KAU CAHAYAKU

KAU CAHAYAKU
Masa lalu


__ADS_3

September 8, 1997


Saat itu Lia berusia delapan tahun. Gadis manis itu jadi membisu karena terlalu lama terdiam dalam keheningan. Sang Ibu yang masih koma di rumah sakit mengharuskan Lia seorang diri ikut ke pemakaman sang ayah yang sudah meninggal dunia. Itu terakhir kalinya ia melihat wajah pucat sang ayah. Gadis itu sangat iba, namun semua lebih iba padanya.


Hari ini adaah hari Jum’at. Seharusnya ini adalah hari paling bahagia untuk seorang Lia. Ini adalah hari yang sangat penting dan di tunggu-tunggu sejak seminggu yang lalu. Ya, tepatnya Lia berulang tahun di hari kecelakaan keluarganya.


Gaun putih panjang serta selendang ia jadikan syal di leher tanda dirinya sedang  berkabung. Semua orang telah pergi. Lia duduk termangu disamping batu nisan sang ayah yang bertuliskan nama sosok laki-laki kebanggaannya itu. Seto Wijaya.


“Jahat sekali,” ucap Lia.


Ia menghembuskan nafas terberatnya. “Bahkan di kota yang masih sepi ini sudah ada orang yang tega membunuh. Bagaimana beberapa tahun ke depan? Kota ini akan ramai dan sempit. Berapa banyak lagi yang tidak punya hati disana, Yah?” tanya Lia dengan geram. Tangannya tampak mengepal.


“Aku bukan psikopat yang tak punya empati. Tapi aku bisa berubah demi membalas dendam Ayah,” genggamannya beralih pada batu nisan. “Aku janji. Aku janji akan membunuh dia.” Dan air mata gadis delapan tahun itu pun mengalir.


Seiring berjalannya waktu, Lia semakin hari semakin berubah. Ibu Lisa yang sudah bisa pulang ke rumah sangat bingung dengan keadaan putri semata wayangnya itu. Dirinya seperti menemukan sosok yang baru dalam satu jiwa, Lia tampak lebih dingin dan sedikit menyeramkan.


Pagi itu, di meja makan ketika sarapan Lia tiba-tiba bertanya, “Ibu tidak sedih?’’


Ibu Lisa tersenyum. “Ayahmu itu sudah seperti bagian dari hidup Ibu. Dia pergi, Ibu merasa separuh jiwa Ibu ikut menghilang. Tapi Ibu masih ingat sekali, bahwa ayahmu pernah berkata kau adalah jiwanya yang separuh.” Ibu Lisa menghampiri putrinya dan berjongkok, “cukup ada kau saja Lia. Itu sudah cukup mengembalikan separuh jiwaku yang hampir hilang bersama ayahmu,”


Lia tersenyum terharu. “Aku menyayangi mu Bu,” kemudian memeluk sang Ibu.


“Ah, iya. Aku hampir lupa. Apa permintaanmu sebagai hadiah ulang tahun?”


“Ibu akan mengabulkannya?’’


“Pasti sayang.”


“Aku tidak mau pergi ke sekolah. Aku mau homeschooling.” Pintanya.


“Dikabulkan.” Ibu Lisa mencium kening Lia.


***


Berawal dari permintaannya itu, ternyata membuat Lia semakin jauh dari keramaian. Dirinya tak pernah lagi bertemu dengan siapapun selama beberapa bulan. Saat teman-temannya berkunjung, Lia selalu menolak untuk bertemu. Dan proses belajarnya pun hanya melalui telepon saja. Keadaan itu menimbulkan kecemasan pada Ibunya.


“Lia,” gumamnya lirih.


Belakangan ini Lisa jadi uring-uringan menceritakan perihal Lia pada sahabatnya, Nina.


“Halo, Lisa” sapa Nina dari seberang telepon.


“Hai, Nina,” jawabnya dengan lesu.

__ADS_1


“Ayolah, kau harus semangat. Urusan Lia, aku punya ide. Disamping rumahku ada rumah untuk di jual. Beli saja. Pindahlah kesini, supaya Rey bisa berteman dengan Lia.”


“Benarkah? Bukannya rumah itu ada yang menempati ya?’’


“Mungkin sudah takdir. Orangnya sudah bangkrut dan pindah dari sini,”


“Ahh, dasar kau ini. Orang bangkrut saja kau libatkan dalam takdir. Tega sekali kau,” omel Lisa pada sahabatnya.


Terdengar tawa kecil dari sana, “yang penting sekarang adalah kita selamatkan Lia dari kesepiannya.”


“Ah, terimaksih Nina. Kau nomor satunya tahun ini.”


Lisa menutup telepon rumah dengan sedikit senyum pengharapan. Ia dengan semangat bergegas menuju kamar Lia. Namun pemandangan yang ia dapati membuatnya sangat syok. “Lia,’’ panggilnya.


Lia duduk di depan cermin, rambut panjangnya terurai. Ia memegang pisau di tangan sebelah kanan dan boneka di sebelah kiri.


“Hai, Ibu.” Ia menoleh sebentar.


Lisa mendekati putrinya dengan hati-hati, “apa yang sedang kau lakukan Nak?’’


Lia mendongak. “Aku sedang berlatih membunuh orang.” Ucanya.


Lisa meraih pisau dan boneka itu bersamaan, “sayang, membunuh itu dosa.”


“Ssstt, Lia.. jangan begini. Ibu takut. Takut kau juga hilang dan meninggalkan Ibu. Jangan ya sayang, pikirkan Ibu sedikit saja,” bujuknya.


Lia tak tega melihat Ibunya memohon seperti itu. Akhirnya dia mengangguk. “Aku lapar,” ucapnya kemudian.


Lisa tersenyum, “ayo, kita makan”


Belum sempat mereka keluar dari kamar, Lia sudah jatuh pingsan di lantai.


“Lia!!!”


***


November 8, 1997


Setelah menjalani perawatan yang cukup, Lia di bolehkan pulang. Lia pingsan karena dehidrasi. Mungkin gadis itu terlalu banyak membaca buku horror dan pembunuhan hingga lupa waktu dan kadang lupa untuk sekedar minum air.


“Jalanannya tampak asing Bu,”


“Iya, kita pindah. Ke kantor lebih dekat dari rumah baru. Biar Ibu bisa pantau Lia, biar jangan sakit lagi.”

__ADS_1


Lia mengangguk. Setelah dirinya membuat panik sang Ibu beberapa hari yang lalu, tampaknya ia merasa bersalah. Di dalam mobil yang mereka tumpangi, Lia mendekat dan memeluk Ibunya. “Maaf Bu,” ucapnya sungguh-sungguh.


Lisa mengelus puncak kepala Lia, “tak apa. Lihatlah, kita sudah sampai. Ayo,” ajaknya.


Lia merasa belum pernah ke tempat ini. Ia merasa sangat asing. Tapi itu awal yang bagus untuk berdiam diri dan bersembunyi menyiapkan segalal sesuatu untuk balas dendam. Begitu pikir Lia.


“Oh, sahabatku Lisa..” teriak wanita cantik yang membuat Lia menoleh.


“Nina…” teriak Lisa tak kalah heboh dan memeluk sahabatnya. Lia jadi melongos, “Ah, reunian ternyata.”


“Ayo, biar ku bantu,” ucap Nina.


“Ah tak usah, asisten rumah tangga kami ikut kesini biarkan mereka yang membereskan. Dimana Mas Bima dan Rey?”


“Mas Bima ada di dalam, Rey lagi di luar.  Ayo Lia,” ajaknya sembari mengulurkan tangannya.


“Tante kenal aku?” tanya Lia heran.


“Tentu saja. Bahkan aku pernah menculikmu ketika bayi karena Ibu mu hampir menyerah mengurusmu karena sangat rewel sekali,” ucapnya bercanda.


Lia mengangkat bahu. Bingung harus melanjutkan kalimat apa. “Salam kenal dari aku yang pernah di culik,”


Mereka pun memasuki rumah besar keluarga Bima Frank. Di dalamnya ada sambutan hangat dan basa basi yang membuat Lia menguap.


“Aku pulang…” Teriak anak lelaki berumur sepuluh tahun yang menyelonong masuk ke dalam rumah. Didapatinya ada tamu ia berubah jadi manis. Sangat manis. “Halo, maaf aku tak sopan,” ucapnya cengengesan.


“Ah, kau pasti Reyhan kan?’’ tanya Lisa antusias.


“Halo Tante. Aku sedikit terkenal, jadi aku maklum Tante tahu namaku,”


“Hahaha, kau ini menggemaskan sekali. Oh, iya. Kenalkan ini putri semata wayang tante.” Lisa menyenggol lengan Lia yang kemudian melihat kearah anak lelaki yang sedang memandanginya.


“Tak usah berkenalan. Kau pasti akan mengenalku, kita tetangga.” Ucap Lia santai dengan raut tak suka berkenalan dengan anak yang kelihatan aktif. Ia hanya ingin sendiri tak mau berteman. Itu saja.


Rey tersenyum ramah. “Aku tak ingin berkenalan. Hanya ingin berteman,” lalu mengulurkan tangannya.


Lia mendekat dan menjabat tangan Rey. Tatapan mereka bertemu dan saling melempar pandang. Senyum Rey mulai memudar ketika Lia mulai mengeratkan genggamannya. Gadis itu mendekat ke telinga Rey, “jangan harap bisa berteman denganku,” Rey meringis, “atau kau akan jadi kelinci percobaanku.”


Rey berusaha untuk tidak berteriak. “Lepaskan tanganku anak nakal!” geramnya dengan berbisik.


Lia mendengus, “kau berani juga melawan. Tapi aku tidak suka. Aku hanya ingin satu hal sekarang,”


Rey menggigit bibirnya. Dia tak habis pikir kenapa tenaga gadis di depannya ini sangat kuat. “Apa? Apa yang kau inginkan?’’

__ADS_1


Lia tersenyum sinis, mendekat lalu berbisik, “Jantungmu.”


__ADS_2