
BAB 8
Pov Author
Teeeettthhh.....
Bel berbunyi, semua santri menuju kelas masing masing. Agung yang sudah dulu berada dikelas menunggu sosok seseorang yang mebuatnya kini jatuh hati, sambil membolak balik lembaran kertas dibuku tulisnya, sesekali melihat keluar jendela dengan harapan bisa melihat Mutia, begitupun teman santri yang lainnya juga berdatangan.
Sudah dua hari Mutia tidak masuk kelas, khawatir, gelisah yh itulah yng dirasakan Agung saat ini. Agung memberanikan diri untuk bertanya kepada teman nya, walaupun semalam sempat bertemu Mutia dengn muka pucatnya membuat Agung khawatir.
"Des.. des, Mutia masuk gk?" Tanya pelan agung pada Desi
"Gk tau, gk liat." Jawab Desi singkat.
"Apa masih sakit ya,, Ck... aakhh semoga tidak apa apa" batin Agung.
Dirobeknya selembar kertas pada buku tulis Agung. Dan menulis dengan serapih mungkin.
Jika aku mendapatkan bunga setiap kali aku memikirkanmu, aku bisa selamanya berjalan di hamparan taman bunga. – Alfred Tennyson.
*********
Ditempat lain, semua pengurus berkumpul termasuk Mutia yang kini sedang menceritakan kronologi kejadian semalam .
"Ka aku curiga deh sama mamang tukang bangunan yang lagi kerja di Asrama santriwati, dari postur badan dan Mata nya mirip bnget, waktu aku pas pasan semalem dikamar mandi." Mutia
Semua pengurus menyimak, begitu juga dengan Afni mencoba mengingat ingat kembali kejadian singkat semalam.
"Yasudah, selesai Muhadoroh malam ini, tolong keamanan di perketat lagi , sampai benar benar kasus ini hilang. Dikhawatirkan santri yang jadi korban itu trauma, apalagi sampe buka bukaan gitu." Jelas ketua Osis
"Siap." Kompak semua pengurus.
"Baimana keadaan, santri itu. DEA ya namanya?" Tanya ketua Osis.
"sakit ka, tadi pagi saya pindahkan ke ruang sakit" info Wati pengurus kesehatan.
"Untuk pagi ini sampai makan siang, semua pengurus patroli di Asrama sntriwati ya saya juga sudah meminta izin kepada ustad, siapa tau menemukan beberapa petunjuk.
Untuk semua pengurus keamanan tolong perbaharui kunci gembok asrama, semua diganti baru." Bagian kepala keamanan menginfokan.
Semu pengurus bubar barisan dan menuju asrama santriwati.
Semua pengurus berpencar berbagi tugas, memantau yngsedang sakit, memeriksa setiap kamar, kamar mandi, dan mengganti gembok gembok di asrama. Tujuan ini dilakukan agar orang luar tidak bisa masuk terkecuali sudah mendapatkan izin.
*******
"Des, nitip ya.. buat Mutia, awas jangan dibuka. Kalau dibuka tangannya buntung. Jangan bilang dari gua!" Agung
__ADS_1
"Iihh ... udah nitip, ngancem pula, iye iye dah!!" Jawab Desi kesal.
Hari ini, hari senin dimna semua ustad juga melakukan rapat tahun ajaran baru. Jadi semua kelas tidak ada ustad, *** pagi diwajibkan dan di isi dengn Tahfid atau hafalan Al Qur'an begitupun semua santri dihimbau tidak boleh keluar kelas kecuali pengurus dengan tugasnya.
Lantunan ayat suci Al qur'an nan merdu, memenuhi semua ruang kelas.
Mutia dan Afni kembali ke kelas, dikarenakan tugasny lebih cepat selesai.
Kritttt...
Mutia dan Afni membuka pintu.
"Assalammu'alaikum" Salam Mutia dan Afni
Dilihatnya kelas oleh Afni, ada yang tidur, mengobrol, tahfid bahkan ada yang membaca buku. Yah beginilah beragam ragam sifat santri.
"Mutia, nih titipan." DESI
"Makasih Des." Jawab Mutia
Mutia menerima dan langsung membukanya. Mutia tersadar bahwa ada yang memperhatikannya.
"Ni.. ni.. tolong liat, siapa yang duduk di bangku no 2 dari pojok,laki laki yang belakang." Mutia
Afni menoleh
"Baca ni!" Mutia
"Aih, dari si Agung tah?" Tanya Afni meledek.
"Ck... tolong bilangin ya ni, jangan kirim kirim lagi, takut di sidang." Pinta Mutia.
Niat hati Agung ingin kenal lebih dekat, namun respon Mutia bertolak belakang, prinsip yang selalu tertanam pada diri Mutia sangat kuat.
Kecewa, yah kecewa. Namanya juga cinta monyet hehe.
********
Singkat waktu, hari sudah sore para santri dan santriwatipun sudah selesai tahfid dari tadi waktu yang ditunggu tunggu oleh santri untuk bersantai ria di asrama dan melakukan aktifitas santai , mereka kembali ke Asrama menuju kamar masing masing sambil menunggu bel ke Masjid tiba.
Dan malam ini adalah malam selasa, malam di mana biasa nya di adakannya muhadoroh tiga bahasa yang diadakan seminggu sekali , semacam acara membaca puisi islami dan tausiyah dari para santri dan ustad ustadzah dan juga ada penampilan marawis, bahkan jika terbilang bagus tausiyahnya dengn 3 bahasa dipilih untuk ikut lomba dab akan dikirim sebagai perwakian sekolah .
Mutia tidak ikut andil memeriahkan acara malam ini karna agak sedikit kurang enak badan lambungnya sakit kembali di sebabkan karna makanan yang tak menentu. Namun mutia enggan ke ruang sakit, mutia tetap hadir hanya saja berdiam diri ikut sebagai penonton, tidak mengawasi atau menjadi penilai muhadoroh.
Acara sedang berlangsung, semua santri bertepuk meriah.
Tiba tiba saja suara teriakan yang berasal dari Asrama santriwati terdengar kencang. Kali ini teriakannya sangat histeris.
__ADS_1
Aaakkhhhh tolong.. tolong...
Aaakhhhhhh....
Lampu asrama mati, beberapa pengurus berlarian menuju Asrama santriwati, disusul bagian keamanan.
Mutia dengan paksa ikut berlari Asrama. Saat mutia tiba, lampu sudah menyala, dan santri yang sakit sudah berkumpul di lantai satu. Dea yah lagi lagi Dea korbannya.
"Loh ka mutia ada disini, terus yang dilantai tiga siapa ka?" Tanya Dea.
"Aku memang sakit, tapi aku dikelas." Mutia.
"Ada apa ini?" Tanya ustad Bangkit yang baru datang bersama kepala keamanan.
"Tadi waktu saya ingin ke kamar mandi orang itu datang lagi tad, lalu saya menjerit karena orang itu mendekati saya. Dan saat saya menjerit. Seperti ka Mutia di lantai tiga sedang berjalan ke arah tangga." Jelasnya Dea.
"Semuanya keluar asrama!!" Ustd Bangkit
Semua santri keluar asrama, ustad bangkit, bagian keamanan dan beberapa pengurus berpencar melakukan aksi penangkapan Hamba Allah.
Saat berpencar dilantai dua asrama, ada kamar mandi baru yang belum 100% jadi. Disitulah tetangkapnya sang Hamba Allah, ia bersembunyi didekat tangga penghubung lantai 3 yang ditutup oleh hasil sitaan, tumpukan baju baju santriwati yang dilarang dibawa ke ma'had.
Bugh..
Bugh..
Bugh..
"Akkhh lepas !!" Hamba Allah yang mukanya ditutup dengan balutan sarung.
Tangan di ikat, kepala keamanan dan beberapa pengurus menggiring Hamba Allah menuju lapangan voli yang berada didepan asrama santriwan,
Sesampainya dilapangan voly
"Apa maksud dan tujuan anda meneror santri santri saya?" Tanya ustad bangkit dengan penekanan.
Hamba Allah terdiam. Mutia dan beberapa pengurus datang, bahkan Dea yang menjadi korban didatangkan untuk memperjelas kronologi dan menjadi saksi.
"Dea, benar tidak, orangnya ini?" Tanya ustad bangkit
"Benar ustad, pakaian dan posturnya sama" jelas Dea.
"Sekali lagi saya tanya, apa tujuan anda?"
Seketika ustad Bangkit membuka penutup kepala Hamba Allah, dan ternyata...........
__ADS_1