
BAB 13
Pov Author
Di rumah Lia, diruang tamu lia mengamuk karena permintaanya tidak di indahkan oleh ibunya. Lia mngambil piala yang ada dilemari dan melempar nya ke meja kaca.
Prannggg !!!
"Mba lia.. udh mba, ya Allah" ucap ibunya Lia dengan isak tangisnya.
"Bagi duit!!" Ucap Lia dengan kasarnya.
"Bapak belum pulang mba, ibu gk punya uang" ucap sang ibu.
"Gk percaya, lu ngejait duit dikemanain?" Ucap lia dengn suara lantangnya. Ibunya lia sehari hari nya menjahit baju, bapaknya lia menjual pakaian di pasar dan mmpunyai kios cukup ramai namun tidak besar.
Lia anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adiknya masih kecil. Lia terpaksa masuk ke pondok pesantren demi memenuhi keinginan bapak nya. Karena di pengajian hampir semua ank naknya masuk pesntren.
Amukan lia semakin menjadi jadi semua yang ada diruang tamu diempar lempar sehingga mengundang para tetangga terpncing untuk meiihat apa yang terjadi.
Prang...
Prang...
Prang..!!
"Mba udah mba lia, nanti bapak marah mba" pinta sang ibu.
Para tetangga yang berkumpul, hanya bisa menonton tidak berani masuk karena lia cukup terkenal dengan kekasarannya,
Prang
Prang
Prang
"Ada apa toh ?" Tanya seorang tetangga yang baru datang.
"Itu anaknya mba Sri, biasa ngamuk"
"Iya udah biasa begitu mah!" Timpal ibu ibu yang lain.
"Bukannya di pesantrenya bu" ucap salah seorang tetangga.
"Tadi pagi sampe rumah bu, lewat depn rumah saya bawa tas" ucap ibu ibu.
Gasrak gusruk ocehan para tetangga mulai berkerumunan. Biasa ya guys namanya juga tetanga.
"Buruan bagi duit!!" Ucap lia. Tidak ada jawaban dri ibunya hanya tangisannya, lia pergi kedapur matanya mencari dimana leak pis*u.
Setelah mendapatkan pisau Lia kembali ke ruang tamu dan langsung menyerang ibunya dengan melempar pis*u nya ke bagian muka sang ibu dan hampir saja pis*u itu.
__ADS_1
Mengenai muka ibu nya. Dan disaat itu juga ibunya Isti atau adik dari ibunya Lia datang.
"Mba udah mba.. " ibu Sri sambil menahan pisau yang di pegang Lia mengarah ke dadanya.
Melihat kakanya yang hampir diterkam oleh anaknya, ibu endng atau ibunya isti berlari dan menarik Lia hingga jatuh tersungkur.
"Astagfirullah mba Lia, kerasukan apa kamu hah?! Itu ibumu." Ucap ibu Endang.
"Diem lu!!" Lia dan melempar pis*au itu kmudian berlari ke kamar untuk mengemasi bajunya.
"Mba gpp? Minum dulu mba.." ibu endang mengambilkan minum dan memberikannya ke ibu sri.
"Bu ibu.. kenpa ini berantakan." Bapak nya lia mengamati seisi ruang tamu yang berantakan.
"Heh mau kemana kamu?!!" Tanya bapak lia melihat lia melewati sang bapak dengan matanya yang melotot dan merah. Begitupun nafasnya naik turun.
"Mau kemana kamu heh!!" Ucap bapak dan mencekal tangan Lia dengan erat.
"Lepasin!! Lepasin anj***." Ucap Lia kasar dan menghentak hntakan tangannya.
"Ngomng sekali lagi, cepet ngomong sekali lagi!! Entak bapak.
"Lepas anj** t**lol !!"
PLAK PLAK PLAK.. suara tamparan yang menggema.
"Bapaaakkk.... astaghfiullah Hal'adzim bapak..." ibu Sri berlari ke Lia yang terjatuh karena tamparan sang bapak dan membuatnya berkunang kunang.
"Mas udah mas" ibu endang.
"Dasar anak gk tau di untung, gk tau terimakasih" ucap bapk dan berlalu kedalam mngambil kunci kios yng ketinggalan.
"Awas" lia mendorong ibu Sri dan berlari pergi.
"Astagfirullah Hal'adzim" ibu Sri menangis dan menyesali perbuatan Lia yang kasar.
Tidak lama bapak lia datang membawa tali pecut
"Mana anak Durhaka itu?" Bapak
"Bapak.. bapak mau apa pak? Ibu sri sambil memegang tangan sang suami.
"Kamu juga jadi ibu gk becus" melempar tali pecut dan berlalu pergi.
Ibu endang berusaha menenangkan ibu sri dan membantu membereskan rumahnya yang sudah terlihat acak acakan.
********
Di pondok
Mutia berjalan ke ruang Osis memenuhi panggilan Mudir untuk dimintai keterangan lebih jelasnya. Tak lupa Mutia juga mengajak isti sebagai saudara Lia.
__ADS_1
"Aku takut mut, nanti kita kena hukuman lagi gk ya?" Tanya isti pada Mutia.
"Gk insya Allah ti." Jawab mutia tersenyum simpul diwajah ayunya.
Sesampainya di ruang Osis. Tak lain halnya orang Indonesia pasti ada kata terlat tidak hanya seorang murid melainkan ustadnya pun suka terlat.. hehe..
Mutia dan Isti menunggu mudir diruang Osis sambil merapihkan beberapa barang barang yang terlihat berantakan.
"Assaammu'alaikum" suara bariton yang terdengar sedikit berat, siapa lagi kalau bukan mudir.
"Wa'alikumsalam" jawab Mutia dan isti.
"Duduk neng. Sini" ajak mudir. Mutia dan isti mengekor mudir dan duduk berhadapan dengan mudir yang ditemani kepala keamanan.
"Itu kepala tidak apa apa?" Tanya mudir.
"Gpp mudir, hnya masih sakit, kadang terasa pusing" ucap Mutia.
"Nanti periksa aja ke klinik. Kasih tau bagian kesehatan ajak mutia untuk dibawa ke klinik luar, takutnya kena saraf atau apa." Ucap mudir kepada bagian kelapa keamanan.
Mudir dan mutia, isti pun berbincang bincang, mutia menjelaskan kronologinya kembali.
"Saya bukan saudara atau sepupunya Lia pak mudir, saya hanya sudara jauh yang kenal lia dan isti saat pengajian orang tua berkumpul." Jelas Mutia.
"Ouh begitu. Isti bisa telp orang tua lia?" Tanya mudir.
"Bisa mudir, tapi sepertinya saya akan menelpon ibu saya pak, karena rumah kami dekat tidak terlalu jauh." Ucap isti.
Mudir mengangguk dan mengisyartkan tangannya kepada kepala kemanan untuk mmberikan telp kantor osis.
Setelah diberikan kepada isti, isti segera menelphone ibu.
Beruntungnya telp itu segera diangkt oleh ibunya.
"Hallo, assalamu'aikum mah. Ini mb isti" ucap isti
"Wa'alikumsalm mb isti. Ada apa mba isti? Mamah lagi ditempat budeh sri." Ucap ibu endang disebrang telp yng tersambung.
"Mah, lia kabur. Lia udah sampe rumah belum? Kita kita dihukum smua gara gara lia kabur mah" ucap isti.
"Iya mba tadi lia dirumah, sekarang udah pergi lagi" ucap ibu endang.
"Mah, mudir mau ngomong sama mamah" ucap isti dan memberikan telp kepada mudir.
Mudir menerima telp dan berbicara kepada ibu endang, dengn banyak pertanyaan pertanyaan yang dilontrkan oleh mudir dimana lia? Bisa diantrkan ke pondok? Bagaimna keadaannya? Kenapa kabur ? Dan lain lain. Ibu endang menceritakan semua yng terjadi pada pagi hari tadi.
"Insya Allah nanti kalau anaknya sudah pulang, saya bujuk dan sya antarkan ke pondok. Mohon maaf atas ulang Lia semua teman temanya jadi kena imbas"
Telp diputus sepihak dari ibu Endang. Kemudian isti dan mutia berpamitan untuk kembali ke kelas dan mengikuti pajaran kelas nya kembali.
Mutia dan isti berpisah menuju kelas masing masing.
__ADS_1
Syukron.. next bab selnjutnya ya....