
BAB 16
Pov Mutia.
"Mut, ayo.. liatin siapa sih?" Tanya Afni yang sedang memakai sepatunya.
"Ck.. gk" aku segera memakai sepatu.
Setelah memakai sepatu Aku, Afni dan Desi pun mulai melangkahkan kaki keluar dari area kelas tersebut. Kami melewati belakang kelas Namun tiba tiba langka ku terhenti ketika seseorang memanggil ku.
"Ukhty, tunggu!" Teriak seseorang tersebut sambil meninggikan kepalanya seolah mengintip di jendela.
Serempak aku, afni dan Desi pun menengok ke samping mencari pemilik suara tersebut. Terlihat kini seorang lelaki tadi sempat salah tingkah siapa lagi kalau bukan Agung namnya.. huft dan sudah berdiri di jendela dengan matanya yang menatap aku.
"Mut.. mut, tuh Agung manggil" ucap Desi.
Aku tidak memperdulikan panggilan nya aku pun segera melangkah melanjutkan perjalanan menuju asrama.
"Ukhty Mutia!" Panggilnya lagi,
Karena ku penasaran, aku tengok kembali namun dengan reflek aku
menundukkan pandangan ku ketika aku melihat lelaki itu yang masih memandangku.
"Ukhty" panggilnya lagi.
"A ada apa kenapa ?" Tanya ku itu dengan terbata bata. Jujur saja, aku sedikit gugup dan takut.
Gugup ketika berbicara dengan lawan jenis, seorang lelaki yang bukan mahram ku bahkan aku baru saja mengenalnya. Dan aku sedikit takut karena keadaan sekitar gedung yang sudah terlihat ramai. Aku takut bagaimana jika ada ustad atau pengurus keamanan tidak sengaja melihatku mengobrol walaupun hanya beberapa kata, aku takut di sidang walaupun hanya hal spele bagiku.
"Boleh gk, kenal lebih dekat?" Tanya Agung lelaki tersebut dengan Hati hati pada ku. Hanya saja aku yang ditanya terlihat terdiam sambil menundukkan kepala. Tanpa berkata kata, aku segera berbalik badan dan melangkah lagi.
"Eh eh bentar mut!!" Agung memanggilku lagi.
Agung pun menghela nafas pelan lalu merogoh saku baju nya dan mengambil sesuatu kemudian memberikan pada ku.
"Des, kamu aja des.. aku buru buru mau ke ruang sakit, kasihan Syhidah" Ucapku pad Desi. Desi mengiyakan untuk menerima pemberian Agung.
"Gung kasih ke gua aja sini." Ucap Desi dan Agung memberikan lipatan kertas itu.
Kemudian Desi menyusulku ke ruang sakit.
Sesaimpainya di ruang sakit, aku melihat Syahidah yang sedang membaca buku Novel 5 Negri Menara. Aku memeriksa lukanya, luka Scabies itu alhamdulillah sudh mulai kering. Tiba tiba Desi dan Afni datang.
__ADS_1
"Assalammu'alikum mut, nih" Desi mnyerahkan lipatan kecil itu padaku.
"Cie cie uhuy.. " Afni dan Desi.
"Iisshh apa sih !!" Ucapku sebal.
Aku mengangkat sedikit kepalaku melihat sebuah lipatan kecil kertas yang berwarna putih. kening ku berkerut bingung. Seperti nya dia memberi surat lagi.
"Ini, ambil! Ini adalah sebuah surat yang kutuliskan hanya untukmu dan tentang dirimu," ucap Desi meledekku.
Aku menatap Desi sinis lalu menggerakkan tangan kanan ku untuk menerima surat itu.
Desi dan Afni masih terus menggodaku, kemudian berucap.
"Penggemar misterius terungkap sist hahha" ledek Afni padaku.
"Bolehkah aku mengenalmu lebih jauh? Terima kasih sudah mau membaca, temui aku di dekat dapur jika IYA besok pagi saat piket ya. AKU TUNGGU, assalamualaikum..."
"Iissh ada ada aja" ucapku dan merobek surat itu, aku tidak mau jika namaku tercoreng hanya gara gara surat ini. Liat sja nnti alau aku sudah dikelas, akan aku tegur langsung. Ucapku juga dalam hati.
"Ko disobek si mut? Yaelah belum baca nih" ucap Desi.
Aku mengalihkan pembicaran.
Waktu istirahat ini aku gunakan untuk mengurus Syahidah, kasihan sekali dia. Semoga lekas pulih Syahidah.
Setelah menjenguk syahidah aku kembali ke kelas.
Untung saja di jam ketiga ini ustad tidak hadir.
Aku mengatur nafas agar tidak terlalu emosi. Huft!! Aku menoleh ke arah Agung yang sedang berbincang bincang dengan teman teman nya
"Gung" panggilku.
Seketika semua hening melihat ke arah ku. Rasanya malu sekali, namun aku harus pertegas jangan sampai mengirim surat lagi.
"Gung.. gung di panggil itu" ucap Arif dengan logat jawa nya.
"Gung, jangan kirim surat lagi ya.! Aku takut kena sidang, peraturan sekarang lagi ketat. Mohon kerjasamanya dan satu lagi, tolong jaga nama baikku sebagai pengurus, Maaf!!" Ucapku dan langsung duduk kembali.
Suara suara ribut di barisan ikhwan terdengar, ada yang menyalakan Agung, ada juga yang meledek. Aku melihat respon Agung mukanya sangat masam.
Semoga selepas teguranku ini dia sadar dan tidak mengirim surat lagi.
__ADS_1
*******
Pukul 11.48 siang. Di tempat lain, di asrama Santriwati.
Dea adik kelas Mutia sedang berada dikamar mandi untuk mengganti pembalut.
Brak!
Pintu kamar mandi jebol oleh mamang tukang bangunan yang tempo hari sebagai tersangka Hamba Allah ,hanya dengan sekali tendangan pintu itu menghantam dinding dengan kuat, tidak membutuhkan waktu lama bagi nya untuk membuka.
Hamba Allah itu masuk ke dalam, melirik ke sana ke mari mencari keberadaan gadis itu.
Ternyata dia masih mempunyai dendam untuk memuaskan dirinya.
Sebelumnya hamba Allah melihat Dea dari arah dapur menuju ke asrama, hamba Allah mengikuti, namun dia memilih lewat pintu belakang kamar mandi santriwati.
Untungnya Dea berada di kamar mandi lantai 2 dan tidak terlihat oleh mamang tb atau hamba Allah.
Hamba Allah berjalan mencari cari keberadaan Dea, nmun tidak bertemu, kemudia hamba Allah menuju kamar Dea yang sebelumnya memang sudah ia kunjungi saat kasus beberapa minggu yang lalu, ia berjalan menuju ranjang menyibak selimut barang kali ada CD atau baju berada di ranjang Dea untuk dibawa nya. Setelah selimut Hamba Allah buka tak juga menampakkan barang barang Dea, kemudian hamba Allah berjongkok melihat di kolong ranjang dn juga tidak ada apa pun di sana, hanya ruangan kosong saja. Hamba Allah kembali berdiri, menatap keseluruhan ruangan, dia menemukan lemari Dea dan memgacak ngacak lemari Dea, beberapa CD dibawanya. Tiba tiba..
"Hei siapa itu??" Teriak Wati salah seorang teman sekamar Dea.
Hamba Allah berlari ke arah jendela kamar yang terhubung dengan rumah warga kemudian dia loncat dari jendela.
Tidak sempat wati mengejarnya karena terlalu cepat dan tidak memungkinkan untuk mengejarnya.
Wati berlari keluar kamar menuju kantor dan segera melaporkan kejadian barusan.
Sesampainya dikantor, wati berpas pasan dengan ustad kiki dan langsung menceritakan kejadian yang ia lihat dikamar.
Semua pengurus dipanggil ke kantor dan beberapa santriwan kelas 5 di tugaskan untuk mengechek asrama santriwati dan rumah warga yang dekat dengan kamar tersebut.
********
Pov Mutia
"Huft, akhirnya lega juga bisa negur Agung" ucapku dalam hati.
"Semua pengurus berkumpul dikantor, syukron"
"Mut, panggilan. Ada apa ya?"
"Panggilan?" Ucapku bingung.
__ADS_1