
BAB 5
Pov Author
"Kenapa aku ke IPS? Kenapa aku selalu sial? Kemarin aku kehilangan ayah, sekarang aku kehilangn impianku untuk masuk kelas IPA ! Dunia sangat kejam, ya Allah aku salah apa? Mengapa engkau uji aku seperti ini!! Batin mutia.
Bukanya masuk masuk kekelas, namun Mutia berlari menuju asrama.
Innayah yang melihatnya segera menyusul mutia.
******
Malangnya Mutia, mengejar impian bisa membuat makin semangat dalam menggapai semua tujuan hidup. Setiap orang mempunyai cita-cita mulia yang ingin dicapai.
Untuk mengejar impian pasti diperlukan kerja keras, tekad, komitmen, dan semangat pantang menyerang. Namun, dalam perjalanan mengejar impian, terkadang menemui hambatan yang bikin langkahmu terhenti begitu juga berbanding balik dengan impian Mutia.
*****
Semilir angin berhembus seakan mengajak berbagai macam baju baju jemuran para santriwati untuk bergoyang, menari bersama sama, burung burung bersiul riang menambah irama sepanjang terbangnya berbalut angin yang mengarah berbagai tujuan.
Angin sepoi sepoi yang menerpa wajah Mutia, selalu menarik Mutia ke arah ketenangan Mutia sendiri, bahkan untuk sementara waktu, dan semua butuh ketenangan.
"Mut! Kenapa?" Panggilnya inayah.
Mutia diam tak menjawab, lelah, yah ia lelah karena terlalu lama menangis membut mata indahnya bengkak.
"Kenapa mut? Cerita please, semenjak kamu dateng selalu nangis, liat tuh badan kamu mulai kurus." Inayah.
"Kenapa aku sial banget sih na !" Lirih mutia, suaranya serak.
"Sial gimana maksudnya ?" Tanya inayah bingung.
"Ayahku meninggal, sekarang harapan ku buat masuk IPA hancur, aku masuk IPS na, dan itu IPS B !!" Jelas Mutia
Selama ini Mutia terbilang sangatlah berprestasi, bahkan selalu mendapat peringkat terbaik di kelasnya, nasib berbalik, harapannya yang berpatokan dengan prestasinya hancur seketika, entah alasanya apa, mau tidak mau, pahit Mutia harus merimanya.
"Iielan, seluruh pengurus berkumpul diRuang Osis. Sekali lagi seluruh pengurus berkumpul diruang Osis, syukron !"
"Mut, ada iielan.. yuk ke ruang Osis, udah ya jangan sedih." Ajak inayah.
__ADS_1
Di ruang Osis, berundinh akan diadakannya kegiatan MOS untuk santri baru, baik santriwati dan santriwan selama 3 hari.
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), juga dikenal sebagai Masa Orientasi Siswa (MOS) atau Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPD), merupakan sebuah kegiatan yang umum dilaksanakan di sekolah setiap awal tahun ajaran guna menyambut kedatangan para peserta didik baru.
Selama MOS santri baru berjalan, santri santri lama tetap menjalani kegiatan seperti pada umumnya, hanya sja tugas santri pengurus lebih banyak dibanding normalnya tugas santri.
"Sekian diskusi siang ini, silahkan kembali ke kelas masing masing." Ucap ketua Osis.
Saat mutia keluar, ternyata Ibu Ami datng bersama Fadil, mutia menumpahkan semua keluh kesahnya kepada ibu Ami.
"Bentar mba, ibu ke kantor dulu. Pengen tau jawaban ustadnya apa !! Geram ibu ami yng tidak tega meliht anaknya menangis.
Sampainya dikantor, ibu ami langsung berhadapan dengan kepala sekolah MA. Ibu ami juga salah satu donatur masjid di Ma'had ini, dan cukup lumayan terkenal oleh para ustad.
"Begini pak, tujuan saya mau menanyakan, kenapa Mutia bisa di kelas IPS B? Padahal kemarin mutia menang diperlombaan Fisika, nilai pelajarn IPA nya jug bagus bagus!" Ibu Ami.
"Baik bu, kami menganggap mutia ini bertalenta, mampu disegala bidang, saya berharap di kelas IPS B mutia bisa mengjak teman temnnya untuk rajin belajar." Jelas kepala sekolah.
"Agak kurang masuk akal ya, tapi apapun itu lakukan yang terbaik, dab tolong jangan buat mental anak saya down lagi, kasian Mutia baru kehilangan ayahnya." Pinta ibu Ami
"Iya bu Ami insya Allah, dan mohon maaf apabila ada kesalahn dari kami." Kepala sekolah MA
Mau tidak mau mutia harus menerima kenyataan.
"Jangan lupa senyum" pesan ibu Ami kepada Mutia.
******
Menuntu ilmu memang tidak lah mudah, akan tetapi hidup tanpa ilmu sangatlah gelap buta segalanya, seperti sebuah rumah tanpa lampu ketika berjalan maka akan tersandung karena tidak bisa melihat .
Dengan ilmu kita bisa menggapai cita, membanggakan kedua orang tua, mensejahterakan kehidupan dimasa depan kita kelak.
Pondok pesantren, adalah tujuan paling tepat untuk menimba ilmu. Bukan cuma ilmu, tapi pengalaman bersama teman-teman, hidup susah, belajar mandiri, jauh dari orang tua, semua itu akan kita rasakan ditempat itu.
Mungkin awalnya memang sulit, tapi percayalah kesulitan hari ini akan membuat hari esokmu lebih baik.
*****
Pada malam ini, rintikan hujan turun membasahi bumi, seiringan itu pula debu debu musnah diterjang hujan.
__ADS_1
Dua hari MOS telah berlalu, hari ini hari ketiga MOS atau hari terakhir. Semua santri berkumpul di aula, sedang diadakannya lomba cerdas cermat.
Awal cerita kisah cinta Mutia terjadi di aula. Terdapat laki laki yang sedang ikut cerdas cermat, humoris, periang, puitis. Tanpa sadar laki laki itu juga memperhatikan sosok Mutia yang duduk menyendiri didepan aula.
"Itu kelas berapa yak?" Tanya laki laki itu yang bernama Agung kepada teman sebayanya.
"Ouh dya mutia, temen kita ege.. qism pers. Kalau gk salah sekelas deh sama kamu." Jawab kholid.
"Ntah aku yang tidak memperdulikan orang lain atau hanya tatapanku yang terus tertuju padanya, entahlah aku tidak menyadarinya. Senyumnya yang tak bisa aku gambarkan. Apakah mungkin ini adalah detakan asmara? Aahkk entahlah..wkwk" bisik hati kecil agung.
"Woy, bengong lagi.., bentar lagi dipanggil maju tuh!" Tegur kholid.
"Hehe" agung sambil nenunjukan sederetan gigi putihnya.
Acara ditutup dengan hamdalah. Mos telah selesai, besok santri baru bisa masuk kelas dan mengikuti kegiatan seperti santri santri lama yang lain.
Rintik rintik hujan masih turun dan ikut membasahi buku yang dipegang Mutia. Ia masih tak beranjak pergi keasrama, mutia yakin sebentar lagi hujan akan reda.
"Kak, ini ada plastik dariii.... duh siapa tadi ya, katanya buat bukus bukunya biar gk basah" ucapnya dan segera berlalu.
"Eh tunggu.. iish ngilang lagi." Mutia
"Hmm yaudahlah, dari pada nunggu lama, besok piket pula" batin Mutia.
Suara petir menggelegar diatas langit, hujan semakin deras mengguyur bumi. Mutia berlari ke asrama. Sampainya di asrama, mutia segera mengeluarkan buku bukunya dari plastik agar tidak lembab.
"SENYUM YA MUTIA" secarcik kertas engan tulisan singkat misterius bagi mutia, hanya saja mutia mengabaikan membuangnya kertas itu.
"Mut, ngapain?" Tanya innaya mengagetkan mutia.
"Ck, gk tau tuh gk jelas, tulisan orang iseng kali ya." Ucap mutia.
"Aih.. penggemar rahasia nie." Ledek innayah.
"Ah bisa aja, udah yuk ke kamar!" Ajak Mutia.
Malam semakin larut, hujan reda membuat hawa udara begitu dingin sehingga semua santri nyenyak tertidur.
Saat merasaan kesenangan, kamu harus bersyukur. Ketika kesusahan, maka ingatlah selalu bersabar.
__ADS_1