
Arrgggpppp!
Sebuah teriakan tertahan dari kamar seorang gadis membuat sang Ibu celingak-celinguk.
"Lia? Apa kau baik-baik saja?"
Aduh.
"Iya, Bu. Tidak apa-apa," jawabnya masih tersenyum kemudian menarik selimut dan menggigitnya, ia geram. Berguling ke sana kemari kembali berteriak senang. Rona merah di pipinya kini di tutupi dengan selimut pink tebal miliknya.
Ia membayangkan betapa manis lamaran yang baru saja terjadi antara dirinya dan Rey di mobil.
"Aku memang belum lulus kuliah, tapi aku sudah ku pastikan bisa menafkahi mu dan anak-anak kita nanti. Menikahlah denganku,"
Mengingat itu, kehebohan terulang lagi di atas kasur. Lia menendang bebas semuanya.
"Ada banyak jalan yang harus di tempuh pejuang cinta untuk menemukan jodoh mereka, eh tahunya pulang dari perantauan jodohnya tetangga sebelah. Ngapain sih kita tunggu lama, kalau dari awal sudah di takdir kan bersama?"
Lia hanya diam kala itu. Yang dia butuh selama ini hanya pengakuan cinta yang serius. Dirinya terlalu sering mendengar gombalan dari Rey di depan orang, ia suka, tapi itu tidak terlalu membuatnya yakin.
Tapi hari ini, di usianya yang genap delapan belas tahun, gadis itu merasa senang karena ternyata sang pujaan hatinya itu membalas rasa dan menjawab keraguannya.
"Tapi aku takut malam pertama." Jawab polos dari gadis itu.
Rey mengerjap kemudian tertawa. "Ada-ada saja. Cukup lakukan dengan pelan," ia menarik tengkuk Lia dan melakukan hal yang sama seperti di gedung kenangan buatannya. Sangat lembut hingga sanggup membangun desiran di hati Lia. "Seperti ini," ucapnya setelah melepasnya. Lalu di balas anggukan dari perempuan itu.
Masih dalam keadaan senyam-senyum, Lia mulai bangun dari tempat tidur dan berjalan ke arah cermin.
"Hei, apa ini?" panik Lia. Bercak merah bekas ulah Rey terpampang jelas di leher mulusnya.
"Aku tidak terima! Ini terlalu banyak. Aku harus membalasnya!"
Lia berlari ke luar kamar, tak lupa menarik syal yang tergantung di balik pintu kamar kemudian melilitkannya di leher.
"Eh, sudah mau larut, mau kemana?" tanya sang Ibu yang melihat Lia lari terburu-buru menuju pintu luar.
"Mau balas dendam sama Rey, Bu"
***
"Hei!"
"Astaga Lia," Rey kala itu sedang tiduran santai ranjang terlonjak kaget. "Sstt, Ibu sudah tidur, jangan teriak," tegurnya.
"Gak peduli," ia melipat tangannya di dada.
Mengalah. Hanya tindakan itu jalan satu-satunya yang bisa menyelamatkan ketentraman di larut malam seperti ini. Rey mendekat, menarik gadis yang baru saja ia lamar beberapa menit lalu untuk masuk ke kamar dan mengunci pintunya.
__ADS_1
"Bicara pelan-pelan, ada apa sayang?" Tanyanya lembut, dengan panggilan yang sudah disepakati sejak hubungan pacaran disahkan di mobil pria itu tadi.
"Ini apa?" tunjuk Lia pada lehernya, saat dirinya sudah melepas syal.
Yang di tanya pun cengengesan, "anu, bekas simulasi,"
"Ha?"
"Itu bentuk cinta,"
Cih, apa-apaan!
"Kau curang!"
"Ssttt, kurangi suaramu," Rey menutup mulut Lia dengan tangannya.
"Ih, lepas! Aku mau balas dendam," rautnya tampak kesal.
"Hem?"
"Aku juga harus membuat lehermu merah seperti ini," ia menunjukkan lehernya, Rey hanya bisa menahan tawa melihat tingkah kepolosan kekasihnya.
"Nanti saja ya, tunggu aku minta ijin supaya bisa menikahi mu setelah kau tamat sekolah. Tinggal beberapa bulan lagi, sabar."
"Aku tidak mau! Kau curang,"
Belum sempat Rey memberi alasan, Lia mendorong Rey, pemuda itu sampai terjungkal dan jatuh di kasur. Eh, ada yang salah, pikir Lia.
"Eh," Lia menggigit bibir bawahnya, "aku tidak tahu caranya,"
"Hahaha," Rey tertawa. "Dasar kau ini," ia mencubit hidung Lia sekilas, gemas sekali melihat kekasih polosnya ini, "jangan hanya punya niat balas dendam jika tidak tahu caranya. Apalagi jika seperti ini, Gilbird bisa bangun sayang," Ucap Rey, sekilas mengecup pipi gadis itu saking gemasnya.
Lia menggaruk pipinya. Mencoba berfikir. Matanya beralih pada Rey dan tersenyum penuh arti.
"Apa?"
"Bang ajarin...." Rengek Lia dan hanya bisa di sambut tawa dari pria itu. Karena jujur, ia pun tak berdaya untuk menolak.
"Baiklah, biarkan aku duduk dulu," Lia menurut, sembari membiarkan Rey mengambil tempat yang nyaman, yaitu dengan menyenderkan punggung di kepala kasur. "Kemari," ia menepuk pahanya yang menyuruh gadis itu untuk duduk di sana.
"Siap?" tanyanya.
"Eh, tunggu dulu. Biar aku yang melakukannya, kau hanya memberi instruksi saja,"
"Baiklah. Mulai dari sini," jari telunjuknya ia arahkan ke leher sebelah kanan bagian bawah.
Begini, begitu. Rey menjelaskan secara rinci dan dengan cepat dipelajari Lia. Dalam proses belajar yang lama kelamaan jadi keseriusan yang tadinya hanya Lia yang bertindak, Rey pun berangsur mengambil bagian.
__ADS_1
Dosa sebelum sah memang tiada duanya saudara-saudara. Tapi jangan senang dulu wahai para setan penggoda!
"Rey, Lia.. di dalam ngapain sih? Sudah larut malam," Ibu Nina melongo tak percaya, akibat kebiasaannya tak pernah mengetuk pintu langsung menyelonong masuk ke kamar Rey, menjadi penolong bagi para malaikat malam ini. "Ya Tuhan," kedua tangan di angkat ke atas membungkam mulut.
***
"Jewer telinga Rey," Lia yang di beri perintah hanya menurut. Mereka saling berhadapan, Lia mulai mengulurkan salah satu tangannya, "dua tangan Lia!" Sigap, Lia menempelkan tangannya di telinga Rey. "Tarik!"
"Au, auww, sakit sayang," Rey mengadu.
"Sayang?" Ibu Nina memandang mereka satu persatu, Lia hanya bisa menunduk. Ia malu sekali. Suasana seperti apa ini? "Kalian pacaran?"
"Rey sebenarnya mau nikah saja Bu, kalau pacaran ya gini, buat dosa," jawabnya memelas.
"Apa? Nikah?"
"Jewer lagi Lia!"
"Jangan Tante, kasihan pacar Lia," rengeknya.
"Astaga, hahaha" Sang Tante menangkup wajah Lia, wajahnya berseri, "jadi kamu mau jadi pacarnya Rey?"
"Mau Tante,"
"Tante pikir dia di tolak hari ini. Terimakasih sayang, Tante kasih restu. Jangan tinggalin Rey,"
Mendengar itu, Lia pun tersenyum terharu. Ingatannya tentang janji yang harus ia tepati pada mendiang ayah Rey, membuatnya tak menyesal menaruh hati pada pemuda itu.
"Telinga aku di lepasin dong Ya, sakit ini,"
"Eh, maaf, hehehe"
"Ya sudah, belajar yang fokus dulu ya Lia, nanti kalau sudah selesai Ujian Nasional kalian menikah."
"Iya Tante. Eh?" Lia mengerjap gugup kembali menatap sang kekasih yang sedang tersenyum dan beralih memeluk ibunya.
"Terimakasih Ibu negaraku yang tercantik." Ucap Rey, "tapi kalau nunggu Lia tamat sepertinya kelamaan Bu," tawarnya.
"Ah, kau lihat pacarmu ini. Ingin sekali ku jewer dia,"
Lia tertawa. "Jangan Tante. Biar Lia saja,"
Mereka pun tertawa. "Kalau Lia masih panggil Tante, nikahannya di undur sampai tahun dua ribu lima belas."
"Wah, jangan dong Bu. Terus Lia harus panggil apa?" tanya Rey paling antusias karena ia yang paling takut jika tak direstui.
"Ya panggil Ibu dong,"
__ADS_1
"Iya Bu, Ibu Mertua, hehehe"