
BAB 26
Semua makhluk hidup suatu saat akan bertemu dengan hari akhir. Sebab, dunia ini hanyalah sementara. Kamu hanya singgah sebentar, semakin hari umur terus berkurang, makin dekat pula dengan kematian.
Tidak ada yang pernah tahu tentang hidup dan mati.
Ajal tidak memandang usia, jenis kelamin, derajat, paras, serta lainnya.
Hilangkan rasa sombong dan ingatlah ajal bisa menghampiri kapan saja. Belajar tentang kehidupan dipadukan dengan agama, bisa jadi ilmu untuk bekal di hari nanti.
Malam semakin larut, rindu datang dengan semilir angin menerpa wajah ayu mutia. Gelisah tidak bisa tidur pikirannya tertuju pada neneknya yang di jawa tengah.
"Kenapa aku sangat rindu mbah putri? Apa kabar mbah?" Ucap mutia yang berdiri diteras balkon depan kamarnya di lantai 2 asrama.
Sebelum pindah ke jakarta pada saat kelas 5 SD sampai kelas 6, masa masa kecil Mutia bersama dengan kakek nenek nya hnya Fadil yang ikut dengan ibu dan alm ayah.
"Kak" panggil chika yang datang menghampir mutia.
Mutia menoleh.
"Kak.. kenapa belum tidur?" Tanya chika.
"Ga papa chik" ucap mutia, bulir bulir bening mmenuhi mata indah mutia seakan ingin terjatuh melewati pipi mulusnya.
"Beneran kk ga papa?" Chika
"Ka mut,, baju aku udah di setrika?" Ucap syahidah yang tiba tiba datang.
Mutia segera mengusap air matanya dan menuju kamar. Chika yng mlihatnya merasa cemburu kembali. Syahidah menunggu didepan kamar.
"Blum tidur chik?"
Chika hanya terdiam. Tidak lama kemudian Mutia datang membawa baju syahidah yang sudah selesai disetrika.
"Ini dek" mutia mnyerahkan baju syahidah
"Makasih ka.. ini ka roti buat kakak"
"Ba bye kak.." ucap syahidah dan pamit pergi.
Mutia mengangguk.
"chik tidur sana, takut besok terlat" ucap mutia
__ADS_1
"Chika mau ngobrol sama kakak" ucap chika berharap mutia mengiyakan.
"Udah malem chik, besok aja ya.." mutia berjalan menuju ranjngnya yg terlihat dari pintu.
*******
Di tempat lain
Ibu Ami sedang berbincang bincang di telphone bersama ibu nya atau biasa yang disebut mutia Mbah Putri.
"Mi, mutia mana? Emak pengen ngobrol." Ucap mbah putri menanyakn mutia.
"Mutia di pesantren mak, nanti kalau pas jenguk ami telpon emak ya"
Mereka saling bercerita melepas rindu hingga larut malam memisahkan sambungan telpon mereka.
"Mie mak pesen yang sabar ya, yang kuat jalanin kehidupan pesen mak.. jangan pernah ninggalin anak anak." Ucap emak.
"Yaudah mak, nanti paling seminggu lagi ke pondok ya, mak sehat sehat ya. Assalammu'alaikum" ucap ibu ami memutus telphone sepihak.
"Mas kenapa perasaanku gk enak ya, tumbenan emak ngomongnya lancar, udah 2 th emak kan pelo karna struk ringan."
"Doain aja yang terbaik ya dek, semiga emak sehat selalu" ucap pak hafidz menenangkan.
"Iya mas" jawab ibu amu
Mereka semua terlelap dalm mimpinya masing masing.
Saat malam makin gelap, biarkan kekhawatiranmu memudar. Tidur nyenyak mengetahui bahwa kamu telah melakukan semua yang dapat kamu lakukan untuk hari ini. Selamat malam." Quotes malam
*******
Pagi hari menyapa dengan keindahan nuansa sejuk di pagi hari, tiap semua manusia beraktifitas dengan agendanya masing masing.
Setiap pagi memiliki awal yang baru, berkah baru, harapan baru. Ini adalah hari yang sempurna karena itu adalah pemberian yang maha kuasa. Miliki hari yang penuh berkah dan penuh harapan untuk memulai.
Kegiatan kegiatan dijalanin oleh para santri hingga waktu dzuhur memanggil para umat umahat nya untuk melakukan ibadah nya.
Selesai melakukan sholat dzuhur hati mutia menandakan firasat yang begitu tidak enak. Mutia memilih untuk berdiam diri di musholah.
"Ya Allah ya rahman, kenapa aku menangis? Kenapa firasatku tidak enak. Dan kenapa aku begitu mengingat simbah putri" ucap mutia yang merasa bingung pada dirinya.
Mutia menangis tersedu sedu, ia seorang diri di musholah sampai bel berbunyi masuk kelas pelajaran siang. Dengan langkah gontai ia berjaan menuruni anak tangga untuk menuju kelasnya.
__ADS_1
Di tempat lain ibu Ami yang menerima telphone mendapat kabar bahwa ibundanya telah tiada syok sehingga berjalan pun rasanya lemas seperti kaki tak bertulang.
"Jangan bercanda kang, emak semalem nelpon aku toh"jawab ibu Ami tertawa untuk menguatkan dirinya
"Sing legowo mi, pulang mi. Sebelum emak dikuburin" ucap kakk ibu Ami yang bernama Aryo
"Ojo ngapusi lah!!" (Jangan ngebohongin lah) ucap ibu Ami.
"Karepe" (terserah) ucap kakak ibu Ami.
Ibu Ami terdiam sejenak tak lama berteriak.
"Emakkk !! Huhuhu huhu emak.."
"Udah dek.. ayo kita pulang ke jawa sekarang." Ajak pak Hafidz suami ya.
"Mi.. mi.. " panggil kang aryo
"Ojo dikubur ndiset kang, aku bali saiki" (jangan dikubur dulu kang, akh pulang sekarang)" pinta ibu Ami.
Setelah telphone berakhir, ibu ami bersiap siap merapihkan baju baju dan menjemput fadil ke sekolah untuk meminta izin beberapa hari fadil pulang ke jawa. Dan setelah medapat izin, ibu ami, fadil dan pak hafidz menuju terminal rambutan.
Mereka menaiki bus jurusan pekalongan.
Tak lama bus berjalan, namun banyak sekali mendapati kendala kendala dijalan seperti ban bocor, selalu berhenti di beberapa rest area.
Bagi ibu ami perjalanannya memakan waktu lama, disepanjang jalan ibu ami menelphone ke kampung untuk memastikan ibunda nya agar tidak dikebumikan dahulu sebelum dirinya sampai ke tujuan.
"Hallo kang, jagan dikubur dulu kang, ami dijalan kang" ucap ibu ami sambil menangis.
Fadil yang disebelah ibu ami mengusap usap punggung ibunya agar sedikit lebih tenang.
Lagi lagi ban kendaraan bus yang ditumpangi oleh ibu Ami kembali bocor sehingga harus menunggu diganti lagi. Ibu ami yng sudah terasa lelah terpancing emosi dan memarahi supir bus tersebut.
"Gimna toh kang, emk ku meninggal kang, ini bis bocor mulu!!"
"Dek udah dek.. ayo duduk lagi" pak hafidz
"Emak gimana mas" ucap ibu ami yang masih menangis
Kernet bus yang melihat dan mengerti itu meminta bantuan kepada bus lain yang kebetulan lewat dengan tujuan yang sama. Ia segera menelpon karan jika menunggu mengganti ban yang bocor mungkin akan lebih memakan waktu lama lagi.
Tak lama bus susulan datang, semua penumpang dipindahkan. Setelah penumpng semua sudah siap bus pun melaju dengan tenang dan hati hati.
__ADS_1
Pukul 14.17 ibu Ami tiba di kampung halamannya. Karena kakak kakak nya tidk mengangkat telphone ibu ami, bersama suami dan anaknya bergegas menaiki becak. Memakan waktu 45 menit untuk sampai ke rumah duka dengan becak yang mereka naiki.
Sesampainya di gang rumah beberpa orang terlihat dari kejauhan. Terdapat bendera kuning yang tertancap juga di pohon gang menandakan benar adanya info yang ibu Ami terima bahwa ibundanya telah meninggal dunia.