
BAB 24
Pov Fadil
Di Taman Wijaya Kusuma. Aku dan mba Mutia memakirkan sepeda nya didekat pos satpam. Taman dimana dulu ayah sering kali mengajak aku dan mba mutia ke taman ini. Rasanya sungguh rindu sekali.
"Mba udh napa jangan ribut terus." Ucap Fadil.
"kamu gk liat dil, sikap ibu ke mbak.?" Ucap Mutia.
"Iya mba"
"mba besok pagi pulang dil. Jaga diri baik baik, kalau ada apa apa telp mba bisa lewat telp osis ko." Mutia.
Aku hanya tersenyum.
******
Saat ini, aku tengah duduk di pinggir kasur. Aku sudah bersiap siap untuk pergi ke sekolah. Seragam yang aku kenakan sudah melekat di tubuh ku
Meskipun ragaku masih di kamar, pikiranku melayang entah ke mana.
Aku sedang memikirkan kejadian semalam. Kejadian dimana aku dan mba mutia bercanda dijalan tepat ditikungan ada motor lewat kami mba mutia ditabrak motor itu sehingga mba mutia terjatuh dari sepeda, bahkan sepedanya pun sampai rusak. Orang yang menabrak itu hanya memberi kami uang 200 rb. Ini semua salahku. Seandainya aku tidak mengajak mba mutia untuk bercanda, mungkin tidak akan terjadi apa apa
Sampai dirumah, untung ibu dan ayah sedang pergi. Jika Ibu dan ayah tau pasti akan mengomeliku. Saat aku melihat mba mutia, mendadak aku terdiam dan cemas karena kondisi Mbak Mutia. Luka mba mutia langsung aku obati.
Sekarang, bengkak di tangannya sudah tak seperti semalam. Siku tangan kanan yang terluka, aku diperban.
"Fdil, udh siang dil." panggil Ibu
Suara dari ibu, membuat ku tersentak.
"Iya iya, bu," jawab ku.
Aku bergegas berdiri, dan mengambil tas ku di atas meja belajar dan segera keluar kamar.
"Kmu sakit dil? Mukanya ko pucet? Atau gak usah sekolah aja dulu, ouh ya ibu sama ayah mau kepasar?" Baruu keluar kamar aku langsung si tanya oleh ibu.
Aku tersenyum.
"Adil ga papa bu,. Adil mau ke sekolah aja, hari ini adil ada presentasi." jawab ku gugup
"Ini buat jajan Fadil ya," ayah hafid mendekat dan memberiku 1 lembar uang berwarna hijau.
"Mana itu mutia?." Tanya ibu.
"Mmm dikamar bu." Jawabku singkat.
__ADS_1
"Suruh beres beres rumah dia.!" Ucap ibu.
Aku malas menanggapi, yang ada nanti akan ribut lagi. Kasian mbak Mutia. Ibu memang berubah dan aku melihat perubahan ibu yang begitu kasar.
"Nih susu nya." Ibu memberikanku susu. Saat aku ingin mmbawa susu ini kekamar.
"Eh mau dibawa kemana?!" Cegah ibu.
"Buat mba mutia." Jawab ku.
"Gk usah. Suruh bikin sendiri aja"
Aku tidak memperdulikan lagi. Mbak mutia sedang sakit. Dulu jika aku atau mba mutia sakit no satu yang paling peduli yaitu ibu. Tapi sekarang........
Krittt..
"Mba.. astaghfirullah mba." Aku tersentak kaget badan mba Mutia panas sekali.
"Bu.. ibu.. ibu sini bu.." panggilku.
Suara hentakan kaki datang dari arah pintu kamar.
"Bu mba mutia panas" ucapku dan ibu mendekat memeriksa mba mutia.
"Eh mut.. mut bangun... hah..!!" Ibu kaget.
"Bu.. maaffin adil bu.. maaffin adil," ucapku tiba tiba.. sedari dulu jurus andalanku selalu keluar agar aku tidak terkena omelan ibu.
"Dil... " panggil mb mutia lirih.
"I i iya mba." Jawab ku.
"Adil sekolah aja. Mba ga papa." Ucap mba mutia.
"Gk mba.. adil nanti izin buat nemenin mba." Ucapku merasa bersalah.
"Yaudah ibu sama ayah mau kepasar. Adil dirumah aja." Ucap ibu dengan muka datarnya.
Aku mengangguk dan menelangkupkan kedua tangan meminta tolong ke ibu agar tidak marah marah.
Setelah ibu dan ayah pergi, aku segera menulis surat izin tidak masuk sekolah dan menitipkan kepada rehn teman ku yang biasa berangkat sekolah bersanaku. Usai itu Aku memberikan mba mutia obat pereda nyeri dan penurun panas. Dan aku pastikan mb mutia terlelap dulu sebelum aku bebenah rumah.
Pukul 10.30 wib aku selesai membereskan rumah. Dari kecil anak anak ibu sudah diajarkan untuk mandiri agar kelak tidak manja dikemudian hari.
"Huft.. selesai."
"Fadil.." panggil mb mutia. Aku berjalan menuju kamar.
__ADS_1
"Mba.. mau kemana?" Tanya ku
Mba mutia yng sedang merapihkan hijabnya tidak menjawab.
"Mba mau keluar? Udah mendingan?" Tanyaku kembali.
"Mba pulng ya dil" ucap nya.
"Ih mba kan masih sakit mba!!"
"Ga papa dil. Uang yang semalem yang orang nabrak mba.. buat fadil aja.. simpen ya dil siapa tau nanti fadil butuh buat ongkos study tour." Ucap mba mutia.
"Jangan mba.. adil kn udah banyak dikasih sma mba" tolak ku.
"Mba bisa cari lagi uang itu, insya Allah halal." Mba mutia tersenyum.
Mba mutia adalah sosok seorang kakak ter the best yang bagi orang lain seumurn ku. Bagiku pun juga seerti itu, selalu jadi penolongku, penyelamatku. Mb mutia sungguh tangguh, tidak pernah mengeluh. Walaupun masih sakit, sempat sempatnya ingin pergi ke pondok nya. Padahal bisa meminta izin sehari saja untuk istirahat.
"Mba maafin fadil ya" ucapku meneteskan air mata
"Eeeyy kenapa kenapa?" Tany mb mutia yang sedang memakai kaos kaki nya
"Adil banyak salah sama mba." Ucapku mendekati mb mutia kemudian aku peluk mba mutia. Kami pun berpelukan.
"Adil gk pernah ada salah sama mba." Mba mutia
Sangat lama kami berpelukan, rasanya berat sekali jika mba mutia harus pergi, aku kesepian lagi dirumah ibu dan ayah jarang ekali dirumah, hanya senin seasa dirumah.
"Yaudh dil, mba au berangkat ya" ucap mba mutia mengambil tas nya.
"Adil anter ya mba.. dari pada mba jalan kaki" aku menawarkan mengantar.
"Iya" ucap mba mutia.
Kami berjalan keluar. Aku mengeluarkan sepeda dan mengunci rumah. Kami pun pergi. Saat di pertigaan komplek kami berpas pasan dengn ibu dn ayah yang memakai motor mio peninggalan alm ayah.
"Dil." Panggil ibu, aku berhenti menungu ibu menghampiriku dn mba mutia.
"Mau kemana?" Tanya ibu, kali ini nada bicara ibu lebih lunak dri yang kemarin kemarin nya.
"Mau anter mba mutia ke depan bu. Kasian kalau jalan kaki" ucapku mnoleh mba mutia yang hanya diam.
"Pulang dulu sebentar ya ibu beliin makanan." Ajak ibu. Aku menoleh kembali ke mba mutia dan mba mutia mengangguk mmberiku kode untuk mengikuti perintah ibu.
Sesampainya dirumah. Ibu sudah terlebih dahulu kedapur dan kembali membawa tas kecil untuk diberikan ke mba mutia.
"Nih mba, buat di jalan." Menyerahkan tas tersebut ke mba mutia.
__ADS_1
"Mba, ayah anter ya sampe terminl, sayang ongkosnya" ucap ayah tiba tiba.
Dengn cepat mba mutia mengangguk tanpa kata. Alhamduliah akhirnya emosi ibu terkendali. Aku senang melihat ibu dan mb mutia saling berpelukan.