Kasih Sayang Palsu !!

Kasih Sayang Palsu !!
Berubah


__ADS_3

BAB 9


Seketika ustad Bangkit membuka penutup kepala Hamba Allah, dan ternyata...........


"Ternyata benar, apa yang aku duga, Hamba Allah itu mamang tukang bangunan.!!" Bisik hati kecil mutia.


Semua pengurus yang melihat syok.


Para santri berbondong bondong menonton integrosi ustad Bangkit dengan seorang Hamba Allah , ustad Bangkit terus menekan pertanyaan pertanyaan kenapa dan apa maksud tujuannya hingga mamang tukang bangunan membisu tidak bisa berkata kata.


 Setelah mendengar Dea yang mencerikan kronologi berawal mulanya Dea yang menyapa mamang tukang bangunan dan terkadang mmeri makanan sehingga mamang tukang bangunan selalu memantau dan memperhatikan gerak gerik Dea, sehingga malam dimana mmang tukang bangunan itu melakukan aksinya tanpa mmerdulikan adanya santriwati yang lain.


"Astaghfirullah, mang, mamang yang selalu Dea sapa di asrama. Kenapa ko Dea jadi inceran mamang?" Dea syok dan menangis.


Mamang tukang bangunan menatap Dea dengan sinis. Bisik bisik santri bagaikan lebah pun juga terdengar. Berbagai macam lontaran kata menyudutkan Dea, yup Dea terkenal akan kecentilannya.


"Lagian Dea kecentilan banget sih."


"Susah dibilangin. Sukurin, apes kan."


Terlihat dari postur tubuh Dea yang bahenol, mungkin dari situ lah mamang TB ( tukang bangunan ) mempunyai maksud tersendiri yakni tergoda, sehingga nafsunya menggebu gebu terhadap Dea sampai sampai CD Dea diambil untuk dimilikinya.


Untungnya kejadian ini tidak sampai dengan pelecehan. Mau tidak mau pihak pesantren menyerahkan mamang tukang bangunan ke pihak yang berwajib dan mmberhentikan pekerjaan pembangunan jemuran utara santriwati sampai suasana kembli tenang.


"Di mohon untuk semuanya bubar." Kepala keamanan.


Mendengar kronologi yang Dea ceritakan pengurus kesehatan membawa Dea keruang sakit, selebihnya agar Dea lebih tenang.


Jika tidak ada musuh, tidak ada pertarungan. Jika tidak ada pertarungan, tidak ada kemenangan dan jika tidak ada kemenangan maka tidak ada mahkota. Sri sultan Hamengkubuwono.


Mata merupakan anugerah terbesar bagi manusia yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sebagai anugerah , tentu manusia harus menjaganya dengan baik dan merawatnya dari bahaya kerusakannya. 


Salah satu yang diwajibkan dalam Islam adalah menjaga pandangan mata ini. Karena Islam merupakan ajaran yang sangat menjaga pemeluknya agar terhindar dari dosa, maksiat, ataupun marabahaya lain.


 Bentuk-bentuk penjagaan Islam ini terdiri dari penjagaan atas akidah, akal, harta, jiwa dan menjaga keturunan. Menjaga pandangan mata, dalam hal ini dimaksudkan untuk menjaga mata dalam memandang sesuatu yang dilarang oleh Allah Ta'ala. Kewajiban ini tidak hanya berlaku pada laki-laki tetapi juga pada perempuan.


*******

__ADS_1


Tiga minggu berlalu tak halnya aktivitas yang berbeda setiap harinya namun sama dalam setiap minggunya. 


Pagi ini, hari ini adalah hari jum'at, hari dimana para santri libur, ada yang dikunjungi oleh orang tuanya, ada yang mendapat perizinan pulang dan keluar, ada juga yang ikut serta membantu masak didapur inti untuk makan siang semua santri. Hari jum'at menu spesialnya parasantri yaitu opor ayam dan ada tambahannya buah semangka.


 Ups begtupun hari jum'at juga disebutnya hri gotong royong atau kerja bakti pondok pesantren.


Selsai kerja bakti pondok pesntren, mutia tak langsung pergi keasrama.


Mutia merenung mendekap kedua kakinya dipojok kelas. merindukan sosok Ibu dan Fadil yang lama tidak berkunjung ke pondok pesantren.


"Bagaimna ya kabar mereka" batin mutia.


"Iielan, ukhty Mutia , fadholii ila dhiwan. Syukron!!" ( pengumuman, pnggilan kepada mutia, silahkan ke kantor, terimakasih.!!


Suara panggilan kepada Mutia dari sumber informasi atau pers yang berjaga minggu ini.


Mutia bergegas kearah kantor, terkejut, senang, bahagia. karna satu bulan lamanya tanpa kabar sang Ibu. Kini ibu Ami berkunjung, menjenguk mutia.


Betapa senangnya Mutia, sampai reflek memeluk ibu Ami. Namun bertolak kasar dengan sikap ibu Ami saat ini.


"Ibu." Panggil lirih mutia, ia amat takut mendapati sikap ibunya yang sedikit berbeda.


Mereka pun berlalu, namun hanya sampai depan gerbang asrama saja.


"Nih duit, diawet awet ya, ibu gk punya duit lagi. Kalau bisa cari sendiri.!!" Ibu Ami penuh penekanan kepada Mutia, dan memberikan beberapa lembaran merah kepada Mutia.


"Ibu.. ibu kenapa?" Tnya mutia


"Iba.. ibu.. iba.. ibu.. nih liat, bayar spp kamu aja 4 juta, nyusain aja jadi anak. Nih makanan, gk tau kapan ibu bakal kesini lagi.


"Yaudah ibu mau pulang.!!" Jawab ibu Ami ketus.


"Ibu.. Mutia masih kangen ibu, gimna kabar adil.?" Tnya Mutia sambil mnguatkan dirinya.


"Ibu capek, ibu mau pulang." 


"Yaudh bu, nanti kesini lagi ya bu" pinta mutia, mengambil tangan ibu Ami untuk menyalami dengan takzim selesai bersalaman ibu ami pun berlalu.

__ADS_1


Mutia hanya menatap ibu Ami sampai dengan bayangan ibu Ami menghilang. Tetes demi tetes membasahi pipi mulusnya.


Dengan berat hati, sesak didada menyisakan kesedihan yang amat dalam, harapan mutia kuat yakni Ibunya malah bersikap Berubah dari sikap nya yang dulu.


Hidup ini penuh dengan teka teki, sikap seseorang bisa berubah kapanpun.


"Ya Allah, kenyataan apalagi yang harus aku terima."


"Mut, ko ngelamun.. eh eh kenapa mut?" Tanya inayah, Mutia


menjatuhkn dirinya kedekapan innayah, untuk membebaskn rasa sesek didadanya, menangis sesegukan sehingga mengundang banyak santri berdatangan. 


"Ayo ayo.. kita kedalam dulu, malu nih diliatin adek kelas" ajak inayah.


"Ni afni.. afwn ila huna ( ni afni.. maaf kesini )" teriak inayah mmanggil afni untuk membawa rantang mkanan Mutia yang diberi oleh ibu Ami. 


"Afni.. bisur'ah ila huna ( afni.. cepat ke sini )" innayah


"Na'am inayah" jawab afni segera menuruni tangga menuju lanti satu asrama.


"Kenapa Mutia na?" Tanya Afni.


"Bawa nih, kita ke kantor Osis aja yuk. Takut kena jasus disini" bisik inayah menyerangkn rantng maknan mutia ke afni dan mengajak ke ruang osis, takut terkena mata mata bahasa, karena berbahasa indonesia. Dan jasus ini berlaku untuk semua santri yang tidak menggunkan bahasa arab atau inggris. 


Mereka bertiga menuju ruang Osis. Sesampainya diruang Osis yang bermodel seperti gubuk moderen, berdining bambu yang dianyam dengan jendela berjaring sedang dan bertutup gorden jadul.


Mutia memilih duduk dibawah sebuah rak buku, Afnu menghampiri Mutia dan mengambil posisi duduk disamping gadis itu dengan lutut ditekuk dan kedua tangan yang dijadikan tumpuhan. 


Angin sepoi-sepoi menerbangkan hijab hijab Mutia membuat sebagian wajahnya tertutup oleh hijabnya


"Mut!" Panggil Afani dan inayah..


"Haha" Afni dan Innayah terawa karena menmanggil mutia kompak


Mutia yang sedang merapikan hijabnya pun reflek menoleh pada Afni . Afni menatap wajah Mutia yang sendu, mata indahnya yang mmbesar karena menangis  dengan lamat, ia sangat mengagumi wajah cantik milik Mutia tetapi alasan ia mengagumi Mutia bukan karena wajahnya saja tetapi sifat Mutia yang pantang menyerah dan selalu menutupi kesedihannya dengan senyuman, namun kali ini Mutia terlihat lgi akan kesedihannya. Afni dan Innayah akan selalu menemani Mutia.


********

__ADS_1


Sebuah kasih sayang palsu mulai terbentuk guys, apakah mutia akan kuat untuk kedepannya? Karna bagi seorang anak yang telah kehilangan ayahnya sangt berat untuk menjalani hari harinya, ditambah sikap ibunya yang berubah,.


Selamat membaca,.....


__ADS_2