
"Halo Lia, Marcia sudah bangun."
Kabar gembira yang diberitahu oleh Marcia malam itu jadi kabar terbaik juga bagi Lia dan Rey. Mereka masih berada di sana, taman belakang, ketika mendengar hal itu keduanya saling melepas haru dan bahagia dalam bentuk pelukan hangat nan erat.
"Lia sayang Abang,"
"Ss."
Lia mendongak, "screenshot Bang?"
"Hahaha, sama-sama Dek," ia pun mengelus kepala gadis itu. "Aku ingin sekali bertemu dengan sahabat mu dan melamar mu di depan mereka."
"Nanti Lia kenalin ya Bang." Janjinya.
Tak pernah terpikirkan oleh Lia jika dirinya akan mengalami hal yang begitu fantastis hari ini. Disaat dirinya benar-benar tak ingin melihat tunangannya kecewa, saat itu juga jalan terbuka lebar. Sampai dia bingung cara mengucap syukur.
"Lia sayang Abanggggg.." Teriaknya lagi.
"Hahaha"
***
"Wilona, aku senang sekali kau sudah sadarkan diri," seharusnya hanya raut tawa di sana, namun karena rindu yang terlalu mencekam, buliran air mata tanda haru keluar dari pelupuk mata Marcia secara menerus.
Wilona hanya menanggapi dengan senyum lemah. "Kemari lah, aku ingin memelukmu." ucapnya.
"Tega sekali kau meninggalkanku selama ini, kau jahat Wil, hiks"
"Ha? Sudah berapa lama aku tertidur?"
Marcia menarik ingusnya ke dalam yang sesekali ingin keluar, "huaaaa, enam tahun"
"Hahaha, kau bercandanya berlebihan."
"Aish! Ku kira setelah kau sadar kau tak akan menyebalkan lagi, ternyata jadi dua kali lipat, ck"
"Kau bersungguh-sungguh?" Wilona menganga, "Luar biasa!" timpalnya.
"Ah lihat, senang sekaligus bangga sekali dirimu! Menyesal sekali aku selalu mendoakan mu agar cepat bangun, sudahlah! Aku pergi saja."
"Hahaha, maaf. Eh, lihat, pakaian apa yang kau pakai ini? Baju wisuda?"
Marcia memandang dirinya sekilas, "S2"
"Ha? Selamat ya, aku tak menyangka ternyata kau bisa jadi manusia seutuhnya"
"Ck, kenapa tak ku bunuh saja kau dari kemarin," gerutu Marcia.
Perbincangan mereka pun kembali seperti dulu, tak ada yang canggung. Keduanya masih sama, sama-sama masih heboh.
Dalam kebahagiaan yang baru saja tercipta, ada saja wabah kesedihan yang muncul. Seakan-akan takdir dan keadaan mempermainkan mereka. Takdir kesediaan yang tak berujung. Itulah namanya.
Tanpa mereka sadari, selama ini mereka selalu di awasi oleh anak buah Sergio San. Kabar bangunnya Wilona dari koma menjadi kabar duka bagi orang-orang yang berada di markas gelap itu.
"BUNUH DIA!"
Perintah itu seperti Dejavu di pendengaran Bram. Sepertinya dia harus benar-benar membunuh keponakannya itu. "Maafkan Paman, Wilona." Batinnya.
__ADS_1
***
Berulang kali sang Paman mengingatkan Wilona untuk tidak mencampuri urusan atasannya. Tapi seorang Wilona tak ambil peduli. Dia lebih sayang dan peduli pada permintaan Marcia. Karena gadis itu sudah ter-cap sebagai cahaya terang dalam hidupnya.
"Terimakasih Paman atas beritanya. Tapi maaf, sepertinya rencana ku yang terakhir akan ku jalankan. Selamat malam Paman, jangan khawatirkan aku." Wilona menutup ponselnya.
"Kau berbicara dengan siapa?" Tanya Marcia yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk memberi semuanya. Pikir Wilona. Lantas ia pun berkata, "Marcia, kau kenal dengan Pak Bram, tangan kanan Ayahmu?"
"Tentu. Dia sangat baik. Kenapa dia?"
Wilona tersenyum lemah, "dia Pamanku, satu-satunya kerabat keluarga yang kumiliki."
"Pamanmu? Serius?"
"..."
"Hei!"
"Ia Marcia. Selama ini kita selalu di awasi oleh anak buah ayahmu, apapun yang kita lakukan mereka tahu. Termasuk apa yang sedang kita bahas sekarang." Ucapnya.
"Apa? Kenapa tidak memberitahu ku dari dulu?"
"Aish!" Marcia mengaduh saat satu pukulan mendarat di keningnya, "aku baru sadar dari koma Marcia yang super duper otaknya miring. Pamanku baru saja memberi tahu semuanya."
Marcia tampak berfikir. Ia merogoh sakunya dan mengambil ponsel. mengetikkan sesuatu.
Ting!
Wilona meraih ponselnya. Di sana ia mendapat pesan dari Marcia agar memberi tahu yang segala sesuatu yang penting hanya melalui pesan saja, agar tidak di ketahui siapapun.
"Ck, kau ini! Jadi bagaimana selanjutnya?"
"Mari kita temui ayahmu!" Ucapnya serius, "Auh!"
"Ketik!"
"Aish! Maaf, aku lupa, hehehe."
***
"Australia?"
Setelah berdebat hampir setengah jam, Lia pun bertanya dimana keberadaan Sergio San. Ia menghela nafas berat. Marcia sudah pernah berjanji akan muncul di hadapan Rey saat Wilona terbangun dari koma. Bahkan ia juga memberi ijin menikah.
"Tepatnya di kota Goolwa, Australia Selatan"
"Marcia, aku baru saja bertunangan dan berjanji akan menerima lamaran Rey saat Wilona sadar." Ucapnya frustasi. "Aku tidak sanggup membuatnya kecewa untuk kali ini, aku harus bagaimana Marcia?"
Marcia berpikir sejenak. Dia pun akhirnya mengalah. Bahkan orang yang jadi korban saja sudah memaafkan, pikirnya. Apa salahnya jika dia juga harus memaafkan ayahnya. Tunggu. Tapi Wilona terluka karena ayahnya. Ya Tuhan, ayahku benar-benar keterlaluan. "Maaf Lia. Aku yang salah. Terimakasih sudah memaafkan ayahku," ucapnya tulus.
"Tidak masalah."
"Hm, aku juga akan memaafkan ayahku untuk itu. Tapi aku tidak memaafkan saat dia menyakiti Wilona." Suaranya terdengar serak.
"Marcia.."
__ADS_1
Panggilan terputus. Rasa penasaran dan dendam untuk sahabat, berkecamuk di kepalanya. Mana harus ku pilih? gumamnya tak jelas.
"Sudah ku pastikan aku tidak akan tidur nyenyak malam ini." Gerutu Lia.
Ting!
"P" pesan hanya bertuliskan 'p' dari kekasihnya membuat Lia jadi mengerutkan dahi. Ia pun meletakkan ponselnya di tempat tidur, lalu mengambil novel romantis dan mulai membacanya.
Karena di abaikan, Rey pun jadi gemas.
"P"
"P"
"P"
"P"
"P"
"Ihhh, apaan sih" Lia pun mengetikkan balasan.
"Assalamualaikum (Muslim), Syalom (Kristen), Om Swastyastu (Hindu), Namo buddhaya (Buddha), salam kebajikan (Konghucu). Manusia ganteng tak berakhlak (P)"
Rey tersenyum geli. Lama-lama ia pun terkekeh sendiri. Karena geram, ia pun menekan ikon video call.
"Apa sih? Aku lagi baca novel tahu," omel Lia.
"Lah, masih lebih asyik ngobrol sama aku dong dari pada baca itu."
"Ck, novelnya baru Lia kemarin belum sempat baca Bang, kan sayang di beli tapi tidak di manfaatkan."
"Iya, sayang."
"Ihhh"
"Hehehe, makan dulu."
"Ini sudah larut malam Bang. Nanti Lia makin gendut."
"Tidak masalah kalau gemuk. Yang penting aku sayang." Goda Rey.
"Bilang najis ke tunangan itu termasuk dosa?"
"Termasuk dong,"
"Najisssss" Ucap Lia sembari menjulurkan lidah.
"Hahahah, dosa Lia."
"Jaman sekarang ya, dosa lebih nikmat dari segalanya Bang."
"Kata siapa?"
"Kata Lia dong."
"Tahu dari mana? Tertulis dimana?"
__ADS_1
"Ada kok Lia tulis. Ini." Ia menunjukkan buku tulis miliknya, "Lia tulis itu disini, kan Lia ngarang Bang, hehehe"
Tertawa itu menular. Mereka pun saling tertawa di tengah malam itu. Segala yang pahit di simpan oleh Lia untuk sementara. Dilemanya nanti saja, tunggu tawa ini reda.