
BAB 15
Pov Mutia.
"Kenapa ayah datang dalam mimpiku ya?" Gumam mutia dalam hati.
"Jangan jangan ini pertanda ibu mau nikah"
Pagi pagi buta setelah melaksanakan ibadah subuh, di susul kegiatan pagi yakni private 3 bahasa. Kegiatan kegiatan yang sudah terjadwal rutin setiap hari kecuali hari jum'at waktunya para santri libur sekolah maupun kegiatan belajar. Namun untuk kerja bakti tidak libur hehe.
"Adzana yu adzinin adzin adzan"
serempak suara terdengar di pondok pesntren suasana di pagi hari setelah ibadah sholat subuh.
Selagi semuanya sedang belajar 3 bahasa, aku pergi ke kantr Osis bersama rekan Pers. Hari ini adalah hari minggu jadwalku memasang dan mngindahkan Mading utama. Semua berisi informasi dan karya karya santri yang berkenan menyumbang. Begitu beberapa prestasi santri ikut di tempelkan juga di Mading.
Aku dan rekan rekan ku memasang dengan rapih dan serapih mungkin, karena biasanya banyak orang luar juga berkunjung ke pondok pesantren kami.
Tiba tiba saja bagian kepala keamanan menghampiriku.
"Ukh.. afwan ini nanti di pasang di mading dan pintu gerbang asrama ya, Syukron.
kepala keamanan menyodorkan memberikan ku selembar kertas HVS a 4. Aku pun mengambilnya, betapa kagetnya diriku. Terpampang jelas pengumuman yang kabur. Hukuman untuk santriwan digundul atau dibotakin hukuman untuk santriwati memakai hijab merah cabai dan santriwan satriwati yang kabur wajib dijemur 3 hari dari jam *** pagi hingga selesai jam *** malam. Begitulah sekilas infonya.
Rekan rekan pers mendekatiku.
"Apa itu ka, mut?" Tanya teman dan adik kelas yangmenjadi rekan pers bersamaku.
"Ini pengumuman buat smua santri terutama yang Kabur" ucapku.
"Ouh, parah amat ya.." Jawab Aziz temanku
__ADS_1
"Aku sih malu kalau harus dijemur pake kerudung merah" ucap annida adik kelasku.
"Kmu mau kabur nda? Nnti aku print fotomu yang gede haha" godaku pada annida sambil memasang beberapa lembar karya santri.
"Iih kak mut nih hahaha, nda gk akan kabur. Nda kan anak taat" ucap annida
Selesai memasang mading, kami membereskan alat alat yang kami pakai, berhubung kantor Osis dekat dengan Asrama Santriwan dan mempersingkat waktu agar tidak bolak balik, aku titipkn alat alat mading kepada Aziz. Aku dan Anida bergegas menuju asrama untuk bersiap siap pergi sarapan dan pergi sekolah.
Sekita aku ingat dengan Syahidah yang semalam sakit, aku belokan diriku menuju kamar Syahidah, aku harus mngecek keadaanya.
"Assalammu'alaikum" jawabku langsung menuju ranjang Syahidah.
"Wa'alaikumsalam" jawab beberapa teman syahidah yang sedang bersiap siap.
Saat aku sedikit memanjat anak tangga ranjng Syahidah, aku melihatnya masih tertidur, aku berpesan kepada temannya untuk membawa ke ruang sakit agar diabsen dan diberi makan.
"Ie'lan semua yang sakit pindah ke ruang sakittt, kamar harus rapih. Ustadzah mau chek asrama!!" Teriak informasi bagian pengurus kesehatan terdengar hingga ke lantai 4 jemuran.
Karena jadwalku longgar, aku mnyempatkn diri mengurus Syahidah yang sudah di pindahkn ke ruang sakit, sebelumnya aku sudah meminta izin kepada ketua Osis. Begitun hari ini aku di izinkan untuk pergi keklinik memeriksakan keplaku dan juga membawa Syahidah untuk berobat.
Jangan tanya ya guys bagaimana aku belajar, yang pasti aku mengikuti pelajaran bahkan aku juga sering mengejar pelajaran yng tertinggal di *** malam. Biasanya sahabatku Afni atau teman teman kelasku bersuka rela berkumpul dikelas untuk belajar bersama mengulang pelajaran siang dan Pov bagian ku aku persingkat ceritanya. Hehe dn Alhamdulillh sekali nilai nilai ku masih unggul dikelas.
Aku membawa air hangat lebih agak panas dan garam dari dapur. Saat aku ke ruang sakit, aku melihat syahidah yang sedang menangis, tangan kirinya penuh dengan luka scabies melenting bernanah, disiku kanan juga bahkan lututny juga penuh dengan luka scabies itu. Bajunya banyak dar*h karena Syhidah banyak gerak sehingga dar*h ny menempel di baju dan membuat bjunya berbau Amis anyir.
"Dek, bngun dulu yuk di seka badanya" ajakku untuk membersihan badanya walaupun tidak mandi.
Aku melakuan untuk merawat Syahidah insya Allah tulus, karena aku sudah menganggap ia seperti adikku sendiri. Tidak ada rasa jijik atau pun mau muntah saat membersihkan luka luka nya. Walaupun kebanyakn teman temn bilang "awas nanti nular loh" aku sayang Sahidah. Kata yang menakuti aku tepis. Bahkan sekalinya pun aku disuruh untuk mencuci baju syhidah yang terdapat dar*h.. akan aku cuci selagi dya masih sakit.
"Aku gk mau kak, sakit.. aku mau pulang aja, mau telp papah." Rengek Syahidah.
"Telp papah nya nanti ya dek, kamu harus bersih dulu. Nanti yng da papah kamu ngiranya disini gk diurusin."
__ADS_1
Jawabku sesekali mengusap lututnya. Aku meliht syahidah merintih karena perih, wajar ya guys.. karena pakai air hangat yang dicampur garam.
"Nih kakak udah bawa antis. Nanti kk olesin ya, syahidah harus tahan." Ucap ku. Syahidah menganggu setuju untuk di olesi Antis.
"Perih kak!!" Ucap Syahidah dan air matanya mnetes.
"Ga papa, tahan sedikit ya, nah udah kan." Jawab ku senyum dan membereskan gayung yang bersi air garem hangat.
Tettttt.......
Bel masuk kelas berbunyi.
"Dek nnati istirahat,atau makan siang kk kesini lagi. Minum yang banyak ya" ucap ku dan berlalu.
Sebelum kekelas aku membantu pengurus yang lain untuk meneriksa asrama sampai dengan kamar mandi. Jika ada bagian yang kotor contoh kamar mandi masih ada sampah maka yang piket hari ini kena hukuman, hukumannya bedok double piket. Seperti itulah lika liku di pondok pesantren, seru, sedih, bahagia, banyak tantangan dan rintangan.
Selesai memeriksa, aku menuju kekelas untuk mengikuti peljaran pertama matematika, disusul jam kedua tahfidz qur'an kemudian istirahat. Alhamdulillah Maasya Allah sangat nikmat hidup di pondok pesntren, kemandirianku di bentuk, suka duka aku lewati dan saat ini aku bisa kembali ceria. Lebih ikhlas menerima ayah sudah tidak ada.
"Mut, mau ke asrama?" Ucap Afni yang mengaketkan ku.
"Iisshh.. ngagetin aja!!" Ucapku dan mengelus dada
"Ayo.. bareng, aus nih." Ajak afni.
"Aku ikut" Desi berlari kecil ke arah aku dan Afni.
Sebelum aku keluar kelas, aku mendapati Agung yang melihatku begitu sangat tajam. Sekarang ku sudah mengenalnya melalui Afni, semenjak aku menyuruh afni untuk menugurnya untuk tidak berkirim surat, dan dia Agung memang stop tidak kirim surat, namun sesekali aku mendapatkan seperti bearbrand di kolong tempat buku yang aku simpan.. entahlah siapa itu yang menaruh.
Aku menatap balik agung, dan dia cukup salah tingkah. Yasudahlah, aku harus menemui syahidah mengechek.. apakah lukanya sudh kering ? Atau masih basah setelah diolesi Antis.
Kira kira luka Scabies Syahidah bertambah atau sudah kering ya??
__ADS_1
Hati hati ya guys, scabies aga jarang obatnya.