KAU CAHAYAKU

KAU CAHAYAKU
Masa lalu (2)


__ADS_3

Rey termenung mengingat kejadian kemarin siang dengan tetangga barunya. Gadis itu manis tapi sedikit gila. Dia tertawa sendiri. Dan Rey tak merasa terancam atau merasa takut sedikitpun dengan Lia. Justru sebaliknya, dia ingin lebih dekat dengan gadis manis itu.


“Rey, Ibu masuk ya,”


“Masuklah Bu.”


Nina membawa segelas susu putih untuk putranya agar diminum sebelum tidur.


“Kau tampak berseri, ada apa?’’ tanya sang Ibu.


“Tetangga sebelah kita itu anaknya cantik.”


Sang Ibu pun tersenyum. “Dia tidak cantik. Tapi manis.”


Rey mengangguk setuju. “Tapi dia sedikit seram Bu,” ucapnya serius namun dianggap bercanda oleh ibunya.


“Tidak, dia anak yang baik. Tapi akhir-akhir ini dia jadi berubah pendiam sejak kematian ayahnya. Bertemanlah dengannya ya, supaya dia bisa ceria lagi. Kasian Ibu Lisa.”


Banyak pertanyaan yang ingin di utarakan Rey pada sang Ibu mengenai keadaan Lia terlebih tentang kejadian kematian ayah gadis itu. Tapi niatnya ia urungkan. Justru itu dijadikannya sebagai acuan untuk dekat dengan gadis itu. Dia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Lia. Gadis manis itu.


“Ya sudah, habiskan susunya kemudian tidurlah. Besok harus sekolah.” Rey mengangguk dan melambai saat sang Ibu menutup pintu.


Sembari menyusun rencana untuk berteman dengan Lia, tak sengaja Rey menoleh ke arah jendela dan nyaris teriak saat melihat sosok anak perempuan panjang rambut memakai gaun putih santai sedang menatap ke arah langit.


“Ah, dasar! Membuat takut saja.” Gerutu Rey. Dia mulai turun dari ranjang menuju jendela kamarnya yang berseberangan dengan rumah Lia.


Tampak disana gadis manis itu sedang menatap lurus ke satu arah. Rey mengikuti pandangannya. Cantik sekali gumam Rey. Saat ini mereka sama-sama menatap benda penerang yang indah di langit yaitu bulan.


Rey menoleh ke arah jendela kamar Lia. Gadis itu sudah pergi. “Ah, sial. Seharusnya aku tidak terpana dengan bulan. Bahkan di seberang sana jauh lebih indah.”


Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta saudara? Oh tolonglah, jatuh cinta sedini ini hampir membuat siapapun jadi gila. Baiklah. Kembali ke kisah ini.


Rey masih berharap Lia muncul sekali lagi disana. “Ku mohon, muncullah.” Harapnya.


Dan ya, Lia benar-benar muncul. Namun tak disangka gadis itu membawa pisau dan mengarahkannya ke arah Rey.


Rey tersenyum. “Ah, kenapa dia jadi semakin menggemaskan ketika berakting seperti itu?’’


Tatapan Lia semakin menajam dari arah yang berlawanan. Rey menyilangkan ibu jari dan jari telunjuknya membuat bentuk cinta disana. Samar-samar Rey melihat gerak bibir Lia sedang mengumpat. Rey tertawa puas dan kembali ke tempat tidurnya.


“Ah, imut sekali dia.”


***


November 11, 2000


Rey mengetuk rumah Lia. Lisa membuka dan dengan raut sangat senang menyambut putra dari sahabatnya itu.


“Halo Ibu mertua,” sapanya.


“Hai menantu ku,” jawab Lisa dengan senyum cerah. “Oh, ralat Rey, calon menantu maksudnya.”


Rey tertawa pelan. “Sahkan saja Tante. Karena aku sangat menyukai putrimu.”


“Terserah kau sajalah. Kau mau menemui Lia kan?”


“Iya, dia dimana Tan?’’


Lisa mengantar Rey ke kamar Lia. Lisa mengetuk pintu kamar dan mengatakan bahwa Rey berkunjung.

__ADS_1


“Katakan padanya aku sedang sakit Bu.” Jawab Lia dari dalam kamar.


“Bolehkah aku saja yang masuk Tan?”


Lisa tampak berpikir dan akhirnya mengangguk juga. Rey hendak masuk ke dalam namun berhenti saat Lisa mengucapkan sesuatu, “bolehkah aku mempercayakan kebahagiaan Lia padamu?’’


“Aku ini manusia Tan, ingkar janji sedikit bisa kan?’’


Lisa tertawa mendengar itu. Dia jadi sedikit terpukau karena kebijakan Rey.  “Selamat berjuang menantuku, hahaha”


Rey menarik nafas sedalam-dalamnya sebelum akhirnya meraih gagang pintu dan membukanya.


“Hai,” sapanya.


“Keluar!” bentak Lia.


Perintah itu tentu saja tak di gubris oleh Rey. Dia malah mendekat ke arah gadis itu berada. Sekilas ia melihat setumpuk buku bacaan seperi novel dengan judul yang menantang. Ada horror, pembunuhan dan macam jenis buku yang menyeramkan.


“Kau ingin jadi dokter ya?’’


Lia yang sedang kesal jadi mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”


“Membaca dan mempelajari  hal yang luar biasa apalagi tentang potong-memotong organ tubuh, bukannya supaya jadi dokter ya?’’


Lia melongos. “Aku sama sekali tidak tertarik jadi dokter. Aku hanya ingin jadi pembunuh saja.” Ucapnya dengan wajah yang kembali datar.


“Waw, kau hebat sekali,”


“Jangan meledek atau kau yang akan ku jadikan bahan percobaan. Jam segini Ibuku sudah berangkat kerja, hanya kita berdua di rumah ini.”


“Aku tidak takut,” tantang Rey.


Lia mendekat, meraih kerah baju Rey dan menariknya dengan keras. “Jangan membuatku geram dan ingin memakanmu anak kecil,”


“Kau benar-benar ingin bermain denganku ya? Baiklah.”


Lia menghempaskan tubuh Rey di ke lantai dan dengan cepat mengambil pisau kecil nan tajam yang selalu ia simpan. “Kau pantas jadi kelinci percobaan,” ucap Lia dengan kabut.


Ada rasa takut yang muncul dalam benak Rey namun di tepis dengan cepat karena tak sengaja melihat foto keluarga Lia yang terpampang jelas didinding kamar itu. Lia sungguh terlihat sangat bahagia. Dipikiran Rey sekarang adalah tak mungkin gadis itu tega membunuh orang, dari tatapannya gadis itu sungguh lugu dan baik.


Sama sekali tak disangka, Lia meraih tangan kiri Rey dan mulai menyayat jari telunjuk anak lelaki itu. Rey pun menjerit. Dia segera menjauh dan meninggalkan gadis itu.


“Ah, jariku,” rintihnya. Air bening dari sudut matanya mulai keluar.


“Rey!” panggil salah satu temannya yang lewat bersepeda.


“Sial! Air mata sial,” umpatnya. Dia pun berlalu dan tidak menggubris panggilan temannya yang lain.


Rey pun kembali ke rumahnya dengan lesu. Segera ia membasuh tangannya ke kamar mandi. Luka di jarinya itu tidak terlalu lebar dan dalam, namun itu sudah membuat Rey yakin bahwa Lia sudah mulai menguasai tehnik membunuh. Sial!


“Aku akan berteman denganmu Lia. Aku tidak akan membiarkan mu semakin jatuh ke alam gelap. Aku akan jadi cahaya bagimu. Tunggu aku.” Lalu pingsan.


***


Hari-hari berikutnya, Rey tetap mengunjungi Lia. Tapi ketika gadis itu mulai marah dan hendak mengambil benda tajam andalannya, Rey sudah kabur.


Seperti tidak ada kata menyerah dalam hidup Rey untuk mendekati gadis itu.


Desember 8, 2000

__ADS_1


Lia sudah bosan melempari anak lelaki yang belakangan ini selalu mengusiknya. Akhirnya dia mencoba untuk memberi ruang untuk berbicara dengan Rey. Dan ya, Rey tersenyum puas.


Di kamar Lia, di siang haripun suasananya seperti sudah malam. Semuanya gelap. Sekarang Lia dan Rey sedang berhadapan satu sama lain.


“Apa maumu?” tanya Lia ketus.


“Hanya ingin melihatmu tersenyum,” Rey sudah tahu kisah anak gadis ini. Kemalangan dan kehilangan membuatnya tampak hilang dari terang kebahagiaan. “Kau tahu? Kesedihan itu terlalu murah. Kejarlah yang mahal. Yaitu kebahagiaan.” Rey berdeham, “ehem, Rey 8 Desember 2000,”


“Kau mau mati ya?’’ ancam Lia.


“Hanya ingin menyelamatkan mu dari dunia kegelapan Lia.” Tukas Rey dengan serius.


Lia mendecih. Kemudian berjalan ke arah jendela dan membuka tirainya dari sana. Sekarang sudah ada cahaya disana . “Aku baik-baik saja.”


‘’Maksudnya?’’


Lia tersenyum. “Setelah kematian Ayah, aku hampir gila. Dari dulu aku paling suka membaca cerita seram. Disana sering di tulis kalau kita benar-benar merasa sedih dan kesepian, kita akan mudah bertemu dan berkomunikasi dengan mahkluk halus.” Lia menghela nafas. “Nyatanya tidak. Sampai sekarang satu batang hidung hantu pun tidak ada yang kelihatan.” Keluhnya.


“Astaga,”


“Kenapa? Merasa menyesal karena sering menghampiriku?’’


Rey tampak berfikir dan menatap Lia dengan seksama. Ia berjalan dan mendekati gadis itu. “Lia, kau kah ini?’’ tanya rey serius.


Lia tersenyum getir. Ia sengaja menjebak anak lelaki dihadapannya ini supaya bisa menjadikannya kelinci percobaan. “Tentu saja. Kemarin itu aku hanya terobsesi ingin jadi penyendiri dan berteman dengan hantu.’’


Seperti ada yang mengganjal di hati Rey. “Aku tidak tahu yang sedang kau pikirkan. Yang aku tahu, sejak melihatmu, sorot matamu meminta tolong padaku agar menyelamatkan mu.” Rey menelan ludah, “kau sedang tidak sehat Lia.”


Mendengar itu Lia jadi menunduk. Ada kebenaran yang terpancar dari setiap kata yang diucapkan Rey. Gadis itu memejamkan mata dengan dalam lalu mengingat kejadian yang membuatnya jadi seperti ini.


Lia berjongkok dan menangis di hadapan anak lelaki itu. “Lia,” Rey mengusap pundak Lia.


“Ayahku di tusuk dengan sadis untuk menyelamatkan ku.”


“Ceritakan saja, aku mendengarkanmu,” bujuk Rey.


"Hari itu, di hari ulang tahunku, kami mengunjungi salah satu tempat wisata yang belum ramai di kota ini. Seseorang menangkapku dan berkata, gelap itu indah.” Lia tersedu. “Ayah datang dan berusaha membawaku dan Ibu pergi, tapi keadaan ayah yang sudah di tusuk membuatnya tak konsen mengendarai mobil.”


Rey beralih mengusap puncak kepala Lia. “Dan kami kecelakaan.”


Lia menatap Rey, “kenapa? Kenapa kau selalu kemari?’’


“Sudah ku bilang, hanya ingin menyelamatkan mu dari kegelapan dan kesendirianmu.”


Lia menyeka air matanya. “Tapi aku sejutu degan pembunuh itu. Gelap itu indah,”


Perasaan Rey mulai tak enak. Dia merasa aneh. Apalagi dilihatnya Lia tiba-tiba tersenyum licik. “Kau masuk perangkapku anak kecil,” Lia menangkap lengan Rey.


“Aku tidak akan lari Lia,” ucap Rey.


“Tapi sekarang kau kelihatan takut,” senyum mengerikan pun kembali muncul di wajah manis Lia.


“Kelinci percobaan. Jadikan aku kelinci percobaan. Tapi setelah itu kumohon kembali lah jadi anak manis yang ceria dan periang. Mungkin hanya itu yang akan membuat Ibumu tahan bernafas di bumi.”


Lia sudah geram, ia melayangkan tangannya yang sudah ada pisau disana namun ditahan sebentar, “pergi dari sini, dan jangan coba menganggu ku lagi. Aku sudah berbaik hati memberimu kesempatan sebagai kelinci yang selamat. Pergi!” bentaknya.


Rey tersenyum, “kau anak yang baik,” ucap Rey.


“Aku jijik!” Lia menusuk lengan Rey dan mencabutnya. Gadis itu tertawa sumbang, “Aku berhasil jadi orang yang tak punya hati hahaha, matilah kau!”

__ADS_1


Dan lagi, Lia melayangkan pisau ke udara hendak menusuk Rey. “Tapi ini menyakitkan,” ucap Lia dan melempar pisau dari tangannya.


“Lia, ayahmu akan lebih bangga jika kau menemukan orang yang membunuhnya dan melaporkan ke pihak yang berwajib dari pada melatih diri sendiri untuk sama seperti pembunuh.” Itu adalah kalimat terakhir yang di ucapkan Rey sebelum akhirnya terjatuh tak sadarkan diri.


__ADS_2