
Kembali di hari pernikahan Lia dan Rey. Dari subuh Rey sudah diganggu oleh dua makhluk yang belakangan ini jadi teman berantam sekaligus teman curhat untuknya. Dan dimana istrinya menjatuhkan isi satu meja dan sedikit membuat kekacauan adalah hal terburuk yang setelah itu disadari oleh Rey. Bahwa ia menyesal membeberkan semua masa lalu tentang dirinya dengan sang istri.
“Heh, Junior, kau harus membuat perempuan itu malu di hadapan para undangan.’’ Hantu Senior memberi perintah.
“Tenang saja, paku sudah ku pasang sesuai titik yang diperkirakan, nanti dia akan terjatuh
saat mengambil minum untuk Rey.”
‘’Bagus, aku senang.”
“Kenapa?”
“Karena otakmu sedikit bekerja belakangan ini.”
“Dasar kau ini!”
Sesuai rencana kedua makhluk halus itu, satu isi meja nyaris terjatuh sempurna. Senyum sinis
namun puas terlontar dari raut wajah dua hantu itu. Si Senior dengan cepat menghampiri Rey saat dirinya hendak turun dari pelaminan untuk menolong sang istri, namun dengan cepat dicegah. “ Jangan turun, ingat, dialah yang menyebabkan dirimu hancur berkeping-keping dulu,”
“Aku harus bagaimana? Dia akan malu sendirian disana?’’ Cemas Rey yang seketika itu melihat sang ibu menghampiri Lia, Rey pun lega.
“Cepat gunakan ponselmu,”
‘’Untuk apa?’’ Bisik Rey agar orang-orang tak curiga terhadap dirinya.
‘’Supaya perempuan itu tahu kau tak peduli lagi dengannya,’’ desak kedua hantu itu.
Rey berpura-pura memainkan ponselnya ketika Lia menatap sekilas. Perasaan tak tega pun menghampirinya. Dia sungguh menyesal pernah mengatakan kepada kedua hantu itu untuk mengingatkannya untuk tidak boleh jatuh hati pada Lia. Dan ya, keduanya sangat senang ketika mendengar permintaan Rey, karena manusia dan hantu itu hampir sama, apalagi hantu-hantu perempuan, secara pria itu adalah orang tertampan di rumah itu. Ya, karena di rumah itu hanya ada Rey dan supir pribadinya, dan jika dibandingkan jelas Rey lebih tampan karena insecure pastinya. Jangan ditanya harga skincarenya wahai saudara, mampu membeli ego dirimu yang terlalu tinggi. Jadi apapun permintaan sang orang tampan, pasti akan dituruti oleh dua hantu
ini. Huh!
Selesai pesta, Rey sengaja masuk ke kamar mandi terlebih dahulu untuk meminta pendapat kepada kedua temannya.
“Aku normal,” ketus Rey saat kedua perempuan itu menyuruhnya untuk tidak melakukan malam
pertama dengan Lia.
“Kau sudah gila ya? Kau selalu menyuruh kami untuk mengingatkan mu untuk tidak jatuh cin…” omel
__ADS_1
hantu Senior.
‘’Ssstt.. aku mengerti. Tapi aku takut tak bisa mengendalikan diri, apalagi dia sekarang semakin. Seksi. Aduh!” Entah sejak kapan energi yang dimiliki kedua hantu itu semakin hari semakin luar biasa, seperti barusan hantu Senior mampu menoyor kepala Rey. “Wauw, kau makin hebat ya, hingga lancang memukulku, hebat” sindir
Rey.
Hantu senior pun jadi cengengesan. Disampingnya, hantu Junior sedikit memikirkan bagaimana cara
menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
‘’Kau kenapa?’’ tanya Rey, “kau sakit”
“Anu..” Hantu Junior menggaruk pipi kirinya.
“Kenapa?’’ desak Rey.
“Anu..” Berganti jadi menggaruk pipi kanan.
Hantu Senior mengerutkan dahi, “Anu, anu! Bicara yang jelas!’’
‘’Ah.. jangan membentakku, aku jadi gugup,”
‘’Tentu saja aku tahu. Kalau aku tahu apa yang akan kau berikan?’’
‘’Akan ku beri satu permintaan,”
“Asik. Anu itu artinya, satu kata seribu makna,” jawab hantu Junior.
“Yap, dua juta rupiah diberikan kepada anda, selamat, jangan lupa pajak di tanggung sendiri.” Sorak hantu Senior.
“Aduh… kalian ini kenapa jadi main kuis-kuisan? Sekalian saja adakan giveaway besar-besaran ajak satu kawanan hantu kalian kemari supaya seru dan fantastis. "Huh! Menyebalkan!” gerutu Rey.
Sayangnya hantu Junior tidak terlalu menggubris teguran rey, ia malah memikirkan, ‘’kau curang Senior, katamu satu permintaan, kenapa jadi dua juta?’’
“Ya sudah, biar harga bayarmu naik level, bagaimana kalau satu permintaan itu ku ganti dengan delapan puluh juta? Kau mau?’’
“Delapan puluh juta? Ah, Mauuu”
“Tapi bohong, hahaha” Hantu senior mengacak rambut Junior Karena gemas melihat mimik wajahnya.
__ADS_1
“Ya ampun, aku bisa gila,” Rey menjambak rambut frustasi, awalnya dia pikir berdiskusi dengan dua hantu ini akan menemukan jalan keluar, nyatanya beban pikirannya bertambah.
Rey memutuskan untuk meninggalkan kedua hantu itu dengan gusar, namun berhenti saat suara hantu Junior memanggilnya. “Ada apa lagi?”
“Istrimu takut dengan malam pertama. Tadi aku mendengarnya saat dia berganti busana.”
Seketika bibir Rey otomatis melengkung. Ia ingat sekali dulu, Lia selalu cerita dirinya takut jadi orang dewasa. Dan saat ditanya kenapa, gadis kecil itu selalu menjawab, “aku takut dengan orang dewasa dan malam pertama.”
“Rey, kenapa kau senyum-senyum sendiri?’’ Tanya hantu Senior.
“Aku takut Rey kesurupan setelah tahu istrinya takut malam pertama,” ceplos hantu Junior.
Rey mendecak, “bagaimana mungkin aku kesurupan sementara dua hantunya saja masih sibuk merebutkan hadiah kuis,” sindir Rey dan berlalu.
Lia masuk ke kamar mandi, dua jam sudah berlalu. Rey tak habis pikir, kenapa para kaum perempuan sangat lama kali sekali mandi, akhirnya ia membuka laptop dan mengetikan beberapa kata kunci yang mungkin akan menolong dirinya malam ini.
Tutorial menjauhi istri. Enter!
Secepat mungkin ia membaca. Diselang keseriusannya, Lia tampak sudah duduk di meja rias, Rey dengan kuat mempertahankan keyakinan agar tak menyentuh perempuan itu.
“Kau tidur dilantai atau sofa?’’
Dan kalimat itu mampu membuat seorang Rey ingin muntah dengan kata-katanya, ia menyesal. Sungguh. Dalam hati ia mengumpat kesal pada laptopnya yang memberi jawaban untuk pisah ranjang. Padahal dari dulu impiannya adalah bangun pagi dan melihat wajah Lia yang penuh air liur dan selalu mendambakan kapan ia akan melihat wajah jelek istrinya yang tak pernah terlihat olehnya. Impian yang fantastis.
Lia dengan cepat menghampiri Rey yang terbatuk, namun kedua hantu yang sedari tadi berada disitu menatap tajam ke arah Rey, dan pria itu pun berlalu.
Rey merasakan Lia mengejarnya sampai ke pintu, dan perintah Rey yang menyuruh dirinya untuk menjauh, membuat kedua hantu tadi jadi girang kelewatan. Sungguh, ini perbuatan para hantu itu.
“Rey,” sapa Lia di taman belakang rumah karena melihat raut wajah Rey yang sedikit pucat Karena habis merenungi apa yang sudah terjadi belakangan ini.
***
Suasana sore menjelang magrib itu sedikit tenang. Rey melirik kiri-kanan memastikan dua hantu itu tidak ada disana, “ada apa?’’ tanyanya dengan nada yang lebih halus dibanding yang sudah-sudah.
‘’Ku kira kau sakit, makanya aku kesini. Wajahmu kelihatan pucat.”
“Iya, Lia. Aku sakit. Sakit karena kau kembali kesini dan mengusik kehidupan ku, Lia menunduk.
“kau tahu, aku sangat kesepian Lia, semuanya terasa hening, sampai suara langkah kawanan semut dapat ku dengar. Namun dengan seenaknya kau masuk dalam kehidupanku, menghasut ibuku untuk menjodohkan kita, dan kau ada disini, dikehidupanku selanjutnya mengisi hari-hari ku dengan ocehanmu. Huh, benar-benar kau ini.”
__ADS_1
Lia menunduk sedalam-dalamnya, matanya yang sudah berkaca-kaca sudah hampir pecah pertahanannya. Kejam sekali pria yang dihadapannya ini. Ketika air bening itu hampir lolos jatuh dari mata Lia, bel rumah berbunyi. Sepertinya ada tamu. “Aku buka pintu dulu,” pamit Lia masih dalam menunduk.