
Mengenal pribadimu yang menyukai diriku jauh membuatku bahagia daripada diammu yang menyiksaku.
-Lia-
Bukan seperti itu. Intinya bukan seperti itu.
-Rey-
Juni 8, 2015
Kisah ini pun dimulai dimana dua insan hari ini sah menjadi pasangan suami-istri. Lekuk tubuh berisi nan seksi ala wanita dewasa pada umumnya, membuat kebaya putih itu sangat pas di tubuh Lia. Bahkan warna eye-shadow dan make up lainnya tampak pas di wajah gadis itu. Nyaris sempurna. Disampingnya kini pria 28 tahun yang beberapa saat lalu sah jadi suaminya itu juga tampak tak kalah mencuri perhatian. Mereka tampak sangat serasi. Dan mereka bahagia, para orang tuanya, bukan pengantinnya.
‘’Rey, kau keringatan, mau ku ambilkan tisu?’’ Yang ditanya tak bergeming sama sekali. Betapa turun harga diri wanita itu yang tak di acuhkan sama sekali. Berusaha tetap tegar adalah jalan terbaik. Semoga para tamu sedang dalam mode tuli.
Lia mengambil tisu dan mengelap tangannya yang sedikit berkeringat Karena geram. Belum pernah sekalipun ia diamkan oleh siapapun seperti ini. Sungguh keterlaluan! Tapi Lia tahu ini belum saatnya lagu “kumenangis membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku” yang dipopulerkan oleh Rossa itu dinyanyikan atau dihayati, karena masih banyak lagi perlakuan yang menyedihkan ke depannya. Berarti haruskah wanita ini banyak-banyak menonton sinetron agar dirinya dapat belajar lebih sabar? Karena setahunya tidak ada manusia pemecah rekor kesabaran selain di FTV yang sering ditonton oleh sang Ibu. Bersimulasilah mulai sekarang wahai pengantin wanita.
Lia harus belajar menurunkan sedikit demi sedikit ego yang biasanya dimiliki semua kaum Hawa. “Kau haus?”
“Hem.”
‘’Aku ambilkan dulu ya.’’ Balasan ‘’hem’’ itu mampu melukiskan senyum manis di wajah Lia. Ia pun dengan girang turun dari kursi pelaminan untuk mengambil air.
“Mbak, awas!’’ Teriak salah satu tamu yang melihat kebaya Lia sangkut di salah satu meja minuman dan ya, semua yang ada diatas meja itu pun tumpah.
‘’Aw.” Pekik Lia. Entah sejak kapan ada paku kecil di meja sana dan tiba-tiba saja sangkut tak jelas di kebaya wanita itu. Yang ia tahu dirinya tak pernah ceroboh dalam hal apapun. Lamunan yang sejenak memikirkan
__ADS_1
logika kejadian itu lebih dulu ditepisnya, Lia langsung mendongak ke arah pria yang beberapa jam lalu sah menjadi suaminya. ‘’Mati aku,’’ gumamnya.
‘’Eh, anakku… Hati-hati sayang,’’ sang Mertua yang tampak begitu mengasihi wanita itu membantu untuk menarik diri dari pecahan gelas yang jatuh. Ibu Nina, bisakah anakmu yang datang kesini dan membantuku? Ingin sekali kalimat itu ia lontarkan saat itu juga. Kenyataannya, Rey, sang suami malah memainkan ponsel dan seolah tak peduli. Sesak sekali dada ini.
‘’Bu, maaf.”
‘’Tidak sayang, kau tidak salah. Gantilah lagi pakaianmu dengan busana yang ada di ruang rias. Suamimu sedang menunggu.’’ Ucapnya penuh sayang.
Ibu Lisa yang adalah Ibu kandung Lia baru saja dari kamar mandi kaget melihat Lia yang hampir berantakan namun tetap cantik. ‘’ Ada apa?’’ Belum sempat dijawab, ‘’ah ya ampun kau ini Lia! Ayo ganti pakaianmu.” Lia ditarik dengan wajah yang gusar.
Wahai para peri, tolong aku. Hiks. Maaf Rey sudah mempermalukanmu. Menyesali semuanya itu dalam tunduk dan kemanyunan membuat Ibu Lisa jadi mengomel, ‘’udah dewasa tapi masih saja tidak hati-hati. Dasar kau ini! Bagaimana jika suamimu marah dan malam pertama kalian jadi rusak karena moodnya tidak baik karena mu?!’’ Kancing busana baru itu hampir putus karena Ibunya memasang dengan amarah. Dan amarah itu berisi tentang malam pertama yang merupakan hal menakutkan bagi seorang Lia.
‘’Ma.. malam pertama?’’ Tanyanya pada diri sendiri yang sedang berhadapan dengan cermin. Berulang kali ia bertanya hingga suaranya tak terdengar lagi.
‘’Tidakkkk!”
Usai kejadian memalukan itu, banyak para tamu yang langsung undur diri dan berpamitan pulang. Namun tidak banyak yang menjadikan Lia sebagai buah bibir, karena pembawaan wanita itu yang cukup elegan dan tenang. Wajar, ia adalah member kosmetik kecantikan brand terkenal saat itu sekaligus penulis jadi orang-orang yang
telah mengenal sosok dirinya tak terlalu berani untuk mencibir.
Disinilah mereka, di kamar segi empat yang lumayan luas dengan dekorasi yang sedikit berlebihan membuat Lia sedikit sesak Karena aroma mawar itu. ‘’Ha..ha..hacim!’’
Rey yang kala itu baru selesai mandi sedikit menoleh kemudian berlalu begitu saja untuk berganti pakaian. Mata Lia seakan jatuh naik turun dengan sendirinya melihat penampilan sang suami yang hanya mengenakan handuk putih di pingang. Dipikirannya hanyalah tentang malam pertama. Ia takut. Dirinya terlalu takut untuk disentuh.
Lia menyusun ide-ide konyol dipikirannya. Ahh, baiklah aku akan berpura-pura datang bulan saja. Ia kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dengan sengaja berlama-berlama di dalam sana dengan tujuan agar suaminya tidur lebih dulu dan malam pertama terlewatkan begitu saja.
__ADS_1
Dua jam berlalu Lia baru keluar. Di dapatinya Rey sedang membaca sesuatu di laptopnya. Sangat serius, sepertinya sedang bekerja. Apa? Bekerja? Bukankah hari ini adalah hari spesial yang seharusnya tidak ada kegiatan padat yang menyusahkan pikiran?
Oh ayolah, Lia hampir lupa dengan siapa ia menikah. Sejenak ia kembali sadar. ‘’Ya, aku menikahi dia, dia yang telah berubah,’’
Baru saja Lia duduk di depan cermin rias, Rey kemudian berucap, ‘’pilih saja, tidur di lantai atau sofa.’’
Lia tak merasa sedang berbicara dengan sang suami. Setelah dicerna, hanya mereka berdua di dalam sana.
‘’Apa maksudmu?’’
Rey fokus pada laptopnya.
‘’Tidak adakah pilihan tidur di kasur?’’
Bahkan menjawab 'tidak' pun suaminya itu terasa sangat tabu untuk berbicara. ‘’Sialan.’’ Umpat Lia kesal.
Belum sempat wanita itu menyisir rambutnya yang basah, ia menarik selimut dari kasur dengan sangat kasar hampir membuat Rey terjatuh. Ia tidak peduli. Sungguh.
Lia melakukan sedikit peregangan di otot-otot tangan dan mematahkan leher ke kiri dan ke kanan beberapa kali. ‘’Sungguh bodoh diriku! Seharusnya aku tak perlu mengarang bebas di kamar mandi selama dua jam untuk satu alasan tak mau melakukan hubungan suami-istri di malam pertama. Huh! Nyatanya pria itu pun tak berminat sama sekali,’’ Lia menggerutu tak jelas dan samar-samar di dengar Rey namun sangat jelas didengar oleh sosok yang lain.
‘’Uhuk-uhuk!’’
Mendengar sang suami terbatuk tiba-tiba, Lia sedikit berlari mendekat. ‘’Ada apa?’’ Meski ia tak peduli padaku, yang terutama saat ini aku adalah istrinya. Begitulah sikap yang diambil alih oleh Lia dan diperankan sangat baik wahai saudara. Namun sayang, peran perempuan sabar harus semakin dipertebal untuk dirinya, karena usai mendengar pertanyaan dari sang istri, Rey beranjak begitu saja keluar kamar.
Lia menyusul, ‘’Rey, ak..” akan tetapi ia langsung bungkam. Rey menunduk dan menutup kedua telinganya. Sudah saatnya kah Lia menangis sekarang? Wahai sutradara, bisakah peran wanita ini di ganti saja?
__ADS_1
Lia terpaku melihat sang suami yang mulai menatap kosong kearah dirinya, “jauhi aku!”
Lia tersentak, batinnya benar-benar tak siap. Namun, yang terjadi adalah, ‘’Hiks, hiks.. ah! Cukup, ini bukan diriku.” Perempuan itu menyapu air matanya yang sedikit tumpah. Hanya sebatas itu saudara ia bersedih. Ya sudahlah.