KAU CAHAYAKU

KAU CAHAYAKU
365 hari


__ADS_3

"Bu, aku berangkat kerja dulu ya," ucap seorang lelaki yang sudah rapi pagi itu.


Sang Ibu yang masih sarapan pun menyahut, "hati-hati ya, Rey. Jangan lupa makan siang,"


"Siap, dadah.." Ia pun melambai.


Bermula dari kebisingan dua hantu yang setahun lalu mengusik kehidupan seorang Rey, diapun jadi kesal. Namun tak bisa dipungkiri, merekalah penyebab Rey bisa mendengar orang-orang sekitarnya lagi. Ya, dirinya hanya butuh teman saja saat itu.


"Rey, perempuan yang sering kau ceritakan itu secantik apa sih sampai membuatmu setengah gila waktu itu?"


Rey yang semula fokus mengemudi mobilnya jadi melirik ke belakang, "Yang pasti lebih cantik dari kalian berdua," jawabnya sembari tersenyum.


"Cantik-cantik bodoh."


"Ck, jangan menghinanya, hantu Senior," tegur Rey.


"Hem. Baiklah."


"Hei, tumben si Junior diam saja."


"Dia lagi jatuh cinta." Jawab Senior.


Rey terkekeh, "dengan siapa? Pocong? Hantu penasaran? Atau arwah penasaran?"


"Sembarangan!" Ketus Junior, "aku tuh lagi jatuh cinta dengan sebuah novel. Penulisnya itu bikin mewek tahu gak sih." Kemudian ia membuka episode yang baru lagi dari aplikasi yang sering ia gunakan. Kebetulan hari ini dia mendapat notifikasi sang author favoritnya sedang update episode terbaru.


"Sekarang kekuatan kalian semakin hebat ya, bahkan kalian bisa mengotak-atik tab ku." Seru Rey.


"Masih sampai menyentuh barang, kalau menyentuh manusia belum. Tapi kemarin ada hantu yang bilang kalau sudah dua tahun jadi hantu, kemungkinan bisa menyentuh manusia." Jelas Junior.


Rey hanya ber-oh ria. "Siapa sih nama penulis novel online itu? Aku jadi penasaran."


"Disini sih ditulis LILYANA FRANK."


Jawaban dari hantu Junior sempat membuat Rey berfikir. Lilyana? Frank? Bukankah itu gabungan nama Lia dan nama belakang ku? Ah tidak mungkin. Ia pun menggelengkan kepala.


"Sudah berapa lama ia menulis novel itu?"


"Baru seminggu, tapi episodenya sudah banyak. Dia baru kasih pengumuman besok mau di tamatin. Uh, sedih.."


Hantu Senior yang sedari tadi hanya menyimak saja, kemudian berkomentar, "Isinya tentang apa sih sampai kau benar-benar jatuh cinta?"


Junior pun mengusap matanya yang sedikit perih karena layar tab, "penulis ini tuh benar-benar bisa merangkai semua alur dan kisah jadi satu. Aku tebak ini bakalan jadi sad ending. Soalnya, ini tuh menceritakan tentang tiga bersahabat yang berusaha menegakkan keadilan. Dua sahabatnya kemudian meninggal, lalu yang seorang lagi mencari mereka dan meninggalkan kekasihnya. Intinya, dia sudah pergi selama tiga ratus enam puluh lima hari. Dan dia belum bisa kembali."


Rey dan hantu Senior manggut-manggut. Kedengarannya seru. Pikir mereka.


"Baiklah, kita sudah sampai di kantorku," Rey mematikan mesin mobilnya lalu berbalik, "ingat, jangan buat aku bicara sendiri di depan umum. Nanti bisa kacau semuanya."


"Siap pak Bos!"


***


Tiga ratus enam puluh lima hari


Bayangmu masih menghalangi hatiku berlari


Bagaimana ku bisa temukan cinta yang baru

__ADS_1


Bila kau masih di pikiranku


Seorang wanita berambut pendek sebahu sedang memutar lagu yang sedang populer pada jaman itu. Hatinya begitu terenyuh. Dari lagu ini pula dia terinspirasi membuat novel yang berjudul "365 hari" yang ia upload ke aplikasi pilihannya.


Setiap lirik dalam lagu itu seperti menggambarkan perasaannya saat ini, apalagi di awal lirik.


Tiga ratus enam puluh lima hari


Bayangmu masih menghalangi hatiku berlari


Bagaimana ku bisa temukan cinta yang baru


Bila kau masih di pikiranku


Masih jelas ditelinga


Manis kau berkata


Kau takkan pernah tinggalkan aku


Di lain tempat, Rey juga sedang memetik gitar di ruangannya dan menyanyikan lagu itu. Sewaktu ia senggang beberapa menit yang lalu, sang hantu Junior memberitahu bahwa penulis favoritnya itu terinspirasi oleh lagu yang baru rilis. Ia pun memberikan nada lagu tersebut melalui google play musik.


Di waktu yang sama di lain tempat, dua insan duduk termangu. Saling memikirkan, saling berharap, saling merindu.


"Sudah tiga ratus enam puluh lima hari, Lia," gumam Rey.


"Hei, lihat! Sepeda ini bagus sekali." Seru hantu Junior. "Rey, belikan satu untukku ya,"


"Ck, kalau ku belikan untukmu, sewaktu kau pakai nanti semua orang jadi lari, karena melihat sepeda berjalan sendiri," ketus Rey sebab mengganggu dirinya disaat sedang galau-galaunya.


"Yang benar itu, minta belikan tab pada Rey," usul Senior, "supaya kau tak meminjam tab miliknya lagi,"


"Ah, ide yang bagus, Senior. Untuk kali ini ku berikan satu permintaan untukmu. Biar nanti Rey yang memberikan permintaan itu."


"Eh?" Rey membelalakkan mata, "sejak kapan hantu-hantu seperti kalian jadi cerdik begini? Eh, ralat, licik maksud ku."


"Ah, lihatlah itu, perhitungan sekali dia, Senior,"


"Entahlah. Ganteng-ganteng pelit!"


Rey bengong sejenak, kemudian tertawa kecil. "Ya sudah, nanti ku belikan, sebutkan saja apa yang kalian minta."


"Aku mau dibelikan tab saja," seru si Junior. Dan di balas anggukan kepala dari orang ganteng.


"Aku sih tidak meminta hal yang merepotkan, apalagi benda kecil seperti permintaan hantu Junior" hantu Senior melirik ke arah Rey, ada asupan dingin yang tiba-tiba merasuki tubuh Rey, ia sedang wanti-wanti, perasaannya tidak enak, "aku hanya mau mobil saja."


Sial! Benar tidak enakkan perasaanku tadi. Dan inikah yang namanya tidak merepotkan?


"Kau dengar tidak? Aku mau mobil." Ulang si hantu Senior.


"Kenapa harus mobil, itu sama saja seperti kau meminta sepeda," jawab Rey.


"Tidak. Itu sangat berbeda. Mobil kan di tutup, jadi orang luar tidak bisa melihat apa pun yang ada di dalam."


"Tidak boleh. Itu terlalu berbahaya,"


"Kau mau atau tidak?" Ancam hantu Senior dengan menggertakkan giginya.

__ADS_1


"Kau curang sekali Senior! Aku meminta tab dan kau meminta mobil, itu tidak seimbang!"


"Kau jangan ikut campur dulu! Itu saja belum tentu di belikan, aku sedang berusaha."


Rey berdehem, "Bukan berusaha, tapi memaksa." Ralatnya.


"Ah, CURANG!!" Junior jadi terbawa emosi dan menarik rambut Senior.


"Berani sekali kau," Senior pun tak mau kalah. "Rasakan ini!" Dia menjambak rambut Junior.


Kericuhan pun terjadi di ruangan itu. Dan hanya Rey yang dapat mendengar. Saat sekertaris pria itu masuk, "Berhenti!" Sang sekertaris pun terperanjak. Ia tak menyangka mood bosnya sedang hancur. Ia pun berangsur mundur, padahal dirinya sudah ber-make up maksimal sebelum masuk ke ruangan itu tadi. Sial.


"Cukup! HEI!"


Lerai Rey, sembari mencoba melepaskan keduanya, namun sia-sia. Sebab dirinya tak bisa menyentuh keduanya.


"Dengarkan aku Junior," tangannya masih menarik rambut Junior, "bagaimana kalau kita minta dua-duanya,"


"Apa maksudmu?" Tanyanya, sembari sesekali masih menarik rambut lawannya.


"Kau mintalah mobil dan tab," Ia terengah-engah, "dan aku juga akan melakukan hal yang sama."


"Baiklah, tapi lepaskan rambutku terlebih dahulu." Ucap Junior.


"Kau terlebih dahulu."


"Tidak mau! Kau pasti akan curang lagi." Tolak Junior.


"Ck, kalau begitu hitung sampai tiga."


Satu.


Dua.


Tiga.


"Arggggg"


Keduanya malah saling menarik kembali. Mereka sama-sama melanggar perjanjian. Rey menjambak rambutnya Frustasi.


"Ah, hantu-hantu gila! Sialan!" Umpatnya. Ia pun keluar dari ruangan.


"Rey!"


"Jangan tinggalkan kami."


"Hei!"


Begitulah keributan yang selalu tercipta diantara kedua hantu itu. Dan Rey tak bisa mengelak, kalau seandainya mereka berdua tidak ada dalam hidupnya, mungkin ia masih terkurung dalam kesepian dan kekelaman dalam bungkusan kekecewaan.



Lia : sabar ya Bang.



Rey : Abang tidur dulu Dek, Junior sama Senior berisik sekali 😤

__ADS_1


__ADS_2