
BAB 3
Pov Mutia
Pluk...
Kerikil mengenai lengan Mutia.
Sekilas menengok kebelakang, namun tidak ada apa apa.
"Aku mencoba untuk lebih tenang, tarik nafas dan menghembuskannya." Bisik hati mutia.
"Huftt"
Malam tiba.
Setelah pemakaman selesai aku duduk di teras rumah sahabat ayah yaitu Om Narto, rumahnya tak jauh dri rumah orang tua ayah. Bukan aku tidak mau mengikuti malam tahlil, setidaknya aku lebih sedikit tenang berada disini, jika aku disana maka akan semakin terisak mengingat ayah.
Menatap satu bintang yg berkerlip terang , air mataku terus mengalir tanpa henti , rindu.. yah aku sangat rindu itulah yang aku rasakan , merindukan ayah yang sudah pergi jauh .
Kata ayah, dulu beliau senang sekli bercerita sebelum tidur.
"mba, bintangnya bagus, nanti ayah sebagai bintang." Ayah.
"Apa itu ayah?" Tak sengaja menunjuk ke bintang.
Aku benar benar tidak menyangka hari ini akan menjadi hari yang penuh duka untuku, untuk keluargaku ,kemarin aku masih bercanda dan bersenda girang dengan ayag, tapi sekarang aku harus merasakan kesedihan yang teramat dalam karena Ayah harus pergi untuk selama lamanya.
Aku bergegas kembali ke kamar, mataku panas, pusing, entahlah. Mungkin karna terlalu banyak menangis. Adik dan ibuku sudah terlelap. Semoga hari esok lebih baik dari hari ini, batin ku.
Mengingat kain kafan ayah yang terlihat sebelum dikebumikan, membuatku masih penasaran dan banyak sekali pertanyaan dikepalaku dan Malam ini sungguh mencengkam membuat ku susah untuk mempejam kan mata.
******
"Tokk!! Tok! Tok!!!"
Aku terkejut, sampai sampai jantung ku ingin lepas dari tempatnya,
siapa malam malam begini ngeto ngetok?, Ini sudah jam 01:00 malam, aku yang sudah keringat dingin mencoba untuk bangun dan mengintip dari selah selah gorden kamar, tidak ada orang!
setelah aku mengintip aku bergegas kembali dan memejamkan mataku.
Dan lagi lagi suara.
"Tok!! Tok!! Tokk!!"
Aku mengdengkus kesal, pasti ada yang jahilin nih batin ku
Tanpa menunggu aba aba aku langsung keluar untuk membukakan pintu.
"Tokk!! Tok!! Tok!"
Aku mencoba mengintip dari selah gorden,
__ADS_1
"Akh, gk ada orang !!
Daan....
Ketika menghadap ke kiri, pojok gorden
Sosok pocong compang camping, muka rusak berlumur dar*ah, kain kafan yg kotor dan bau busuk yang sangat menyengat.
Namun, saat ingin berlari kaki ini sangt berat.
" aaakkkhhh...hus..hus...aakkhhh " teriaku.
"Mba.. mba.. mba bngun mba !!"
"Hah.. hah.. mba mimpi ternyata, astaghfirullah." Ucapku seraya dikejar kejar, nafasku turun naik, keringatku bercucuran seperti orang ketakutan hehe.
Saat kulirik jam dinding, ternyata sudh jam 03.00.
"Huft.. hanya mimpi !
"Mba, tahajud dulu ya. Doain ayahnya biar tenang." Pinta ibu.
Aku membangunkan fadil, untuk menemaniku ke kamar mandi. Rumah om Narto sangat luas, Sehingga jarak kamar mandi sangat jauh, yah gk jauh jauh banget sih, hanya saja harus melewati 3 kamar tidur dan dapur.
"Tok!! Tok!! Tokk!!"
"Hah..ko suara ketokanya sama?? Dil, adil.." panggilku serasa jantungku ingin copot lagi.
"Tok!! Tok!! Tokk!!"
Ternyata suara ketukan si putukupret fadil 😒
Setelah selesai berwudhu, aku dan fadil berjalan cepat dan saling sikut, masih kebawa mimpi.
Setelah melewati 2 kamar.
"Hah.. ko ada putih putih dil, itu dikamar itu" jelasku, begitupun pintu bergerak seakan ingin menutup, namun pelan. Aku kembali merinding.
"Itu ibu lagi sholat kali! kekamar dulu mba adil mau ambil celana panjang." Fadil.
Saat buka pintu kamar..
"Hah.. ibu ko disini, trus yang dikamar tadi siapa?" Tanyaku ketakutan, fadil juga tersentak kaget.
Tap..
Tap..
Tap..
Suara hentakan kaki menghampiri kami.
Serasa suasana kembali mencengkam, jantungku berasa berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
__ADS_1
Jegleg..Kriittt...
Pintu terbuka.. daaann.....
"Iki mukenanya mba" Tante Narti, istri dari om narto.
"Iya mba, suwon" balas ibu.
"Ayo.. sholat..sholat" ajak ibu.
"Astaghfirullah.. Iis knp sih, ko aku jadi penakut gini deh." Batinku..
Aku dan fadil mengekor ibu menuju kamar sebelah untuk tahajud.
Ketika giliranku untuk sholat, entah ibuku kembali ke kamar atau pergi kemana, dan aku hanya ditemani oleh fadil. Semoga tidak ada hal hal yang mengagetkan lagi deh, bisa bisa jantungku copot beneran, huft.
"Dil..tungguin loh ya" ucapku
Fadil mengangguk angguk.
"ALLAH HU AKBAR" seketika bulu halusku kembali merinding, dan sholatku tidak fokus.
Kenapa didepanku ada yang berdiri ya, loh..loh..ko ngikutin gerakan aku sholat." Batinku. Saat aku kembali dari ruku.
"Hah !! ( batal ) astaghfirullah, lagi lagi aku tergaket, dan kali ini wujudku sendiri, aku tidak sadar berhadapan dengan kaca besar, aku kira poci ternyata wujudku sendiri hehe maklum mukenaku warna putih, pintu yg hampir ketutuppun tapi pelan gerakannnya dan itu karna kipas. Sampai aku terawa kecil merutuki kebodohanku hanya karna takut, yah suasana mimpi yang tadi masih terbawa sampai sampai aku ketakutan sana sini.
Aku mengulang kembali sholat, taksadar tiba juga waktu subuh.
Usai sholat, aku kembali kekamar untuk melanjutkn tidur.
Baru beberapa menit tertidur. Simbah kakung datang membawa air dan bunga.
"Mba, diajak kakung ke makam. Ayo bangun !" Ibu membangunkanku.
Suasana dipagi hari setelah subuh sangat sejuk, segar, dingin banyak kabut dan terlihat jelas terdapat embun yg membasahi dedaunan. Rumah om Narto sebrangnya adalah kebon.
Sebelum berangkat ke makam, tante Narti menyiapkan banyak sarapan, kami menikmati sarapan yang disediakn tante narti. Setelah bersarapan kami berangkat menuju makam ayah yang berada tidak jauh dari hutan.
Fadil digendong simbah kakung, aku bersama ibu berjalan dibelakang simbah kakung dan Om Narto.
Sesampainya di makam, kami berdoa bersama. Menuangkan air yang dibawa oleh simbah kakung.
"Dik, sing tenang yo. Anak karo bojomu ben tenang ning dunyo." Simbah berkata sambil mengusap usap batu nisan ayah.
Bayangan Ayah serasa berputar putar dipikiranku, air mataku mengalir kembali ketika mengingat saat malam dimana ayah meregang nyawa. Mungkin begitu sebaliknya fadil dan ibu, aku melihat mereka pun juga menangis.
"Wes.. wes.. ojo podo nangis yo, ayahmu wes tenang lee, nduk, ojo ditangisi terus. Sing jenenge menungso pasti kembali areng gusti Allah, kita kita yo mengko melu nyusul juga ! Wes yo, ojo nangis.. ikhlas." Ucap simbah kankung.
Kemudian simbah kakung mengajak kami mengunjungi makam saudara saudara simbah kakung bahkan mengenalkan bahwa makam ini makam keluarga, disamping makam ayah ada makam adiknya juga, om Maksun namanya, ternyata banyak yang sudah meninggak, tapi aku sendiri bahkan tidak tau, karna aku dan keluarga pulang kampung halaman hanya satu tahun sekali, itupun di hari raya idul fitri.
Tidak memandang usia, jabatan, paras, dan waktu. Tak seorang pun mengetahui datangnya kematian, termasuk Rasulullah SAW sendiri juga tak mengetahuinya. Karena kematian adalah rahasia Allah SWT.
"Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran : 185). Semua yang bernyawa pasti akan mati sesuai ajalnya atas izin, takdir dan ketetapan-Nya. Siapapun yang ditakdirkan mati pasti akan mati meski tanpa sebab, dan siapapun yang dikehendaki tetap hidup pasti akan hidup.
__ADS_1