah untuk aku cuci.. namun dipisah karena ada darah luka scabiesnya.


Alhamdulillah sampai saat ini aku mencuci baju syahidah, aku tidak tertular sedikit pun mengenai sakitnya bahkan aku juga tidak pernah mencium bau amis atau bau nanah. Semua yang dikatan oleh orang orang aku tepis sehingga Allah SWT menjaga indra penciumanku dan menguatkan daya tahan tubuhku.


Selesai mencuci aku dan inayah menggotong ember ke jemuran lantai empat. Luar basa syekali dri lantai satu sampai ke lntai empat, blum anak tangga yang lumyan panjang.. haha


"Berat berat.. bentar berenti dulu" ucapku.


"Ha.. ha.. ha.. capek ye.. yuk cap cus.." ucap inayah. Kami kembali mngangkat ember dan sampailah ke antai 4 jamuran santriwati.


Huft.. lumayan loh kalau setiap hari pastinya encok.

__ADS_1


Aku dan inayah menjemur baju, kadang kami bercanda.. dan serius agar cepat selesai. Setelah menjemur baju aku dan Innayah menju Afni yang sedang menyetrika.


Seperti biasa kami bermalam di jemuran, menemani Afni. Segala rupa cemilan dan minuman sudah disiapkan afni, agar kami tidak mengantuk, tapi tetap aja akhirnya kami tertidur sampai Afni yang membangunkan aku dan innayah.


__ADS_2